Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bima dan Sistem Impian Penguasa

Bima dan Sistem Impian Penguasa

Super Rich Man | Tamat
Jumlah kata
205.5K
Popular
12.5K
Subscribe
1.1K
Novel / Bima dan Sistem Impian Penguasa
Bima dan Sistem Impian Penguasa

Bima dan Sistem Impian Penguasa

Super Rich Man| Tamat
Jumlah Kata
205.5K
Popular
12.5K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+HaremSupernatural
Bagi para laki-laki, ukuran kejantanan adalah harga diri terbesar mereka. Namun, bagi Bima hal tersebut adalah aib. Saat berkencan dengan Valentine yang merupakan kekasihnya, Bima ditertawakan karena ukuran kejantanannya yang sangat kecil. Parahnya lagi, berita itu tersebar ke seluruh penjuru kampus, membuat Bima jadi bahan olok-olok. Dan itu hanya satu dari sekian banyak perlakuan buruk yang ditujukan padanya gara-gara masalah kejantanannya itu. Suatu ketika, sebuah sistem misterius aktif, membuat ukuran kejantanan Bima menjadi lebih besar setiap kali dia menyelesaikan misi. Bima yang dulunya dicampakkan dan diolok-olok, kini membuat wanita-wanita bertekuk lutut memohon belas kasihnya.
01. Dipermalukan

"Aku pikir, dia bakal nerima aku apa adanya. Gara-gara Valentine, semua orang jadi tau kalo punyaku ini cuma segede kelingking. Sial, rasanya mau mati aja."

Bima Anggara, mahasiswa tahun pertama di universitas swasta di kota B. Malam ini, Bima mengendarai sepeda motornya dengan perasaan yang campur aduk antara gugup dan bersemangat.

Di bangku belakang. Valentine, gadis yang telah mengisi hari-harinya selama satu tahun terakhir. Memeluk pinggang Bima erat, menyandarkan dagu di bahu Bima.

Bima bukanlah sosok atletis yang sering menghiasi sampul majalah kebugaran. Ia hanyalah mahasiswa semester dua yang lebih sering menghabiskan waktu di depan layar monitor.

Tubuh Bima memang agak kurus, dan kacamata berbingkai hitam selalu bertengger di hidungnya. Namun, Bima memiliki wajah yang manis dengan senyum yang tulus, sesuatu yang menurut Valentine sangat menggemaskan.

Sementara Valentine, gadis cantik berambut cokelat. Tidak hanya cantik, gadis itu juga memiliki tubuh yang seksi.

Malam itu, setelah makan malam romantis yang menguras tabungan bulanan Bima. Suasana berubah menjadi lebih intens. Kata-kata manis berganti menjadi bisikan-bisikan berani. Valentine, dengan keberanian yang tak terduga, mengusulkan agar mereka mencari tempat yang lebih "pribadi" untuk menghabiskan sisa malam.

Mereka akhirnya sampai di sebuah motel kelas menengah di pinggiran kota. Jantung Bima berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ini adalah pertama kalinya bagi Bima.

Sebagai seorang perjaka, ia hanya tahu teori dari cerita teman-temannya atau potongan film yang tak sengaja ia tonton. Membuat suasana semakin menegangkan.

"Kamu gugup, Bim?" bisik Valentine sambil melepas jaket denimnya.

Bima membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit turun karena keringat dingin. "Sedikit. Maksud aku, aku hanya ingin semuanya sempurna untukmu, Val."

Valentine tersenyum manis, mendekati Bima dan mulai membuka kancing kemeja pria itu satu per satu. Bima merasa seolah waktu melambat.

Di bawah cahaya lampu temaram berwarna kuning, Valentine terlihat sangat cantik. Kepercayaan diri Bima sedikit meningkat, ia merasa beruntung bisa mendapatkan gadis sepopuler Valentine.

