Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
OTOPSI BERBISIK

OTOPSI BERBISIK

Asythera Nata | Bersambung
Jumlah kata
24.4K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / OTOPSI BERBISIK
OTOPSI BERBISIK

OTOPSI BERBISIK

Asythera Nata| Bersambung
Jumlah Kata
24.4K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
HorrorHorrorDokterDunia GaibIndigo
dr. Seraphyne Shin, dokter forensik Zythera Care Hospital, koma 3 bulan akibat kecelakaan. Saat bangun, dia bisa melihat dan mendengar arwah korban di meja autopsi. Kasus “gantung diri” yang dia tangani ternyata pembunuhan — hanya arwah korban yang membisikkannya. Kini, dibantu jaksa Eldric Wynth, teman masa kecilnya, dan polisi Myreen Vhyln yang diam-diam melindunginya, Seraphyne harus mengungkap kebenaran dari bisikan para mayat. Tapi semakin banyak arwah yang dia bantu, semakin tipis batas antara dunia hidup dan mati. Di Zythera Care Hospital, otopsi bukan akhir. Itu awal dari pengakuan.
Dokter Yang di Bangunkan

Nama gue Seraphyne. Lengkapnya dr. Seraphyne Shin

Spesialis Forensik Medik. Umur 28. Anak kandung Direktur RS Zythera Care, dr. Shin Zythera, MARS. Cucu pemilik RS.

Kedengerannya enak ya? Anak direktur. Kerja di RS bapak sendiri. Tinggal tanda tangan, gaji jalan.

Enggak.

Gue dinas di B2. Basement 2. Kamar jenazah. Shift malem. Sendiri. Temen gue cuma mayat, Pak Darto satpam, sama bau formalin yang udah nyatu sama pori-pori.

Di B2 nggak ada nepotisme. Mayat nggak peduli lo anak siapa. Luka bacok ya bacok. Racun ya racun. Nggak bisa disogok.

Gue betah. Karena di sini, semua jujur. Yang hidup pinter bohong. Yang mati enggak.

Sampai 3 bulan 11 hari lalu.

Hari itu hujan. Gue habis autopsi tabrak lari. Pulang jam 02:14. Mata tinggal 5%. AC mobil mati. Ngantuknya kayak ditiban karung beras.

Lampu merah perempatan Basuki. Gue berhenti.

Spion kiri: truk boks. Gede. Lampu goyang. Nggak ngerem.

Sempat mikir: _Aduh, belum bikin wasiat._

_BRAK_.

Nggak ada sakit. Langsung gelap.

Terus rame.

Bukan suara ambulans. Suara orang. Banyak. Bisik-bisik. Numpuk. Kayak di pasar, tapi semua ngomong di kuping gue.

_“Gantung.”_

_“Tusuk.”_

_“Dorong.”_

_“Tolong.”_

_“Diam.”_

Dingin. Bukan dingin AC. Dingin yang nyedot panas dari tulang sumsum.

Kata Mama, gue koma 3 bulan 11 hari. CT-Scan bersih. EEG normal. Tapi nggak bangun.

Dokter bilang: _koma misterius_. Mama bilang: _anaknya capek, istirahat_. Papa diem.

Sampai kemarin. Jam 03:00 pas.

Mata gue kebuka. Nggak pake ngeregang. Nggak pake buram. Langsung kebuka. Kayak saklar.

Ruang ICU. Putih. Sepi. _Beep... beep... beep..._ 68 bpm. Normal.

Gue nengok kiri. Mau pencet bel.

Ada nenek-nenek. Duduk di kursi ijo. Baju pasien. Lengan kurus. Selang infus ngegantung. Tapi cairannya nggak netes. Selangnya kering.

Dia senyum. Gigi tinggal dua.

"Neng... udah bangun?" Suaranya kayak radio rusak. _Kresek-kresek_.

Gue beku. "I-ibu siapa?"

"Oma Aminah. Kamar 304. Tiga hari lalu infusku dicabut. Sama anakku. Dia bilang capek bayar. Aku mati jam 01:17. Mereka belum lapor. Katanya aku 'tidur'."

Dingin. Dari kaki naik ke ubun-ubun.

Gue merem. Kuat. _Halusinasi. Efek obat. Bangun koma emang gitu. Otak lagi nge-boot._

Satu. Dua. Tiga.

Buka.

Kursi kosong.

Nurse masuk. "Dokter Seraphyne?! Ya Allah Dokter bangun!"

