
Mustika Liontin Sang Mata Dewa
Sirui Menre|Tamat
- Jumlah kata
- 388.1K
- Popular
- 32.1K
- Subscribe
- 2.7K
- Jumlah kata
- 388.1K
- Popular
- 32.1K
- Subscribe
- 2.7K
Sinopsis
Di saat ayahnya berada di ambang kematian, Dexter Gunawan, seorang pegawai biasa di balai lelang, terpaksa meminta uang kepada istrinya, Vanya Janira. Vanya yang sejak lama membenci pernikahan mereka menawarkan uang dengan syarat Dexter menceraikannya. Namun, setelah bercerai, Vanya malah mengkhianatinya. Ternyata ia telah berselingkuh dengan Pandu. Dexter yang marah malah berakhir dipukuli habis-habisan. Ketika Dexter sadar, liontin giok di dadanya bercahaya, memberikan kemampuan tembus pandang yang luar biasa. Kini, dengan kekuatan barunya, Dexter bertekad meraup kekayaan sekaligus membalas dendam dengan cara yang paling menyakitkan.
Ulasan
8 ulasan
kiann'szee
20/6/26 01:49
permisi izin promosi novel baru judul = ren ashborn : dari dibuang menjadi raja harem jangan lupa mampir dijamin ga bosen 🤗
En Virgio
18/6/26 03:17
Permisi Author, izin promosi novel baru ya. Sukses selalu! Judul: SANG RAGA Author: En Virgio Genre: Fantasi Sejarah, Aksi, Misteri, Romansa, & Time Travel Satu kutukan kuno, perjalanan menembus waktu, dan takdir Raga & Sukma. Prolognya baru banget rilis, lho. Yuk, langsung meluncur. Jangan lupa subscribe dan masukkan library!
Bab 1
"Empat ratus juta? Kau pikir aku ini bank berjalan?!" Suara melengking dari seberang telepon membuat Dexter harus menjauhkan ponsel sedikit dari telinganya.
"Tolonglah, Paman. Ayahku sedang kritis di ruang ICU sekarang. Dokter bilang dia harus dioperasi malam ini juga. Tolong pinjami aku, Paman. Nanti aku cicil berapapun bunganya, aku janji akan bekerja siang dan malam untuk melunasinya!"
Suara Dexter Gunawan bergetar memecah keheningan lorong rumah sakit.
"Tidak!" tolak Paman Handoko dengan nada jijik. "Lagi pula, buat apa menghabiskan uang sebanyak itu untuk orang yang sudah mau mati? Sadar diri, Dexter! Kau itu cuma pria miskin yang jadi parasit di Keluarga Janira. Jangan bawa-bawa kesialanmu ke keluargaku. Mulai sekarang, anggap kita bukan keluarga. Jangan hubungi aku lagi!"
Tut. Tut.
Sambungan diputus sepihak.
Dexter bersandar lemas di dinding. Tubuhnya perlahan merosot hingga dia terduduk di lantai. Ini sudah kerabat ketujuh yang menolaknya, memaki-makinya seolah dia adalah kotoran di pinggir jalan. Martabatnya sudah hancur tak bersisa. Ayahnya, Wira Gunawan, terbaring di ruang ICU dengan berbagai selang menancap di tubuhnya. Waktu ayahnya tidak banyak, hanya hitungan jam.
Dengan napas tersengal dan tangan gemetar, Dexter membuka daftar kontak di ponselnya. Pandangannya tertuju pada satu nama yang paling tidak ingin dia hubungi. Istrinya, Vanya Janira.
Nada dering berbunyi sangat panjang sebelum akhirnya diangkat.
"Halo? Buat apa kamu menelepon? Mengganggu orang yang sedang bersenang-senang saja!" Suara Vanya terdengar ketus, diiringi sayup-sayup dentuman musik dari latar belakang.
"Vanya, aku butuh bantuanmu." Dexter menelan ludah, menekan harga dirinya dalam-dalam. "Ayahku butuh empat ratus juta untuk operasi darurat sekarang juga. Kalau tidak dioperasi, dia bisa meninggal malam ini. Tolong pinjamkan uangmu, aku janji akan bekerja keras seumur hidupku untuk menggantinya kepada Keluarga Janira."
Terdengar tawa meremehkan yang melengking dari seberang. "Kamu gila? Empat ratus juta buat orang tua yang sudah mau mati? Selama tiga tahun ini kamu cuma benalu di rumahku. Makan tidur menumpang, kerja cuma jadi kuli di balai lelang yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membeli tas riasku. Sekarang kamu berani-beraninya meminta uang sebanyak itu?"
