

"Cuiih!"
Suara ludah Romy mendarat tepat di atas piring porselen putih itu, mengotori mahakarya yang baru saja diselesaikan dengan saksama.
Cairan itu merusak estetika plating yang disusun dengan presisi milimeter. Surya Kencana hanya bisa terpaku. Tangannya yang masih memegang penjepit makanan bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena gejolak penghinaan yang membakar dada hingga ke tenggorokan.
Di sekelilingnya, rekan-rekan sesama koki menunduk dalam-dalam, tak berani mengeluarkan suara di bawah tekanan aura Romy yang mencekam.
"Makanan macam apa ini?! Satu tahun kamu mendekam di dapurku, tapi rasa masakanmu masih seperti sampah yang membusuk!" teriak Romy. Suaranya bergema di dinding-dinding dapur Torino Restoran yang dingin.
Surya mencoba menelan harga dirinya yang sudah hancur. "T—tapi, Chef... itu resep terbaikku. Saya menggunakan teknik—"
"Terbaik katamu? Hahahaha!" Romy tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar seperti parutan logam. "Koki macam apa yang menyajikan kotoran hewan di atas piring mahal? Kau bukan seniman, Surya. Kau hanya beban di dapur ini!"
Kata-kata itu mendarat lebih keras dari tamparan fisik. Romy sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh kru dapur mendengar penghinaan itu.
Kesabaran Surya yang selama ini ia pupuk dengan ketekunan, mendadak retak.
Sesuatu di dalam dirinya meledak.
Tanpa sadar, tangan Surya melayang ringan namun bertenaga, mendarat telak di pipi pria paruh baya itu.
Plakk!
Suara itu menghentikan napas semua orang di ruangan tersebut. Romy terhuyung, matanya membelalak tak percaya.
"Kau..." Romy mendesis, amarahnya kini berubah menjadi kegilaan.
Ia menerjang maju, mencengkram kerah baju koki putih milik Surya, lalu mendorongnya dengan tenaga yang luar biasa hingga Surya jatuh tersungkur di atas lantai dapur yang licin.
"Kau dipecat! Keluar dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk menyeretmu!"
Surya bangkit dengan nafas memburu. Penyesalan sempat singgah sesaat, namun melihat tatapan merendahkan dari Romy, ia justru menegakkan punggungnya. "Aku akan pergi! Dan akan kubuktikan pada dunia bahwa lidahmu itu sudah tumpul dan salah!"
Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Torino Restoran, tempat yang ia puja selama setahun terakhir, kini terasa seperti penjara yang baru saja ia tinggalkan.
Jalanan Kota Mirai terasa lebih kejam sore itu.
Langit menggelap, seolah ikut meratapi kemalangan Surya.
Masalah sepertinya datang beruntun seperti ombak yang menghantam karang.
Pagi tadi, ibu pemilik kontrakan sudah menggedor pintunya dengan ancaman pengosongan paksa karena tunggakan sewa tiga bulan. Siang tadi, ia nyaris kehilangan nyawa karena hampir tertabrak mobil saat pikirannya kalut. Dan kini, ia menjadi pengangguran.
"Aku butuh Rose," bisiknya pelan. Hanya wanita itu, kekasihnya, yang menjadi mercusuar di tengah badai hidupnya. Ia mempercepat langkah, mengabaikan perutnya yang keroncongan dan kakinya yang mulai lemas.
Rumah Rose sudah terlihat di ujung jalan.
Dari kejauhan, Surya melihat sosok wanita itu berdiri di teras. Rose tersenyum, melambaikan tangan dengan anggun. Hati Surya sedikit menghangat. Ia hendak membalas lambaian itu, namun langkahnya terhenti di pinggir jalan.
Lambaian tangan Rose bukan untuknya.
Sebuah mobil mewah melaju lambat di samping Surya, lalu berhenti tepat di depan rumah Rose.
Mobil yang sangat ia kenal. Mobil Romy.
Surya membeku.
Lidahnya kelu saat melihat Romy turun dari mobil dengan senyum penuh kemenangan. Rose berlari menyambutnya, lalu mereka berdua berpelukan dengan hangat.
Pelukan yang seharusnya milik Surya.
"Jadi... ini alasan dia memecatku?" Suara Surya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh gemuruh guntur yang tiba-tiba memecah langit.
Duer!!
Kilat menyambar sebuah pohon tinggi tak jauh dari sana.
Rose yang ketakutan segera menarik tangan Romy masuk ke dalam rumah untuk menghindari hujan yang mulai turun. Mereka menghilang di balik pintu, meninggalkan Surya yang berdiri mematung di tengah jalanan yang kini diguyur hujan deras.
Dunia Surya runtuh.
Pengkhianatan itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Romy di dapur tadi.
Ia menengadah ke langit, membiarkan air hujan membasuh air matanya yang mulai jatuh.
Dueer!!!
Cahaya putih menyilaukan membutakan pandangannya.
Kekuatan ribuan volt menghantam tubuh Surya tepat di dada. Ia tidak sempat berteriak. Sensasi panas yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya sebelum akhirnya kegelapan total menelan segalanya.
