Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Siswa Rangking F Melawan Takdir

Siswa Rangking F Melawan Takdir

Bunyen_Heha | Bersambung
Jumlah kata
90.6K
Popular
724
Subscribe
109
Novel / Siswa Rangking F Melawan Takdir
Siswa Rangking F Melawan Takdir

Siswa Rangking F Melawan Takdir

Bunyen_Heha| Bersambung
Jumlah Kata
90.6K
Popular
724
Subscribe
109
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahPertualanganZero To HeroCinta Sekolah
Gesit hanyalah siswa biasa, tanpa prestasi apa-apa, tiba-tiba dia mendapatkan undangan dari sekolah elit yang sangat ekslusif, yaitu CELEOSTIA ACADEMY. Di sana Gesit mengalami hal-hal baru. Semuanya tampak berbeda. Gesit mendapatkan rangking F usai mengikuti ujian masuk yang aneh. Rangking F adalah rangking terendah di sana. Gesit merasa kemampuan berpikirnya tidak sepayah itu. Dia berusaha meningkatkan kemampuan agar rangkingnya naik. Namun, semakin Gesit mencoba, dia semakin terlihat bodoh. Bagaimana bisa? Dengan bantuan Novia, si juara kelas, Gesit mulai menemukan caranya. Perlahan Gesit bisa menunjukkan potensi diri yang dia miliki. Satu per satu, orang-orang yang dulu mengejek mulai kagum, termasuk Lulu, siswi populer yang kecantikannya luar biasa.
Bab 1 : Undangan Misterius

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, disambut oleh sorak sorai siswa. Bagi Gesit, suara bel bubaran sekolah adalah musik paling merdu, tanda dia lepas dari jam-jam yang menegangkan ini.

Ujian Akhir hari pertama.

"Balik, woy! Bubar! Kita bebaaas!" Muji, si jagoan kelas, berteriak dari barisan belakang, disusul suara kursi yang ditarik kasar.

Gesit ikut berdiri. Gerakannya santai, tak perlu terburu-buru, ikuti arus saja. Jangan memaksa untuk cepat keluar, tetapi jangan terlalu lambat juga. Apalagi geng si Muji masih berada di dalam kelas, biasanya mereka iseng.

Bukan iseng yang bagaimana, cuma terkadang suka membuat kesal. Daripada bikin ulah dengan mereka, Gesit memilih jadi orang yang tak terlihat, tapi susah karena dia bukan jin. Apalagi JIN BTS yang kulitnya mulus seperti pantat bayi.

Canda.

"Sit, nomor lima elo isi apa?" Rian menyenggol bahu Gesit, menyamakan langkah.

Rian ini punya hobi unik, menanyakan jawaban ujian setelah semuanya selesai, hanya untuk meratap bersama.

"Ngasal. Itung kancing doang. Pokoknya lima puluh persen jawaban gue hasil itung kancing, dah!” jawab Gesit.

"Anjir, sama!" Rian tertawa lepas, lalu menepuk pundak Gesit dengan keras. "Ya udah, kita gagal bareng. Sore ini mabar kagak? Push rank dikit lah berjuang lagi besok.”

"Skip dulu. Gue pengen tidur," tolak Gesit halus.

“Tidur mulu! Tapi nanti selesai ujian hari terakhir, elo kagak boleh nolak, Sit!”

Gesit hanya mengangkat jempolnya, tidak mengiyakan secara pasti.

Gesit bukan si genius yang disayang guru, bukan pula si jagoan yang ditakuti macam si Muji. Dia cuma ada. Seperti aset background di sebuah video game yang fungsinya cuma untuk pelengkap suasana saja. Ingat, pelengkap. Bukan menyempurnakan.

'Hidup gue ini kayak rank C. Ada atau nggak ada, nggak ada yang nyari.’ Gesit pernah menggambarkan dirinya seperti itu.

Bagi Gesit, menjadi anak biasa-biasa saja itu anugerah. Dia tidak dibebankan dengan ekspetasi tinggi harus selalu sempurna, tetapi juga tidak dianggap anak gagal. Kehadirannya cukuplah jadi penyeimbang.

