

Kalau ada kompetisi untuk cara bangun tidur paling buruk sedunia, aku pasti juaranya.
Biasanya, aku bangun karena bunyi alarm ponsel yang menyebalkan atau teriakan tetangga sebelah yang hobi memanaskan motor tuanya pukul enam pagi. Tapi kali ini, aku bangun karena hidungku gatal luar biasa. Aroma melati yang sangat menyengat menusuk-nusuk paru-paruku, bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan dan sesuatu yang... manis? Seperti bau kemenyan yang sering dibakar nenekku dulu saat malam Jumat Kliwon.
"Aduh..." aku mengerang, mencoba memijat pelipisku yang rasanya mau pecah. "Siapa sih yang bakar sampah kembang di depan kamar?"
Mataku masih terasa seperti dilem. Aku memaksa kelopak mataku terbuka perlahan, mengharapkan langit-langit kamar kosku yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Tapi, pemandangan yang menyambutku justru membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
Langit-langit? Tidak ada. Yang ada hanyalah kanopi pepohonan raksasa yang tingginya mungkin mencapai lima puluh meter. Daun-daunnya berwarna hijau gelap, hampir kebiruan, dengan cahaya matahari yang menembus celah-celahnya dalam bentuk garis-garis emas yang tampak mistis.
"Ini... bukan kosan Pak Haji," gumamku pelan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, serak dan gemetar.
Aku langsung terduduk tegak. Rasa sakit di kepalaku langsung terlupakan begitu melihat di mana aku berada. Aku duduk di atas sebuah batu besar yang permukaannya halus seperti marmer hitam, di tengah-tengah hamparan bunga yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Warnanya putih berkilau, memancarkan cahaya redup di tengah hutan yang rimbun ini.
Nama aku Raka Pratama. Usiaku dua puluh tiga tahun. Terakhir yang kuingat, aku sedang berjalan pulang setelah shift sore di minimarket, menyeberang jalan sambil menguap karena mengantuk, dan kemudian... gelap. Ada suara decit ban mobil? Atau cahaya lampu depan yang menyilaukan? Entahlah, ingatanku seperti kaset yang pitanya kusut.
"Oke, Raka. Tenang. Tarik napas," aku mencoba menenangkan diri sendiri. "Paling ini cuma mimpi. Mungkin aku pingsan karena kelelahan kerja lembur bagai kuda, lalu sekarang otakku lagi bikin skenario isekai murahan karena aku kebanyakan baca Novel."
Aku mencubit lenganku kuat-kuat.
"Sial! Sakit!" aku memekik. Kulitku merah, dan rasa perihnya sangat nyata.
Ini bukan mimpi. Dinginnya udara yang menyentuh kulitku, suara kicauan burung yang nadanya terlalu merdu untuk jadi nyata, dan bau tanah ini... semuanya terlalu detail untuk sebuah halusinasi.
Aku berdiri, mencoba mencari arah. Aku masih memakai seragam kerjaku, kemeja merah-biru yang bertuliskan 'I-thon Mart' di dada kiri. Kontrasnya luar biasa. Aku berdiri di tengah hutan purba yang terlihat seperti lokasi syuting film kolosal, lengkap dengan seragam kasir minimarket yang bau keringat.
"Permisi? Ada orang?!" teriakku.
Hening. Hanya suara desis angin di antara pepohonan.
Aku mulai berjalan asal, mengikuti insting. Semakin jauh aku melangkah, semakin aneh hutan ini terasa. Pohon-pohonnya memiliki ukiran alami di batangnya, seperti relief candi yang terbentuk dari kulit kayu. Akar-akarnya menjalar seperti ular besar yang sedang tidur.
Setelah sekitar lima belas menit berjalan dengan kaki gemetar, aku sampai di sebuah area terbuka. Di depanku mengalir sebuah sungai yang airnya sejernih kristal. Begitu jernihnya sampai aku bisa melihat dasar sungai yang terdiri dari batu-batu warna-warni. Dan di sana, di tengah sungai, ada sebuah air terjun kecil yang jatuhnya menimbulkan suara gemericik yang menenangkan.
Namun, bukan air terjunnya yang membuatku terpaku.
Di bawah air terjun itu, ada seorang wanita.
Dia duduk di atas batu besar, membelakangiku. Rambutnya hitam legam, panjang menjuntai hingga menyentuh air, berkilau seperti sutra di bawah sinar matahari. Dia mengenakan semacam kain kemben berwarna hijau tua dengan corak emas yang sangat rumit. Di lengan atasnya, ada hiasan kelat bahu berbentuk naga kecil yang terbuat dari emas murni.
Dia sedang menyisir rambutnya dengan sisir kayu. Gerakannya pelan, anggun, tapi entah kenapa, atmosfer di sekitarnya terasa sangat berat. Dingin. Seolah-olah suhu di sekitar sungai itu turun sepuluh derajat lebih rendah dibanding di dalam hutan tadi.
"E-anu... permisi, Mbak?" panggilku ragu.
Gerakan sisirnya berhenti.
"Aku tersesat. Mbak tahu jalan keluar dari hutan ini? Atau mungkin tahu di mana ada sinyal? Ponselku mati, dan..."
