Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pijatan Emas Pembawa Nikmat

Pijatan Emas Pembawa Nikmat

Menook We | Bersambung
Jumlah kata
48.1K
Popular
1.6K
Subscribe
443
Novel / Pijatan Emas Pembawa Nikmat
Pijatan Emas Pembawa Nikmat

Pijatan Emas Pembawa Nikmat

Menook We| Bersambung
Jumlah Kata
48.1K
Popular
1.6K
Subscribe
443
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalZero To HeroHarem21+
"Puaskan para wanita disini! jangan sampai ada kesalahan sedikitpun, atau kamu akan menghancurkan orang tuamu!" Agus, adalah pemuda dengan wajah rupawan dan tubuh atletis yang terpaksa menelan pil pahit kehidupan. Saat hutang orang tuanya menggunung, ia "dijual" oleh Bang Jago, seorang rentenir kejam tak berperasaan ke sebuah panti pijat eksklusif bernama Istana Teratai. ​Berbekal warisan ilmu titik syaraf kuno dari kakeknya, Agus memiliki "Tangan Emas", tiap sentuhannya mampu memberikan kenikmatan luar biasa kepada para client wanitanya. ​Keajaiban jemarinya membawa Agus bertemu dengan Widya, pengusaha dingin yang kesepian dan haus akan sentuhan. Widya jatuh dalam jerat pesona dan sentuhan Agus yang memabukkan, hingga ketagihan berubah menjadi obsesi dan cinta. ​Menyadari ia memegang kunci hati sang nyonya besar, Agus mulai menyusun rencana balas dendam yang cerdik. Bersama Widya, ia menenun intrik untuk menjatuhkan kerajaan gelap Bang Jago dan Tante Shanti. ​Akankah Agus berhasil menggunakan tangannya untuk membalikkan takdir dan meraih kebebasan?atau justru ia akan tenggelam dalam labirin gairah dan kekuasaan yang ia ciptakan sendiri?
Bab 1

Aroma keringat dan debu semen masih melekat erat di kulit Agus. Tubuhnya yang atletis, hasil dari bertahun-tahun memanggul sak semen di proyek bangunan, terasa remuk. Namun, langkah kakinya yang terbungkus sepatu bot usang mendadak terpaku saat ia memasuki gang sempit menuju rumahnya.

Suara benturan keras dan rintihan kesakitan membelah kesunyian sore itu.

"Ampun, Pak! Beri kami waktu seminggu lagi!"

Itu suara ibunya. Agus merasa jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya dipompa oleh kemarahan yang membuncah. Ia berlari, menerjang pintu kayu rumahnya yang sudah setengah hancur.

Di dalam ruang tamu yang sempit, pemandangan memuakkan tersaji. Ayahnya tersungkur di lantai dengan sudut bibir pecah, sementara dua pria berbadan besar berpakaian kulit hitam sedang menarik rambut ibunya. Seorang pria lain, yang tampaknya adalah pemimpin mereka, duduk dengan tenang di satu-satunya kursi kayu yang masih utuh, sambil menyesap rokok dengan angkuh.

"Berhenti!" teriak Agus. Suaranya menggelegar, memenuhi ruangan kecil itu.

Ketiga pria itu menoleh. Pimpinan mereka, seorang pria dengan bekas luka di pelipis bernama Bang Jago, perlahan menurunkan rokoknya. Matanya menyipit, menatap Agus dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Oh, jadi ini pahlawannya?" sindir Bang Jago dengan tawa kecil yang serak. "Anakmu lumayan juga, Pak Tua. Tapi sayang, tampang ganteng begini tubuhnya berdebu, penuh kotoran." Bang Jago tersenyum miring.

Tanpa babibu, Agus menerjang. Sebagai mantan kuli, ia memiliki tenaga yang besar. Ia melayangkan bogem mentah ke arah pria yang memegang ibunya.

Bugh! Pria itu tersungkur menabrak meja. Agus tidak berhenti, ia memutar tubuhnya, mencoba memberikan tendangan memutar ke arah pria kedua.

Namun, para penagih hutang ini adalah petarung jalanan yang sudah terbiasa dengan darah.

Pria kedua menghindar dengan lincah, lalu sebuah hantaman keras mendarat di tengkuk Agus. Pandangan Agus memutar. Belum sempat ia pulih, sebuah tendangan mendarat tepat di perutnya, membuatnya jatuh berlutut sambil memuntahkan cairan pahit dari lambungnya.

"Agus! Jangan, Nak! Lari!" jerit ibunya histeris, mencoba meraih tubuh anaknya yang dipukuli.

Dua anak buah Bang Jago mulai menghujani Agus dengan pukulan dan tendangan. Agus mencoba melawan, meraih kaki salah satu dari mereka dan membantingnya ke lantai, namun pria lainnya menghantam punggungnya dengan balok kayu. Suara tulang yang berderit membuat ibunya pingsan karena syok.

"Cukup!"

Suara Bang Jago menghentikan segalanya. Ia berdiri dan melangkah mendekat. Salah satu anak buahnya baru saja mengangkat tangan untuk menghantam wajah Agus dengan kepalan tangan yang dibalut cincin besi.

