
Warisan Tabib di Balik Jeruji
Pena Deniazz|Tamat
- Jumlah kata
- 328.1K
- Popular
- 11.8K
- Subscribe
- 1.3K
- Jumlah kata
- 328.1K
- Popular
- 11.8K
- Subscribe
- 1.3K
Sinopsis
Naren Kurniawan, tuan muda dari keluarga terpandang, dijebak dalam skandal pemerkosaan terhadap Celine Saputra, gadis tercantik di kota, hingga hidupnya runtuh dan keluarganya jatuh miskin. Di balik jeruji, ia justru bertemu kakek misterius yang mewariskan ilmu pengobatan dan kultivasi tingkat tinggi kepadanya. Kini setelah bebas, dengan kekuatan barunya, Naren kembali untuk mengungkap kebenaran dan memulihkan kehormatan keluarganya. Namun, bagaimana jika dalam perjalanannya, Naren malah terlibat dengan para wanita cantik yang mengubah jalan hidupnya?
Ulasan
1 ulasan
Zeiroun
13/7/26 12:51
izin Promosi Judul : Arsitek Penakluk Update Bab : 3-4 genre : Harem/Fantasi-Isekai Masih segar dan masih baru menetas Jangan Lupa Mampir ya gaes
Bab 1
Naren Kurniawan melangkah pelan di pinggir jalan provinsi yang berliku. Angin sore pegunungan menyapu wajahnya yang dingin.
“Sudah tiga tahun,” gumamnya pelan.
“Rasanya seperti mimpi buruk yang panjang. Dan akhirnya aku kembali ke sini.”
Tas lusuh di bahunya bergoyang mengikuti langkahnya. Kota kecil itu sudah dekat. Kota yang dulu penuh kenangan manis, sebelum semuanya direnggut dalam semalam.
Seorang sopir truk lewat dan membunyikan klakson singkat. Naren hanya melirik sekilas tanpa menjawab.
Dulu hidupnya sempurna. Keluarga terpandang, lulus kuliah, pekerjaan bagus, bahkan punya kekasih cantik. Semua berubah setelah malam mabuk bersama teman-temannya. Ia terbangun di ranjang mewah dengan tubuh telanjang Celine Saputra di sampingnya. Gadis tercantik di kota itu.
Sebelum ia sempat bereaksi, pintu kamar didobrak keras.
“Dasar bajingan! Kau berani perkosa anak orang!”
Tuduhan itu datang begitu cepat. Bukti dan saksi muncul terlalu sempurna. Dalam waktu singkat, Naren dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.
Setiap kali teringat itu, Naren menggertakkan giginya menahan amarah yang diselimuti dendam kesumat.
“Siapa yang sebenarnya menjebakku … aku pasti akan cari tahu!”
Selama di penjara, Naren bertemu seorang lelaki tua misterius yang ia anggap seperti kakek sendiri. Naren memperlakukan kakek itu dengan penuh perhatian, merawatnya dengan tulus tanpa mengrapkan balasan.
Suatu malam, saat kakek itu sudah sangat lemah, ia memanggil Naren untuk mendekat.
“Naren, mendekat kesini, Nak,” suara kakeknya serak tapi penuh wibawa.
“Kek, aku di sini,” sahut Naren.
“Kau bukan orang biasa, Naren. Aku melihat masa depanmu … kau akan dikelilingi banyak wanita cantik yang berebut perhatianmu. Tapi ingat, kekuatan tanpa kendali hanya akan menghancurkanmu.”
Wanita cantik? Mustahil, pikirnya.
Naren saat itu hanya tersenyum tipis. “Kakek, aku bahkan tidak punya apa-apa lagi. Bagaimana wanita cantik mau dekat dengan lelaki sepertiku ini.”
Lelaki tua itu menggeleng pelan dan menatapnya tajam. “Dengarkan wasiatku baik-baik. Pelajari dua kitab ini dengan sungguh-sungguh. Kitab Warisan Tabib Raja akan memberimu kemampuan menyembuhkan segala luka. Teknik Ilahi Angin Awan akan mengasah tubuh dan energimu hingga melampaui batas manusia. Gunakan dengan bijak. Kelak kau akan menjadi pria yang tak terbendung.”
“Kitab? Kek, ini pasti berharga, kenapa diberikan padaku?”
“Ya, sangat berharga, dan kau pantas menerima ini.”
Kakek itu kemudian menyerahkan dua kitab kuno dengan tangan gemetar. “Jangan sia-siakan warisan ini. Aku percaya padamu.”
Naren mengangguk dalam diam. Sejak saat itu, ia mempelajari kedua kitab tersebut dengan tekun setiap malam. Kini, setelah tiga tahun, tubuh dan kemampuannya sudah jauh berbeda.
Tiba-tiba deru mesin keras memecah lamunannya. Sebuah motor sport besar melaju kencang dari belakang, melesat di tikungan tajam jalan berliku. Naren tahu betul, jalur ini sering menjadi arena balapan liar anak orang kaya.
Dalam sekejap, ban motor itu tergelincir. Motor beserta pengendaranya terjun ke jurang curam di sisi jalan.
Naren sempat melihat sekilas. Pengendaranya adalah seorang wanita cantik dan bertubuh indah. Itu terlihat jelas tanpa perlu menelisik lebih ke dalamnya.
Ia ragu hanya sesaat sebelum berlari ke tepi jurang. “Sial!” gumamnya, lalu melompat turun dengan lincah.
Tubuhnya bergerak cepat di antara bebatuan dan akar pohon, berkat Teknik Ilahi Angin Awan yang sudah dia pelajari.
Di dasar jurang, motor besar itu sudah hancur berkeping-keping. Asap tipis mengepul dari puing-puingnya.
Naren mencari dengan cepat, tapi tak menemukan siapa pun. Saat ia hendak berbalik, suara lemah terdengar dari arah pohon yang menjorok keluar dari tebing.
“Tolong ... selamatkan aku…”
Seorang wanita tersangkut di dahan pohon. Pakaiannya robek di beberapa tempat, darah mengalir dari luka di lengan dan pinggangnya.
Wajahnya sangat cantik meski pucat pasi. Kulitnya halus seperti sutra, bibirnya merah alami, dan lekuk tubuhnya yang ramping namun berisi tetap memikat meski dalam keadaan menyedihkan.
Naren langsung memanjat pohon itu dengan gerakan cepat. Ia meraih pinggang wanita tersebut dan mengangkatnya ke pelukannya.
Tubuh wanita itu terasa lembut dan hangat, dadanya yang penuh dan kenyal menekan dada bidang Naren. Pinggulnya yang melengkung indah terasa pas di genggaman tangannya. “Sial,” batinnya sambil menggeram tertahan.
Saat membersihkan luka, Naren tak bisa menghindari pandangan ke kulit putih mulus yang terbuka.
Lekuk dada yang naik turun pelan, pinggang ramping, dan garis pinggul yang menggoda membuat darahnya mendidih. Naren menahan napas susah payah.
Sudah tiga tahun ia tak pernah sedekat ini dengan seorang wanita.
Tubuh seperti ini … kalau telanjang sepenuhnya di bawahku, pasti terasa luar biasa. Naren mulai mengkhayalkan itu tanpa sadar.
Naren segera menggelengkan kepala pelan, mengusir khayalan erotis yang muncul tiba-tiba. Ia menarik napas dalam dan memusatkan diri kembali pada pengobatan.
Ia membersihkan luka dengan air dari botolnya, lalu mencari tanaman obat di sekitar.
“Benar kata kakek, kitab itu amat berharga.”
Dengan terampil ia mengolahnya dan menempelkan ramuan itu ke luka-luka utama. Jari-jarinya kemudian menyalurkan energi dalam dari Teknik Ilahi Angin Awan. Sentuhannya lembut tapi penuh kekuatan di kulit halus wanita itu.
Wanita tersebut menggigit bibir menahan sakit, napasnya tersengal pelan. “Ahh, sakit.”
“Tahan sebentar, Nona.”
Gadis itu mengangguk. Naren menatapnya dan sempat terbuai. Untungnya Naren secepat kilat membuang perasaan tertarik itu lagi.
Setelah luka tertangani, Naren melepas kemejanya sendiri dan menutupkannya ke tubuh wanita itu yang setengah telanjang. Sungguh, penampilan yang sangat menggiurkan.
“Pakai ini. Supaya kau tidak kedinginan,” ujarnya.
Perlahan mata wanita itu terbuka. Ia menatap Naren dengan pandangan lemah tapi penuh rasa syukur.
“Terima kasih … kau menyelamatkan nyawaku,” bisiknya.
Naren hanya diam sambil membereskan barangnya. Dia mencoba menghindari tatapan mata sayu gadis itu, karna ia tahu batasan dari hasrat yang ia tahan susah payah.
Wanita itu berusaha duduk pelan. “Beritahu aku siapa namamu?”
“Jangan tergesa-gesa, kamu belum boleh banyak bergerak.”
Naren berdiri dan mengambil tasnya. Ia menatap wajah cantik itu sekali lagi.
“Jadi, siapa namamu?”
“Namaku tidak penting. Yang penting sekarang kau selamat.” Naren menjawab mantap.
“Tapi aku ingin tahu,” desak wanita itu pelan, matanya tidak lepas dari wajah Naren.
“Setidaknya izinkan aku berterima kasih dengan benar. Aku berutang budi padamu.”
Naren tersenyum tipis. “Simpan saja ucapan terima kasihmu. Hidupmu sudah cukup sebagai bayaran.”
“T-Tapi aku—“
“Aku harus pergi, jaga dirimu, Nona.”
Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju Kota kecilnya tanpa menoleh lagi.
Meski begitu, bayangan wanita itu tak mau pergi dari pikirannya. Sepanjang sisa perjalanan, wajah cantiknya, kulit putih mulusnya, lekuk dada yang sempurna, dan pinggul yang menggoda terus berputar di benak Naren.
“Sialan. Kenapa wanita itu sangat menggoda,” ucapnya pelan.
Ia bahkan sempat membayangkan bagaimana rasanya jika wanita itu berada di bawahnya, telanjang, mengerang pelan dengan suara yang sama lemahnya seperti tadi.
“Cukup.”
Naren mengertakkan gigi dan mengusir khayalan panas itu dengan paksa.
Kendalikan dirimu. Ini bukan waktunya.
Beberapa hari kemudian, saat sore mulai turun di Kota kecil itu, Naren berjalan menyusuri jalan yang dulu sangat ia kenal. Tiba-tiba kerumunan orang terlihat di depan sebuah gang sempit.
Teriakan seorang gadis memecah suasana sore.
“Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!”
Naren mengerutkan kening. Ia mendekat dan menyibak kerumunan dengan bahu tegas. Di tengah kerumunan, seorang gadis sedang ditarik-tarik oleh sekelompok pria. Wajah gadis itu pucat ketakutan, suaranya bergetar penuh keputusasaan.
Tatapan Naren menyipit tajam.
Daftar bab
211 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
211 bab








