Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Midnight Kitchen: Kutukan Sang Chef

The Midnight Kitchen: Kutukan Sang Chef

Maria Goreti | Bersambung
Jumlah kata
91.0K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / The Midnight Kitchen: Kutukan Sang Chef
The Midnight Kitchen: Kutukan Sang Chef

The Midnight Kitchen: Kutukan Sang Chef

Maria Goreti| Bersambung
Jumlah Kata
91.0K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSupernaturalKutukan
Di kota yang sepi, saat tengah malam. Ada restoran kecil bernama The Midnight Kitchen. Restoran ini tidak muncul untuk semua orang, hanya mereka sedang hancur, yang bisa menemukannya. Chef Gio melayani setiap tamu, dengan hidangan yang anehnya mampu meredakan trauma, tetapi tentu saja ada harga yang harus dibayar. Setiap kali, seseorang sembuh, maka tanda hitam di lengannya semakin membesar, dan perlahan menggerogoti seluruh tubuhnya secara perlahan. Tamu yang datang terlihat berbeda-beda. Ada seorang wanita yang dihantui kebakaran, seorang pria yang tidak bisa dari rasa bersalah, dan seorang anak yang takut pulang, tetapi semuanya terhubung dengan satu kejadian lama yang belum berakhir. Chef Gio semakin banyak menolong, justru semakin mendekatkan pada kebenaran yang mengikat mereka semua. Kalau semua orang diselamatkan, apa Chef Gio masih akan tersisa sebagai dirinya? Atau menjadi sesuatu yang selama ini mereka takuti?
Bab 1 Satu Hidangan, Satu Nyawa Dibayar

Pintu kayu ek The Midnight Kitchen didorong paksa sampai menghantam keras membentur dinding. Lonceng kecil di atasnya bergemerincing kuat memecah kesunyian malam. Jemarinya masih mengelap pisau, seperti benda itu jauh lebih menarik daripada kehadiran orang di depannya. Gio baru berhenti mengelap pisau, saat menyadari suara yang payah itu memenuhi ruangan.

Perempuan itu mencengkeram kusen pintu dengan napasnya tersengal. Kemejanya kusut dengan beberapa kancing terlepas dan noda tanah di lengan. Keringat dingin membanjiri kening membuat rambutnya lepek. Manik hitamnya mengedarkan pandangan untuk memastikan kalau tempat ini bukan halusinasi. Dia menyandarkan punggungnya di daun pintu.

“Tolong, jangan biarkan dia masuk. Aku mohon,” ucap perempuan ini memohon.

Gio hanya melirik sekilas. “Di sini enggak ada siapa pun, hanya ada aku dan kamu. Aku enggak suka kalau pintu restoran ini diperlakukan sekasar itu.”

Perempuan ini menatap ke arah Gio, matanya membelalak dengan pupil yang mengecil karena ketakutan. “Kamu tidak lihat? Dia tadi ada di sana! Baunya–baunya seperti daging yang terpanggang sampai hangus!”

“Kalau dia mau masuk, sudah melakukannya dari tadi. Sekarang, duduk atau silakan keluar lagi.”

Suara Gio memutus lamunannya, perempuan ini menoleh cepat, lalu memindai setiap sudut dapur dan memastikan pintu di belakangnya terkunci rapat. Setelah yakin tidak ada ancaman yang mengikutinya masuk, dia menempatkan pantat di kursi itu. Matanya gemetar menatap bingung peralatan masak di depannya.

“Ini–ini restoran?” tanya perempuan ini gemetar.

Gio meletakkan pisau di atas meja kayu. “Kalau kamu masih punya tenaga untuk bertanya, berarti kamu belum lari terlalu jauh. Kamu di sini mau makan atau hanya mau numpang panik?”

Pundak perempuan ini terkulai lemas. “Aku–aku tidak tahu mencari apa ke sini.”

Gio melirik tajam bukan tatapan yang menghakimi. Mereka yang datang ke restoran ini bukan karena kebetulan, tetapi membawa beban.

“Ini restoran. Cari aman di kantor polisi, tetapi kalau kamu lapar. Silakan duduk dan tunggu di situ,” sahut Gio berjalan menuju lemari pendingin.

Perempuan ini menatap ragu dengan kaki yang gemetar. “Kamu benar aku memang lapar, tetapi aku tidak mencari makanan yang biasa, lalu kenapa di sini sepi?”

Gio mengeluarkan sepotong daging sapi yang sudah dimarinasi membuat warnanya berubah gelap dan pekat. “Di sini, hanya ada makanan, lalu restoran ini sepi karena enggak semua orang memiliki alasan kuat datang ke sini. Kamu beruntung atau justru sangat sial malam ini.”

Ucapan dari Gio seharusnya terdengar sombong untuk siapa pun, tetapi perempuan ini justru hanya mengangguk pasrah. Gio tidak berniat memperpanjang pembicaraan dan memilih memunggungi perempuan ini. Tangannya bergerak meracik bahan tanpa takaran yang pasti. Resep yang tidak tercatat di buku mana pun, karena bahan utamanya tidak bisa dibeli di pasar.

“Tempat ini,” gumam perempuan ini mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Kenapa rasanya seperti hidup?”

Gio berhenti sebentar, lalu kembali memotong bahan. “Karena yang datang ke sini, enggak hanya membawa diri mereka.”

“Lalu apa?” tanya perempuan ini menyatukan alis dan kening tanda penasaran.

“Mereka datang ke sini membawa luka.”

Perempuan ini mendadak terlihat kaku. Dia mengunci mulutnya seperti Gio tahu apa yang dipikirkannya.

Gio tidak membutuhkan waktu lama, untuk menyajikan makanan hangat. Makanan ini terlihat sederhana, tetapi uapnya menguar membawa bau masa lalu yang sudah lama dikubur.

“Silakan makan,” kata Gio mempersilakan tanpa ragu.

Tangan perempuan ini terlihat gemetar saat meraih sendok. Dia menatap makanan itu, sebelum memaksakan suapan pertama. Manik hitamnya membelalak, napasnya tercekat.

“Tidak! Aku tidak mau ingat!” Suaranya pecah dengan napasnya tersengal.

Suasana di restoran terlihat mencekam, membuat udara menjadi berat. Pelupuk mata perempuan ini tidak bisa menahan guyuran bulir-bulir air, membuat pipinya menjadi basah, diiringi teriakan tertahan yang menyayat.

“Berhenti, suruh mereka berhenti!”

“Percuma saja kamu menutup telinga. Makanan itu, hanya bisa membuka paksa pintu yang sengaja kamu kunci. Tentu saja, sakitnya masih ada di situ.”

“Aku tidak sanggup lagi!”

“Memang, enggak ada yang sanggup.”

Tangis perempuan ini perlahan mereda, bukan karena rasa sakit yang hilang, tetapi tenaganya sudah habis untuk melawan. Perempuan ini bersandar lemas di kursi. “Sakitnya tidak hilang, tetapi seenggaknya sekarang aku tidak merasa sendiri.”

Gio melirik sekilas lengannya, melihat tanda hitam di lengannya berdenyut pelan, dan perlahan melebar.

Perempuan itu memaksakan diri beranjak dari sana. “Kalau aku keluar dari sini. Apa besok aku akan lupa rasa sakitnya?”

“Sembuh itu bukan berarti hilang ingatan. Kamu hanya perlu berhenti lari dan berdamai sama semuanya.”

Pintu kayu itu tertutup perlahan, membawa perempuan itu kembali ke dinginnya dunia luar. Suasana di The Midnight Kitchen berubah mencekam. Lampu gantung berkedip tidak beraturan. Di sudut ruangan, bayangan meja dan kursi memanjang kaku. Oksigen menipis digantikan udara pekat yang menyesakkan paru-paru. Gio sudah tidak terkejut karena sudah biasa. Dia bergerak menuju wastafel dan memutar keran air, tetapi saat keran dimatikan. Sebuah bisikan serak menyapu tengkuknya.

“Tidak semua yang kamu ambil bisa dikembalikan.”

Rahangnya mengeras, Gio menoleh perlahan, lalu netranya memindai sekitar, tetapi hanya pintu kulkas yang terlihat sedikit terbuka. Dia mendecih. “Malam ini akan menjadi malam yang panjang.”

“Selalu ada harga untuk sebuah luka dan selalu ada racun yang tertinggal.” Bisikan itu muncul lagi terdengar jelas seperti sedang merayap di tengkuknya.

Gio mengangkat lengannya, tanda hitam itu seperti membakar kulitnya. Rasa sakit yang tajam menyengat pergelangannya.

“Kamu sudah mendapatkan jatah malam ini. Sekarang pergi,” ucap Gio kasar.

“Aku belum kenyang, Gio. Kamu tahu, apa yang aku inginkan sebagai hidangan utama.”

“Jangan berharap.” Gio menyambar pisaunya kembali, lalu menghunuskannya ke atas talenan kayu. “Aku enggak akan membiarkan kamu mengambil alih.”

“Tanda itu tidak akan pernah berhenti merambat, karena semakin banyak orang yang kamu sembuhkan, dan semakin banyak dosa yang berpindah ke kulit kamu.”

Gio tertawa sinis, lalu menyalakan keran air untuk membasuh wajahnya, meredakan panas yang menjalar di lengannya.

“Kalau memang aku harus menjadi tempat pembuangan sampah, untuk membersihkan kota ini dari pengecut seperti mereka, tetapi kamu harus ingat satu hal.”

“Apa itu?” suara itu bertanya dengan nada meremehkan.

“Di dapur ini, hanya aku yang memegang pisau bukan kamu,” tantang Gio dengan mata menyipit tajam ke arah kegelapan.

Bayangan di sudut tertawa pelan sebelum perlahan mundur dan menghilang. Suhu di restoran ini kembali normal, tetapi udara dingin yang menusuk tulang masih tertinggal. Tanda hitam di lengannya masih berdenyut.

Gio menatap pintu kayu ek yang membisu di tengah kegelapan. Dia mengusap lengannya masih nyeri, lalu mengedarkan pandangan terlihat asing dan mengancam daripada biasanya.

“Nyawa siapa yang sebenarnya baru aku gadaikan malam ini?” desisnya pelan ke arah kegelapan yang sepi.

Pintu kayu ek di depannya seperti sedang menunggu, siap untuk kembali terbuka untuk mereka yang membawa maut dalam piring persembahan selanjutnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca