
Mendadak Dukun Jalur VIP
M.Espresso|Bersambung
- Jumlah kata
- 56.2K
- Popular
- 623
- Subscribe
- 126
- Jumlah kata
- 56.2K
- Popular
- 623
- Subscribe
- 126
Sinopsis
Dulu Jam's Kun hanya pengacara cupu, setelah mendapat warisan mata gaib dari mendiang kakeknya, hukum dua dunia bertekuk lutut di hadapannya. Bersama asisten setia, roh suci, dan siluman macan tampan, ia menjadi dukun tersohor dan satu-satunya pengacara dua dunia.
Ulasan
6 ulasan
My Ay
3/8/26 03:13
Hai thor, aku mampir nih, suka dengan ceritanya, buat aku yang tidak pernah melihat hantu jadi ada bayangan nih🙈
Alone Tiger *RS*
25/7/26 07:31
haiii Thor.... cerita mu sampai membuat diri ini pengen punya mata kayak Jam's seru banget pasti. Dari cerita sangat kekinian dan sangat seru banget, jangan capek berkarya dan semangat Thor
Dunia lain
Setelah kecelakaan yang merenggut matanya, semangat Jam's seolah memudar. Apalagi saat kejadian nahas itu bertepatan dengan kembalinya kakek tercinta ke pangkuan sang maha pencipta, mental Jam's terasa dihantam berkali-kali.
Dibalik musibah terselip sebuah hikmah. Demi masa depannya keluarga sepakat mendonorkan mata kakek untuk Jam's. Kemudian... di sinilah Jam's sekarang.
"Jangan kaget kalau belum bisa melihat dengan baik, ya, Jam's," ujar dokter yang tengah bersiap akan membuka perban matanya.
Jam's mengangguk seraya menetralkan detak jantung. Ia merasakan pegangan erat ibu yang melahirkannya pada dua tangannya. Wanita ini selalu menemaninya selama berada di rumah sakit. "Ada ibu di sini, Jam's."
"Jika hal buruk terjadi, ayah dan ibu akan melakukan apapun, Nak," ujar sang ayah.
"Tenang saja, Dimas. Operasinya sukses, secara perlahan dia akan bisa melihat lagi." Dokter yang merupakan teman kuliah Dimas meyakinkan sahabatnya, bahwa keadaan Jam's akan baik-baik saja.
Dimas terlihat lega setelah mendengar perkataan itu.
Jam's sempat bertanya pada dokter sesaat sebelum melakukan operasi, hal apa yang biasanya akan terasa setelah perban dibuka pasca operasi. Dokter mengatakan biasanya pasien akan melihat cahaya putih yang menyilaukan.
Namun, sebuah pemandangan tak biasa membuat Jam's mengepalkan tangan. Alih-alih cahaya menyilaukan, ia melihat asap hitam merajut diri hingga membentuk bayangan di balik pundak sang dokter. Bayangan itu kian membesar hingga nyaris mencapai langit-langit ruangan. Dua mata makhluk besar itu berupa bola api, berkobar menatap tajam pada Jam's'.
Jam's mengalihkan pandangan dan betapa dua bola matanya melebar menyaksikan sekitar. Ada yang duduk tak berdaya di depan pintu, wajahnya rusak, ia mengenakan pakaian perawat.
kening Jam's seketika berkerut. Ia mengalihkan pandangan lagi, kali ini pada perawat di samping dokter. Hei! Benda apa lagi ini?? Dia botak, hanya memakai popok dan sedang menggantung di leher bagian belakang si perawat.
Ruangan berubah warna, kini jadi merah seperti di bawah sinar rembulan berdarah. Semua benda di sana mengeluarkan asap hitam. Entah memang asap atau apapun itu... di mata Jam's seperti asap yang keluar dari benda terbakar.
Pintu mendadak terbuka, keras hingga membuat Jam's terkejut. Sosok tanpa kepala muncul, akh! Ia memegang kepalanya yang terbakar.
Perilaku Jam's membuat ayah dan ibunya cemas. Dokter masih bersikap santai, ia memanggil Jam's agar kembali fokus.
"Bagaimana, Jam's? Apa yang kamu lihat?"
"Sebuah kesalahan," sahutnya dengan suara tertahan. Ia menangkap aroma hangus, itu pasti dari kepala si makhluk tak berkepala.
Dokter mulai kebingungan, apa maksud pemuda ini? Ia meminta cermin pada perawat dan memberikannya pada Jam's, dengan tujuan memastikan kondisi penglihatannya.
Bukan wajah sendiri, tapi sesosok perempuan cantik sedang tersenyum padanya. Matanya indah, biru bagai langit tanpa hujan. Perempuan cantik itu berbisik, "Selamat datang di dunia baru."
Masih pada pendirian bahwa setiap kejadian harus ada penjelasan logisnya, Jam's mengabaikan ucapan perempuan itu.
Ia meletakkan cermin di pangkuan, bibirnya mengantup. Misinformasi visual, itulah yang sedang pemuda ini yakini pada dua mata barunya.
"Jamal Kuncoro," panggil Laras, ia sungguh takut dengan respon putranya setelah perban dibuka.
Seringai yang biasanya terbit di ruang sidang saat mengintimidasi lawan, kini tertuju pada dokter. "Ini kegagalan prosedur medis. Aku akan menuntut rumah sakit ini!"
"Apa maksudmu, Jam's?" Dokter berusia paru baya itu mulai panik. Ia bersama perawat mencoba menenangkan Jam's yang mulai marah.
