Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Singa Detektif

Singa Detektif

Angdan | Bersambung
Jumlah kata
65.1K
Popular
255
Subscribe
56
Novel / Singa Detektif
Singa Detektif

Singa Detektif

Angdan| Bersambung
Jumlah Kata
65.1K
Popular
255
Subscribe
56
Sinopsis
18+PerkotaanAksiBalas DendamPembunuhanKriminal
Nathan Leo Nugius merupakan detektif berbakat dalam mengungkap kasus kejahatan, tetapi ia harus dihukum dengan hukuman sepuluh tahun saat berusia tiga puluh lima tahun karena dituduh membunuh istrinya ketika mendengar kasus pembunuh berantai. Nathan kembali dengan dendam dan menemukan kasus kasus korupsi dan penyuapan. Tidak hanya itu, ia menemukan sebuah pedang permata berukuran raksasa yang pernah dilihat olehnya saat berusia dua tahun di negara Yupan. Ia kembali menjadi detektif yang ditakutkan oleh banyak orang. Apakah Nathan berhasil mengungkap pelaku pembunuh berantai? Siapa pembunuh berantai dan korupsi sekaligus mencuri pedang permata?
1. Kepulangan yang Tak Dianggap

“Seorang detektif yang ditakutkan oleh banyak orang, dibebaskan hari ini setelah membunuh istri dan anaknya. Apakah detektif yang bernama Nathan Leo Nugius akan membunuh seseorang lagi atau justru menjadi detektif yang lebih menakutkan setelah keluar dari penjara?”

“Ya, seperti yang kalian lihat. Seorang detektif yang dijuluki Singa Detektif keluar dari balik jeruji dengan badan tegap dan terlihat sangat percaya diri.”

Beberapa Reporter mendatangi lokasi rutan yang dijadikan tempat Nathan dihukum dengan berbagai macam penilaian terhadapnya. Tidak hanya itu, Reporter menyiarkan pembebasan seorang detektif yang memiliki prestasi dalam bidang pekerjaannya.

Bahkan, Reporter juga mengatakan bahwa menjadi ancaman untuk siapa pun yang pernah memberikan tuduhan kepadanya atas kematian istri dan anaknya.

“Apakah Singa Detektif akan bekerja kembali sebagai detektif atau beralih profesi?”

“Penilaian masyarakat atas pembebasan Detektif yang telah membunuh anak dan istrinya pro dan kontra. Tidak sedikit mengatakan bahwa Nathan harus kembali bekerja sebagai detektif, tetapi sisi lain, masyarakat tidak menginginkan Nathan bekerja sebagai detektif dikarenakan akan menyalahgunakan pekerjaannya, seperti sepuluh tahun yang lalu.”

Nathan mendengar semua yang dikatakan oleh beberapa Reporter dan masyarakat yang hadir di Rutan untuk menyaksikan hari pembebasannya. Ia melewati antrean orang yang tidak sedikit memberikan kalimat umpatan dan dukungan kepadanya.

“Pak Nathan, seperti yang bapak dengar bahwa masyarakat ada yang menginginkan Bapak bekerja kembali di kepolisian. Bagaimana Bapak menanggapi hal itu? Apakah Bapak akan bekerja kembali di kepolisian dan menjadi seorang Singa Detektif?” tanya salah satu Reporter pria yang memiliki nama Galih Sukmorejo.

Nathan hanya tersenyum lebar saat melihat nama Galih Sukmorejo. Ia mengingat wajah pria yang bertanya kepadanya saat malam hari bertemu dengan seorang pria yang memiliki kedudukan tinggi di kantor kepolisian lalu dia menerima amplop besar.

“Kenapa kamu masih hidup di dunia ini?”

“Kamu tidak pantas dianggap sebagai manusia dan seorang pria sekaligus Ayah dan suami!”

“Kenapa kamu bebas dengan cepat? Kamu menyuap mereka agar bisa membebaskanmu dengan cepat?”

“Kamu tidak pantas bekerja sebagai detektif lagi. Kamu sudah merusak nama kepolisian di negeri ini!”

Kalimat hinaan dan caci makian terdengar kembali ke telinganya. Bola matanya pun memerah saat mendengar kalimat hinaan itu. Ia tidak melakukan kesalahan, tetapi dituduh seperti seorang pembunuh yang sangat brutal.

Nathan membisu ketika beberapa wanita melempar telur kepadanya dan melempar batu kepadanya sampai mengenai keningnya.

Nathan dibawa masuk ke mobil lalu pergi ke rumahnya yang ditinggali bersama anak dan istrinya. Ia melihat seorang wanita dengan tubuh lemahnya yang membungkuk dan rambut penuh dengan uban sedang menyapu lantai rumah.

“Ibu?”

Wanita lansia yang memegang sapu berbalik badan secara perlahan saat mendengar suara bariton yang berat hadir di telinganya. Dia melepas sapu dengan tubuh yang tiba-tiba mematung dan tidak bisa menggerakkan kaki itu meneteskan butiran bening di pipi.

Nathan hendak memeluk ibu wanita lansia itu, tiba-tiba terhenti mendengar kalimat yang keluar dari ibunya.

“Kamu jangan pernah memanggilku ibu lagi. Anak dan cucuku mati karena kamu! Kamu membuat mereka tidak berdaya sampai merenggang nyawa di tempat tinggal kalian yang baru di sebuah apartemen yang sangat sepi. Mereka berjuang untuk hidup ketika tidak ada siapa pun yang mendengar atas peristiwa itu! Kamu juga membawa mereka pergi dari rumah ini yang banyak kenangan saat pertama kali dia menapakkan kakinya di rumah ini dengan sangat senang. Bahkan, anakku, Melati membanggakanmu karena bisa membeli rumah ini dengan hasil uang tabungan kalian, tapi kamu malah membawanya ke tempat tinggal yang saling acuh tak acuh!” cecar wanita lansia itu dengan intonasi penekanan dan menggebu sambil meneteskan air mata.

Wanita lansia yang berbicara dengan Nathan merupakan ibu mertua yang pernah menyayangi dan merestui hubungannya dengan Melati.

Nathan hanya membisu sambil menelan air saliva saat mendengar kalimat protes yang disampaikan oleh ibu mertuanya dengan butiran bening yang disimpan dalam kelopak matanya.

Tidak ada kalimat penyanggah dan pembelaan darinya. Semua yang dikeluarkan oleh ibu mertuanya memang benar dan dia tidak tahu sesuatu yang sebenarnya terjadi.

“Maaf, Ibu.”

Nathan hanya bisa mengeluarkan dua kata ketika ibu mertua marah besar dan kecewa kepadanya. Dia menyalahkannya atas kematian anak semata wayang dan cucunya.

Namun, di balik kalimat protes ibu mertuanya, ada sesuatu yang menyulut kemarahan dan kekecewaannya semakin besar. Ibu dan ayah mertuanya diberi segepok uang untuk membungkamnya karena mereka bertemu dan berpapasan dengan seorang pria mengenakan pakaian serba hitam keluar dari apartemennya oleh seorang pria yang mengenal pelaku.

Apartemen yang sengaja tidak diberitahu oleh siapa pun, kecuali ayah dan ibu mertuanya yang digunakan untuk melindungi anak dan istrinya dari hal berbahaya. Nathan tidak memberikan penjelasan apa pun kepada mertuanya ketika mengajak anak dan istrinya pindah ke apartemen.

“Maaf dari kamu tidak mempan untukku. Kata maaf dari kamu tidak membuat putri dan cucuku kembali lagi di dunia ini! kamu adalah pria pembawa sial dalam kehidupan putriku! Jikalau dia tidak menikahimu, dia pasti masih hidup sampai sekarang dan hidup lebih bahagia di dunia ini!” sungut Ibu mertua sambil melotot dan meneteskan air mata.

Ibu mertua melempar botol keramik ke wajahnya dengan sangat keras sampai hidungnya berdarah lalu ibu mertuanya pingsan ke lantai. Nathan memeriksa denyut nadi dan napasnya lalu menggendong keluar dari rumahnya.

“Ada apa dengan ibu mertuamu, Nathan?” tanya seorang pria yang menjemput dan mengantar ke rumahnya.

“Kita ke rumah sakit sekarang dan tidak ada penjelasan untuk saat ini. Nyawa ibuku lebih penting!” seru Nathan lalu masuk mobil.

Nathan membawa ibu mertua ke rumah sakit bersama rekannya yang bernama Elon Erga. Elon merupakan rekan kerja sekaligus sahabatnya sejak kecil ketika Nathan sudah tidak memiliki orang tua lagi.

Nathan meletakkan ibu mertua ke ranjang rumah sakit dan meminta Dokter untuk segera menangani ibu mertuanya yang tiba-tiba pingsan setelah marah kepadanya.

“Tolong, ibu saya! Berikan dia perawatan yang terbaik dan selamatkan dia!” seru Nathan dengan intonasi penekanan kepada para perawat dan Dokter yang mendorong ranjang rumah sakit lalu masuk Instalasi Rawat Darurat.

Nathan menunggu ibu mertua di depan ruangan Instalasi Rawat Darurat dengan berharap cemas sembari bersandar di dinding dengan pakaian yang masih ada telur mentah beserta baunya, kening dan hidung berdarah.

Nathan mengabaikan dirinya yang terluka dan bau telur mentah sampai beberapa orang yang melewatinya menutup hidung.

“Kamu ganti baju dan rawat lukamu dulu, gih!” seru Elon.

“Kamu hubungi Ayah mertuaku melalui ponselmu dan ini nomor ponselnya,” pinta Nathan sembari memberikan nomor ponsel bapak mertua kepadanya.

Elon belum sempat melakukan panggilan keluar ke nomor ponsel ayah mertua, tiba-tiba suara bariton yang bergetar hadir di telinganya dengan kalimat hinaan.

“Hei, pembunuh! Kamu tidak lelah membuat keluarga saya sengsara dan malu!” seru suara bariton yang bergetar nada tinggi dan sangat menekan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca