

Sore itu , mentari kemerahan menyebar melalui jendela kaca dapur apartemen lantai 9. Udara masih terasa hangat, bercampur angin sepoi yang bikin kipas angin di sudut ruang makan berbunyi pelan.
Di tengah dapur yang hanya cukup muat bagi satu orang berdiri dengan nyaman, aku berdiri tegak seperti koki profesional di depan kompor. Tangan kananku yang kuat dan lincah terus mengaduk masakan yang aku buat untuk acara syukuran atas kelulusan Sinta. Dia lolos audisi acara TV yang baru saja diluncurkan.
Sinta adalah tetangga sebelah di unit 503 dan teman masa kecilku yang ceria. Dia selalu bercita-cita ingin menjadi selebriti di TV. Meskipun aku tahu banget kalau Sinta sama sekali belum bisa memasak apa-apa. Tapi beruntungnya dia berhasil lolos audisi acara program memasak baru yang bernama"HAPPY KITCHEN".
Ketika aku sedang sibuk memasak di dapur, ibuku tiba-tiba datang dari belakang. Dia ingin melihat aku sedang memasak hidangan apa, lalu langsung mencicipi sedikit makananku dengan jarinya.
"Hei! Jangan colek-colek makanan begitu, dong?" tegurku sedikit kesal dengan apa yang dilakukan ibu tadi.
"Hehehe! Apa ini? Kok kamu membuat masakan sebanyak ini?" tanya ibuku yang bernama Karina bingung.
"Ini untuk acara syukuran karena Sinta lolos audisi acara TV yang baru nih," jawabku sambil tetap fokus memasak.
"Oh, tetangga yang di sebelah..... Pantas saja semua itu, karena dari hasil kerja kerasnya sendiri. Semangat sekali ya!" kata ibu sambil melihat anaknya yang sedang memasak.
"Buatkan sesuatu untuk ibu dong," sambungnya lagi sambil terus menatapku. ya
"Hari ini begadang lagi ya?" tanyaku sambil lanjut memasak.
"Iya nih, tiba-tiba saja naskahnya harus diubah total, padahal sudah gak ada waktu lagi," jawab ibu sambil menjelaskan.
"Sekarang masih bisa, tapi kalau sudah gak terkenal lagi nanti, pasti bakal nganggur lagi. Makanya sekarang aku juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga," kataku sambil memasak.
Aku hanya tinggal berdua bersama ibuku, dia bekerja sebagai penulis skenario. Aku biasanya di juluki sebagai "Bocah masak jenius" karena keterampilan memasakku yang luar biasa. Kemampuanku ini tumbuh karena ayahku dulu yang pandai memasak meninggal saat aku masih kecil, aku harus belajar mengurus segala sesuatu tentang rumah tangga karena ibuku sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis skenario. Ayahku dulu sangat pandai memasak, aroma rempah-rempah dan suara api yang mengepul di kompor adalah kenangan yang paling terindah aku bersama ayah. Sejak saat itu aku mulai membuka buku resep lama ayah, mencoba mengulang setiap hidangan yang pernah ayahku masak dengan teliti, hingga akhirnya aku bisa mempunyai kemampuan bakat luar biasa ini sama seperti ayahku dulu.
Setelah selesai memasak, aku langsung pergi ke tempat Sinta untuk memberikan makanan yang tadi aku buat.
"Aku pergi ke rumah Sinta dulu ya," kataku kepada ibu sambil pamit.
"Kasih salam buat Sinta ya dari ibu," jawabnya sambil mengantarkan aku ke depan pintu.
Di malam itu, di rumah Sinta diadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan Sinta yang lulus audisi acara di TV yang baru.
Suasananya cukup tenang, dan hanya aku dan kedua orang tua Sinta saja yang ada di sana, sambil menunggu makanan yang aku buat disiapkan.
"UWAH! APA INI!" sentak Sinta, terkejut melihat hidangan yang aku bawa di atas meja.
"Wah kayaknya ini enak banget ya," ucap ibu Sinta sambil menatap apa yang aku bawa di atas meja makan.
"Wah kamu benar-benar hebat ya Rafael!" puji ayah Sinta kepadaku.
"Terima kasih Rafael aku senang banget," ucap Sinta sambil menatap aku dan tersenyum lebar.
Aku langsung tersenyum balik, dan tanpa sadar membuat pipiku jadi panas seperti direbus.
"Ayo mari kita makan. Rafael juga ikutan makan ya," ajak ibu Sinta dengan ramah.
"Sinta kamu harus berjuang lagi ya di babak terakhir nanti," kata ayah untuk menyemangati Sinta.
"Iya Ayah! itu pasti!" jawab Sinta dengan penuh semangat.
"Apa babak terakhir? Apa maksudnya?" tanyaku kaget ketika mendengar hal itu.
"Aku belum bilang ya? Hari ini ada audisi kedua, dan Minggu depan ada babak terakhir," balas Sinta santai sambil mengunyah makanan.
"Tapi kalau anak kita ini wajar saja ya bisa lulus?" tanya ibu Sinta kepada ayahnya.
"Iya dong, ibu benar sekali," jawab ayah Sinta sambil tersenyum.
Sedangkan aku yang duduk di belakangnya langsung terkejut mendengar apa yang diucapkan Sinta tadi "Kalau begitu, yang aku buat dengan susah payah ini menjadi sia-sia dong," gumamku dengan nada kesal.
"Kalau sudah pasti terpilih nanti buatkan lagi ya Rafael," ujar Sinta kepadaku sambil tersenyum manis.
Aku yang merasa kesal dan kecewa pergi dari ruangan itu , aku langsung pergi ke balkon atas apartemen untuk menenangkan diri sebentar. Di sana, aku melihat bola basket yang pernah aku mainin di halaman apartemen, lalu aku bersandar di sudut balkon dan menyentuh bola itu.
Namaku Rafael Zaki Pratama, lahir pada tanggal 5 April, golongan darah B, hobiku bermain basket.
Kalau aku merasa kesal atau bingung, aku biasanya melampiaskan emosiku dengan bermain bola basket di lapangan dekat kompleks. Tapi pada malam itu, aku hanya bisa berdiam diri sambil melihat langit malam yang baru tampak bintangnya.
Sinta yang melihatku ada di balkon, langsung pergi menghampiriku. "Kamu kenapa Rafael kok di sini sendirian?" tanya Sinta dengan lembut sambil mendekatiku.
"Kamu marah ya?" tanya Sinta lagi bingung.
"Iya, aku marah!" jawabku langsung dengan wajah yang masih kesal.
"Ada apa?" tanyaku lagi kepada Sinta yang sudah ada di samping, sambil tetap ngeliatin langit.
"Hehehe..." balas Sinta hanya bisa tersenyum kecil.
Di ruang tamu, ibuku juga sudah hadir dalam acara syukuran untuk Sinta. "Ibunya Rafael juga datang loh," kata ibu Sinta sambil minum.
"Soalnya kan gak ada kesempatan minum teh bareng ya ?" ujar ayah Sinta kepada ibuku sambil minum teh.
"Apa boleh buat, karena lagi dikejar-kejar dead line sih," jawab ibuku sambil minum teh bareng.
"Untuk drama yang akan mulai di musim semi ya," kataku sambil bercerita.
"Ya benar, seperti itu," balasnya sambil mengangguk.
"Kita juga sebentar lagi sudah masuk SMP ya. Aku selalu nungguin bekal buatan Rafael loh," sambung Sinta sambil tersenyum lebar.
"Hah! Serius!" aku langsung kaget banget mendengarnya.
"Habis daripada masakan ibuku yang selalu instan, aku lebih suka masakan yang kamu buat itu," sahut Sinta lembut sambil tersenyum dan menatap aku.
Aku hanya bisa diam sambil menatapnya balik.
"Tapi kamu jangan bilang ke siapa-siapa ya! pokoknya gak boleh ada yang tahu titik," kataku dengan suara tenang tapi tegas.
"Iyaaa...!" jawab Sinta senang banget sambil tersenyum.
Pada pagi hari yang cerah, di apartemen terdengar suara bel pintu yang berbunyi keras dari unit aku, yaitu nomor 503.
"Ting tong! Ting tong! Ting tong!"
Itu menandakan ada orang di depan pintu, kemudian aku langsung membukanya.
"iyaaa sebentar!" aku berjalan cepat sambil membuka pintu.
Ternyata yang datang pagi-pagi buta itu adalah Sinta, dengan keadaan menangis terisak-isak sambil membawa sepucuk surat yang ada di genggaman tangannya.
"Gimana ini Rafael...Gimana ini... ," paniknya sambil menangis semakin parah.
Aku yang melihat itu langsung kaget, dan bingung tidak bisa berkata apa-apa. Aku langsung mengambil surat dari tangan Sinta, lalu membacanya.
"Mereka yang masih bertahan sampai tahap babak terakhir ini harus menunjukkan menu yang paling mereka kuasai di hadapan dewan juri... Maksudnya ini buat audisi acara memasak ya?" aku kaget banget setelah membaca isi surat itu.
"Aku belum bilang sama kamu ya?" tanya Sinta sambil bingung sendiri.
"Kamu sama sekali belum bilang apa-apa! Padahal ini penting banget!" sahutku dengan nada kesal, bahkan sampai memalingkan muka dan melemparkan surat itu ke meja.
"Kamu kan sama sekali belum bisa belajar memasak apa-apa! kamu gak mungkin bisa deh? lebih baik kamu menyerah saja! Apalagi kamu sudah berbohong besar kan sama aku!" bentakku sambil makin marah.
Mata Sinta langsung berkaca-kaca dan memerah. Dia hanya bisa menangis terus tanpa bisa berkata apa-apa lagi, air matanya mengalir deras sampai membasahi pipinya.
"Ini kesempatan buat aku untuk jadi idola yang aku mau sejak dulu! Aku juga seharusnya bisa ketemu sama idolaku! Padahal ini untuk pertama kalinya aku bisa lolos ke babak terakhir, dan tadinya aku pikir kamu selalu bakal membantu aku..." sahut Sinta sambil menangis terisak-isak karena perkataanku tadi.
Aku yang melihat wajah Sinta seperti itu langsung merasa bersalah dan meminta maaf kepadanya. "Maaf ya, Sinta. aku yang salah. Pokoknya apa saja yang bisa aku bantu, aku akan membantu kamu! Aku janji!" ucapku sambil membungkuk dan kedua tanganku menyatu di depan dada.
Saat mendengar perkataanku itu, ekspresi wajahnya langsung berubah. Dari menangis parah, dia kemudian tersenyum lebar sambil menatapku, lalu langsung memelukku erat.
"Beneran ya Rafael?" tanya Sinta sambil peluk aku.
"Wah, aku seneng banget!" seru Sinta sambil peluk aku makin erat karena senang.
"Enaknya aku jadi yang dipuji..., " gumamku dalam hati sambil sedikit tersenyum.