Jam's mengatakan dia memang bisa melihat tapi bukan hal-hal yang seharusnya. Ia menuduh dokter telah melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan saraf matanya terganggu.
"Apa yang kamu lihat, Jam's?" tanya Laras, sang ibu.
Mata pemuda ini merah menyala, bola mata itu berlarian sebab tak biasa dengan objek yang ditangkapnya.
"Ini gila! Ini pasti efek obat bius. Katakan, Dok, berapa banyak obat bius yang kalian berikan padaku?!"
"Jam's, operasi berjalan sesuai prosedur dan sukses. Nggak ada obat bius yang melebihi dosis. Nggak ada kesalahan seperti yang kamu bilang itu."
Dimas menatap dalam pada Jam's. Otaknya mulai menduga adanya kemungkinan yang sangat bertolak belakang dengan pandangan putranya pada dunia gaib.
Dia membujuk Jam's untuk tenang. Setelah keadaan terkendali, Jam's melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan keadaan matanya.
"Hasilnya baik, Nak. Kamu sudah bisa melihat walaupun masih buram. Dan para dokter nggak melakukan kesalahan. Coba rasakan, mata kamu nggak terasa janggal apalagi sakit, 'kan?"
"Mungkin matamu cuma trauma pasca operasi. Sekarang penglihatan kamu sudah normal, 'kan? Maksud Ibu, sudah nggak ada yang aneh, 'kan?"
Tersisa mereka bertiga di ruangan itu, dan setelah dokter bicara dengan Dimas, apa yang dikatakan Dimas pada Jam's memang benar. Pemuda ini mengangguk lemas, "Ya, Ibu benar. Maaf sudah membuat keributan."
Sangat sadar dengan kesalahannya, Jam's meminta maaf pada dokter dan perawat sebelum pulang.
Rasanya sudah tidak ada kecemasan. Dunia berjalan kembali dengan kenyataan dia telah kehilangan sang kakek, itu saja.
Hanya sebentar. Dalam perjalanan pulang, penglihatan tak biasa itu datang lagi. Jam's memegang teguh keyakinan semua itu hanya halusinasi. Dia bahkan melihat kakeknya berdiri menyambut kedatangannya di muara pintu, ketika mereka sudah sampai di rumah.
Pekat aroma melati menguasai indra penciuman Jam's. Ia mengusap hidung, ia tidak suka aroma ini. Detik berikutnya ia kembali menatap arah sang kakek, senyum pria tua itu sangat nyata.
"Entah aku harus senang atau sedih, setidaknya halusinasi ini mengobati rinduku pada kakek," bisik hati Jam's.
Dia tersenyum lebar, menampilkan seluruh barisan gigi palsunya, "Enggak, Jam's. Penglihatan ini bukan halusinasi."
Siapa sangka, sang kakek mendengar kata hatinya dan bicara padanya.
Enggak! Mati-matian pemuda ini menolak apa yang dia lihat dan dengar. Ia mengabaikan objek menyerupai kakeknya itu. Ia akan menunggu entah sampai kapan efek samping pasca operasi menghilang.
Kedatangan mereka disambut paman dan bibi Jam's, mereka yang selama ini menemani sang kakek di kampung.
Jika yang dikatakan dokter penglihatannya belum sebaik biasanya, kali ini sepasang mata baru itu menunjukkan kemajuan luar biasa. Tidak lagi buram, ia nampak sempurna seperti sedia kala. Kenyataan ini mengejutkan tapi Jam's tak ingin gegabah, bisa jadi ini hanya kesembuhan sesaat yang lebih cepat, lalu penglihatan itu akan buram kembali.
Mengenakan ikat kepala sang kakek, paman Jeki yang merupakan adik Dimas duduk di sebelah Jam's, "Bagaimana keadaan mata kamu?"
"Alhamdulillah sudah lebih baik, Paman," sahut Jam's.
"Coba kamu bisa lihat paman?" Pria ini berdiri di depan semua orang, ia membenarkan ikat kepala yang bertengger di kepalanya.
"Jek, penglihatannya masih buram, belum jelas," ujar Dimas.
"Oh, kukira bisa langsung melihat seperti biasanya."
Jam's tersenyum masam, ia sedang bertarung dengan akal sehat saat ini. Bukan apa-apa, bayangan hitam menyelimuti tubuh Jeki, ia mengikuti pergerakan pria ini.
"Kamu melihatnya, 'kan?"
Tiba-tiba muncul sosok cantik di dalam cermin rumah sakit, berbisik dekat sekali seolah ingin menempal pada wajah Jam's.
"Ayah, aku lelah. Boleh aku langsung ke kamar?"
Nila, selaku bibi Jam's memberi tahu kamar mana yang akan ditempati Jam's selama berada di sini. Ia juga memberitahu kamar Laras dan Dimas. Mengingat baru kehilangan orang paling tua, mereka akan berada di sini sampai 100 hari kepergian sang kakek.
Berada di ujung, yang jendelanya mengarah pada pendopo tempat praktik kakeknya, Jam's kembali melihat hal tidak biasa. Di sana ada banyak makhluk aneh. Satu hal yang paling menyita perhatian pemuda ini. Siang-siang begini mbak Kunti lagi main ayunan di bawah pohon besar.
"Lama-lama aku bisa gila," lirih Jam's dalam hati."
_Bersambung_
Daftar bab
49 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