Wanita itu menoleh.
Duniaku seolah berhenti berputar. Wajahnya... aku tidak punya kata-kata untuk mendeskripsikannya. Dia cantik, jelas. Tapi kecantikannya bukan seperti manusia. Kulitnya pucat namun bercahaya, matanya tajam dengan iris berwarna biru samudera yang dalam. Ada aura kekuasaan yang begitu pekat memancar darinya sampai-sampai kakiku terasa lemas hanya dengan menatap matanya.
Dia tidak bicara. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sangat dingin. Seolah-olah aku ini hanyalah serangga yang tidak sengaja hinggap di bajunya.
"Manusia?" suaranya keluar. Halus, tapi bergema di dalam kepalaku seperti suara lonceng perak. "Bagaimana mungkin mahluk kasar sepertimu bisa menembus segel Saptapala?"
"Segel... apa? Mbak, aku beneran nggak tahu. Aku cuma mau pulang. Tadi aku lagi nyebrang jalan di Jakarta, terus..."
"Jakarta?" Dia mengernyitkan dahi. Nama itu jelas asing baginya.
Dia berdiri dari batunya. Dan saat itulah hal yang luar biasa terjadi. Air sungai di sekelilingnya tiba-tiba naik, membentuk anak tangga yang kokoh seolah-olah air itu adalah benda padat. Dia melangkah di atas air dengan anggun, menuju ke arahku.
Aku mundur selangkah, dua langkah, sampai punggungku menabrak pohon besar. "Mbak... eh, Dewi... eh, Nona... jangan macam-macam ya. Aku nggak punya uang. Aku cuma kasir minimarket!"
Dia berhenti tepat di depanku. Jarak kami hanya satu meter. Bau melati yang tadi kurasakan saat bangun kini seribu kali lebih kuat. Ini adalah bau wanita ini.
Dia menyipitkan matanya, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang lentik menyentuh dadaku, tepat di atas logo I-thon Mart.
Tiba-tiba, jantungku berdenyut kencang. Panas yang luar biasa menjalar dari titik sentuhannya ke seluruh tubuhku. Aku merasa seolah-olah darahku mendidih. Sebuah simbol bercahaya keemasan muncul sesaat di balik kemejaku, membentuk pola rumit menyerupai bunga teratai.
Wanita itu menarik tangannya dengan cepat, wajahnya yang tadi dingin kini menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa.
"Tanda itu..." gumamnya. Suaranya tidak lagi dingin, tapi penuh dengan ketidakpercayaan.
Dia langsung berlutut di depanku. Kepalanya tertunduk dalam.
"Hamba, Dyah Ayu Segara, Putri Ketujuh dari Keraton Kidul... memohon ampun atas kelancangan hamba," ucapnya dengan nada formal yang sangat kaku.
Aku melongo. Mulutku terbuka lebar seperti orang bodoh. "Eh? Apa-apaan ini?"
"Takdir yang telah lama hilang kini telah kembali," lanjutnya tanpa mengangkat kepala. "Selamat datang, Tuanku. Seisi Nusantara telah menunggu kehadiranmu."
Aku menyandarkan kepalaku ke pohon dan memejamkan mata.
"Oke, Raka. Fix. Kamu bukan cuma pingsan. Kamu koma. Dan ini adalah mimpi koma paling aneh yang pernah ada. Putri laut? Tuan? Nusantara?"
Aku membuka mata lagi. Wanita cantik itu masih bersujud di sana.
"Mbak Dyah... atau siapa tadi? Bisa berdiri dulu nggak? Aku beneran nggak ngerti. Aku bukan tuan siapa-siapa. Namaku Raka. R-A-K-A. Aku cuma mau pulang ke kosan, makan mi instan, terus tidur. Bisa bantu aku pulang?"
Dyah Ayu Segara mengangkat kepalanya. Matanya yang biru menatapku dengan intensitas yang membuatku merinding.
"Pulang?" Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang cantik tapi juga terasa sedikit... posesif? "Gerbang antara dunia ini dan dunia asalmu telah tertutup sejak kepulangan ksatria terakhir seribu tahun lalu. Lagipula, Tuanku... setelah Anda membangkitkan aura Tuan dalam diri hamba, hamba tidak akan membiarkan Anda pergi ke mana pun."
"Hah? Maksudnya?!"
"Artinya," dia berdiri dan mendekat, membuatku bisa merasakan napasnya yang dingin di telingaku. "Anda adalah milik kami sekarang. Milik para penjaga negeri ini."
Aku menelan ludah. Perasaanku mengatakan, hidupku yang membosankan di Jakarta akan terasa sangat mewah dibanding kerumitan yang akan kuhadapi di sini.
"Aku... cuma mau pulang..." bisikku meratapi nasib.
Tapi di dalam hutan sana, aku bisa merasakan kehadiran-kehadiran lain. Mata-mata yang mengawasi dari balik pohon, dari balik bayangan gunung, dan dari dalam rimbunnya semak. Mereka semua seolah sedang berbisik dengan nada yang sama:
Sang Tuan telah kembali.
Sialan. Sepertinya aku benar-benar dalam masalah besar.