

Nama gue Raka Aditya Pratama. Orang-orang manggil gue macam-macam. Ada yang manggil Bang Cilok, Kang Cilok, bahkan Bos Cilok. Tapi kalau lagi iseng atau lagi butuh saran, para pujangga pria daerah Tanjung Timun lebih sering nyebut gue sebagai Pakar Cinta Jalanan. Kedengarannya keren, ya? Masalahnya itu cuma kedengeran keren doang.
Kalau dipikir-pikir, gue bahkan belum pernah pacaran seumur hidup. Dari brojol di rumah sakit sampai umur sekarang 23 tahun, belum ada satu pun cewek yang pernah nangkring di hati dan di pelukan gue si tukang cilok ini. Aneh banget kan? Tapi ya begitulah hidup. Kadang yang paling sering ngasih saran justru yang paling nggak pernah ngerasain.
Setiap sore, gue udah stand by mangkal di depan SMA 7 Tanjung Timun. Ini bukan karena gue rajin. Bukan juga karena gue punya ambisi besar buat jadi tukang cilok nomor satu se-kecamatan. Tapi karena di sana ada banyak bahan penelitian. Kalian ga salah baca, Iya, penelitian. Gue menyebutnya penelitian tentang cinta.
Dari tempat gue mangkal, gue bisa lihat berbagai macam kisah asmara manusia yang bahkan lebih kompleks dari sinetron tiap sore. Ada yang baru jadian, masih malu-malu. Ada yang udah lama pacaran, tapi tiap hari berantem. Ketemu bukan buat kangen-kangenan, tapi malah adu nasib. Ada juga yang cuma temenan tapi kelihatan jelas banget mereka saling suka. Menariknya, entah kenapa semua itu selalu berujung di satu tempat, yaitu gerobak cilok gue.
Kali ini belum ada 5 menit gue mangkal, udah ada satu kisah asmara kandas datang ke gerobak gue. Seorang anak cowok dengan muka kusut, rambut acak-acakan, dan aura galau udah bisa kerasa dari jarak 3 meter. Perawakan itu yang buat gue langsung tau Ini pasti masalah cinta.
Tanpa banyak tanya, gue mulai nyiapin cilok. Tangan gue bergerak otomatis, sementara otak gue langsung masuk mode pakar cinta. Cowok galau biasanya cuma ada dua kemungkinan. Ditolak Atau digantung. Dan dari muka dia, gue yakin ini yang kedua.
Dia mulai cerita panjang lebar dan sungguh detail sekali. Bahkan sampai ke hal-hal kecil yang sebenernya nggak perlu dijelasin. Tentang chat yang nggak dibales. Tentang story yang dilihat tapi nggak di-reply. Tentang harapan yang makin hari makin tipis kayak kuah cilok kalau kebanyakan air.
Gue cuma dengerin sambil ngangguk-ngangguk layaknya pakar cinta bersertifikasi internasional. Padahal kalo dalam hati gue cuma bisa tahan tawa karena toh gue juga belum pernah ngerasain pacaran. Setelah dia selesai curhat, gue tarik napas pelan. Ini saatnya momen gue bersinar. Momen di mana seorang tukang cilok berubah jadi Pakar Cinta Jalanan.
“Kalau dia nggak bales chat lo… itu bukan karena dia sibuk.”
“Itu karena… dia lagi nguji kesabaran lo.”
“Dan kalau lo berhasil sabar… berarti lo layak dan lolos ujian dia.”
Gue ngomong dengan penuh keyakinan. Dia langsung fokus. Matanya yang tadi kosong, sekarang mulai terlihat ada cahaya kecil. Dia manggut-manggut dengan pelan. Ekspresi yang terpancar dari wajah kusutnya seakan baru saja menemukan pencerahan hidup. Sementara gue, nyaris ketawa. Saran gue memang sering terdengar masuk akal. Masalahnya nih, gue juga nggak yakin itu bener atau nggak.
Belum lama dia pergi, datang "pasien" lain. Kasus kedua langsung datang padahal gue aja belum sempat minum. Tapi yang ini terlihat sedikit berbeda. Mukanya bukan galau, melainkan terlihat kesal.
Langkahnya cepat dan nafasnya juga terdengar berat. Saat datang dia langsung cerita tentang pacarnya yang berubah. Tentang chat yang mulai dingin. Tentang hubungan yang mulai terasa hambar. Gue langsung masuk ke mode active listener Sambil nyolok cilok satu per satu.
