
- Jumlah kata
- 1.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Bagi Kiara, perasaan ialah sesuatu yang harus diungkapkan. Baik lewat kata, maupun sikap. Sebagai Mahasiswi Sastra, ia percaya bahwa dengan adanya deretan kata yang indah, dunia nya akan terasa lebih manis. Namun, semesta justru mempertemukannya dengan seorang Mahasiswa Teknik Arsitektur, yang begitu logis, kaku, dan presisi, seperti garis-garis arsitekturnya. Namanya Shaka. Mereka saling jatuh cinta. Karena gengsi yang setinggi langit, dan sebagai laki-laki yang berprinsip tak akan mendekati seorang perempuan sebelum menjadi seseorang yang benar-benar layak dan mapan, Shaka memilih menyimpan perasaan itu dalam-dalam. Apalagi, ia adalah seorang anak yatim yang harus memperjuangkan impiannya, tanpa seorang ayah. Sedang Kiara, yang dominan percaya, bahwa saat indah itu akan tiba, ia memilih merawat perasaan itu dengan menjaga persahabatannya dengan Shaka. Saat Shaka sudah berada di titik mendekati layak dan mapan, ia mengalami kecelakaan, membuatnya koma selama hampir satu bulan, dan ia mengalami spinal cord injury (cedera sumsum tulang belakang) yang menyebabkan kelumpuhan mulai dari paha hingga ujung kaki. Sebagai seorang arsitek, Shaka merasa putus asa pada hidupnya, karena kaki yang menjadi pilar utama fisiknya, tak lagi berfungsi. Kini, ia hanya bisa berada di kursi roda. Apakah Kiara sanggup setia dengan perasaannya pada Shaka?, dan apakah Shaka mampu bertahan dengan dunianya yang tak lagi sama?. Temukan kisah mereka di sini.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Shaka dan Semangkuk Bakso
Setelah berjam-jam energinya terkuras di Studio Arsitektur, berduel dengan asistensi dosen, Shaka melangkah dari parkiran kampus. Ia melirik jam tangannya. Pukul 14.10, masih ada jeda waktu yang cukup sebelum ia bertransformasi menjadi barista di Sudut Nalar, sebuah Coffee Shop.
Motornya melaju menuju sebuah kedai bakso langganan yang riuh, tipikal tempat bernaung mahasiswa yang sedang bertarung dengan isi dompet. Ia sudah merinci pesanannya secara sistematis sesuai kebutuhan tubuhnya ; Satu porsi bakso (Rp10.000), dua buah lontong (Rp3.000). Total tiga belas ribu rupiah, sebuah angka yang bagi Shaka adalah manifestasi dari efisiensi yang elegan. Pesanan itu sudah menjadi porsi yang pas untuk memastikan ketahanan tubuhnya hingga shift kerja di Sudut Nalar berakhir.
Sebagai mahasiswa berprestasi, Shaka memang menyandang beasiswa penuh. Uang saku bulanan dari beasiswa itu, sekitar satu jutaan, secara teori cukup untuk biaya makan di kota ini. Namun, dalam dunia arsitektur, kreativitas di dalamnya membutuhkan biaya tidak sedikit, itulah kenapa Shaka memutuskan kuliah sambil bekerja.
Saat bakso tersaji, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah tumbler yang selalu siap sedia. Di saat orang lain gengsi membawa botol minum sendiri, dia justru merasa menang karena tak perlu mengeluarkan uang untuk beli es teh manis atau es jeruk.
Kebanyakan orang makan sambil asyik scrolling TikTok atau membalas chat dengan tangan kiri, tapi tidak dengan Shaka. Ia memilih menyimpan ponselnya di saku. Baginya, makan adalah proses teknis yang membutuhkan fokus penuh. Ia tidak ingin ada distraksi yang merusak efisiensi waktunya.
Pikirannya mulai berpindah, dari memori tentang revisi analisis tapak menuju aroma biji kopi yang sebentar lagi akan ia giling. Di mini cofee shop itu, Shaka sedang mempraktikkan pelajaran Arsitektur yang paling hakiki, yaitu ; "Bagaimana membangun sesuatu yang kokoh dan bermartabat di atas fondasi sumber daya yang terbatas."
Setelah baksonya habis, Shaka merapikan tumbler-nya. Ia sudah siap, bukan hanya siap untuk melanjutkan aktifitas hari ini sebagai barista di Sudut Nalar, tetapi siap untuk terus menyusun masa depannya.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








