

"Sosok mengerikan itu mengayunkan pedangnya padaku. Ketika aku melihat sosok itu, aku kesulitan bernafas..."
Itulah ketegangan yang sedang di alami oleh Kala Sadaev. Seorang pemuda yang tidak henti-hentinya mengalami kesialan. Arti namanya sendiri adalah karma buruk.
Puncak kesialannya ialah ketika bertemu dengan sosok itu.
Seperti kata orang, "Hari sial tidak ada dalam kalender."
Beginilah kejadiannya.
Suatu kali Kala mengalami cedera pada kakinya pada tahun kedua di Unversitas Satyawijaya.
Meskipun ia mengambil jurusan manajemen bisnis, Kala memiliki kemampuan berlari yang sangat baik, sehingga ia berhasil mengikuti kejuaraan lari jarak pendek 400 meter tingkat nasional.
Setelah berhasil lolos perlombaan lari jarak pendek tingkat provinsi, ia mendapatkan kesempatan mengikuti perlombaan lari jarak pendek tingkat nasional.
Namun nahas, tiga hari sebelum perlombaan tingkat nasional itu, ia terjatuh saat latihan. Kakinya mengalami cedera cukup parah.
Dalam kondisi tersebut, Kala tidak dapat mengikuti kejuaraan tingkat nasional yang sudah lama diimpikannya.
Hati Kala terasa berat, nyerinya terasa sampai ketulang. Seakan-akan harapannya sudah pupus. Namun ia berusaha menguatkan hatinya.
Kala mengambil walker untuk melatih kakinya.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku sudah bertahan sejauh ini.
Kala fokus menjalani perawatan kakinya tiga bulan penuh, agar ia cepat sembuh.Ia menetapkan hati untuk segera sembuh dan mengikuti olimpiade berikutnya.
Dalam masa perawatan itu, Kala sempat kontrol bersama kakeknya ke rumah sakit.
Pada saat kakeknya bicara dengan dokter, Kala izin ke kamar mandi.
"Kek, aku ke kamar mandi dulu ya," ucapnya.
Kakek melihat Kala dengan wajah kuatir.
"Apakah kamu perlu diantar?"
Kala menghentikan langkahnya dan tersenyum kepada kakek.
Ah tidak usah Kek, aku sudah bisa berjalan sendiri.
Memang Kala sudah dapat berjalan sendiri, hanya saja masih menggunakan walker.
Setelah keluar dari kamar mandi, sekonyong-konyong Kala ditabrak oleh seorang anak laki-laki. Anak itu berlari persis di depannya, sedang mengejar bolanya yang menggelinding.
Kala kehilangan keseimbangan dan terlempar ke belakang saat petugas medis di belakangnya sedang mendorong pasien sekarat menuju ke UGD.
Pada saat Kala terlempar, tubuhnya menutupi tubuh pasien sekarat tersebut. Pada saat yang sama malaikat maut mengayunkan pedangnya ke tubuh pasien sekarat tersebut.
Karena Kala menutupi tubuh pasien tersebut, maka yang tertarik keluar bukanlah jiwa pasien sekarat itu, melainkan jiwa Kala.
"Wa...duh..." tutur malaikat maut dengan sangat lambat.
Kala terkejut dan mundur dua langkah ke belakang.
"Si-siapa Anda?"
Suara Kala bergetar saat melihat makhluk itu. Makhluk yang penuh mata, bersayap, memegang pedang pemisah tubuh dan roh, dan tersenyum kepadanya.
Namun anehnya makhluk itu tidak beranjak sedikit pun.
Lorong rumah sakit yang panjang itu terasa semakin sempit dan menekan.
Tubuhnya membeku di tempat, seolah seluruh tenaganya direnggut.
Hanya matanya saja yang dapat bergerak, untuk memperhatikan segala aktivitas di sekelilingnya.
Ia melihat para perawat sibuk sekali berlarian membawa brankar dan defibrilator.
Kala masih mencoba memahami apa yang sedang terjadi dan suaranya membeku dalam keterkejutan.
Perlahan-lahan Kala memutar tubuhnya. Betapa kagetnya ia ketika melihat tubuhnya terbujur kaku, sedang diletakan di atas brankar dan diberikan kejut listrik untuk jantung oleh dokter.
Belum sempat Kala memproses semua yang terjadi, dengan cepat jiwanya tertarik ke sebuah medan magnet berwarna ungu tua.
"Aa....pa... iniiiiii," begitulah suara Kala pecah oleh rasa takut dan bingung.
Sesaat kemudian ia sudah berada di tempat antara kehidupan dan kematian.
Orang menyebutnya sebagai tempat perhentian.
Di tempat itu Kala melihat banyak malaikat berlalu-lalang tanpa henti.
Suara percakapan, suara kepakan sayap, dan suara nyanyian samar-samar bercampur menjadi satu.
Malaikat maut melaporkan jiwa-jiwa yang sudah mereka bawa kepada malaikat bagian personalia.
Malaikat bagian personalia memiliki dua sayap dan tiga kepala yang akan berputar sendiri sesuai tugas yang sedang dilakukannya.
Saat berbicara dengan malaikat maut, ia menggunakan wajah ramah.
Pada waktu mencatat waktu kematian wajahnya berganti menjadi wajah serius. Ketika memeriksa gulungan keputusan Sang Pencipta, wajahnya penuh dengan cahaya berkilau hingga detail wajahnya tidak terlihat.
Di sekitar gerbang kematian dan dari empat penjuru mata angin ada malaikat penjaga. Mereja memegang tameng di tangan kiri dan pedang berapi di tangan kanannya. Sedangkan keempat sayapnya berbunyi seperti kepakan burung.Mereka dalam kondisi siap siaga.
Tempat itu berwarna seperti langit sore yang hangat dan kemerahan, seakan-akan sedang menunggu transisi menuju terang atau gelap.
Barisan jiwa-jiwa juga sedang menunggu keputusan dari Sang Penguasa Semesta, apakah mereka memasuki terang atau kegelapan.
Saat itu juga Kala sadar bahwa makhluk penuh mata yang tersenyum kepadanya itu, adalah malaikat maut.
Tubuh Kala mendadak lemas dan ia menundukkan kepalanya.
"Oh, sial. Gue udah mati!"
Dari sudut lain, Kala mendengar malaikat maut sedang melaporkan perihal ketidaksengajaannya mencabut nyawa Kala, kepada malaikat bagian personalia.
Mendengar hal itu, Kala menghampiri dan menyampaikan keberatan kepada malaikat bagian personalia.
"Wahai Tuan Malaikat yang agung, aku meminta pertanggungjawaban atas pengambilan nyawaku secara tidak disengaja. Tolong kembalikan aku ke dunia. Aku masih belum mencapai yang kuimpikan." Kala memohon kepada malaikat personalia.
"Jangan mengatakan aku agung, aku hanya pelayan. Aku akan melihat gulungan keputusan dari Sang Penguasa," jawab malaikat personalia dengan wajah ramah, sambil membuka gulungan keputusan.
Ketika malaikat bagian personalia membuka gulungan keputusan itu, wajahnya bersinar. Ternyata gulungan itu bersifat misteri, artinya gulungan itu kosong. Tulisan akan muncul sendiri saat suatu peristiwa telah terjadi.
Hanya Sang Pencipta yang sepenuhnya tahu apa keputusan tersebut, sampai waktu terjadinya.
"Kala, berdasarkan gulungan, kamu akan mati dengan cara jiwamu diambil dalam ketidaksengajaan oleh malaikat maut. Tetapi Sang Penguasa sudah mempunyai rencana lain bagimu. Kamu akan hidup lagi di zaman yang berbeda di masa lalu."
Kala Terdiam sejenak untuk memproses kata-kata malaikat itu.
"Tetapi mengapa aku harus mati dengan cara seperti itu?"
"Kami tidak bisa menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran Sang Pencipta, karena kami hanya pelayan. Namun kamu akan diberikan kesempatan hidup di waktu lain dan mengajukan sebuah syarat untuk kehidupanmu yang baru."
"Apakah aku tidak bisa hidup kembali di dunia yang sama, ada banyak hal yang belum selesai di sana."
"Jika Pencipta memutuskan kamu selesai dengan dunia itu, maka kamu sudah selesai," malaikat personalia menambahkan.
Kala penasaran lalu bertanya, "Di mana kakekku?"
"Kamu sebenarnya tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi di dunia itu, karena kamu sudah selesai. Namun kamu mendapat karunia dari Sang Pencipta, maka aku akan memberitahukan hal itu padamu. Kakekmu terkena serangan jantung saat tahu kamu meninggal. Ia masih dalam keadaan koma dan belum sadar hingga sekarang," ucap malaikat bagian personalia dengan wajah ramah, sambil menutup gulungan keputusan.
Mendengar perkataan sang malaikat, senyumnya memudar, ada rasa sakit yang tak tertahankan di dalam dada, dan meninggalkan perasaan hampa.
Kemudian ia bersujud di tanah, dan memohon belas kasihan, "Tolong sampaikan kepada Sang Pencipta, aku belum membalas budi baik kakek. Ia satu-satunya orang paling baik dan tulus yang pernah aku temui. Berikanlah aku kesempatan membalasnya. Aku mohon..."
"Anakku, karena kakek melakukannya dengan tulus ia tidak meminta kamu membalasnya. Sang Pencipta punya keputusan sendiri bagi hidup kakekmu. Sang Penguasa Semesta tahu membalas yang baik dan yang jahat. Kebaikan kakekmu akan dibalas oleh Sang Penguasa, mungkin tidak melalui kamu, tapi bisa datang dari orang lain atau dengan cara lain. Nah sudah saatnya kamu harus pergi ke dunia lain."
Kala mengusap air matanya.
"Tu...tungggu dulu Tuan malaikat, bila aku kembali ke masa lalu bukankah ada kemungkinan aku mengubah atau mengacaukan masa depan?"
"Kamu tidak perlu kuatir. Karena bagi Sang Pencipta masa lalu adalah masa sekarang, masa depan adalah masa sekarang. Tidak ada ruang dan waktu di mata Sang Pencipta, jadi tidak ada perubahan.Tidak ada pula kebetulan di mata Sang Pencipta, semua sudah ditentukan. Segala yang terlihat kebetulan dan ketidaksengajaan sudah ditentukan. Tetapi segala yang ditentukan tidak berarti menghilangkan kebebasan keputusan manusia dan tindakannya."
Kala sulit mencerna penjelasan malaikat itu. Ia tidak mengerti sama sekali.
Namun Kala berpikir kesempatan mengalami kehidupan lain tidaklah terlalu buruk. Anggap saja mengalami suatu pengalaman baru.
Selain itu, Kala bisa mengajukan syarat sehingga dalam kehidupan yang baru ia tidak perlu mengalami kesulitan seperti di dunia sebelumnya.
"Izinkanlah aku memikirkan satu syarat untuk dunia baru yang akan kumasuki, Tuan Malaikat!" ucap Kala dengan suara lantang.
"Silakan. Pikirkanlah baik-baik.