Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Anu Super Nganu

Anu Super Nganu

NamNamjoo | Tamat
Jumlah kata
89.6K
Popular
6.2K
Subscribe
1.0K
Novel / Anu Super Nganu
Anu Super Nganu

Anu Super Nganu

NamNamjoo| Tamat
Jumlah Kata
89.6K
Popular
6.2K
Subscribe
1.0K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria Miskin21+Harem
Anugrah hanyalah pemuda miskin bermata buta yang kerap dipanggil Anu oleh warga Konoha. Hidup penuh hinaan ia jalani dengan tabah demi merawat nenek tercinta meski bekerja sebagai kuli serabutan. Takdir berubah saat uang terakhir senilai sepuluh ribu rupiah ia ikhlaskan membelikan nasi kuning bagi pengemis lapar. Sebagai balas budi, Anu menerima sebuah batu permata hitam kusam. "Simpanlah, Nak. Batu ini akan membantumu," bisik sang kakek misterius. Siapa sangka, batu kecil membangkitkan kekuatan tersembunyi di mata kiri Anu. Kini, sang kuli panggul yang dulu dipandang sebelah mata mulai membalikkan keadaan, membongkar segala niat busuk, dan menjadi sosok paling disegani seantero desa.
Bab 1

Namanya Anugrah, nama aslinya terlalu keren untuk pemuda dua puluh satu tahun yang cacat.

Warga Konoha memanggilnya Anu. Sejak lahir, mata kirinya buta total. Hanya menyisakan selaput putih cacat.

Panas terik memanggang aspal Pasar Konoha. Keringat mengucur deras dari dahi Anu, membasahi alis tebalnya.

Bahu kurusnya menahan beban karung beras seberat dua puluh kilogram. Karung goni kasar menggesek kulit leher hingga kemerahan.

Seribu rupiah. Ya, satu karung diupah seribu rupiah. Bayaran sangat murah untuk tenaga kuda, tapi Anu tidak punya pilihan lain.

"Halah, Bang! Si Anu kan buta, lelet jalannya! Pecat saja sudah!" seru Romi, sesama kuli panggul.

Wajah Romi bersungut-sungut sambil menunjuk ke arah Anu yang berjalan tertatih melewati kios sayur.

Romi selalu sinis. Ia tidak suka melihat Mandor Asep sering memberi kelonggaran waktu istirahat lebih lama untuk pemuda bermata satu. Menurut Romi, kuli cacat hanya menjadi beban tim.

Mandor Asep menghela napas kasar, mengelap leher tebalnya pakai handuk kecil. "Banyak mulut kamu, Rom! Kalau Anu saya pecat, siapa yang mau kasih makan Mbah Kasmi? Neneknya sudah tua renta, sakit-sakitan. Coba kamu pakai otak sedikit! Setidaknya anak cacat mau bekerja keras, bukan cuma mengeluh dan merokok sepertimu!"

Romi meludah ke tanah, membuang muka kesal mendengar omelan mandor. Dengkinya semakin menggunung.

Di sisi lain, Anu sama sekali tidak mempedulikan ocehan perih Romi. Telinganya sudah kebal. Fokusnya hanya satu...Toko Ayu Nu di ujung jalan raya.

Sambil meraba dinding bata basah penuh lumut di lorong pasar, Anu menyeimbangkan karung beras di pundak perlahan. Matanya yang sebelah kanan menyipit menahan silau matahari.

'Tinggal beberapa putaran lagi. Kalau hari ini tembus lima puluh ribu, aku bisa beli obat batuk paling manjur sama beras setengah liter buat Mbah...,' batin Anu. Senyum kecil terbit di bibirnya yang kering pecah-pecah.

Semangatnya menyala mengalahkan terik cuaca gersang. Ia membayangkan senyum neneknya menyambut di rumah gubuk mereka.

Namun, Romi rupanya tak tinggal diam. Melihat langkah Anu sedikit goyah karena keterbatasan pandangan, Romi beringsut maju. Ia sengaja menjulurkan kaki kanannya tepat melintang di jalur lorong sempit. Posisinya pas di area titik buta sebelah kiri Anu.

Bruk!

Kaki Anu tersandung sepatu bot Romi dengan keras. Keseimbangannya hancur berantakan. Tubuh cungkringnya menghantam aspal.

Braaaakkk!

Karung goni seberat dua puluh kilogram lepas dari pundak, jatuh menghantam batu tajam. Ujung karung robek seketika. Beras putih kualitas premium berhamburan deras, bercampur dengan tanah, kerikil, dan genangan air becek sisa hujan semalam.

Mata Anu membelalak ngeri. Dadanya bergemuruh kencang. Ia mencoba menahan tumpahan beras dengan kedua telapak tangan kapalan, namun percuma.

"Waduh! Beras mahal hancur lebur!" teriak Romi lantang, sengaja memancing perhatian seluruh pedagang pasar.

Tawanya tertahan melihat Anu panik mengais tanah.

Mendengar keributan, Mandor Asep berlari cepat mendekat. Matanya melotot tajam melihat tumpahan beras putih yang kini berubah menjadi lumpur kotor tak berharga.

Wajah sang mandor memerah menahan amarah meledak-ledak.

"Nu... Anu!" bentak Mandor Asep. Suaranya menggema keras membelah keramaian pasar. "Beras dua puluh kilo sangat mahal harganya, Nu! Kamu bikin rugi bandar saja kerjanya!"

Anu buru-buru bangkit. Lutut celana kainnya robek, darah segar mengucur, tapi ia tak peduli rasa perih.

Tangannya gemetar mencoba meraup sisa beras bersih dari atas aspal, memasukkannya kembali ke dalam karung robek meski tindakannya sia-sia.

"Maaf, Bang Asep... Saya... saya tidak sengaja kesandung. Tolong jangan potong upah saya semua, Bang," ucap Anu parau, menunduk dalam-dalam menyembunyikan genangan air mata.

"Kesandung apanya? Alasan! Makanya, kalau mata buta sebelah jangan sok-sokan mau ambil kerja berat. Nyusahin orang saja, bikin sial!" timpal Romi mengompori suasana panas.

Bibir hitam Romi menyunggingkan senyum puas melihat rekan kerjanya dimarahi habis-habisan.

"Sudah, Rom! Diam kau!" Asep memijat pelipisnya pusing tujuh keliling. Ia menatap Anu dengan tatapan tajam campur kekecewaan berat. "Sana bereskan kekacauanmu. Hari ini kamu bikin saya rugi banyak, Anuu."

Waktu terus bergulir. Sore menjelang. Pasar mulai sepi dari pembeli. Para kuli panggul berbaris panjang menerima upah harian.

Romi tersenyum lebar mengantongi uang seratus ribu rupiah sambil bersiul pelan. Tibalah giliran Anu maju mendekati meja kayu mandor.

Tangannya masih gemetar menahan perih di lutut.. Mandor Asep meletakkan selembar uang sepuluh ribu rupiah kusam ke telapak tangan Anu tanpa menatap wajah sang pemuda.

Anu terdiam kaku. Matanya menatap nanar selembar uang kertas biru pudar bernominal sepuluh ribu.

"Bang... ini... jatah saya kurang, Bang. Tadi saya sudah berhasil angkat tiga puluh karung utuh sebelum kejadian jatuh," ucap Anu pelan memberanikan diri menuntut hak.

Mandor Asep mendengus kesal, menggebrak meja kayu perlahan. "Masih mending saya kasih sepuluh ribu, Nu! Harga beras kotor tumpahanmu jauh lebih mahal dari total upahmu seminggu penuh! Sudah, ambil saja dan lekas pulang sana!"

Anu menelan ludah getir. Ingin rasanya protes meronta, menjelaskan tingkah licik Romi menyandung kakinya. Tapi percuma saja. Bukti nyata tidak ada. Saksi juga pasti membela Romi.

Tenaga untuk sekadar berdebat pun sudah terkuras habis tak bersisa. Dengan langkah gontai terseret, Anu berbalik meninggalkan area pasar.

Uang sepuluh ribu rupiah diremas kuat di dalam saku celana komprangnya. Harapan membeli obat batuk Mbah Kasmi pupus.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga kemerahan di langit Konoha.

Perut Anu berbunyi nyaring meronta-ronta. Sejak pagi ia hanya menelan air keran. Namun, langkah kakinya mendadak berhenti saat melewati gang sempit gelap menuju arah desanya.

Seorang kakek tua bersandar lemas di dinding bata gang. Pakaian sang kakek compang-camping penuh ratusan jahitan tambalan. Napasnya tersengal-sengal sesak, matanya cekung menatap kosong ke arah jalan berdebu.

"Lapar... lapar sekali, Nak. Kakek belum makan sesuap nasi dari kemarin," rintih sang kakek pelan menyayat hati. Tangannya yang keriput kurus terulur lemah meminta belas kasihan.

Anu tertegun mematung. Ia meraba saku celananya ragu. Sepuluh ribu rupiah. Uang terakhir hasil memeras keringat seharian penuh.

Kalau selembar uang ini diberikan, Anu benar-benar pulang membawa tangan kosong melompong. Mbah Kasmi di rumah gubuk pasti menunggu kepulangannya membawa beras jatah makan malam.

Anu menatap lekat wajah keriput kakek pengemis nan malang. Rasa iba menyelimuti hatinya yang sedari tadi diliputi penderitaan.

Sesama orang kecil harus saling membantu, pikirnya mantap menepis keraguan. Rezeki bisa dicari lagi esok hari.

Tanpa berpikir panjang membuang waktu, Anu berlari kecil menuju warung tenda di seberang jalan raya. Ia menukar uang sepuluh ribu rupiah dengan sebungkus nasi kuning berlauk tempe orek.

"Ini, Kek. Makanlah perlahan. Mumpung nasinya masih hangat," kata Anu lembut, menyerahkan bungkusan daun pisang dan sebotol air mineral pemberian ikhlas penjual warung.

Mata sang kakek berbinar terang. Tangan keriputnya gemetar menerima makanan berkah. "Terima kasih banyak, Anak Muda. Kebaikanmu... sungguh sangat langka di zaman sekarang. Siapa namamu?"

"Anu, Kek. Tapi orang-orang memanggil saya Anu."

Kakek tua mengunyah nasi perlahan, lalu menatap sosok tangguh Anu dalam-dalam penuh arti. "Kemarilah mendekat, Anu. Buka telapak tangan kananmu."

Anu menurut pelan, menyodorkan telapak tangannya yang penuh kapalan tebal campur debu jalanan.

Kakek meletakkan sebuah benda kecil bersuhu dingin ke atas telapak tangan Anu. Sebuah batu permata hitam seukuran kelereng kecil.

Warnanya amat kusam, tertutup daki berlapis-lapis bagai barang rongsokan. Tidak terlihat seperti barang berharga sama sekali.

"Simpanlah baik-baik, Nak. Kelak, batu ini akan membantumu mengubah jalan takdir hidup," bisik kakek parau tersenyum tipis.

Anu mengerutkan kening kebingungan. Ingin menolak pemberian aneh, tapi urung karena tak enak hati menyinggung perasaan. "Terima kasih, Kek. Saya permisi pulang dulu, nenek saya pasti sudah gelisah menunggu di rumah."

Begitu Anu menggenggam erat batu hitam kusam dan melangkah menjauh meninggalkan gang gelap, hal magis terjadi seketika.

Batu permata hitam di genggamannya tiba-tiba berdenyut kencang layaknya jantung hidup berdetak.

Suhu batu berubah panas luar biasa, namun anehnya tidak membakar kulit telapak tangannya sama sekali.

Aliran energi panas misterius merambat sangat cepat dari telapak tangan, menjalar liar ke lengan, naik ke urat leher, dan langsung menusuk tajam masuk ke dalam bola mata kirinya yang buta permanen.

Lanjut membaca
Lanjut membaca