
Tante Imut Hot
Dewa Pencipta|Bersambung
- Jumlah kata
- 127.3K
- Popular
- 3.9K
- Subscribe
- 1.2K
- Jumlah kata
- 127.3K
- Popular
- 3.9K
- Subscribe
- 1.2K
Sinopsis
Demi menghemat biaya hidup saat melanjutkan pendidikan S2 di kota impian, Daffa Mahesa (22 tahun) memutuskan untuk menumpang tinggal di rumah Nayla Safira, seorang kerabat jauh ayahnya. Nayla (33 tahun) adalah seorang penulis online yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam rumah. Sifatnya yang tertutup dan jarang bersosialisasi membuatnya betah hidup sendiri dan belum menikah hingga usianya yang kepala tiga. Namun, tinggal di bawah atap yang sama dengan Nayla ternyata menjadi ujian tersendiri bagi iman Daffa. Di balik wajahnya yang begitu imut, cantik, dan tubuhnya yang mungil, Nayla memiliki bentuk fisik yang sangat memikat dengan proporsi tubuh yang kontras dan menggairahkan. Terlebih lagi, kebiasaan Nayla yang kerap mengenakan pakaian terbuka selama di rumah membuat suasana mendadak panas. Setiap hari, Daffa harus berjuang menahan gejolak debar jantung dan hasrat yang terusik oleh kehadiran tantenya sendiri. Di antara batas norma keluarga dan godaan visual yang tak pernah henti tersaji di depan mata, mampukah Daffa bertahan, atau justru menyerah pada hasrat yang kian membara?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Sambutan Tante Penulis dan Celana Training yang Berkhianat
"Jadi, kamu beneran mau numpang di sini, Daffa? Nggak nyusahin, kan?" suara itu melengking renyah dari balik pintu kamar mandi yang baru saja terbuka selebar sepuluh sentimeter.
Daffa Mahesa, cowok berumur dua puluh dua tahun yang baru saja menenteng koper berat berisi tumpukan baju kaos hitam dan celana pendek bola, nyaris menjatuhkan ranselnya ke lantai keramik ruang tamu. Otaknya yang tadinya siap merangkai alasan logis buat menolak asumsi negatif orang-orang soal numpang gratis, mendadak korslet total.
Nayla Safira—atau yang selama ini cuma ia kenal sebagai "Tante Nayla", saudara jauh bapaknya yang umurnya baru menginjak tiga puluh tiga tahun—muncul dengan penampilan yang sukses bikin napas Daffa tertahan di tenggorokan.
Wanita berwajah imut bak gadis belasan tahun itu berdiri santai sambil mengusap handuk kecil di kepalanya. Rambut sebahunya basah kuyup, meneteskan air ke atas kaos crop top tipis berwarna putih tipis yang sama sekali tidak ramah iman. Kain tipis itu jiplakannya kelewat jelas, sementara bawahannya... astaga, Tante Nayla cuma mengenakan celana pendek kain katun longgar super mini yang nyaris mirip celana dalam anak-anak, tanpa ada balutan kain lain yang menutupi paha mulusnya yang jenjang.
"Eh, Eh, Tante! Ampun deh, baru juga lima menit saya masuk rumah, udah disuguhi pemandangan setinggi ini," gerutu Daffa blak-blakan, refleks memalingkan wajah sambil nyengir lebar, meski matanya sempat khilaf melirik sepersekian detik ke arah aset dada tantenya yang kelihatan menyembul bebas tanpa beban di balik kaos tipis tersebut.
Nayla mengerjap, matanya yang bulat mengerjap lucu penuh keheranan. Alih-alih marah atau buru-buru menutup diri, wanita itu justru tertawa renyah sambil menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, Daffa! Tante lupa kalau sekarang rumah ini ada cowoknya. Maklum ya, Sayang, biasa hidup sendiri jadi bebas lepas kayak di hutan. Anggap aja angin lalu, ya!"
Angin lalu, kata dia? Kepala lututmu! Kalau anginnya kayak angin ribut begini, iman saya yang baru lulus S1 bisa rontok jadi debu dalam semalam, batin Daffa merana. Cowok berotot hasil nge-gym rutin itu buru-buru mengalihkan pandangan ke arah akuarium kosong di sudut ruangan. Masalahnya, celana training abu-abu longgar yang ia pakai mendadak terasa begitu sempit dan sesak. Ada bagian tubuhnya yang bangkit tanpa diundang, protes keras gara-gara visual pembuka yang kelewat ekstrem.
Daffa menarik napas panjang, berusaha menetralisir degup jantungnya yang maraton tidak karuan. Sifat blak-blakannya memang senjata utamanya, tapi kalau dihadapkan sama tantenya sendiri yang punya tampang polos tapi bodinya sungguh-sungguh merupakan dosa besar, pertahanan mentalnya langsung compang-camping.
"Ya ampun, Daffa, malah ngeliatin akuarium mati. Sini, masuk kamar dulu, biar Tante tunjukkin kamarmu. Maaf ya kalau berantakan, maklum, penulis novel online kalau lagi kejar deadline tuh kamar mirip kapal pecah kena tsunami," ucap Nayla ceria. Wanita itu berjalan mendahului Daffa, melangkah dengan gaya gemulai yang otomatis bikin mata Daffa turun ke bawah—melihat bagian bokong montok nan padat yang bergerak dinamis di balik celana pendek tipisnya.
Daffa menelan ludah kasar. Sialan. Ini baru hari pertama. Kalau sebulan ke depan modelnya begini terus, dia yakin bukan cuma urusan kuliah S2-nya yang berantakan, tapi juga kesehatan jantung dan celana dalamnya yang bakal jebol duluan.
Mereka pun masuk ke dalam sebuah kamar berukuran sedang yang terletak di ujung koridor. Kamarnya rapi, ber-AC, dan berbau harum vanila. Di sudut ruangan, ada meja belajar minimalis lengkap dengan laptop yang terbuka. Sepertinya Tante Nayla sudah mempersiapkan tempat ini khusus buat keponakan tampannya itu.
"Nah, ini kamar kamu, Daf. Dekat banget kan sama dapur dan kamar mandi? Jadi kalau kamu tengah malam kelaparan pas lagi pusing ngerjain tugas kuliah, tinggal teriak aja ke Tante," ujar Nayla ramah sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
Gerakan itu otomatis membuat kaos crop top-nya terangkat naik beberapa sentimeter, mengekspos kulit perutnya yang putih bersih tanpa lemak, serta memperlihatkan lekuk tubuh bagian samping yang luar biasa padat. Daffa yang tadinya berniat meletakkan koper langsung terpaku di tempat. Matanya melotot, otaknya mendadak kosong, dan makhluk kecil di dalam celana trainingnya kembali memberikan protes keras dengan cara menegang secara brutal.
"T-tante... bisa nggak kalau ngomong tangannya nggak usah diangkat-angkat begitu? Bahaya buat kesehatan mental saya yang masih muda ini," celetuk Daffa jujur dengan nada setengah bercanda, meski suaranya sedikit parau karena nahan gemas.
Nayla tertegun sejenak, lalu tergelak lebar sampai matanya menyipit imut. "Hahaha! Kamu ini ya, dari dulu bapakmu bilang kalau kamu tuh tukang ngocol, ternyata bener. Kenapa emangnya? Risih ya lihat Tante kayak gini?" tanya Nayla polos tanpa dosa, sama sekali tidak merasa risih meski saat ini ia berdiri kurang dari satu meter di hadapan keponakannya yang berwajah tampan dan berbadan atletis.
"Risih sih nggak, Tante. Cuma takut khilaf aja. Bayangin coba, saya ini cowok normal, umur dua puluh dua tahun, darah lagi panas-panasnya, hobi nge-gym, terus tinggal bareng tante cantik yang pakaiannya mirip model majalah dewasa gini. Kalau iman saya tipis kayak tisu magic, besok-besok saya udah ngekost di kantor polisi gara-gara khilaf," balas Daffa blak-blakan sambil nyengir, mencoba menutupi kegugupannya dengan candaan khas anak muda.
Mendengar itu, Nayla malah mencubit pelan lengan berotot Daffa sambil tertawa geli. "Ih, ngaco kamu! Udah, sana, beresin bajunya. Tante mau lanjut nulis bab terakhir novel Aduhai Tante sebelum disembelih sama editor galak."
Tanpa merasa bersalah sedikit pun, wanita bertubuh mungil beraset raksasa itu berbalik badan dan berjalan keluar kamar dengan langkah santai, meninggalkan aroma parfum manis yang langsung menusuk indra penciuman Daffa.
Daffa mengembuskan napas panjang begitu pintu kamar tertutup rapat. Ia langsung menjatuhkan diri ke atas kasur empuk sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Gila... gila... gila! Ini beneran tanteku sendiri bukan sih? Kenapa mukanya kayak anak SMA, tapi bodinya kayak ratu cosplay di internet? Bisa gila beneran gua tinggal di sini," gerutu Daffa pada diri sendiri sambil meraba celana trainingnya yang masih tegang.
Dengan gerakan malas campur gemas, Daffa akhirnya bangkit dan mulai mengeluarkan pakaiannya dari koper. Sambil melipat kaos-kaos hitamnya ke dalam lemari, pikirannya melayang-layang memikirkan alasan kenapa Tante Nayla bisa sebegitu cueknya. Menurut cerita bapaknya dulu, Nayla memang tipe orang yang kuper alias kurang pergaulan sejak kecil. Hidupnya dihabiskan di dalam kamar depan laptop, nulis kisah-kisah romantis berbau dewasa yang laris manis di platform online, sampai-sampai dia lupa caranya dandan formal atau pakai baju tertutup kalau lagi di rumah. Bagi Nayla, rumah adalah zona bebas aturan, dan Daffa—yang notabene ponakan baru—dianggapnya cuma "anak kecil" yang numpang lewat. Anak kecil, my ass! Batin Daffa protes keras. Badannya begini dibilang anak kecil?
Kira-kira setengah jam kemudian, setelah selesai merapikan barang-barangnya, Daffa memutuskan buat keluar kamar. Perutnya mulai keroncongan minta diisi. Ia melangkah keluar menuju area dapur yang menyatu dengan ruang tengah. Rumah itu tampak sepi, hanya terdengar suara ketikan keyboard laptop yang bergemeretak cepat dari arah ruang kerja Tante Nayla yang pintu ruangannya kebetulan setengah terbuka.
Daffa mengintip sedikit ke dalam. Kelihatan punggung mungil Nayla yang sedang serius menatap layar monitor. Posisi duduk wanita itu agak membungkuk, membuat bagian belakang celana pendeknya tampak semakin ketat menempel di sofa empuk tempatnya bekerja. Daffa buru-buru menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikiran liar yang mulai berkeliaran di kepalanya. Ia fokus melangkah ke kulkas buat mencari air dingin.
Begitu membuka pintu kulkas besar dua pintu itu, Daffa langsung melongo. Isinya cuma sebotol air mineral ukuran besar, beberapa kaleng soda diet, puding sisa kemarin, dan sisanya... tumpukan cokelat batangan berbagai merek. Tidak ada bahan makanan berat sama sekali.
Daffa menghela napas pasrah. Ia menutup kembali kulkas tersebut dengan pelan, lalu menengok ke arah ruang kerja Nayla.
"Tante Nay," panggil Daffa agak keras.
Ketikan keyboard mendadak berhenti. Kepala berambut basah itu menyembul dari balik pintu. "Kenapa, Daffa? Ada yang kurang? Kurang handuk? Atau kurang sabun?"
"Kurang makanan, Tante. Ini di kulkas isinya cuma angin sepoi-sepoi sama cokelat batangan. Kalau saya makan cokelat doang, otot dada saya bisa kalah montok sama Tante nanti," celetuk Daffa tanpa filter.
Nayla sontak terbahak keras mendengar candaan frontal itu. Ia lantas berdiri dari kursinya dan berjalan keluar menghampiri Daffa di dekat dapur. Kali ini, tanpa sadar, ia membawa serta sebuah bantal sofa kecil di tangannya yang dipeluk tepat di depan dadanya. Meskipun tertutup bantal, proporsi tubuhnya yang pendek semok tetap kelihatan sangat menonjol di mata Daffa yang tingginya mencapai seratus delapan puluh sentimeter.
"Oh iya, Tante lupa belanja bulanan gara-gara semalam ketiduran pas lagi adegan klimaks di novel!" seru Nayla polos sambil menepuk jidatnya sendiri. "Gimana kalau kita pesan makanan online aja? Kamu mau makan apa? Sate? Burger? Atau mau makan mie instan tengah hari bolong gini?"
Daffa menatap wajah imut tantenya dari jarak yang sangat dekat. Hidung mancung kecil, pipi putih merona alami, dan mata bulat yang berbinar-binar tanpa ada secercah pun rasa curiga atau canggung. Pemandangan itu bikin Daffa gemas setengah mati. Antara pengen ketawa karena kepolosan tantenya, tapi juga pengen menjerit karena jarak mereka sekarang cuma tinggal beberapa jengkal saja.
"Apa aja deh, Tante, asalkan jangan makan hati ngeliat Tante berkeliaran kayak gini terus," balas Daffa blak-blakan sambil menatap lekat-lekat mata tantenya dengan senyum jail.
Nayla mengerjap beberapa detik, mencerna kalimat keponakannya. Begitu sadar arah maksud omongan Daffa, pipinya langsung merona merah padam, namun ia malah mencubit pinggang Daffa gemas. "Ih, bandel banget ya kamu jadi ponakan, baru juga sehari dateng udah berani merayu Tante sendiri!"
"Bukan merayu, Tante, tapi jujur dari lubuk hati yang paling dalam dan suci," tukas Daffa cepat dengan seringai penuh kemenangan, sementara debar di dadanya semakin menggila saat menyadari betapa dekatnya tubuh mereka saat ini.
Nayla mendengus kecil pura-pura kesal, lalu mendongak menatap Daffa sambil berkacak pinggang dengan gaya sok serius yang justru kelihatan semakin menggemaskan.
"Yaudah, mumpung kamu cowok paling blak-blakan sedunia, coba jujur sama Tante sekarang, kamu beneran kuat tinggal di sini sebulan ke depan tanpa bikin onar?"
Daftar bab
106 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
106 bab








