
Orang Sulit di Sekolah Elit
Nur_Azizah_354|Bersambung
- Jumlah kata
- 199.7K
- Popular
- 4.7K
- Subscribe
- 260
- Jumlah kata
- 199.7K
- Popular
- 4.7K
- Subscribe
- 260
Sinopsis
Keberadaan Zaki di salah satu sekolah elit di daerah tempat nya tinggal tak ubahnya seperti anomali yang menyiksanya. Bagiamana tidak? Zaki berasal dari keluarga miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah itu, semantara yang lainnya adalah anak anak dari keturunan elit. Tak jarang Zaki mendapatkan perundungan (bullying) dari teman teman nya terutama Dinar. Ketua Genk populer di sekolah itu. Sepertinya "Orang miskin di larang sukses" itulah peraturan tak tertulis di sekolah itu. Di sekolah mendapat perundungan, di rumah di jadikan samsak hidup oleh ayahnya, membuat penderitaan Zaki Semkin lengkap. Namun cita cita nya untuk membuat sang ibu bangga dan bahagia selalu membuat Zaki bertahan menghadapi semua kesulitan itu. Hingga suatu saat sebuah keajaiban datang pada Zaki dan merubah segalanya.Bagaimana perjuangan Zaki untuk meraih kesuksesan ? Yuk simak kisahnya hanya di max novel stay tuned ya..
Ulasan
4 ulasan
Raven Solstice
2/8/26 02:09
mantap! dari 0 bergerak menjadi yang terkuat. aku mendukung Zaki untuk hal itu biar lawannya yang ngeremehin jadi takluk. yg aku suka dari Zaki adalah dia selalu berbakti kepada ibunya. btw, semangat author!
Mr.Kitsune
13/7/26 05:42
Terus update ya Thor, semangat selalu, semoga karya nya makin nambah terkenal, karena alurnya saja sudah menarik 🔥🔥🔥
Bab 1: Luka yang berlapis
Prang...!
Suara pecahan kaca beradu dengan lantai semen terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam, disusul jeritan tertahan yang amat familier di telinga Zaki.
Brakk...!
Kursi kayu ruang tamu digeser kasar hingga menabrak dinding papan yang lapuk. Jantung pemuda 16 tahun itu langsung berdegup kencang, memompa adrenalin yang seketika melenyapkan seluruh sisa kantuknya. Di balik dinding kamar yang tipis, suara tangisan sang ibu terdengar begitu pilu, mengiris hati siapa saja yang mendengarnya di tengah malam buta seperti ini.
"Ampun, Pak... jangan pukul lagi. Sakit..." Ratapan ibunya terdengar gemetar, bercampur dengan isak tangis yang tertahan demi tidak membangunkan tetangga sekitar.
Tanpa berpikir dua kali, Zaki menyibak selimut lusuhnya. Langkah kakinya bergerak cepat, setengah berlari menuju ruang tengah yang hanya diterangi bohlam kuning redup lima watt.
Pemandangan di depannya seketika membuat darah Zaki mendidih sekaligus membeku: ibunya sudah terduduk di lantai sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah, sementara sang ayah, Pak Danu, berdiri tegak dengan napas memburu dan mata yang merah padam oleh pengaruh amarah—dan kalah taruhan judi malam ini.
Tangan kekar Pak Danu kembali melayang ke atas, siap mendaratkan hantaman berikutnya ke tubuh wanita paruh baya yang sudah tidak berdaya itu.
"Ibu...!" Zaki berteriak histeris. Sebelum pukulan itu mendarat, Zaki melemparkan tubuhnya ke depan, berlutut, dan langsung mendekap erat tubuh ibunya yang gemetar hebat. Ia melengkungkan punggungnya, menggunakan tubuh kurusnya sendiri sebagai perisai hidup agar sang ibu tak kena pukul bapaknya lagi.
Bugh! Bugh!
Dua hantaman keras mendarat telak di punggung dan bahu Zaki. Rasa sakit yang berdenyut panas menjalar seketika ke seluruh syarafnya, membuat Zaki mengerang tertahan. Namun, ia justru mempererat pelukannya pada sang ibu.
"Minggir kau, anak sialan!! Jangan halangi aku untuk memberi pelajaran sama ibumu yang gak tahu diri ini!" teriak Pak Danu dengan suara menggelegar. Tanpa memedulikan fakta bahwa yang dihadapinya adalah darah dagingnya sendiri, tangan pria itu terus memukul tubuh Zaki yang melindungi ibunya.
Mendengar ibunya dimaki dan dihina, sesuatu di dalam diri Zaki seolah patah. Rasa takut yang selama ini memenjarakannya menguap, digantikan oleh kemarahan yang membakar dada. Zaki melepaskan pelukannya perlahan. Ia berbalik, bangkit berdiri, dan menatap langsung ke dalam mata bapaknya dengan sorot mata yang penuh keberanian.
"Kau yang tidak tahu diri!" desis Zaki, suaranya bergetar hebat namun terdengar begitu tajam. "Jika tak bisa menafkahi kami dengan benar, setidaknya jangan menyakiti dan memukuli ibuku!! Apa yang sudah kau berikan pada rumah ini selain utang judi dan perempuan lain di luar sana?!"
Kata-kata Zaki bak bensin yang menyiram api di kepala Pak Danu. Pria itu tertegun sesaat, tidak menyangka anak laki-laki yang biasanya diam kini berani menantangnya.
"Kau, anak kurang ajar! Berani sekali kau melawanku!" raung Pak Danu.