Dari situ, entah kenapa, gue langsung kepikiran kalimat bijak. Hubungan itu cinta itu mirip cilok ya. Kalau terlalu panas, jangan langsung dimakan. Nanti lidah lo kebakar. Tapi kalau didiemin terlalu lama jadi dingin dan nggak enak. Gue sampaikan filosofi itu dengan wajah serius. Seolah-olah itu teori yang gue dapetin dari buku ahli profesional.
Dia diem lumayan lama. Terus dia bilang pelan, “Masuk juga ya, Bang.”
Gue cuma ngangguk pelan padahal dalam hati “Masuk apaan, itu gue juga baru kepikiran barusan.”
Kadang gue heran, bukan sama mereka. Tapi sama diri gue sendiri yang begitu hebat menyakinkan orang lain dengan karangan yang spontan ini. Gimana bisa ya orang-orang percaya sama saran gue. Padahal gue sendiri nggak punya pengalaman? Mungkin karena gue dengerin. Atau bisa juga karena mereka butuh didengerin. Dan gue kebetulan ada di sana dengan ramuan cilok hangat super lezat dari ikan tenggiri asli.
Dan kalau dipikir-pikir lagi posisi gue di tempat ini memang aneh. Di satu sisi, gue cuma tukang cilok biasa. Nggak punya gelar, nggak punya pengalaman cinta, bahkan nggak punya cerita sama cewek yang bisa dibanggakan. Tapi di sisi lain tiap hari gue denger cerita orang lain. Cerita yang kadang lucu, kadang nyebelin, dan kadang juga bikin mikir out of the box.
Pernah suatu sore, ada dua orang datang barengan, cowok dan cewek. Dari cara mereka jalan aja, gue langsung tau ini bukan pasangan yang lagi baik-baik saja. Jarak jalan mereka nggak sejajar, nggak ada kontak mata, dan yang paling jelas nggak ada yang beli cilok gue hahahaha.
Untungnya mereka seperti sadar dan berhenti di depan gerobak gue. Tapi anehnya mereka nggak langsung pesen cuma diem kek patung Pancoran. Gue juga cuma bisa ikut diem karena bingung. Beberapa detik kemudian, si cewek akhirnya ngomong duluan. Suaranya pelan, tapi isinya tajam. Dan dari situ, gue tau ini bukan obrolan santai.
Gue pura-pura sibuk padahal telinga gue udah auto fokus. Mereka mulai debat. Nggak teriak sih, tapi cukup untuk bikin suasana gerobak cilok gue jadi nggak enak. Gue sempet lihat ke arah mereka sebentar lalu balik lagi fokus ke cilok. Beberapa menit kemudian, si cowok akhirnya nengok ke gue. Mungkin sadar dari tadi gue, abang cilok terkece seantero kecamatan Balai Timun, berdiri di depan mereka.
“Bang… menurut abang gimana?”
Nah, Ini dia. Kesalahan yang benar-benar klasik, yaitu Nanya saran ke orang yang lagi jualan cilok. Gue tarik napas pelan karena tau Ini situasi berbahaya level 10. Kalau salah ngomong, bisa jadi gue yang jadi kambing hitam.
Gue liat mereka berdua dengan pelan. Lalu gue bilang,
“Kalau masih bisa dibicarain… jangan diputusin.”
“Karena kalau udah putus… biasanya baru nyesel.”
Mereka cuma diem meninggal keheningan di gerobak cilok gue. Nggak ada yang langsung jawab. Tapi dari cara mereka saling liat gue tau sesuatu berubah. Mungkin nggak langsung baikan sih,Tapi… setidaknya nggak putus di gerobak gue aja.
Begitulah kira-kira keseharian gue. Ngasih saran cinta, ngatur hubungan orang lain, dan jadi tempat curhat. Seolah-olah gue ngerti semuanya. Padahal kenyataannya gue bahkan nggak pernah punya satu hubungan pun yang berhasil. Bahkan hubungan yang dimulai pun nggak pernah ada. Tapi anehnya itu nggak pernah jadi masalah buat gue.
Sampai akhirnya… ada satu momen yang buat gue sendiri mulai bisa ngerasain sakitnya arti kata cinta.
Bab 1 selesai.