Setelah beberapa saat pemanasan yang penuh kecanggungan dan manis, tibalah saatnya mereka menanggalkan seluruh pelindung diri. Bima berdiri di tepi ranjang, merasa sedikit terekspos dan juga bangga akan momen kedewasaan yang akan ia lalui.

Namun, saat Bima melepaskan pakaian dalamnya. Suasana yang tadinya panas tiba-tiba membeku.

Valentine terdiam. Matanya tertuju ke arah bawah, ke arah bagian paling pribadi dari tubuh Bima. Keheningan itu berlangsung selama lima detik yang terasa seperti selamanya bagi Bima. Kemudian, secara perlahan, bahu Valentine mulai bergetar.

Bukan karena gairah. Namun, karena tawa yang tertahan.

"Pffft! Bim?" Valentine menutup mulutnya dengan telapak tangan, tetapi tawa itu akhirnya meledak juga. "Hahaha! Astaga, Bima! Kamu serius?"

Wajah Bima yang tadinya merah karena gairah seketika berubah pucat, lalu menjadi merah padam karena malu. "Ada apa, Val? Kenapa kamu ketawa?"

Valentine mencoba mengatur napasnya. Namun setiap kali ia melirik ke bagian bawah tubuh kekasihnya, tawanya kembali pecah. “Hahaha! Maaf, aku gak bermaksud jahat, beneran. Tapi itu ... itu kecil banget, Bima! Bahkan jari telunjuk aku aja jauh lebih panjang dari punya kamu, Bim!”

Bima segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dunianya seakan runtuh seketika. "Val, itu gak lucu. Ini ... ini normal bagi beberapa orang."

"What? Seriously? Normal?" Valentine menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

"Bim, aku pernah lihat punya mantanku, dan punya kamu itu kayak jempol bayi. Gimana kamu bisa berpikir untuk 'bersenang-senang' dengan ukuran seperti itu? Apa itu akan terasa? Geli juga enggak, Bim!”

Kata-kata Valentine menusuk lebih dalam daripada ejekan mana pun yang pernah Bima terima seumur hidupnya. Selama setahun ini, ia memuja Valentine. Ia memberikan segalanya, waktu, perhatian, hingga tugas-tugas kuliah yang sering ia kerjakan untuk gadis itu.

Namun, di saat paling intim. Valentine justru menghancurkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

"Aku gak nyangka kamu akan bereaksi kayak gini," ucap Bima, bergetar. Ia meraih kacamatanya yang sempat diletakkan di nakas, memakainya kembali seolah kacamata itu adalah perisai terakhirnya. "Aku pikir kita punya koneksi yang lebih dari sekadar fisik."

Valentine menyadari bahwa ia mungkin sudah keterlaluan, tetapi sisa-sisa tawanya masih sulit disembunyikan. "Ayolah, Bim, jangan baper. Aku cuma jujur. Mungkin kamu harus minum ramuan atau semacamnya? Atau mungkin kamu memang diciptakan hanya untuk menjadi pria pintar, bukan pria perkasa."

Bima terdiam. Ia mulai mengenakan pakaiannya kembali dengan gerakan yang kaku. Perasaan cinta yang tadinya memenuhi dadanya kini berganti menjadi rasa hampa yang dingin.

"Mau ke mana?" tanya Valentine saat melihat Bima memakai sepatunya.

"Aku mau pulang," jawab Bima pendek.

"Eh? Kita bahkan belum mulai! Lagipula, aku gak keberatan nyoba, meski mungkin rasanya gak akan ada bedanya dengan gak pakai apa-apa," Valentine berkata dengan nada santai, seolah ejekan itu adalah hal yang wajar dalam sebuah hubungan.

Bima berhenti sejenak di depan pintu. Ia menoleh sedikit, menatap Valentine melalui lensa kacamatanya yang kini terlihat buram karena embun emosi. "Mungkin ukuranku kecil, Val. Tapi rasa hormatku pada wanita tadinya sangat besar. Malam ini, kamu baru saja mengecilkan semuanya."

