Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dokter Dua Dunia

Dokter Dua Dunia

Amy99_h | Bersambung
Jumlah kata
44.1K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Dokter Dua Dunia
Dokter Dua Dunia

Dokter Dua Dunia

Amy99_h| Bersambung
Jumlah Kata
44.1K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
18+HorrorHorrorDokterDunia GaibDukun
Di balik jas putih dan stetoskop yang selalu melingkar di lehernya, Dr. Adam Prasetyo menyimpan rahasia yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran modern. Seorang spesialis penyakit dalam berusia 42 tahun dengan ketenangan wajah dan kacamata tipis yang seolah menyembunyikan tatapan menembus dimensi ,ia bukan dokter biasa. Ia adalah manusia yang diberikan kelebihan untuk menolong manusia lainnya.Adam tak pernah menyerah. Karena baginya, menyembuhkan bukan soal gelar atau pengakuan tapi soal tanggung jawab terhadap nyawa yang dipercayakan padanya. Dan di antara dua dunia yang misterius, ia berdiri tegak sebagai penghubung, sebagai penjaga, dan sebagai seorang Dokter .
Bab 1 Lahirnya di Dunia

Desa Doko, Kecamatan Wlingi, Blitar, adalah sebuah kampung kecil yang terletak di lereng perbukitan. Rumah-rumahnya berpencar di antara sawah dan kebun kopi, dikelilingi kabut tipis setiap pagi. Di desa ini, kejawen masih sangat kuat. Anak-anak lebih sering bermain di sungai atau ikut ritual selamatan daripada mengaji di masjid. Bunyi lolongan anjing atau angin malam yang membawa ranting begitu jelas saat malam.

Masjid kecil di tengah desa sering sepi, tak pernah ramai walau saat Jumat atau hari besar Islam.

Di desa yang mistis itu, lahir seorang anak laki-laki pada suatu malam hujan deras tahun 1984.

Ibunya, Siti Rahayu, adalah bidan desa yang ditugaskan dari Kepanjen, Malang. Ayahnya, Ustadz Ahmad Zainuddin, juga bukan penduduk asli. Keduanya berasal dari Kepanjen dan pindah ke Doko karena tugas. Ustadz Ahmad mengajar agama di sebuah madrasah kecil di Wlingi yang berjarak hampir satu jam perjalanan naik motor, sementara istrinya melayani persalinan dan kesehatan warga desa.

Adam lahir di rumah batu bata sederhana mereka tepat saat azan Subuh berkumandang samar dari masjid. Bidan senior , Bu Endang yang membantu persalinan langsung terkejut melihat bayi itu. Adam tidak menangis keras seperti bayi biasa. Ia hanya membuka mata lebar, menatap sekeliling dengan pandangan yang terlalu tajam untuk seorang bayi baru lahir.

“Anak ini… matanya sudah pintar sekali,” gumam bidan Endang itu sambil membersihkan tubuh Adam yang kecil. Setelah dibersihkan pancaran sinar dari wajah bayi terlihat terang , Bu Endang berguman bayi ini akan membawa perubahan kehidupan bagi keluarganya.

Ustadz Ahmad tersenyum bangga, meski ada kekhawatiran samar di hatinya. Sejak kecil, Adam memang terlihat berbeda. Usia dua tahun ia sudah bisa berbicara lancar. Usia empat tahun ia hafal surat-surat pendek dengan cepat. Anak-anak desa lain masih asyik bermain lumpur, Adam sudah duduk di samping ayahnya belajar mengaji.

Karena kejawen yang kuat di Doko, banyak orang tua lebih memilih membawa anaknya ke dukun daripada ke bidan untuk kesehatan. Melihat itu, Ustadz Ahmad menjadikan rumahnya sebagai tempat mengaji sore hingga malam karena tak banyak pasien. Setiap maghrib, anak-anak desa berdatangan. Mereka duduk lesehan di teras rumah ustadz, belajar mengaji, sholat, dan mendengar cerita tentang akhirat. Adam kecil sering ikut duduk di antara mereka, meski usianya masih sangat kecil.

Pagi hari, ayahnya berangkat mengajar ke Wlingi. Sore hingga malam, ia mengajar anak-anak desa. Hidup mereka sederhana, tapi penuh harapan.

Selepas Sekolah dasar , Adam melanjutkan ke pondok pesantren di Pacet, sebuah pondok modern yang baru dibangun . Namun di tengah masa SMP sederajat ,ayahnya wafat secara mendadak karena serangan jantung. Kehilangan itu sangat berat bagi Adam dan ibunya. Rumah kecil mereka terasa semakin sepi.