"Kamu sudah bangun?"
Suara lembut itu adalah hal pertama yang Surya dengar. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit putih yang steril. Seorang perawat wanita berdiri di samping tempat tidurnya.
"Aku... aku sudah mati?" tanya Surya dengan suara parau.
Perawat itu terkekeh pelan. "Mati? Belum waktunya. Kamu masih hidup, Nak. Sekarang bangun dan cobalah untuk duduk. Kamu tidak apa-apa."
Surya memaksakan diri untuk duduk. Tubuhnya terasa aneh, ada getaran halus di ujung jari-jarinya yang tak bisa ia jelaskan. "Aku di mana?"
"Rumah sakit. Kemarin kamu tersambar petir di jalanan Kota Mirai. Keajaiban medis, tubuhmu tidak mengalami luka bakar serius," jelas sang perawat.
Surya tertunduk lesu. "Kenapa aku tidak mati saja?"
Perawat itu menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Surya dengan simpati yang mendalam. "Mati? Sepertinya petir itu tidak membunuhmu, tapi malah menyambar semangat hidupmu. Ingat, kamu selamat karena ada alasan."
"Pulanglah," lanjut perawat itu sambil menyodorkan selembar kertas.
"Pulang? Bagaimana aku bisa pulang? Aku bahkan tidak punya uang untuk membayar rumah sakit ini," keluh Surya pahit.
Perawat itu tersenyum manis. "Sudah ada yang membayar biaya rumah sakit-mu secara lunas, Nak. Semuanya. Sekarang, pakailah pakaianmu dan pulanglah."
Surya tertegun. Ia menatap tagihan itu. Angkanya tidak sedikit, namun di kolom status tertulis: LUNAS. Siapa yang mau membayar biaya sebesar ini untuk pemuda malang sepertinya?
Dengan sisa tenaga, Surya berjalan menuju rumah petaknya. Ia melangkah dengan waspada, matanya melirik ke sana kemari, khawatir ibu pemilik kontrakan akan muncul seperti hantu dan menyeretnya keluar. Namun, saat ia sampai di depan pintu, sosok wanita paruh baya itu sudah berdiri di sana.
"Mmmm!" suara deheman itu membuat jantung Surya nyaris copot.
"Ibu..." Surya menunduk dalam, menyiapkan mental untuk diusir.
"Hai, kamu sudah pulang," sapa wanita itu. Nada suaranya aneh. Bukan amarah, melainkan keramahan yang tidak biasa. "Aku sedang menunggumu."
"Uang kontrakan, ya Bu? Saya minta waktu—"
"Bukan," potong ibu kontrakan. "Aku mau bilang kalau rumah petak ini sudah laku terjual."
Napas Surya tertahan. "Jadi... saya harus pindah sekarang?"
"Tidak. Pria yang membeli rumah ini memberi pesan khusus: kamu boleh tinggal di sini selamanya. Tanpa bayar sewa sepeser pun."
"Apa?!" Surya mendongak, matanya membelalak. "Ibu tidak bercanda kan?"
"Buat apa aku bercanda soal uang? Kamu bebas sekarang. Nikmatilah rumahmu." Ibu pemilik kontrakan itu melambaikan tangan dan melenggang pergi, meninggalkan Surya yang berdiri terpaku layaknya patung.
Keajaiban apa ini? Biaya rumah sakit lunas, rumah menjadi miliknya secara cuma-cuma. Surya masuk ke dalam rumahnya yang sempit, mencoba mencerna segala keanehan yang terjadi sejak ia tersambar petir.
Ia menyalakan televisi butut miliknya, sekadar mencari suara agar ia tidak merasa gila dalam kesunyian. Layar kaca itu berkedip, menampilkan iklan besar dengan latar belakang dapur yang megah.
"THE MASTER CHEF TORINO: PENCARIAN BAKAT TERBESAR TAHUN INI. HADIAH UTAMA: 1 MILIAR DOLLAR DALAM BENTUK MODAL USAHA DAN KEPEMILIKAN RESTORAN."
Mata Surya berkilat. Nama 'Torino' membangkitkan amarah sekaligus ambisi dalam dirinya. Inilah jalannya. Ia harus membuktikan pada Romy bahwa koki yang ia sebut 'sampah' bisa menjadi raja.
Dengan tangan gemetar karena antusias, ia meraih ponselnya dan menekan nomor pendaftaran.
"Halo, saya Surya. Saya ingin mendaftar."
[Selamat siang, kami dari penyelenggara Master Chef Torino. Ada yang bisa saya bantu?]
"Saya ingin mendaftar sebagai peserta."
[Boleh dibantu dengan namanya, Kak?]
"Surya Kencana. Umur 27 tahun, tinggal di—"
[Maaf, Surya Kencana?] suara di seberang telepon terdengar terkejut.
"Iya, itu nama saya. Ada masalah?"
[Tapi... nama Anda sudah terdaftar di sistem kami, Kak. Bahkan nama Anda berada di urutan nomor satu peserta prioritas.]
“Peserta prioritas? Apa gak salah?”