"Vanya, kumohon," air mata Dexter akhirnya menetes, suaranya parau menahan isak tangis. "Dia ayahku satu-satunya. Selama tiga tahun pernikahan kita, aku mengepel rumahmu setiap pagi, memasak untuk keluargamu, mencuci pakaian kalian. Aku melayanimu dan keluargamu layaknya seorang babu rendahan. Setidaknya, hargai sedikit saja pengorbananku selama ini."
"Hah! Pengorbanan? Jangan membuatku tertawa!" Nada suara Vanya menajam, penuh kebencian. "Dengar ya, Dexter. Kalau bukan karena kakekku yang sudah pikun itu memaksa kita menikah untuk balas budi konyol pada ayahmu, aku tidak akan pernah sudi melirik pria miskin dan menyedihkan sepertimu! Berada di satu meja makan bersamamu saja sudah membuatku mual!"
Dada Dexter terasa seperti ditikam pisau. Tiga tahun dia mengabdi dalam pernikahan tanpa cinta, berharap suatu hari hati Vanya akan luluh dan melihat ketulusannya. Ternyata, di mata wanita itu, dia bahkan lebih rendah dari anjing penjaga rumah.
"Tapi," suara Vanya tiba-tiba berubah. "Aku bisa memberimu empat ratus juta hari ini juga. Langsung tunai."
Dexter menegakkan tubuhnya seketika, secercah harapan muncul di matanya. "Benarkah? Syaratnya apa, Vanya? Apapun akan aku lakukan."
"Ceraikan aku. Kita tanda tangani perjanjian cerai sekarang. Kamu keluar dari kehidupanku tanpa membawa sepeser pun harta Keluargaku, dan uang itu akan langsung kutransfer ke rekeningmu. Bagaimana? Setuju?"
Dexter memejamkan mata erat-erat. Cinta dan pengabdian yang selama ini dia pupuk hancur berkeping-keping menjadi debu. Sadar bahwa wanita ini memang tidak memiliki hati dan tidak akan pernah mencintainya, dia menghela napas panjang yang terasa menyayat tenggorokan.
"Baik. Aku setuju. Bawa surat perjanjiannya sekarang juga ke kafe depan rumah sakit."
Setengah jam kemudian, di sebuah kafe yang sepi, Vanya melempar sebuah map berisi berkas cerai ke atas meja. Wanita berparas cantik dengan balutan gaun merah ketat itu menatap Dexter dengan tatapan jijik. Tanpa banyak bicara, Dexter mengambil pulpen dan menandatangani berkas tersebut.
"Sudah," ucap Dexter dengan suara dingin yang dipaksakan. "Sekarang transfer uangnya. Ayahku menunggu."
Vanya mengambil berkas itu, memeriksa tanda tangan Dexter dengan teliti, lalu tersenyum mengejek. Dia melipat kertas itu perlahan dan memasukkannya ke dalam tas mahalnya.
"Uang apa?" tanya Vanya santai sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
"Empat ratus juta untuk operasi ayahku! Kamu sudah berjanji di telepon tadi!" Mata Dexter memerah, urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan amarah.
"Ups, sepertinya aku berubah pikiran." Vanya tertawa pelan, menutupi mulutnya dengan gaya elegan. "Buat apa aku membuang uang sebanyak itu kepada gembel yang sudah bukan siapa-siapaku lagi? Anggap saja uang itu adalah biaya sewa karena kamu sudah menumpang makan dan tidur di rumahku selama tiga tahun. Kita impas."
"Vanya! Kamu menipu orang yang sedang sekarat! Kamu benar-benar iblis!" Dexter menggebrak meja hingga cangkir kopi bergetar. Amarahnya meledak tak tertahankan. Dia mencondongkan tubuh untuk meraih kerah baju wanita itu.
Namun, sebelum tangannya menyentuh Vanya, sebuah tangan besar dan kekar mencengkeram kerah belakang baju Dexter dan melemparnya dengan kasar ke lantai kafe.
Bruk!
Dexter tersungkur menghantam lantai. Tulang rusuknya berdenyut nyeri. Saat dia mendongak, dia melihat seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal berdiri menyeringai ke arahnya. Pria itu adalah Pandu Arjuna, putra sulung pemilik Grup Arjuna, perusahaan konglomerat paling berkuasa di kota Praxana.
"Sayang, urusan dengan gembel ini sudah beres?" Pandu bertanya dengan nada lembut yang di buat-buat. Lalu, tanpa memedulikan tatapan beberapa pengunjung kafe, dia merengkuh pinggang Vanya dan menepuk bokong wanita itu dengan mesra.
Vanya yang biasanya bersikap sangat dingin bak dewi es di depan Dexter, kini tersipu malu dengan wajah merona. Dia bersandar manja di dada bidang Pandu.
"Sudah, Kak Pandu. Berkas cerainya sudah dia tanda tangani. Aku akhirnya bebas dari gembel ini."
Dexter mematung di lantai, matanya terbelalak menatap pemandangan menjijikkan di depannya. "Vanya... apa-apaan ini? Kalian?!"
Vanya memutar bola matanya dengan malas. "Apa yang kamu lihat? Oh, Kak Pandu, ngomong-ngomong kapan kamu mau menikahiku? Kandunganku sudah masuk bulan keempat lho, sebentar lagi perutku membesar. Aku tidak mau dibilang hamil di luar nikah." Vanya mengusap perut ratanya dengan senyum menggoda ke arah Pandu.
Pernyataan itu bagai petir menyambar di siang bolong. Dexter merasa seluruh dunianya runtuh tak bersisa.
Matanya melotot tajam, menatap perut Vanya yang masih terlihat rata di balik baju ketatnya. Empat bulan? Selama tiga tahun menikah, Vanya selalu menolak disentuh dengan alasan tidak siap dan merasa lelah bekerja. Mereka berdua bahkan tidur di kamar yang terpisah.
"Kalian... kalian selingkuh?" Suara Dexter bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Kamu hamil anak bajingan ini, Vanya?!"
Pandu tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema di sudut kafe. Dia berjalan perlahan mendekati Dexter, lalu menginjak dada pria malang itu dengan sepatu kulitnya.
"Kasihan sekali anjing penjaga ini. Biar aku beri tahu satu rahasia kecil, Dexter. Aku dan istrimu tersayang sudah tidur bersama sejak setahun yang lalu. Di ranjang kamarmu, di sofa ruang tamumu saat kamu sedang mengepel, bahkan di meja dapur saat kamu pergi kerja ke balai lelang. Dia sangat liar dan agresif, beda sekali dengan saat dia pura-pura kaku di depanmu."
"Bajingan kalian berdua! Binatang! Mati kalian!" Dexter meraung kalap. Dengan sisa tenaga, dia mencoba bangkit untuk meninju wajah sombong Pandu.
Namun, Pandu hanya mendecih dan memberi isyarat dengan jentikan jarinya. Dua pengawal berbadan besar yang sejak tadi berdiri.
Buk!
Tendangan keras mendarat tepat di perut Dexter, membuat napasnya putus seketika. Disusul pukulan bertubi-tubi ke wajah, dada, dan punggungnya. Darah segar muncrat dari mulut dan hidung Dexter, membasahi lantai kafe. Pandu dan Vanya hanya menonton sambil tertawa kecil.
"Buang sampah ini ke luar. Bikin kotor mataku saja," perintah Pandu sambil meludah di dekat wajah Dexter.
Tubuh Dexter yang sudah babak belur diseret kasar keluar kafe dan dilempar begitu saja ke aspal. Pandu dan Vanya melenggang masuk ke dalam mobil sport mewah mereka dan melesat pergi, meninggalkan Dexter yang tergolek tak berdaya di bawah rintik hujan.
Kesadaran Dexter mulai memudar. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan hancurnya hati dan harga dirinya yang diinjak-injak. Saat matanya perlahan menutup, dia tidak menyadari bahwa darah kental dari mulutnya megalir ke balik kerah bajunya, membasahi sebuah liontin giok kuno peninggalan almarhumah ibunya.
Tiba-tiba, liontin giok itu menyerap darah Dexter. Sebuah cahaya keemasan berkedip dari dalam giok, menembus kulit dada Dexter dan mengalir langsung menuju aliran darah, jantung, dan berakhir di kedua matanya.
[Tuan Terkonfirmasi. Membuka Kunci Sistem Mata Dewa.]
Sebuah suara mekanis menggema jelas di dalam kepalanya, tepat sebelum dunia Dexter menjadi gelap gulita seutuhnya.
Daftar bab
300 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
300 bab