Setelah ayahnya meninggal, keanehan Adam mulai muncul. Awalnya hanya mimpi. Ia sering melihat orang-orang tanpa wajah berdiri di sudut kamarnya. Lalu, di siang hari, ia mulai melihat aura gelap mengelilingi sebagian orang di desa. Ketika aura itu semakin hitam dan pekat, beberapa hari kemudian orang tersebut meninggal dunia. Keanehan itu pernah ditanyakan ibunya ke kyai pengasuh pondok modern . Kiai yang tua itu memandang Adam lama sekali, setelah mendengar cerita dari ibunya tentang keanehan Adam. “Ini bukan penyakit, Nak,” kata Kiai dengan suara pelan. “Ini kelebihan. Allah memberimu mata yang bisa melihat apa yang biasa tidak terlihat. Gunakan dengan baik. Jangan sombong, dan jangan takut.” Banyaklah membantu manusia lain dan jadilah sebagai manusia yang bermanfaat.

Di pondok, kelebihan Adam semakin terasah. Saat ujian, ia bisa “melihat” jawaban benar pada soal pilihan ganda hanya dengan menatap kertas soal. Nilainya selalu sempurna. Teman-temannya iri, tapi Adam tak pernah memberitahu siapa pun rahasianya.

Setelah lulus SMA, dengan nilai yang luar biasa, Adam diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Ibunya menangis bahagia. “Ayahmu pasti bangga sekali,” katanya.

Selama kuliah dan praktek di puskesmas, keanehan Adam semakin jelas.

Saat mengambil sampel darah pasien, ia mulai melihat sesuatu yang aneh di dalam darah itu. Di matanya, darah bukan sekadar cairan merah. Ia melihat pola, warna, dan cahaya yang bergerak. Dari situ ia langsung tahu penyakit apa yang diderita pasien bahkan sebelum hasil lab keluar.

Awalnya ia mengira itu hanya firasat biasa. Tapi semakin lama, semakin tajam. Diagnosa dokter senior selalu cocok dengan apa yang ia lihat.

Yang paling janggal adalah saat ada pasien yang datang mengeluh sakit, tapi secara medis tidak ditemukan kelainan apa pun. Saat Adam melihat darah mereka, ia tidak melihat pola penyakit biasa. Yang ia lihat adalah cahaya kuning keemasan, seperti warna langit saat menjelang maghrib ,redup, misterius, dan agak gelap di pinggirannya.

Ketika ia bertanya pada dokter senior, dokter itu hanya menghela napas panjang.

“Itu sakit non medis , dam. Bisa karena guna-guna, santet, atau pekerjaan dukun. Secara medis kita tetap kasih obat pereda nyeri, tapi akar masalahnya bukan di sini.”

Adam diam saja. Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia bisa melihat cahaya kuning itu dengan jelas.

Setelah lulus dari dokter umum dan mendapat izin praktik, Adam memutuskan membuka praktik kecil di sebuah desa dekat Blitar. Ia ingin kembali ke akarnya, dekat dengan masyarakat yang dulu ia kenal. Kemudian atas permintaan ibunya Adam meneruskan kuliah lagi mengambil program pendidikan spesialis penyakit dalam , tapi gelar itu tak pernah ditunjukkan atau ditonjolkan .

Di praktiknya sendiri, kemampuannya semakin terasah tajam. Hanya dengan melihat darah pasien sebentar, ia sudah tahu apa yang salah. Tapi semakin lama, ia juga semakin sering melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat dokter biasa.

Cahaya kuning maghrib itu muncul semakin sering. Dan setiap kali cahaya itu muncul, Adam merasakan getaran aneh di dadanya seolah ada sesuatu yang mulai bangun di dalam dirinya.

Suatu malam, setelah memeriksa seorang pasien tua yang datang dengan keluhan sakit perut hebat, Adam melihat cahaya kuning yang sangat pekat di darah pria itu. Bukan kuning biasa. Ini hampir keemasan gelap, seperti matahari terbenam yang sedang marah.

Dokter senior dulu pernah bilang: “Itu sakit magic.”

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Adam mendengar suara samar di dalam kepalanya ketika ia menatap cahaya kuning itu:

“Ini bukan untuk disembuhkan dengan obat… ini untuk dihancurkan dengan media lain.”

Adam tersentak. Ia menatap tangannya sendiri. Telapak tangannya terasa dingin tiba-tiba. Ia belum tahu apa arti suara itu.Tapi sejak malam itu, kehidupannya sebagai dokter biasa mulai berakhir. Dan Lahirnya di Dunia yang sebenarnya baru saja dimulai. Dr Adam membuka praktek tak memperhatikan berapa besar jasa yang akan dipungut dari pasien tapi memikirkan bagaimana pasien mendapatkan pengobatan murah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca