Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jarak yang Tak Sempat Kita Ukur

Jarak yang Tak Sempat Kita Ukur

Jejak Cerita | Bersambung
Jumlah kata
26.7K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Jarak yang Tak Sempat Kita Ukur
Jarak yang Tak Sempat Kita Ukur

Jarak yang Tak Sempat Kita Ukur

Jejak Cerita| Bersambung
Jumlah Kata
26.7K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeRomansa ManisDunia Masa Depan
Gavin Adiwangsa adalah seorang ghostwriter elite yang sinis dan tidak percaya pada "inspirasi". Baginya, menulis adalah soal teknik dan logika, bukan perasaan. Ia hidup nyaman di balik layar, mengumpulkan pundi-pundi uang dengan menulis naskah atas nama orang lain, hingga sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya berjanji pada orang tuanya untuk berhenti dari dunia gelap ghostwriting dan mengelola bisnis keluarga di luar kota. Namun, sebelum masa pensiun dininya tiba, Gavin dipertemukan dengan Shena Fadillah. Shena adalah penulis skenario idealis yang sedang di ambang kehancuran karier. Naskahnya ditolak karena dianggap "tidak punya jiwa". Dalam keputusasaan, Shena mengejar Gavin, satu-satunya orang yang ia yakini bisa mengubah naskah sampahnya menjadi mahakarya, meski itu artinya ia harus mempertaruhkan integritasnya sebagai penulis. Hubungan mereka dimulai dengan kontrak profesional yang kaku. Gavin bertugas membedah setiap kata yang ditulis Shena, sementara Shena berusaha membuktikan bahwa perasaan lebih penting daripada teknik. Komedi muncul saat mereka harus melakukan "riset lapangan" untuk adegan romantis—mulai dari kencan pura-pura yang berakhir bencana hingga perdebatan sengit tentang bagaimana seharusnya sebuah perpisahan dituliskan. Benih cinta mulai tumbuh, namun Gavin tetap pada pendiriannya untuk tidak terlibat terlalu jauh. Puncaknya, di sebuah pesta peluncuran buku yang dihadiri keluarga besarnya, Gavin melakukan hal yang tak terduga. Untuk melindungi Shena dari hinaan kritikus, ia mengakui perasaannya secara terbuka di depan semua orang. Namun, Shena yang terkejut dan merasa egonya sebagai penulis terluka, memilih diam dan membiarkan pernyataan itu menggantung. Beberapa hari kemudian, saat Shena akhirnya meruntuhkan gengsinya dan mengakui cintanya di hadapan rekan-rekan mereka, sebuah kenyataan pahit muncul. Gavin telah menandatangani kesepakatan dengan orang tuanya. Demi menebus kesalahan besar keluarganya di masa lalu yang selama ini ia tanggung, Gavin harus pergi meninggalkan dunia kepenulisan dan pindah selamanya untuk mengurus bisnis keluarga yang jauh dari impiannya. Gavin pergi tepat saat cerita mereka baru saja dimulai, meninggalkan Shena dengan satu pertanyaan besar: Apakah jarak yang sekarang memisahkan mereka adalah titik akhir, atau sekadar jeda sebelum babak baru dimulai?
Bab 1 Draft yang Salah Alamat

Lampu neon di kedai kopi itu berkedip tidak stabil, memantul di permukaan meja kayu yang dipenuhi remah roti dan tumpukan kertas naskah.

Gavin Adiwangsa menghela napas panjang, lalu menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Di depannya, Shena Fadillah sedang menatap layar laptop dengan mata merah, rambutnya yang diikat asal-asalan tampak semakin berantakan. Ia baru saja membanting tetikus ke meja karena frustrasi.

"Gavin, ini tidak masuk akal. Kenapa tokoh utamanya harus menyerah di babak kedua? Itu pengecut," cetus Shena sambil menunjuk layar dengan jari gemetar.

Gavin menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada dengan gaya santai yang memuakkan bagi Shena. "Itu namanya realita, Shena. Tidak semua orang punya kemewahan untuk menjadi pahlawan. Kadang, karakter yang paling jujur adalah mereka yang tahu kapan harus lari. Kau ingin naskahmu laku, atau kau ingin tetap jadi penulis idealis yang kelaparan?"

Shena mendengus, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Aku ingin naskah yang punya jiwa, bukan skrip pesanan robot tanpa perasaan sepertimu. Kau ini ghostwriter paling berbakat atau hanya tukang jagal perasaan orang?"

