

Pukulan pertama menghantam. Mendarat di pipinya hingga salah satu gigi terpental bersama darah. Laki-laki yang baru saja menerima tinju itu terhempas, terjatuh, terbaring di rumput dengan rasa panas yang menyiksa pipinya.
"Lo, serius mau ngejar kelas atas, hah?" Mengatakan itu, kaki si pria besar sudah berpijak di punggung laki-laki yang terkapar. Dengan sepatu yang keras di bagian bawah, dia menekan-nekan pijakannya hingga merasakan otot serta daging yang terluka di bawah sana.
Si laki-laki menjerit kesakitan, tetapi mulutnya segera dibungkam oleh orang-orang lain yang ikut membulinya. Si pria besar pun berjongkok, menarik rambut si pria yang babak belur, membuat mata memar itu menatap wajahnya yang dipenuhi intimidasi.
Sementara tangan kanannya menjambak, tangan kirinya memegang serangga cokelat berantena. Terlihat kaki serangga itu masih menggeliat, didekatkan pada bibir yang pecah dan berdarah.
"Ayo. Deskripsikan rasanya kecoa. Mungkin aja bakal keluar di ujian kenaikan kelas, kan?"
_____________ 3 Bulan Kemudian________________
Seorang laki-laki melangkah masuk ke ruang kelas barunya dengan seragam jas biru khas kelas tiga SMA yang masih kaku.
Suasana pagi itu sangat sepi—tipe kesunyian yang selalu berhasil menenangkan kepalanya. Sebagai murid pertama yang datang, ia langsung mengamankan kursi di pojok paling belakang dekat jendela. Dari sana, ia bisa menatap lapangan luar sambil mengabaikan kekosongan di sekitarnya.
Dia tahu persis konsekuensi tahun ajaran baru. Di sekolah ini, susunan murid diacak setiap tahun.
Kelas tiga ini diisi oleh wajah-wajah yang berbeda dari kelas dua lalu. Meski begitu, dia tidak berharap banyak. Pergantian kelas tidak akan otomatis membersihkan reputasi buruk yang telanjur melekat pada namanya.
Targetnya sederhana: tidak berbuat ulah agar segalanya tidak makin memburuk. Kalau bisa, ia ingin memperbaikinya pelan-pelan.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Pintu kelas berdecit, memutus keheningan yang sejak tadi dinikmatinya.
"Kamu..., Osean, ya?"
Seorang siswi perempuan tiba-tiba berdiri di dekat mejanya. Dia yang dipanggil Osean menoleh sekilas. Gadis itu memiliki tatapan cerah dengan rambut yang diikat rapi menggunakan pita biru. Penampilannya bersih dan wangi, tipikal murid yang memulai paginya dengan persiapan matang.
Setelah bertatapan selama beberapa detik, si laki-laki langsung membuang muka. Ia memilih mengabaikan sapaan ramah dari gadis yang baru pertama kali dilihatnya itu.
"Setidaknya panggil aku Sean."
Bukannya pergi karena dicueki, gadis itu justru meletakkan tasnya di kursi tepat di depan meja Sean. Menyadari hal itu, Sean sempat meliriknya heran sebelum akhirnya kembali melempar pandangan ke luar jendela karena merasa canggung.
"Kenapa juga dia harus duduk di sini?" batin Sean bingung. Padahal masih banyak kursi kosong lain yang bisa dipilih. Ia menopang dagunya dengan malas, berpura-pura sibuk menatap lapangan.
"Hei..., mengabaikan sapaan orang itu tidak sopan tahu," tegur gadis itu sambil berbalik badan.
"Namaku Nova. Aku duduk di sini, ya. Oh ya, sebentar lagi temanku juga datang. Namanya Lifah. Dia anaknya ramai sekali, dan dia bakal duduk di sebelahku."
Sean tetap bungkam. Responsnya yang sedingin es membuat Nova agak kesal hingga berkacak pinggang. "Ada masalah? Aku bebas mau duduk di mana saja, kan?"
Sean melirik tipis. "Du-duduk saja sesukamu."
Padahal dalam hatinya, laki-laki bernama Sean itu berteriak setengah mati. "Dia mengajakku bicara! Dia mengajakku bicara! Aku benar-benar harus berhati-hati agar tidak salah omong. Salah satu kata saja ketika bicara pada siswa kelas atas maka satu tahun terakhirku di sekolah ini akan tamat."
Bukannya Sean berniat ketus, ia hanya bingung harus merespons bagaimana. Berada di lingkungan baru selalu membuatnya butuh waktu lebih untuk beradaptasi. Juga yang terpenting, dia mencoba menjaga ucapannya.
Tiba-tiba, sebuah lengkingan suara melengking terdengar dari arah pintu.
"NOVA! KITA SEKELAS LAGI!"
Seorang gadis berlari heboh, langsung menghampiri Nova yang sudah memesankan kursi untuknya.
"Lifah! Sini, duduk di sebelahku!" Nova menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
Gadis bernama Lifah itu langsung duduk dengan penuh semangat. Suasana pojok belakang yang tadinya damai mendadak berubah riuh. Lifah memiliki mata yang ekspresif dan rambutnya dikuncir dua di sisi kanan dan kiri.
"Ah, jadi dia temannya. Apa yang sebaiknya kukatakan, apa yang sebaiknya ku bicarakan? Tidak, diam adalah pilihan paling benar!" ucap Sean dalam hati.
Setelah menaruh tasnya, Lifah tidak sengaja menoleh ke belakang. Matanya langsung tertuju pada Sean. Ia menyipitkan mata, mengamati Sean dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan saksama.
"Ini..., Osean?" tanya Lifah memastikan. Detik berikutnya, ia malah tertawa renyah.
Sean terpaksa mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap gadis kuncir dua itu dengan dahi mengkerut penuh keheranan.
"Panggil aku Sean."
Sementara dalam hatinya, Sean berteriak. "AKU MEMPERKENALKAN DIRI!!!! AKU BERHASIL MEMPERKENALKAN DIRI. APAKAH AKU SALAH BICARA? TIDAK, SEPERTINYA TIDAK ADA YANG SALAH."
"Kupikir kamu orangnya seram dan galak seperti rumornya. Tapi ternyata kamu kelihatan sebagai orang baik. Salam kenal, ya!" Lifah mengulurkan tangannya dengan ceria.
Sean tidak membalas uluran tangan itu. Ia justru melempar pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
"Ke-kenapa kamu bisa mikir aku orang seram? Apa karena aku berasal dari kelas bawah?" Sean nekat bertanya langsung. Karena mereka belum saling kenal, ia merasa tidak perlu berbasa-basi.
Bukan Lifah yang menjawab, melainkan Nova yang langsung menyela. "Lifah itu punya intuisi yang tidak masuk akal. Kalau dia billing kamu orang baik, berarti itu benar dan tidak perlu didebatkan. Aku pun pasti percaya. Contohnya seperti ini...,"
"Itu tidak menjawab pertanyaanku," potong Sean datar.
Mengabaikan protes Sean, Nova langsung berputar menghadap Lifah. Mereka berdua asyik mengobrol sendiri tepat di depan muka Sean, memaksanya menonton drama pagi yang tidak penting.
"Lifah, aku sudah sarapan pagi ini," pancing Nova.
"Bohong! Aku tahu kamu belum sarapan!" todong Lifah cepat.
Nova kembali menoleh ke arah Sean sambil menunjuk Lifah dengan telapak tangan, seolah sedang mempresentasikan sebuah keajaiban medis. "Nah, lihat sendiri, kan? Dia bisa tahu kalau orang sedang berbohong."
"Ini bukan soal intuisi, tahu! Nova kan memang malas sarapan," gerutu Lifah sambil mengerucutkan bibirnya. "Kamu itu hampir tidak pernah sarapan setiap hari, aku sampai hafal kelakuan burukmu. Sarapan itu penting, Nova, nanti kamu bisa sakit."
"Berisik, kamu bukan ibuku," balas Nova ketus, meski nadanya bercanda.
Sean hanya menghela napas. Obrolan tidak jelas itu sama sekali tidak memberi jawaban atas pertanyaannya tadi.
BAGG!
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Sean. Niatnya mungkin hanya tepukan "selamat pagi" antarlaki-laki, tapi tenaganya terlalu besar hingga membuat Sean meringis kesakitan. Sambil mengusap bahunya, Sean mendongak menatap si pelaku.
"Wah, sepertinya kamu cowok pertama yang datang ke kelas, ya!" sapa cowok bertubuh tinggi besar itu dengan suara lantang. Kulitnya cokelat matang dengan garis wajah yang tegas dan ekspresi penuh energi.
Tanpa permisi, laki-laki itu langsung melempar tasnya ke kursi sebelah Sean. "Oke, aku duduk di sampingmu! Di sini posisi paling mantap dekat AC! Pintar juga kamu pilih tempat duduk!"
"A-aku tidak keberatan," jawab Sean acuh tak acuh.
Meski Sean tidak protes, Nova dan Lifah justru langsung berbalik dengan wajah tidak setuju.
"Tunggu dulu, Reki! Kamu curang banget!" protes Lifah. "Sejak kelas dua kamu selalu menjajah kursi di bawah AC. Sekasi-kali kasih kesempatan buat yang lain, dong!"
"Siapa cepat, dia dapat!" balas Reki sambil tertawa puas.
Mendengar perdebatan mereka, sebuah detail kecil menarik perhatian Sean. Jika Lifah tahu Reki selalu duduk di bawah AC sejak kelas dua, artinya..., mereka sudah satu kelas sejak tahun lalu. Sean memutuskan untuk memastikan kecurigaannya.
"Kalian bertiga..., sudah sekelas dari tahun lalu?"
Sean bertanya karena merasa keakraban mereka agak janggal. Jika sistem mengacak seluruh murid setiap tahun, peluang untuk berkumpul kembali dalam satu lingkaran sedekat ini seharusnya kecil.
"Iya," jawab Reki santai. "Kalau kamu lihat daftar absensi kelas ini, semua murid di sini—kecuali kamu—dulunya adalah teman sekelas."
Jawaban Reki membuat Sean tertegun. Sebelum ia sempat mencerna informasi itu, Nova ikut menimpali.
"Setiap tahun, kuota kelas ini selalu genap 32 orang. Tidak pernah berkurang, bertambah, atau berubah. Tidak ada yang turun ke kelas bawah karena nilainya merosot, dan tidak ada anak kelas bawah yang bisa menembus kelas ini untuk menggeser posisi kami. Kasarnya..., kamu adalah orang pertama yang berhasil, dan hanya kamu satu-satunya orang asing di kelas ini."
Melihat atmosfer yang mendadak canggung, Lifah buru-buru menengahi.
"Sudah, tidak apa-apa! Sekarang kan kita semua sudah jadi teman sekelas. Hubungan yang dulu tidak usah dipikirkan lagi."
Sean kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tenggelam dalam lamunannya sendiri. Meskipun ada tiga orang yang mengelilingi mejanya, Sean sudah sangat terlatih untuk mengabaikan sekitar dan larut dalam pikirannya.
"Jadi... aku benar-benar berhasil keluar dari kelas bawah?" batinnya, seiring dengan sinar matahari pagi yang mulai masuk menerangi sudut meja.
Reki yang memperhatikan Sean tiba-tiba menepuk mejanya pelan. "Tapi serius, kamu hebat juga bisa tembus ke kelas ini. Selama dua tahun berturut-turut, posisi kelas ini tidak pernah goyah. Belum ada satu pun anak dari kelas lain yang bisa mengalahkan nilai kami, apalagi dari kelas bawah."
"Kalau aku bisa masuk ke kelas ini..., berarti ada satu orang dari kalian yang terdepak karena nilainya kalah dariku, kan?" tanya Sean blak-blakan. "Siapa orangnya?"
Pertanyaan itu seketika membuat suasana pojok belakang menjadi hening. Reki, Nova, dan Lifah saling lirik, merasa enggan membahas topik yang cukup sensitif tersebut.
Menyadari situasi yang tidak nyaman, Sean langsung memotong, "Lupakan. Kalian tidak perlu menjawabnya." Ia kembali menatap lapangan di luar.
Namun, Nova akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat pelan.
"Itu salah dia sendiri. Dia selalu sombong dan bilang kalau tidak akan ada anak kelas bawah yang bisa menyamai nilai kami. Karena terlalu meremehkan orang lain, dia jadi malas belajar. Akhirnya nilainya merosot sampai keluar dari peringkat 120 paralel, dan dia harus turun ke kelas bawah."
Nova menjelaskan dengan berbisik, khawatir murid-murid lain yang mulai berdatangan mendengar obrolan mereka.
Reki dan Lifah memilih diam, tidak berniat memperpanjang bahasan soal mantan teman sekelas mereka. Bersamaan dengan matahari yang makin tinggi, ruang kelas mulai dipenuhi oleh murid-murid lain. Karena mereka sudah saling kenal selama dua tahun, suasana kelas langsung berubah riuh oleh obrolan seru dan tawa tanpa perlu ada kecanggangan masa adaptasi.
Hanya dalam waktu singkat, seluruh kursi telah terisi penuh. Kelas tiga resmi dimulai, tinggal menunggu bel masuk berbunyi.
Kringgg!
Begitu bel berdering, seluruh murid langsung duduk rapi di tempat masing-masing. Tidak lama kemudian, seorang guru laki-laki dengan penampilan rapi berjalan masuk. Ada empat buah spidol yang terselip di saku kemeja dadanya, dan seikat tebal kertas soal di tangannya.
Ia meletakkan tumpukan kertas itu di atas meja guru dengan suara berdebam pelan, lalu menatap seisi kelas sambil tersenyum lebar.
"Sebagai pemanasan di hari pertama, mari kita langsung mengerjakan soal! Bapak ingin lihat, siapa saja yang otaknya masih tajam dan siapa yang otaknya sudah tumpul selama liburan kemarin."