"Jangan sentuh wajahnya," perintah Bang Jago dengan nada dingin yang tak terbantahkan. "Kalau wajah itu lecet, harganya jatuh."

Bang Jago berjongkok di depan Agus yang bersimbah darah. Ia mencengkeram dagu Agus, memaksa pemuda itu menatapnya. Agus mencoba meludah, tapi tenaganya sudah terkuras habis. Bang Jago tidak marah; ia justru tersenyum miring, menatap setiap inci wajah Agus yang tetap terlihat rupawan meski tertutup debu dan memar di bagian rahang.

"Luar biasa," gumam Bang Jago. "Tulang pipi yang tinggi, mata yang tajam, dan kulit yang... ah, para nyonya di 'Pusat' akan gila melihat ini. Kau terlalu berharga untuk sekadar dipukuli sampai mati, Anak Muda."

Bang Jago berdiri, lalu menoleh ke arah ayah Agus yang gemetar di sudut ruangan. "Hutangmu seratus juta, Pak Tua. Bunga berjalan terus. Kau tidak punya uang, tidak punya tanah. Tapi kamu punya... aset."

Ia kembali menatap Agus. "Kamu ikut aku sekarang, lalu  'bekerja' di tempat yang jauh lebih nyaman daripada jadi kuli bangunan."

Deru napas Agus memburu, ia menatap tajam Bang Jago yang malah tersenyum seperti mengolok olok kemarahannya.

"Jangan marah begini. Kalau kamu ikut aku, setiap keringat yang kamu teteskan di sana akan bernilai jutaan rupiah. Kamu tidak perlu lagi berhadapan dengan batu bata, semen dan pasir yang membuatmu jadi kehilangan ketampanan."

Agus memalingkan wajah.

"Patuh saja, ikuti setiap ucapanku agar hutang orang tuamu lunas. Karena Jika kamu menolak..."

Bang Jago memberi kode. Salah satu anak buahnya mengeluarkan sebilah pisau lipat dan menempelkannya ke leher ayah Agus.

"Jangan! Jangan sakiti ayahku!" Agus berteriak, kedua sorot matanya memerah menahan murka dan ketakutan.

"Pilihan ada di tanganmu, Tampan," ujar Bang Jago tenang. "Ikut denganku dan menjadi mesin uangku, atau biarkan rumah ini menjadi makam keluargamu hari ini juga." Bang Jago menyeringai.

Agus menatap ibunya yang tergeletak pingsan, lalu ayahnya yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan ketakutan. Harga dirinya seolah runtuh, hancur berkeping-keping melebihi hancurnya pintu rumah mereka.

Ia adalah seorang pria, ia ingin melindungi, tapi kenyataan pahit kemiskinan telah mencekiknya hingga tak bersisa.

Ia memejamkan mata rapat-rapat. Air mata kemarahan mengalir di sela kelopaknya.

"Sudah memikirkannya?cepat! Jangan lama lama, aku nggak memiliki kesabaran yang besar."

"Baik," bisik Agus akhirnya. Tidak ada pilihan lain. "Aku ikut. Tapi janji, jangan pernah sentuh keluarga ku lagi! Jangan pernah mengganggu mereka!"

Bang Jago tertawa puas, suara tawa yang akan menghantui mimpi buruk Agus selama berbulan-bulan ke depan. "Kesepakatan yang bagus. Bawa dia ke mobil! Bersihkan dia, tapi ingat, jangan sampai ada goresan di wajahnya. Itu adalah tiket emas kita."

Agus diseret berdiri. Sebelum ia dilempar ke dalam mobil van hitam yang menunggu di depan gang, ia sempat menoleh ke arah rumahnya yang reyot. Sore itu, Agus sang kuli bangunan telah mati. Dan di dalam kegelapan van tersebut darahnya mendidih, ia tak peduli akan dibawa kemana oleh Si Jago yang dia benci ini. Tapi satu hal, suatu hari nanti ia pasti akan membalas dendam, membalaskan tiap tangisan, kesakitan dan darah orang tuanya menjadi berkali kali lipat.

***

"Aku akan dibawa kemana?" tanya Agus. Mencoba untuk tetap bersikap datar di tengah kekhawatiran.

"Panti pijat. Tempat kamu bisa memuaskan dan mungkin dipuaskan."

Jantung Agus berdetak sangat kencang, ia memalingkan wajah ke jendela mobil yang masih berjalan. "Panti pijat? Kebetulan sekali." Batinnya. Sambil meraba saku celananya, merasakan sebuah benda kecil yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, sebuah batu giok pijat peninggalan kakeknya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di panti pijat nanti,  tapi satu hal yang pasti, ia akan menggunakan setiap inci tubuh dan kemampuannya untuk bangkit dari kubangan ini. Meski ia harus menjual jiwanya, ia bersumpah akan menjadi orang yang paling dicari, hingga suatu saat nanti, ia yang akan menginjak mereka semua yang telah menghancurkan hidupnya hari ini. Api dendam kembali membara, Agus menatap dengan seksama semua wajah orang yang membawanya hari ini.

***

"Dandani dia! Pastikan semua luka lebam hilang dari wajahnya."

Lanjut membaca
Lanjut membaca