Dengan satu kali naik angkot, Gesit sampai di rumahnya. Rumah Gesit berada di gang kecil yang padat penduduk. Tempat di mana satu kesalahan kecil bisa menjadi bahan gosip selama seminggu.

“Assalamu’alaikum,” ucap Gesit seraya membuka pintu rumah.

"Wa'alaikum salam. Sit, tadi ada surat buat kamu."

"Surat?" Dahi Gesit berkerut.

Di era modern begini, di mana semua orang hampir punya aplikasi chatting bernama Whatsapp di ponsel, masih ada yang memakai cara kuno?

Bahkan pihak sekolahnya saja lebih sering kirim surat elektronik ketimbang surat biasa. Hemat kertas, katanya.

"Siapa yang kirim surat zaman sekarang, Bu?" tanya Gesit.

Rahma, ibunya, mengedikkan bahu sembari meletakkan amplop itu di meja ruang tamu.

"Nggak tahu. Kurirnya juga aneh. Rapi banget, pake seragam hitam formal kayak pengawal pribadi, padahal cuaca lagi panas-panasnya. Dia nggak banyak bicara, cuma mastiin nama kamu, terus pergi."

Gesit menerima amplop itu. Begitu jarinya bersentuhan dengan kertasnya, dia sedikit tersentak. Teksturnya kaku, dingin, dan jauh lebih berat dari kertas biasa.

Warnanya putih gading dengan kesan mahal yang tidak bisa disembunyikan. Di bagian depan, tertulis namanya dengan kaligrafi hitam yang tajam dan sempurna.

GESIT GUSTAVO.

Ada satu yang membuat tangan Gesit berhenti, yaitu cap di bagian penutup amplop. Sebuah segel lilin berwarna perak dengan simbol lingkaran yang di dalamnya terdapat pola garis geometris yang rumit.

Garis-garis itu tampak saling mengunci satu sama lain, membentuk labirin yang seolah-olah bergerak kalau dilihat dari sudut mata.

Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di benak Gesit. Ada sesuatu yang membuat tubuhnya merinding tanpa alasan.

"Dibuka saja, siapa tahu itu hadiah undian. Kamu menang hadiah umroh, kali," ucap Rahma santai dari arah dapur.

Gesit menarik napas pelan, lalu merobek segel perak itu. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas kaku dengan aroma aneh yang jarang Gesit hidu sebelumnya.

UNDANGAN RESMI

Kepada: Gesit GUSTAVO

Anda terpilih untuk mengikuti seleksi masuk

CELEOSTIA ACADEMY

Tanggal: 12 Maret

Lokasi: (alamat terlampir)

Kehadiran bersifat wajib. Ketidakhadiran akan dianggap sebagai pembatalan hak istimewa secara permanen.

Gesit terpaku. Dia membaca ulang kata per kata. Sekali, dua kali, sampai matanya terasa pedas.

"Celeostia? Sekolah apaan ini?"

Rahma mendekat, ikut membaca surat itu. "Sekolah? Kok, Ibu baru dengar namanya?"

"Aku juga, Bu. Serius."

Gesit membalik kertasnya, mencari penjelasan tambahan, brosur, atau minimal nomor kontak yang bisa dihubungi. Hasilnya nihil. Kosong melompong.

"Ini pasti salah kirim. Mungkin ada Gesit Gustavo lain," cetus Gesit sembari meyakinkan dirinya sendiri.

"Tapi alamatnya rumah kita, Sit," sahut Rahma.

Gesit tidak menjawab. Gegas dia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengetikkan nama itu di mesin pencari.

Sinyal di rumahnya yang biasanya lemot tiba-tiba terasa sangat kencang saat memuat halaman web yang dia cari.

"Bu."

"Apa lagi?"

"Ini sekolah bukan tempat sembarangan."

Foto sebuah kompleks bangunan megah muncul di layar ponselnya. Arsitekturnya ultra-modern dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya langit, dikelilingi oleh pohon pinus yang tertata rapi. Lebih mirip markas pusat teknologi di luar negeri daripada sebuah SMA di Indonesia.

Di bawah gambar tersebut, tertulis deskripsi singkat.

Celeostia Academy: Institusi elite dengan sistem seleksi tertutup. Dikenal menghasilkan individu berpengaruh di berbagai bidang strategis dunia.

Gesit menelan ludah. Halaman web itu tidak memberikan informasi lebih lanjut.

Tidak ada tombol 'Daftar', rincian biaya SPP, dan tidak ada daftar nama pengurus yayasan. Seperti hantu yang cuma menampakkan diri pada orang-orang tertentu.

Anda terpilih ....

Kalimat itu terus berputar di kepala Gesit seperti kaset rusak. Terpilih dari mana? Berdasarkan apa?

Gesit kembali berkaca pada layar ponselnya yang gelap. Dia tidak punya prestasi olimpiade, tidak punya koneksi keluarga pejabat, dan nilai olahraganya pun pas-pasan.

Dia hanyalah si anak biasa yang mencoba bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan kelas di tahun terakhir sekolah.

"Ya sudah, kalau aneh begitu dan nggak jelas cara masuknya, abaikan aja. Mungkin benar-benar salah kirim, nama kamu ‘kan pasaran," ucap Rahma.

Gesit mengangguk pelan, tetapi jempolnya terus melalukan scrolling pada halaman yang hampir kosong itu.

Matanya kembali tertuju pada simbol di atas surat. Lingkaran dengan pola aneh. Semakin dia melihatnya di bawah cahaya lampu ruang tamu yang agak redup, dia merasa pola itu bukan sekadar gambar.

Ada yang unik di sana, seolah-olah garis-garis itu adalah gerbang menuju sesuatu yang gelap dan luas.

Malam harinya Gesit sama sekali tidak bisa tidur nyenyak.

Dia menatap langit-langit kamar yang dihiasi bekas rembesan air hujan, sementara surat itu tergeletak di meja belajar di samping ponselnya yang masih menampilkan logo Celeostia.

"Sekolah elite, seleksi tertutup. Gue nggak pernah denger nama sekolahnya,” gumamnya pelan.

Pikiran-pikiran liar mulai bermunculan. Apakah ini sebuah peluang? Atau justru awal kesalahan bakal menyeretnya ke dalam masalah besar?

Kalau datang, Gesit akan bertemu dengan anak-anak luar biasa, para jenius, atlet nasional, atau mungkin anak-anak konglomerat.

Masalahnya, dia cuma seorang Gesit. Siswa yang paling menonjol di pelajaran sejarah.

Gesit duduk di pinggir kasur, menatap tanggal di surat itu yang seolah-olah bersinar lemah di bawah lampu kamar yang temaram.

12 Maret.

Tiga hari lagi. Tepat satu hari setelah ujian akhir selesai. Gesit mendengkus pelan saat membaca kalimat terakhir.

Kehadiran bersifat wajib.

"Wajib apaan? Emang mereka siapa bisa maksa orang kayak gini?" gumamnya sinis.

Namun, ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya. Sebuah percikan rasa penasaran yang selama ini dia kubur dalam-dalam demi kenyamanan hidup ‘biasa-biasa saja'.

Ada bagian dari dirinya yang mulai bosan menjadi figuran. Ada insting liar yang membisikkan bahwa surat ini bukan sekadar kertas, melainkan sebuah kunci.

Entah kunci menuju masa depan, atau kunci menuju kehancuran.

"Ah, udah, deh. Lagian hidup gue juga nggak bakal jadi lebih parah dari ini, kan?" Gesit mengacak rambutnya frustrasi, lalu meraih surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop dengan mantap.

Satu keputusan kecil diambil di tengah sunyinya malam.

"Datang saja. Gue pengen liat siapa yang cukup gila buat ngirim surat beginian ke orang kayak gue."

Sebelum memejamkan mata, Gesit melirik lagi ke arah amplop. Tanpa dia sadari, segel lilin perak yang tadi sudah dia robek utuh kembali.

Lanjut membaca
Lanjut membaca