Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tejo Si Paling Perkasa

Tejo Si Paling Perkasa

Yuresia Ca | Bersambung
Jumlah kata
46.2K
Popular
1.2K
Subscribe
461
Novel / Tejo Si Paling Perkasa
Tejo Si Paling Perkasa

Tejo Si Paling Perkasa

Yuresia Ca| Bersambung
Jumlah Kata
46.2K
Popular
1.2K
Subscribe
461
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremMengubah Nasib21+
Apa yang kamu pikirkan ketika ke luar negeri yang baru kamu pijaki? Tejo, pemuda yang beruntung di kirim oleh perusahaannya ke luar negeri untuk menjadi Manager di cabang perusahaan ini. Siapa sangka negeri yang di datangi Tejo menyimpan rahasia besar! Di mana para pria boleh ... Temukan lanjutannya dalam kisahnya!
Bab 1

"Saya akan melakukan yang terbaik." Ujar Tejo sambil memberi hormat pada bosnya.

"Haisss Tejo, kamu pekerja terbaikku tentu kamu akan melakukan yang terbaik. Aku percaya."

Hari ini Tejo di antar bosnya ke bandara dan tepat hari ini keberangkatan Tejo menuju negara SX.

"Aku pilih kamu karena ..." Ucapan Bos Tejo menggantung.

"Karena ..." Tejo menunggu kelanjutan.

"Karena kamu bujang"

"Heeee ..."

"Hehehehe, iyaaa nah itu dengar itu! Itu suara pesawat kamu! Sana pergilah. Aku tunggu kabar baik dari kamu!"

"Baik Bos."

Tejo berlari membawa paspor dan tiket pesawatnya.

Bosnya menatap Tejo lekat lekat.

"Aku pilih kamu karena, kamulah yang paling cocok di negara itu, kamu bujang, kamu belum memiliki keluarga, kamu single, dan gagah. Negara SX bukan negara biasa. Negara SX sangat memerlukan orang seperti kamu Tejo Negara yang di penuhi dengan ..." Ucapan Bos kembali menggantung lagi.

Tejo yang tak tau apa apa yakin tugas dan pekerjaannya di negara itu pasti sangatlah penting.

Ia masuk ke dalam pesawat dengan tenang dan menunggu pesawat ini landing di negara tujuannya.

"Aku akan kerja keras di sana dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk masa tuaku! Semangat Tejo."

***

Tejo tiba di bandara negara SX di sana ia sudah di tunggu oleh sekretaris yang di tunjuk Bos untuk menunggu Tejo.

"Tuan" sapanya.

"Hooo? Nona Boa?"

"Eeemm! Selamat datang Tuan."

"Waahh kamu langsung mengenali aku ya?"

"Iya Bos sudah mengirimkan foto anda. Jadi ..." Pipi wanita itu merona.

"Eeehh?" Heran Tejo.

"Jadi saya mengenali anda Tuan." Tambah Boa.

"Aaah begitu." Tejo mangut mangut mengerti.

"Saya Boa Alea. Mulai sekarang dan seterusnya akan menjadi sekretaris Tuan"

"Eeh eeh, jangan panggil Tuanlah. Ma-malu aku, jangan terlalu formallah" ajak Tejo.

"Aaahh?" Pipi Boa semakin merona.

Sementara itu, Tejo melirik seisi bandara. Ada pemandangan yang aneh di dalam bandara ini.

"Ini pengelihatan ku yang salah atau memang ..."

"Tuan" Boa memotong isi pikiran Tejo.

"Ya?"

"Tuan mau menginap di hotel? Penginapan? Atau ... Villa?"

"Aaaaa? Eeee enggak ada asrama atau mess pekerja? Atau rumah Dinas? Aku mau di sana aja"

"Oh? A-ada" pipi Boa semakin merona.

"Padahal tadi kalau menginap di hotel atau penginapan, Boa bisa ..."

"Haaahh laparnya aku. Kita makan dulu yuk." Ajak Tejo yang memang merasa kelaparan hingga tak menyimak apa yang ingin di sampaikan Boa.

"Oh! A-ayo Tuan"

"Tejo!" Ralat Tejo.

"Eeehh? Te-Tejo" malu malunya.

"Kenapa sekretaris ini? Agak aneh? Atau memang pemalu seperti ini?"

Batin Tejo.

Keduanya pun meninggalkan bandara setelah membawa barang bawaan Tejo.

Mereka bercakap cakap seperti biasanya, mengenai pekerjaan, kantor, serta peraturan peraturan yang ada.

Tapi tetap saja, sikap Boa membuat Hiro sedikit heran. Mengapa wanita itu masih saja malu di hadapannya, apalagi ketika memanggil namanya.

"Selamat makan" ujar Tejo ketika makanan pesanannya dan pesanan Boa tiba di meja.

Keduanya pun menyantap makanan itu dengan lahap, apalagi Tejo yang memang kelaparan.

Boa memperhatikan Tejo yang makan dengan lahapnya. Pipi Boa kembali merona dan ia tak menyentuh sama sekali makanan yang ada di hadapannya.

"Dia makan manis sekali" puji Boa dalam hati.

Tejo makan tanpa memperhatikan Boa. Takut karena ia terlalu melirik Boa sehingga membuatnya malu. Tejo mengalihkan pandangannya ke arah lain terutama keluar jendela kaca besar yang ada di depannya.

"Enggak! Aku enggak salah liat nih! Di kota ini benar benar ..."

"Tuan." Panggil Boa.

"Ya?"

"Eeemmm ini minumannya"

"Oh yaa" Tejo meneguk minuman yang di suguhkan Boa padanya.

Ketika Tejo meneguk, jakun di lehernya juga ikut turun naik. Samar samar jua terdengar bunyi tegukkan Tejo.

"Haaaaaahhh" lemas Boa dan langsung bersandar di kursinya.

"Ka-kamu kenapa?" Tejo terkejut melihat Boa yang lemas di tempat duduknya.

Tejo mendekati Boa dan memegangi tangan Boa hendak membuatnya lebih kuat lagi atau mungkin Boa ingin mengatakan apa yang sedang ia alami.

"Haaggh!!!!"

"Aaahhh!" Jerit Boa.

"Eeehhh?" Heran Tejo dan langsung melepaskan pegangan tangannya pada Boa.

***

Tejo membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Tejo sempat mengantar Boa pulang meski Boa dalam kondisi lemas dan masih aneh.

"Semoga perempuan itu baik baik aja. Dia kelihatan kelelahan. Mungkin memang pekerjaan di sini banyak. Makanya dia tampak kelelahan. Tak apa. Setelah aku bekerja di sini, pasti! Ku tunjukan cara kerja yang sesungguhnya. Hihihi, serta mendapatkan uang sebanyak banyaknya" Cicit Tejo seorang diri di dalam kamarnya.

Hiro menggebu gebu di dalam hati. Ia ingin memperlihatkan kualitas kerjanya yang paling di banggakan oleh Bosnya.

"Bos bilang negara ini butuh pria yang tangguh dan kuat seperti aku. Hhmmm? Mungkin maksudnya kuat bekerja. Selain itu, besok aku harus mengecek pekerjaan apa yang di tinggalkan Manager sebelumnya. Katanya menumpuk. Haaaisss, kenapa bisa? Bukannya Manager sebelumnya itu sama telitinya seperti aku? Kiriman orang luar juga" Tejo berbicara sambil memeluk guling di sampingnya.

Tejo memandang langit langit kamarnya. Kamar dengan warna kalem nan lembut menjadi tempat peristirahatan yang nyaman.

Lelah ia tiduran saja di tempat tidur, Tejo bangun dan menyalakan televisi. Ia ingin menonton program program yang ada di televisi beda negara ini.

Blipp

Ketika televisi menyala yang muncul adalah ...

"Terjadi kecelakaan di jalan Satu Rumah Berlima, seorang gadis menabrak tiang listrik."

"Hooo?" Komen Tejo

Di gantinya lagi Chanel televisi.

"Periode berikutnya akan di pimpin seorang gadis dari Selatan. Ia berparas manis dan lembut. Memiliki ..."

Langsung di ganti lagi oleh Tejo.

"Para guru meminta pengurangan gaji karena murid pelajar tahun ini hanya 28 orang terdiri dari 27 siswi dan 1 siswa. Jadi para guru ..."

"Heeeeehhh?"

Tejo mengernyitkan keningnya.

Di gantinya lagi sekali Chanel televisi.

"Pemimpin kota kita, Nona Ariel memutuskan untuk tetap mengirimkan dan meminta bantuan pada negara lain untuk mendistribusikan para laki laki ke negara tercinta, dengan imbalan, upah dan rasio yang tinggi untuk menjalin hubungan baik dengan negara negara yang siap memberikan bantuan laki lakinya."

"Kenapa isinya ..."

Bluppp

Televisi itu langsung di matikan oleh Tejo. Gelap seisi kamar itu gelap.

"Perasaanku saja atau memang kota ini di penuhi ..."

Tok tok tok

Pintu rumah Dinas Tejo di ketuk. Tejo bergegas membukanya

"Siapa yang datang malam malam ke rumah Dinas?"

Ceklek

Pintu rumah itu di buka. Tejo melihat seseorang menggunakan baju keamanan lengkap dengan topi dan pentongannya.

"Se-selamat malam" sapa Tejo.

"Selamat malam Tuan" sapanya dengan suara yang manis.

"Hiigghh! Perempuan!" Batin Tejo

"Maaf mengganggu malam malam. Tapi ini sudah kewajiban kami penjaga rumah Dinas. Saya datang untuk ... Uh-untuk" ujarnya malu malu.

"Aaaaaa ..." Tejo bengong.

"Bukan perasaanku saja. Tapi memang! Memang kota ini di penuhi perempuan!!!" Jerit hati Tejo.

###

Lanjut membaca
Lanjut membaca