
Dungeon Break: Indonesia Arc
vallan miracle|Bersambung
- Jumlah kata
- 205.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 21
- Jumlah kata
- 205.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 21
Sinopsis
SINOPSIS Tahun 2037. Langit Indonesia retak. Portal-portal hitam muncul di berbagai kota—Jakarta, Surabaya, Kupang, Makassar, hingga pelosok desa. Dari dalamnya keluar monster yang tidak bisa dilawan senjata biasa. Dunia menyebutnya: Dungeon Break Manusia yang selamat mulai “terbangun” dan memperoleh kekuatan supernatural bernama Core Ability. Mereka disebut Hunter. Namun Indonesia berbeda. Di balik munculnya dungeon, ada sesuatu yang lebih tua… lebih gelap… terkubur sejak zaman kerajaan nusantara kuno. Seorang pemuda biasa bernama Vallan Arka nyaris mati saat Dungeon Rank-C muncul di Kupang Timur. Tapi ketika semua orang tumbang… ia mendengar suara misterius: [Sistem Kegelapan telah memilihmu.] Sejak hari itu hidup Vallan berubah. Ia mendapatkan kekuatan aneh yang bahkan tidak tercatat dalam sistem Hunter dunia. Semakin kuat dirinya… semakin besar sesuatu dalam tubuhnya mulai bangkit. Dan tanpa ia sadari— Indonesia bukan sekadar medan perang dungeon. Tetapi… “Gerbang terakhir menuju dunia para Raja Kegelapan.”
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: LANGIT YANG RETAK
Kupang Timur, 19:42 WITA.
Malam itu awalnya terasa biasa saja.
Pasar malam di lapangan kota masih ramai seperti biasanya. Lampu warna-warni menggantung di setiap sudut, musik dari wahana permainan bercampur dengan suara pedagang yang sibuk menawarkan dagangan mereka.
“Jagung bakar! Masih panas!”
“Balon lima ribu!”
Anak-anak berlari sambil tertawa. Beberapa remaja duduk di pinggir lapangan sambil bermain ponsel. Tidak ada yang menyangka kalau malam itu akan menjadi malam terakhir dunia terasa normal.
Di dekat gerobak es teh, seorang pemuda berdiri sambil memasukkan tangan ke saku jaketnya.
Namanya Vallan Arka.
Usianya dua puluh tahun, dan hidupnya tidak terlalu menarik untuk diceritakan. Kadang kerja serabutan di pelabuhan, kadang bantu bengkel milik temannya. Kalau sedang tidak ada pekerjaan, ia hanya menghabiskan waktu berkeliling kota dengan motor tuanya.
Malam itu ia sebenarnya hanya ingin mencari angin sebelum pulang.
Vallan menghela napas pelan sambil melihat isi dompetnya.
“Besok harus cari kerja lagi…”
Ponselnya bergetar.
Pesan dari ibunya.
> Jangan pulang terlalu malam.
Senyum kecil muncul di wajah Vallan.
Walaupun hidup mereka pas-pasan, ibunya selalu mengkhawatirkannya seperti anak kecil.
“Iya, Ma,” gumamnya pelan sambil mengetik balasan.
Namun sebelum pesan itu terkirim, suasana di sekitar tiba-tiba berubah.
Angin berhenti.
Musik dari speaker mendadak mati.
Lampu-lampu pasar berkedip beberapa kali.
Orang-orang mulai saling melihat dengan bingung.
“Listrik mau padam?”
“Kenapa dingin begini?”
Vallan perlahan mengangkat kepala.
Langit di atas pasar malam tampak aneh.
Awan hitam berkumpul membentuk pusaran besar tepat di atas lapangan. Warnanya semakin gelap dari detik ke detik.
Lalu muncul suara retakan.
KRRRRAAAKKK—
Suara itu terdengar begitu keras sampai membuat semua orang terdiam.
Di tengah pusaran awan, langit seperti pecah.
Benar-benar pecah.
Garis hitam panjang membelah udara seperti retakan pada kaca.
Seorang anak kecil mulai menangis.
“Ma… takut…”
Orang-orang mulai panik.
“Itu apa?!”
“Gempa?”
“Bukan… lihat langitnya!”
Retakan itu semakin melebar.
Cahaya merah gelap keluar dari dalamnya, membuat suasana berubah menyeramkan.
Dan beberapa detik kemudian—
DUUUUMM!!
Sesuatu jatuh dari langit.
Tanah bergetar keras.
Jeritan langsung terdengar di mana-mana saat sebuah lingkaran hitam besar muncul di tengah lapangan pasar malam.
Kabut pekat keluar perlahan dari dalamnya.
Bentuknya seperti portal.
Tapi tidak ada yang tahu portal menuju ke mana.
Semua orang hanya bisa menatap dengan wajah pucat.
Vallan merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Lalu sebuah tangan muncul dari dalam portal.
Kecil.
Hijau.
Berkuku tajam.
Disusul kepala makhluk aneh bermata merah.
Monster itu keluar perlahan sambil membawa pisau batu di tangannya.
Tubuhnya pendek, tapi wajahnya menyeramkan. Giginya tajam dan tidak beraturan.
Makhluk itu menatap kerumunan manusia di depannya.
Kemudian tersenyum.
“GIIKKHH!!”
Jeritan panik langsung pecah.
Monster itu melompat ke arah seorang pria di dekat gerbang pasar.
CRASSKK!!
Pisau batunya menebas leher pria itu dalam satu serangan.