Suasana di dalam kamar motel yang tadinya dipenuhi tawa mengejek tiba-tiba berubah tegang. Ada sesuatu yang patah di dalam diri Bima.

Harga diri yang selama ini ia jaga, harga diri yang ditekan oleh rasa minder karena tubuhnya yang tidak atletis. Mendadak meledak menjadi amarah yang dingin.

Bima tidak jadi melangkah keluar. Ia berbalik, menatap Valentine dengan pandangan yang tidak pernah gadis itu lihat sebelumnya.

“Oke, kalo itu emang maunya kamu,” ucap Bima. Tatapannya tampak tajam di balik lensa kacamatanya.

Tanpa sepatah kata pun, Bima melepas kembali kemeja dan celananya dengan gerakan kasar, melemparnya ke sembarang arah.

"Bim? Kamu mau apa?" Valentine sedikit terperanjat, tawanya mereda digantikan rasa bingung.

Bima tidak menjawab. Ia menerjang ke arah ranjang, menindih tubuh Valentine dengan seluruh berat badannya. Ia ingin membuktikan sesuatu, dan ingin membungkam tawa kekasihnya itu dengan tindakan.

Dalam benak Bima yang sedang kacau, ia merasa harus menuntaskan apa yang telah mereka mulai. Demi menegaskan statusnya sebagai seorang pria. “Aku bakal buktiin ke kamu, ukuran itu gak penting. Yang penting itu goyangannya!”

Terjadilah pergulatan singkat yang canggung. Bima memaksakan gairahnya yang tersisa, melakukan penetrasi dengan napas yang memburu.

Bima bergerak dengan ritme yang tak beraturan. Sampai keringat menetes dari dahinya ke pipi Valentine. “Uuggh! Gimana, enak?”

Bima memejamkan mata erat-erat, membayangkan bahwa momen ini akan menjadi momen penyatuan yang penuh gairah. “Jangan diem aja, dong! Kalo enak, bilang!”

Bima pikir, kekasihnya itu akhirnya akan mendesah dan mengakui keberadaannya. Namun, kenyataan justru jauh lebih kejam.

Setelah beberapa menit yang bagi Bima terasa seperti perjuangan hidup dan mati. Ia merasakan tubuh Valentine di bawahnya sama sekali tidak bereaksi.

Gadis itu tidak membalas pelukannya, tidak pula mendesah. Yang terdengar justru suara yang paling Bima takuti.

"Bima, berhenti!" Valentine kembali tertawa, kali ini lebih keras dan terdengar sangat sinis. "Stop, Bim! Ini benar-benar konyol!"

Bima tertegun, gerakannya terhenti. Ia menatap wajah Valentine yang memerah karena tertawa, bukan karena kenikmatan.

"Udah selesai belum?" tanya Valentine, sambil mendorong bahu Bima agar menjauh. "Demi Tuhan, aku sama sekali gak merasakan apa-apa! Itu tadi, kayak ada semut yang lewat di kulitku. Benar-benar hampa, Bim. Kosong!"

Bima terpaku, merasa seperti disambar petir di siang bolong. Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara detak jantung Bima yang hancur berkeping-keping.

Wajah Valentine tiba-tiba berubah drastis. Tawa sinisnya hilang, berganti menjadi raut wajah jijik dan amarah yang meluap. Ia bangkit dari ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya seolah-olah Bima adalah kotoran yang baru saja mengenainya.

"Keluar!" teriak Valentine tiba-tiba. suaranya melengking memenuhi kamar motel yang sempit itu.

"Val, aku—"

"Aku bilang KELUAR!" Valentine menunjuk ke arah pintu dengan jari yang gemetar. "Kamu udah merusak segalanya! Aku jijik! Aku nyesel udah ngebiarin pria dengan 'benda' sekecil itu menyentuhku. Aku merasa ternoda, Bim! Kamu benar-benar memalukan!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca