

Rendra Aksanagara.
Semua orang di kampung neneknya memanggilnya Dek Rendra. Sejak kecil, Rendra selalu datang ke rumah Nenek Surti. Ia sering dibawa ibunya berkunjung ke sana. Rendra sangat suka bermain di kampung itu, sehingga panggilan Dek Rendra begitu melekat padanya hingga sekarang.
Rendra tidak pernah kuliah. Bahkan, setelah lulus SMP, ia tidak pernah melanjutkan sekolah ke SMA. Karena itu, ia sering kesulitan mencari pekerjaan.
Wajahnya biasa saja. Banyak jerawat dan bopeng di wajahnya. Tingginya sekitar 179 cm.
Rendra juga belum pernah pacaran sama sekali. Ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih.
Selama hidupnya, ia hanya pernah jatuh cinta pada satu wanita.
Seorang wanita populer yang selalu membuat jantungnya berdebar setiap kali melihatnya.
Nama wanita yang dicintainya secara diam-diam itu adalah Gadis.
Gadis adalah wanita paling cantik di sekolahnya dulu. Ia dikagumi banyak lelaki. Rasanya tidak ada satu pun lelaki yang tidak ingin menjadi kekasihnya. Semua menginginkan Gadis menjadi kekasih hati mereka.
Rendra termasuk salah satunya.
Bertahun-tahun lamanya ia memendam perasaan itu sendirian.
Hingga sekarang, ia masih belum bisa melupakan Gadis sepenuhnya. Meski perasaan itu sudah tidak sebesar dulu, bayangan wanita itu masih sering muncul di pikirannya.
Rendra menatap sebuah foto yang tersimpan rapi di dalam dompetnya.
Foto Gadis.
Foto yang ia ambil secara diam-diam saat masih sekolah dulu.
Di foto itu, Gadis sedang duduk di bawah pohon sambil memandang ke arah lain. Anehnya, meskipun tidak tahu ada yang memotretnya, wajah Gadis terlihat seperti sedang menatap ke arah kamera.
Cantik.
Imut.
Dan selalu membuat hati Rendra berdebar.
Foto itu sudah dicuci sejak lama dan selalu ia simpan baik-baik. Setiap kali rindu, ia akan melihat foto itu diam-diam.
Brak!
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.
Rendra segera memasukkan foto itu kembali ke dalam dompetnya.
"Ibu?" ucapnya.
Irah berdiri di ambang pintu.
"Rendra, cepat siap-siap. Kita harus pergi ke kampung nenekmu sekarang."
Rendra mengernyit bingung.
"Ada apa, Bu?"
"Waktu di jalan Ibu jelaskan."
Tak lama kemudian, mereka berangkat menggunakan motor Supra milik Rendra.
Angin sore berhembus cukup kencang saat motor itu melaju meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan, Rendra terus bertanya-tanya.
Sampai akhirnya Irah yang duduk di belakang berkata pelan,
"Nenekmu... Nenek Surti meninggal dunia."
Tangan Rendra yang memegang setang motor sedikit menegang.
Untuk sesaat ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya suara angin dan deru motor yang terdengar di sepanjang jalan.
Kabar itu terasa begitu mendadak.
Padahal baru beberapa bulan lalu ia masih sempat berkunjung dan berbincang dengan neneknya.
Kini...
Nenek Surti sudah tiada.
Setelah sampai di kampung neneknya, Rendra menghentikan laju motornya di depan rumah.
Tak lama setelah turun dari motor, ia dan Irah segera masuk ke dalam rumah.
Di sana sudah banyak orang yang datang melayat. Rumah yang biasanya tenang kini dipenuhi lantunan doa dan suara tangis yang tertahan.
Rendra melangkah masuk dengan perasaan berat.
Saat tiba di ruang tengah, ia melihat Nenek Surti terbaring kaku di atas ranjang.
Jasad neneknya masih belum dimakamkan karena keluarga menunggu kedatangan dirinya dan Irah.
Untuk beberapa saat, Rendra hanya berdiri diam.
Tatapannya tidak lepas dari wajah sang nenek.
Sulit dipercaya.
Wanita yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum hangat kini telah pergi untuk selamanya.
Beberapa kerabat mengingatkan Rendra agar tidak meneteskan air mata ke tubuh neneknya.
Namun justru itulah hal yang paling sulit ia lakukan.
Rendra menggigit bibirnya kuat-kuat.
Berusaha menahan tangis yang terus mendesak keluar.
Perlahan ia melangkah mendekat.
Lalu mencium kening Nenek Surti untuk terakhir kalinya.
Seketika dadanya terasa sesak.
Kenangan demi kenangan bersama sang nenek bermunculan di benaknya.
Saat itulah Irah tidak mampu lagi menahan kesedihannya.
Ia menangis keras.
Bahkan beberapa kali memanggil ibunya dengan suara yang bergetar.
"Ibu... Ibu..."
Suasana rumah pun semakin haru.
Tangisan keluarga dan kerabat terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Semua merasakan kehilangan yang sama.
Nenek Surti dikenal sebagai sosok yang baik, ramah, dan selalu peduli kepada orang-orang di sekitarnya.
Setelah beberapa waktu, jasad Nenek Surti kemudian dimandikan.
Irah ikut membantu proses tersebut bersama para wanita keluarga lainnya.
Setelah selesai dimandikan dan dikafani, jasad Nenek Surti dishalatkan.
Rumah kembali dipenuhi lantunan doa.
Tak lama kemudian, jenazah dibawa menuju pemakaman.
Di sana telah berkumpul banyak keluarga yang menunggu.
Baik dari pihak keluarga Surti maupun keluarga almarhum suaminya.
Mereka datang untuk mengantarkan Nenek Surti ke tempat peristirahatan terakhir.
Di bawah langit yang mendung, proses pemakaman berlangsung dengan khidmat.
Satu per satu anggota keluarga menaburkan tanah sambil memanjatkan doa.
Rendra berdiri terpaku di dekat pusara.
Matanya terus menatap gundukan tanah yang perlahan meninggi.
Hingga akhirnya liang lahat itu tertutup sepenuhnya.
Dan pada saat itulah Rendra benar-benar menyadari satu hal.
Mulai hari itu...
Ia tidak akan pernah lagi mendengar suara Nenek Surti memanggil namanya dengan penuh kasih.
"Dek Rendra..."
Satu jam, dua jam, bahkan tiga jam berlalu.
Namun waktu yang terus berjalan itu tetap tidak bisa mengembalikan Nenek Surti.
Langit perlahan berubah semakin gelap.
Sementara para pelayat dan anggota keluarga yang tadi memenuhi pemakaman sudah satu per satu pulang meninggalkan tempat itu.
Kini hanya tersisa Rendra dan ibunya, Irah, yang masih duduk di dekat makam.
Keduanya terdiam cukup lama.
Seolah masih sulit menerima kenyataan bahwa Nenek Surti telah pergi untuk selamanya.
Rendra menatap pusara neneknya untuk terakhir kali hari itu.
Dadanya masih terasa berat.
Namun hari sudah semakin gelap.
Ia kemudian menoleh ke arah ibunya.
"Bu, kita pulang yuk," ucap Rendra pelan.
Irah mengusap air matanya sebelum mengangguk.
"Iya..."
Keduanya pun berdiri.
Sebelum pergi, mereka kembali memanjatkan doa untuk Nenek Surti.
Setelah itu, Rendra dan Irah melangkah meninggalkan pemakaman.
Setelah kembali dari pemakaman, Rendra dan Irah tiba di rumah Nenek Surti.
Kini yang tersisa di rumah hanyalah keluarga dari pihak nenek Surti.
Mereka duduk bersama di ruang tengah sambil berbincang.
Irah ingin mengetahui bagaimana keadaan ibunya sebelum meninggal dunia.
Ia menanyakan banyak hal, mulai dari kondisi kesehatan Nenek Surti, kata-kata terakhir yang diucapkannya, hingga tanda-tanda yang muncul sebelum kematian datang.
Sementara itu, Rendra hanya duduk diam dan mendengarkan percakapan mereka.
Dan Irah mendapatkan jawaban yang ditanyakannya. Setelah itu banyak percakapan yang akhirnya kesana kemari tidak membahas nenek Surti lagi.
Di tengah obrolan, Bibi Jenah menatap Irah.
"Irah, kamu menginap saja di sini. Jangan dulu pulang," ujarnya.
Irah menghela napas pelan.
"Aku harus tanya Rendra dulu," jawabnya.
Jenah kemudian menoleh ke arah Rendra.
"Dek Rendra memang mau pulang dan nggak mau menginap?"
Sementara ibunya pun bertanya. "Mau nginep nggak?"
Rendra belum sempat menjawab ketika Jenah kembali berbicara.
"Rumah ini jangan ditinggalkan dulu. Minimal satu minggu harus ada yang tinggal di sini."
Irah menggeleng pelan, tak lama berkata.
"Kayaknya aku nggak bisa. Aku banyak pekerjaannya di sawah majikan."
Mendengar itu, Rendra akhirnya angkat bicara.
"Kalau aku sih mau saja menginap di sini, kalau malam ini, tapi nggak tahu kalau harus disini satu Minggu, kayaknya nggak bisa juga," ucapnya.