Sejam kemudian kamar rame. Mama nangis. Papa genggam tangan gue sampe sakit.

"304," kata gue. Pelan.

Papa ndeketin kuping. "Apa, Sayang?"

"Kamar 304. Ada pasien Oma Aminah?"

Mereka saling lihat. Nurse cek komputer. "Ada, Dok. Pasien Aminah, 79 tahun. Meninggal 3 hari lalu. Jam 01:17. Henti jantung. Jenazah udah dibawa pulang."

Gue nggak cerita soal nenek di kursi.

*6 HARI KEMUDIAN*

Mama: "Cuti 6 bulan. Pokoknya."

Gue: "Iya, Ma."

Hari ke-7. Jam 06:00. Gue udah di lobi ZCH. Pake sniker. Pake hoodie. Pake muka ngantuk.

Satpam: "Dokter Sera? Bukannya cuti?"

"Kangen B2," jawab gue.

Papa nyegat di depan lift. Mukanya campur marah sama takut. "Kamu belum siap."

"Kalau di rumah, Pa, yang dateng lebih serem. Di B2 setidaknya mayatnya diem. Harusnya."

Papa diem 20 detik. Terus nge-tap kartu akses gue. "Observasi. Nggak pegang pisau. Nggak tanda tangan. Pusing, naik."

Gue angguk. Bohong.

Jam 10:22.

Mayat pertama masuk. *DAREN MAULANA, 34. GANTUNG DIRI.*

Yang nganter Myreen Vhyln. Bripka. Temen SMA. Rambut dikuncir. Mata kurang tidur. Kaget liat gue.

"Sera?! Kata bokap lo cuti!"

"Kabur," jawab gue. Buka resleting kantong mayat. _Zrrrt_.

Daren. Pucat. Leher ada bekas jerat. Melingkar. Biru item. Lidah dikit keluar. Standar gantung diri.

Terus Daren duduk.

Di atas meja stainless. Duduk tegak. Kaki selonjor. Bekas jerat masih ada. Tapi kepalanya nggak lunglai. Matanya buka. Natap gue.

"Jangan tulis gantung diri, Dok," katanya. Suaranya kayak orang ngomong dalem akuarium. _Gung... gung..._ "Saya didorong. Istri saya. Lia. Tidur sama adik saya. Dika. Saya mau cerai. Rebutan rumah. Malem itu saya didorong dari tangga. Kebentur. Pingsan. Bangun-bangun udah kejerat. Mereka berdua yang narik."

Gue mundur. Nabrak troli. _Klang_. Gunting jatoh.

Myreen nengok. "Lo kenapa?"

Gue nunjuk meja. "Dia... ngomong."

Myreen liat meja. Di mata dia: Daren berbaring. Diam. Mati.

"Sera," suaranya pelan. Hati-hati. Kayak ngomong ke orang gila. "Lo capek. Koma 3 bulan. PTSD. Wajar. Halu."

"Dia bilang didorong," potong gue. "Sama istrinya. Sama adiknya. Cek leher. Jeratnya nggak sempurna. Ada gap di belakang. Gantung diri beneran, jeratnya naik ke belakang kuping. Ini datar. Kayak ditarik dari depan."

Myreen kenal gue 11 tahun. Dia tau gue nggak ngasal kalau luka.

Dia nelen ludah. "Oke. Tes."

Dia keluar. Balik bawa orang.

*Eldric Wynth*. Jaksa. Jaket kulit. Rambut awut-awutan. Mata merah. Kurang tidur. Kebanyakan kopi.

Dia temen masa kecil gue. Dulu dia yang ngajarin gue naik sepeda di parkiran ZCH. Sekarang dia yang nuntut orang pake hasil autopsi gue.

"Denger lo bangun," katanya. Nggak ada 'syukurlah'. Cuma fakta. "Denger juga lo langsung ke B2. Nggak berubah."

Gue nggak jawab. Nunjuk Daren. Yang versi gue, masih duduk.

"Dia dibunuh. Cek pundak. Ada memar bentuk jari. Cek hyoid. Kalau gantung diri murni, patah. Kalau dijerat pas pingsan, seringnya nggak."

Eldric nggak debat. Dia nelpon. "Tim forensik. Balik ke TKP Apartemen Gading 1216. Cek kusen pintu. Cari goresan kawat horizontal di bawah. Cek balkon 1215. Cari jejak."

20 menit.

Laporan masuk ke HP-nya. Ada goresan kawat. Baru. Ada tanah merah di langkan 1215. Sama kayak keset di 1216.