Darah menyembur.
Tubuh pria itu jatuh tanpa suara.
Sunyi sesaat.
Lalu semuanya berubah kacau.
“MONSTER!!”
“LARI!!”
“YA TUHAN!!”
Orang-orang berebut menyelamatkan diri.
Anak-anak menangis.
Pedagang meninggalkan dagangan mereka.
Beberapa motor jatuh karena pengendaranya panik.
Namun mimpi buruk itu baru dimulai.
Satu demi satu monster lain keluar dari portal hitam.
Puluhan jumlahnya.
Mereka menyerang siapa saja yang terlihat.
Vallan berdiri membeku.
Otaknya sulit memproses apa yang sedang terjadi.
Monster?
Di dunia nyata?
Seekor goblin tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Mata merahnya menyipit.
Dan tanpa peringatan, monster itu berlari.
“WOI—!”
Vallan refleks menjatuhkan tubuh ke samping.
BRAKK!!
Pisau batu monster menghantam gerobak bakso di belakangnya hingga hancur.
Kuah panas tumpah ke jalan.
Vallan langsung bangkit sambil terengah-engah.
“Gila…”
Goblin itu kembali menyerang.
Namun tiba-tiba seseorang menabraknya dengan motor.
DUAAKK!!
Monster itu terpental beberapa meter.
“LARI WOI!!” teriak pengendara motor tadi.
Vallan tidak membuang waktu.
Ia langsung berlari di tengah kerumunan yang kacau.
Sirene mulai terdengar dari kejauhan.
Polisi dan tentara mulai berdatangan.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan menggema di udara.
Beberapa monster jatuh, tapi sebagian lainnya tetap bergerak seperti tidak merasakan sakit.
“KEPALANYA! TEMBAK KEPALANYA!”
Situasi semakin tidak terkendali.
Vallan terus berlari sambil mencoba mencari jalan keluar dari pasar malam.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
Ia mendengar suara tangisan kecil.
Di tengah jalan, seorang anak perempuan duduk sambil menangis ketakutan.
Usianya mungkin lima tahun.
Sandalnya terlepas sebelah.
Dan di belakang anak itu—
seekor goblin berjalan mendekat sambil mengangkat pisau batunya.
Tubuh Vallan membeku.
Kalau ia mendekat, ia bisa mati.
Siapa pun bisa melihat kalau monster itu jauh lebih kuat dari manusia biasa.
Logikanya mengatakan untuk pergi.
Selamatkan diri sendiri.
Tapi entah kenapa kakinya justru bergerak maju.
“Hei!!”
Vallan berteriak sekeras mungkin.
“SINI LO!”
Goblin itu menoleh.
Vallan langsung berlari, menarik tubuh anak kecil itu, lalu berguling ke samping.
CRAAKK!!
Pisau batu menghantam aspal tepat di tempat mereka tadi berada.
Anak kecil itu menangis histeris sambil memeluk Vallan erat.
“Mama… mama…”
“Iya, tenang… tenang…”
Padahal Vallan sendiri hampir tidak bisa bernapas karena takut.
Namun sebelum mereka sempat pergi lebih jauh—
tanah kembali bergetar.
DUUUUMM!!
Semua orang menoleh ke arah portal.
Kabut hitam keluar semakin banyak.
Lalu sesuatu yang besar mulai muncul dari dalamnya.
Bukan goblin biasa.
Makhluk itu hampir setinggi dua meter.
Tubuhnya penuh otot kasar.
Kulit hijau gelap.
Dan di tangannya tergenggam kapak batu raksasa.
Monster besar itu melangkah keluar sambil menggeram rendah.
Tentara langsung menembaknya.
DORR! DORR! DORR!
Peluru menghantam tubuh monster.
Tapi monster itu tidak jatuh.
Ia justru mengayunkan kapaknya.
SWOOOSHH!!
BRAAAKK!!
Satu mobil militer terbelah dua.
Jeritan terdengar di mana-mana.
“LARI!!”
Monster besar itu perlahan menoleh.
Tatapannya berhenti tepat pada Vallan.
Jantung Vallan terasa berhenti berdetak.
Monster itu menyeringai.
Lalu—
DUAAKK!!
Ia melompat dengan kecepatan mengerikan.
Tanah retak saat tubuh raksasa itu mendarat tepat di depan Vallan.
Anak kecil di samping Vallan menjerit ketakutan.
Vallan mencoba bergerak.
Tapi tubuhnya membeku.
Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menekan seluruh tubuhnya.
Monster itu mengangkat kapak perlahan.
Bayangan kapak menutupi wajah Vallan.
“Sial…”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Vallan benar-benar merasa akan mati.
Kapak itu turun.
Dan tepat sebelum mengenai kepalanya—
semuanya berhenti.
Suara menghilang.
Api membeku.
Debu di udara tidak bergerak.
Monster diam seperti patung.
Mata Vallan membesar.
“Apa…?”
Lalu sebuah suara asing terdengar di kepalanya.
Dingin.
Gelap.
Dan sangat jauh.
> [Syarat terpenuhi.]
> [Host ditemukan.]
> [Mengaktifkan Black Shadow System.]
Di depan mata Vallan, muncul layar hitam transparan.
---
WELCOME, VALLAN ARKA
BLACK SHADOW SYSTEM INITIALIZING…
---
Napas Vallan tercekat.
Dan malam itu…
hidupnya berubah selamanya.
Daftar bab
163 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
163 bab








