

"Reksa, paman harus menitipkanmu di sekte ini."
Paman Reksa melangkah menuju gerbang Sekte Tianyui sambil menggandeng Reksa kecil.
"Paman, apa paman tidak akan menjemputku lagi?" tanya Reksa sambil menatap pamannya.
Pamannya hanya terdiam tanpa berkata apa pun. Selama ini Reksa dirawat seperti anaknya sendiri. Namun, karena kekurangan yang dimiliki Reksa, dirinya dan istrinya tidak mampu lagi terus menjaganya.Belum cacian dan makian para tetangga yang mengatakan kalau reksa keturunan iblis. Karena itu, ia harus menitipkan Reksa di sekte abadi agar bisa hidup mandiri.
"Paman pergi dulu." Ujar pamannya dengan berat hati.
Pamannya akhirnya meninggalkan Reksa seorang diri di depan gerbang sekte tanpa menoleh lagi.
"Pamaaan...!" Reksa berteriak berharap pamannya kembali, tetapi pria itu tetap pergi dan meninggalkannya sendirian.
"Apa kamu Reksa,keponakannya Hartono?" Suara seorang pria dengan wibawa tinggi menghampiri Reksa yang masih berdiri di depan gerbang.
Reksa mengangguk pelan dengan wajah bingung menatap pria setengah baya di depannya.
Pria bernama Bara Aryaguna itu membawa Reksa masuk ke dalam sekte. Bara adalah pemimpin Sekte Tianyui yang sangat dihormati di dunia kultivasi. Ilmunya sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, bahkan hampir menyentuh ranah dewa. Ilmu bela dirinya tiada tandingnya,namun sampai sekarang dia masih sering berkultivasi tertutup.
"Reksa, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini. Ini Azel dan ini Gretel. Mereka adalah anak-anak saya dan juga akan menjadi keluargamu. Jadi kalau ada apa-apa kamu bisa memberitahu kan mereka."
Bara memperkenalkan kedua anaknya kepada Reksa,berharap mereka bisa akur layaknya saudara kandung.
"Reksa, aku akan menjadi kakak laki-lakimu." Azel langsung merangkul Reksa.
"Dan aku... aku akan menjadi istrimu kelak." Ocehan Gretel membuat semua orang di aula utama tertawa mendengarnya.
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Reksa terus berlatih dengan giat agar bisa mencapai tahap pemula sebagai seorang kultivator. Namun kekurangan yang dimilikinya membuat ia sangat kesulitan mengeksplorasi tenaga spiritualnya.
Bahkan, ia sering dirundung oleh sesama murid sekte yang menganggapnya sebagai kultivator aneh karena tidak bisa melihat warna apapun.. Untungnya, Azel dan Gretel selalu membela serta menemaninya.
Reksa akhirnya tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Dengan tingkat kultivasi yang masih rendah, ia tidak pernah pantang menyerah. Setiap malam, ia akan berlatih bela diri seorang diri. Baginya, hari ini belum tentu sama dengan hari esok. Dia hanya berharap suatu saat dia bisa membuktikan ke dunia,meski dia punya kekurangan namun dia bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Malam ini dia sedang berlatih seorang diri
Tiba-tiba ia melihat bayangan hitam terbang menuju kediaman ketua sekte.
"Itu apa?" Ia menunjuk ke arah bayangan hitam tersebut.
"Apa jangan-jangan itu kaum siluman?" Reksa panik dan segera berlari menuju kediaman ketua sekte. Dia takut sesuatu terjadi pada ketua sektenya.
Malam yang sunyi membuat suasana sekte terasa sepi sehingga pengawasan tidak terlalu ketat. Lagi pula, sekte tersebut sudah dilindungi oleh formasi kekuatan spiritual yang konon mampu mencegah kaum siluman masuk sembarangan.
Baru sampai di depan kediaman ketua sekte, Reksa sudah mendengar suara pertarungan dari dalam. Dengan keberanian yang tersisa, ia memberanikan diri masuk.
"Reksa...keluar!" bentak Bara dengan suara keras.
Anehnya, Reksa tidak melihat siapa pun yang sedang bertarung dengan ketua sekte.
"Tapi..." Dia masih menatap Bara dengan bingung.
"Keluar!" bentak Bara sekali lagi.
Saat Reksa hendak keluar, ia kembali menoleh ke arah ketua sekte. Matanya membulat tidak percaya. Ia melihat Bara seperti kerasukan. Tatapan matanya berubah, dan wajahnya dipenuhi urat-urat yang menonjol.
"Ketua Sekte..." Reksa berlari menghampiri Bara dengan perasaan cemas.
Bara yang sudah tidak mampu mengendalikan kekuatan yang memasuki tubuhnya. Ia menjadi menggila dan langsung menyerang Reksa tanpa sengaja.
Pertarungan pun terjadi.
Reksa yang memiliki kultivasi rendah tentu menerima serangan berkali-kali dan tak bisa melawan. Bahkan beberapa kali ia memuntahkan darah akibat pukulan Bara.
Di balik belenggu kekuatan hitam yang sudah merasukinya,Bara masih memiliki hati nurani. Ia tidak tega melihat kondisi Reksa. Dia tidak ingin sepenuhnya dikuasai kekuatan hitam tersebut, sehingga dia menyerang dirinya sendiri dengan tenaga dalamnya.
"Bruuukkk!"
Bara ambruk setelah menghantam dadanya sendiri dengan Jurus Telapak Angin yang dikuasainya. Darah mengucur dari sudut mulutnya.
Pada saat yang sama, beberapa tetua sekte dan murid lainnya berdatangan setelah mendengar keributan dari kediaman ketua sekte.
"Ketua Sekte...!" teriak salah satu tetua.
Mereka segera memeriksa kondisi Bara yang sudah terkapar. Bahkan dia sudah tak bernyawa saat ini.
Semua mata kemudian tertuju pada Reksa yang tubuhnya penuh luka. Kebetulan dia masih ada dalam ruangan tersebut.
"Saya... saya... bukan saya." Reksa berusaha menjelaskan bahwa dirinya bukan pelakunya.
"Tidak ada siapa pun di ruangan ini selain kamu, Reksa!" tatap salah satu tetua dengan tajam menuduhnya.
"Jangan-jangan dia adalah siluman yang dicari-cari selama ribuan tahun ini. Dan dia dikutuk menjadi kultivator rendah dengan kekurangan tidak bisa melihat warna!" Semakin banyak orang yang menuduh Reksa saat ini.
"Saya bukan siluman!"Reksa terus menggeleng.
"Habisi dia!" seru salah satu tetua memberi perintah.
Reksa yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa menerima serangan para kultivator tingkat tinggi. Tubuhnya penuh luka. Inti jiwanya bahkan sudah rusak parah.
"Azel....." lirih Reksa saat melihat Azel yang berjalan mendekat. Ia berharap sahabatnya itu masih mau mempercayainya.
"Reksa... Apa yang sudah kau lakukan kepada ayahku? Apakah kau sudah membunuh ayahku!" Azel tampak sangat marah sambil menggenggam pedangnya erat.
Untungnya, Gretel datang dan berdiri di depan Reksa.
"Kakak, hentikan! Aku yakin Reksa bukan pelakunya!" Gretel berusaha melindungi Reksa.
" Gretel, kau jangan buta karena cinta. Dia sudah membunuh ayah kita. Padahal ayah menyayanginya seperti anaknya sendiri!"
Emosi Azel sudah tidak tertahankan lagi. Cahaya biru muncul dari telapak tangannya, lalu melesat menghantam dadanya Reksa hingga tubuh pemuda itu terlempar ke arah ujung Jurang Keabadian.
"Aku bersumpah... aku tidak membunuhnya." Reksa berusaha berdiri dengan sisa tenaganya.
"Baiklah, jika kalian tidak percaya. Aku..."
Tubuh Reksa tiba-tiba terpental ke bawah jurang setelah menerima serangan dari salah satu tetua. Tetua itu menggunakan Ilmu Seribu Es, sebuah teknik mematikan yang hampir tidak mungkin membuat korbannya bertahan hidup.
"Reksa...!" Siren menangis histeris sambil berlari ke tepi jurang. Sayangnya, tubuh Reksa sudah tidak terlihat lagi. Ia telah jatuh ke dasar jurang yang belum pernah dijangkau siapa pun.
Konon, dasar jurang itu merupakan tempat berkumpulnya para siluman dan iblis yang telah disegel ribuan tahun lalu.
Sementara itu, seluruh sekte diliputi duka mendalam atas kematian Bara sang pemimpin sekte yang selama ini dikenal bijaksana dan berwibawa.