Myreen buka CCTV. Lantai 12. Jam 02:11. Dika keluar dari 1215. Nenteng tas. Kuku jempolnya ada merah-merah.

Jam 16:00, Lia sama Dika ditangkap. Jam 18:00, ngaku.

Motif: rumah + asuransi 2M.

Jam 18:30, Eldric balik. Sendiri. Bawa kopi. Item. Nggak gula.

"Lo bener," katanya. "Gantung diri palsu."

Gue nggak jawab. Gue natap meja.

Daren udah nggak duduk. Udah berbaring lagi.

Tapi di pojok ruangan, dia berdiri. Senyum. Ngangguk ke gue.

"Makasih, Dok," katanya. Suaranya makin jauh. "Bilang ke ibu saya, cincinnya di bawah kulkas. Bukan hilang."

Terus hilang. Kayak lampu dimatiin.

Dinginnya ilang juga.

Kopiku dingin. Padahal baru dikasih.

*MALAM PERTAMA BALIK KERJA*

Gue nggak pulang. Alasan ke Papa: "Rekap."

Bohong. Gue takut pulang. Di rumah sepi. Di rumah Oma Aminah bisa nongol lagi.

Jam 22:40, mayat kedua masuk. *VEYLA MANDASARI, 22. DUGAAN OD*. Anak Dewan.

Mayatnya cantik. Rambut panjang. Baju putih. Tapi matanya...

Bolong.

Dua lubang item. Dalem. Kayak sumur. Dari dalemnya netes air. Bening. Kayak nangis.

Gue di ruang observasi. Kaca misahin gue sama dia.

Pintu B2 _klek_. Ngunci otomatis.

Veyla nempel di kaca. Dari dalem.

Nggak ada suara. Tapi kaca ngembun. Dari sisi gue. Padahal dia yang di dalem.

Embunnya ngebentuk huruf.

*B-U-K-A-N-O-D*

*B-U-K-A*

Bukan OD. Buka.

Gue lari. Ke lobi.

Rame. Suster, satpam, OB. Papa ada.

"Seraphyne!" Papa nahan pundak gue. "Kamu kenapa? Putih banget!"

Gue mau ngomong. Tapi kalau gue bilang "ada mayat matanya bolong nulis di kaca", besok gue di lantai 5. Bangsal psikiatri.

Gue telan. "Kaget. Pertama kali lagi. Habis koma."

Papa ngelus punggung gue. "Pulang, Nak. Ini perintah."

Gue angguk. Naik ke parkiran.

Myreen udah nunggu. Di depan motor gue.

"Lo liat lagi," katanya. Bukan nanya.

Gue nggak jawab. Gue lepas helm.

"Gue percaya lo," katanya. "Tadi siang bukti lo bener. Jadi sekarang, gue percaya lo dulu. Baru bukti. Cerita."

Gue cerita. Veyla. Mata bolong. Kaca ngembun.

Myreen nyatet di HP. "Besok. 08:00. Autopsi pertama. Gue jaga. Lo bedah. Kalau dia 'bangkit', gue yang hadepin."

"Lo nggak takut?"

Dia nyengir. Kayak dulu. "Gue lebih takut lo kenapa-kenapa. Dari SMA. Sejak lo nangis karena gagal anatomi."

Panas kuping.

"Kalau mau pacaran, jangan di parkiran mayat," suara dari pilar.

Eldric. Nongol. Kapan datengnya?

Gue sama Myreen sama-sama diem. Salah tingkah.

Eldric nyodorin map. "Kasus Veyla. Dewan Mandasari udah nelpon Kajari. Minta 'cepat dan senyap'. Artinya: tutup OD. Jangan sampe media."

Gue buka. Foto Veyla hidup. Senyum. Gigi gingsul. Mata hidup.

Eldric nutup map. "Besok. 08:00. Lo, gue, Myreen. Pintu kunci. Hasilnya kita bertiga yang tau dulu."

Dia jalan. Terus balik. "Oh ya. Selamat datang balik, Sera. B2 sepi kalau nggak ada lo."

Dia pergi.

Myreen nganter gue pulang.

Di jalan, gue buka saku hoodie.

Ada kertas. Kecil. Basah.

Tadi nggak ada.

Tulisannya: *BESOK. GILIRAN LO.*

Tinta merah.

Tulisan tangannya...

Kayak Bapak.

Lanjut membaca
Lanjut membaca