Tanpa ampun, kepalan tangan pria itu melayang beruntung. Pak Danu mulai memukul Zaki secara membabi buta. Pukulan mendarat di wajah, perut, dan dada Zaki hingga remaja itu terhuyung ke belakang, menabrak meja makan kecil hingga gelas-gelas plastik di atasnya berhamburan. Zaki merasakan cairan anyir dan hangat mulai mengalir dari hidung dan pelipisnya, namun ia menolak untuk tumbang di depan pria bajingan itu.
"Sudah, Pak! Sudah! Kasihan Zaki... Dia anak kita, Pak! Tolong berhenti!" Sang ibu menjerit histeris, mencoba merangkak maju dan menarik celana suaminya demi menyelamatkan anaknya.
Bukannya melunak, Pak Danu malah berbalik dan menampar istrinya dengan sangat keras hingga wanita itu tersungkur kembali ke lantai. "Kalian berdua memang tak tahu diri! Sama-sama keras kepala dan tidak berguna!"
Setelah puas meluapkan seluruh kegilaannya dan melihat kedua korbannya terkulai lemas di lantai, Pak Danu mendengus kasar. Ia merogoh saku celananya, mengambil sisa uang belanja modal milik istrinya yang tergeletak di atas lemari, lalu melangkah lebar keluar rumah.
Brakkk...!
Pintu depan dibanting dengan kekuatan penuh, menyisakan kesunyian yang mencekam bersama debu-debu yang berterbangan di udara.
Di dalam ruangan yang berantakan itu, sang ibu dengan sisa-sisa tenaganya merangkak mendekati Zaki. Tangannya yang gemetar menyentuh wajah Zaki yang kini mulai membiru. "Nak... kamu gak apa-apa, nak? Ya Allah, mukamu lebam semua... Harusnya kamu gak usah ikut campur urusan Ibu sama Bapak. Ibu gak mau kamu terluka seperti ini..." Tangis ibunya pecah, merutuki kelemahannya sendiri.
Zaki memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang pecah, memegangi tangan ibunya yang terasa dingin. "Mana bisa Zaki membiarkan Bapak memukuli Ibu? Zaki sayang sama Ibu. Selama Zaki masih bernapas, Zaki gak akan biarkan pria itu menghancurkan Ibu lagi."
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika jam dinding menunjukkan pukul lima pagi. Sisa-sisa badai semalam masih membekas jelas di tubuh Zaki. Setiap kali ia menggerakkan bahu atau menarik napas dalam, rasa nyeri yang menusuk di tulang rusuknya membuat ia harus meringis. Namun, hidup tidak memberi ruang bagi orang miskin untuk mengeluh atau berlama-lama meratapi nasib.
Di dapur, ibunya sudah selesai menggoreng aneka camilan: bakwan, tahu isi, tempe mendoan, serta menyusun beberapa bungkus lontong isi sayur ke dalam sebuah wadah plastik besar berwarna hijau. Wajah ibunya tampak kusam dengan lebam di pipi kiri yang coba ditutupi dengan bedak tipis, meski usahanya sia-sia.
"Zaki, apa tidak sebaiknya hari ini kamu istirahat saja? Biar Ibu yang keliling kampung," ujar ibunya dengan nada khawatir melihat cara berjalan Zaki yang sedikit pincang.
"Gak apa-apa, Bu. Kalau Ibu yang keliling, siapa yang mau menjaga warung kopi kecil kita di depan nanti? Lagipula, jalan kaki pagi-pagi bisa bikin lebamnya cepat hilang," gurau Zaki, mencoba mencairkan suasana meskipun setiap kata yang keluar dari mulutnya memicu rasa perih di bibirnya.
Zaki mengangkat wadah plastik besar itu, mengalungkan talinya di leher, dan mulai melangkah keluar rumah menuju jalanan kampung yang masih berkabut. Dinginnya angin pagi sedikit membantu meredakan rasa panas di wajahnya yang bengkak. Ia menelan semua luka, trauma, dan kesakitan yang didapatnya semalam dalam-dalam, menyimpannya di sudut hati yang paling gelap.
"Gorengan... gorengan hangat... lontong..." seru Zaki dengan suara yang diusahakan sekuat mungkin, menyusuri jalanan tanah dan gang-gang sempit di kabupaten tempat tinggalnya.
"Zaki! Beli sini, Nak!" panggil salah seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang menyapu halaman rumahnya.
Zaki segera mendekat dengan senyum ramah yang dipaksakan. "Mau beli apa, Bu? Ini bakwannya masih hangat, baru diangkat dari wajan."
"Beli bakwan lima sama lontongnya empat, ya. Loh, Zaki... itu mukamu kenapa? Kok biru-biru begitu? Habis jatuh?" tanya wanita itu dengan tatapan menyelidik.
Zaki sudah menyiapkan jawaban bohong yang paling klise. "Eh, iya, Bu. Semalam pas mau ke kamar mandi dalam gelap, Zaki kesandung kursi terus mukanya nabrak kusen pintu. Kurang hati-hati."
"Oalah, makanya kalau malam itu nyalain lampu. Kasihan amat ganteng-ganteng mukanya bonyok," ujar si ibu sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah. "Ini kembaliannya ambil saja buat jajan di sekolah."
"Terima kasih banyak, Bu. Semoga rezekinya lancar," ucap Zaki tulus.
Sekitar satu jam lebih Zaki berkeliling, menyusuri sudut-sudut kampung hingga wadah plastiknya menyisakan sedikit remah-remah gorengan. Setelah memastikan semua dagangan ibunya habis terjual, ia pun kembali ke rumah. Uang hasil jualan diserahkannya pada sang ibu, yang langsung menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca penuh rasa bangga sekaligus bersalah.
"Terimakasih nak, semoga kamu selalu bahagia..."
Daftar bab
156 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
156 bab