Gavin mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak mereka kini hanya sejengkal. Shena bisa mencium aroma tipis kayu manis dan kopi dari pakaian pria itu.

Tatapan Gavin yang tajam mengunci mata Shena, membuat napas wanita itu sedikit tertahan. Gavin tidak langsung menjawab, ia hanya menatap bibir Shena sejenak sebelum kembali ke matanya. "Jiwa tidak membayar tagihan apartemenmu, Shena. Berikan aku konflik yang menggigit, atau biarkan aku yang menulis ulang bagian perkenalan karakter ini."

"Jangan berani-berani menyentuh bagian itu," ancam Shena, meskipun suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membenahi letak kacamatanya. "Aku sudah riset. Karakter pria ini harusnya menyatakan cinta di depan banyak orang. Itu puncak dramanya. Itu yang disukai penonton!"

"Menyatakan cinta di depan umum bukan romantis, Shena. Itu intimidasi publik," potong Gavin cepat. Ia mengambil selembar kertas, menuliskan sesuatu dengan bolpoin hitamnya, lalu menggesernya ke arah Shena. "Cinta itu seperti draf kasar. Berantakan, penuh coretan, dan tidak pernah benar pada percobaan pertama. Kalau kau mau menulis adegan yang 'menggigit', berhenti membayangkan bidadari turun dari langit. Mulailah membayangkan seseorang yang kau benci, tapi kau butuhkan untuk bertahan hidup."

Shena terdiam, membaca tulisan tangan Gavin yang rapi namun terkesan dingin. Ia merasa tersindir, namun ada benarnya.

Atmosfer di antara mereka berubah menjadi lebih berat, lebih intim namun penuh tekanan. Shena bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu. Ia benci betapa Gavin selalu berhasil membedah pikirannya tanpa izin.

"Jadi, kau sedang membicarakan dirimu sendiri sekarang?" tanya Shena pelan, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti bisikan.

Gavin menutup laptopnya dengan satu gerakan tegas. Bunyinya terdengar nyaring di kedai yang mulai sepi itu. Ia berdiri, memakai jaketnya tanpa melepas pandangan dari Shena. "Aku membicarakan bisnis. Tapi jika kau ingin menganggapnya pribadi, itu hakmu sebagai penulis. Kita lanjut besok. Jangan lupa makan nasi goreng atau apa pun itu agar otakmu tidak makin menyusut."

Gavin berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia berucap dengan nada datar yang penuh teka-teki. "Oh, satu lagi. Orang tuaku sudah memesan tiket keberangkatanku bulan depan. Jadi, pastikan naskah ini selesai sebelum aku benar-benar menghilang dari kredit namamu."

Shena terpaku di kursinya, mulutnya terbuka ingin membalas namun tak ada kata yang keluar. Ia hanya bisa menatap punggung Gavin yang menjauh, sementara di layar laptopnya, kursor terus berkedip pada sebuah kalimat yang baru saja ia ketik: Jarak yang tak sempat kita ukur.

Shena baru saja akan mengejar Gavin untuk menanyakan maksud perkataannya, namun ponselnya berdering. Pesan masuk dari nomor tak dikenal. Shena, jangan percaya sepenuhnya pada Gavin. Dia punya kontrak lain yang akan menghancurkan naskahmu.

Shena menatap pintu kedai yang kosong, lalu kembali ke layar laptopnya. Ia mendadak merasa mual, bukan karena kopi, tapi karena menyadari bahwa komedi yang mereka bangun selama ini mungkin hanyalah prolog dari sebuah tragedi besar.

Dan yang paling menyebalkan, ia lupa membayar tagihan kopi Gavin yang masih tertinggal di atas meja.

Shena menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik yang keras, mengabaikan pesan misterius di ponselnya sejenak.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara malam Bandung yang mulai menusuk tulang. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke sebuah jalanan berdebu di Patrol Kulon, Manonjaya.

Kenangan itu mendadak muncul seperti draf naskah lama yang berantakan, memaksa untuk ditulis ulang. Ia teringat bagaimana rasanya menjadi amatir dalam urusan rasa, jauh sebelum ia mengenal Gavin yang sinis dan dunia industri yang penuh tipu daya.

“Kau melamunkan apa? Nasi gorengmu dingin," tegur Gavin yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja, urung pergi karena kunci motornya tertinggal.

Shena tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menatap Gavin dengan pandangan kosong sebelum akhirnya tertawa kecil yang terdengar hambar. "Aku hanya teringat pertama kali aku jatuh cinta. Di Tasikmalaya. Sangat klise, seperti adegan pembuka drama remaja yang kualitasnya rendah. Aku melihat seorang gadis di atas motor, rambutnya tertiup angin di jalanan Manonjaya, dan aku merasa seperti baru saja ditabrak truk bermuatan rindu."

Gavin menarik kursi di depan Shena, duduk kembali dengan gerakan yang tenang namun mendominasi.

Ia menumpu dagunya pada punggung tangan, menatap Shena dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Jalan Patrol Kulon? Aku tahu tempat itu. Dan biarkan aku menebak, kau pasti merasa deg-degan saat dia tersenyum padamu di kelas, lalu kau hanya bisa diam seperti patung yang sedang menahan buang air kecil?"

Shena mendelik, melempar gumpalan tisu bekas ke arah Gavin. "Kau merusak momennya! Tapi iya, benar. Temanku, Rio, bahkan sampai melongo seperti orang bodoh melihat kecantikannya. Rasanya canggung sekali pada awalnya, Gavin. Tapi lama-lama, rasa canggung itu hilang, berganti jadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sesuatu yang membuatmu berani melakukan hal gila."

Gavin mengambil tisu tersebut, membuangnya ke tempat sampah tanpa mengalihkan pandangan. "Bahaya bukan karena rasanya, Shena. Tapi karena kau menganggapnya sebagai bidadari yang turun dari langit. Itu kesalahan fatal dalam penulisan karakter. Manusia itu punya cacat. Jika kau hanya melihat sayapnya, kau akan buta saat dia menginjak kakimu dengan sepatu hak tinggi."

Shena terdiam, merasakan ketegangan yang merayap di antara mereka. Ia condong ke depan, menantang mata Gavin yang gelap. "Mungkin itu masalahmu, Gavin. Kau terlalu sibuk mencari cacat dalam setiap cerita sampai kau lupa bagaimana rasanya terpesona tanpa alasan. Kau menulis tentang cinta setiap hari, tapi kau seperti orang yang membaca resep tanpa pernah mencicipi masakannya. Pernahkah kau merasa deg-degan hanya karena seseorang tersenyum padamu?"

Gavin terdiam cukup lama. Suasana kedai kopi itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin espreso di kejauhan.

Gavin memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga Shena bisa melihat pantulan dirinya di manik mata pria itu. Hawa hangat dari napas Gavin menyentuh pipi Shena, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Gavin meraih jemari Shena yang berada di atas meja, menggenggamnya dengan kekuatan yang pas, tidak terlalu keras namun tak membiarkannya lepas.

"Kau ingin tahu apa yang membuatku deg-degan?" suara Gavin merendah, menjadi bariton yang dalam dan intim. "Bukan bidadari di atas motor. Tapi seorang penulis amatir yang keras kepala, yang berani mempertanyakan isi hatiku saat naskahnya sendiri sedang berada di ujung tanduk. Itu jauh lebih mematikan daripada senyuman di jalanan Manonjaya."

Shena merasakan jantungnya berdegup kencang, kali ini lebih hebat daripada ingatannya tentang masa lalu. Ia ingin menarik tangannya, namun egonya ingin tetap di sana. Saat atmosfer di antara mereka mencapai titik didih, Gavin tiba-tiba melepaskan genggamannya dan berdiri dengan wajah kembali kaku. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dan meletakkannya di atas meja dengan bunyi klik yang tajam.

"Tadi itu riset adegan, Shena. Jangan masukkan ke hati," ucap Gavin datar, meski ada kilat aneh di matanya. "Di dalam itu ada draf asli dari produser. Ada satu nama yang akan membuatmu mengerti kenapa aku harus pergi ke Bandung dan kenapa naskah 'Jarak yang Tak Sempat Kita Ukur' tidak boleh berakhir bahagia. Bacalah, dan jangan cari aku sampai besok pagi."

Gavin melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Shena yang terpaku menatap flashdisk itu. Saat Shena baru saja menyentuh benda itu, sebuah panggilan masuk kembali muncul di ponselnya.

Nama yang tertera di layar membuat darahnya membeku. Itu adalah nama wanita yang baru saja ia ceritakan pada Gavin. Nama yang seharusnya tetap terkubur di Tasikmalaya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca