Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Guntur Dewa Naga

Guntur Dewa Naga

Gema Rimba | Bersambung
Jumlah kata
147.1K
Popular
2.2K
Subscribe
480
Novel / Guntur Dewa Naga
Guntur Dewa Naga

Guntur Dewa Naga

Gema Rimba| Bersambung
Jumlah Kata
147.1K
Popular
2.2K
Subscribe
480
Sinopsis
FantasiFantasi TimurBalas DendamKultivasiPecundang
"Dunia membuangku sebagai sampah, maka aku akan bangkit sebagai Tuhan mereka!" Bara Mahesa hanyalah pemuda tanpa bakat yang dijadikan pelayan di perguruan bela diri ternama. Puncaknya, ia dikhianati oleh tunangannya sendiri demi bersanding dengan putra bangsawan. Bara dipukuli hingga sekarat dan dilempar ke jurang terlarang yang dijuluki liidah neraka. Namun, maut justru menjadi awal takdirnya. Di dasar jurang, Bara menemukan jasad Naga Merah Kuno yang telah terkubur ribuan tahun. Sebuah kontrak darah pun tercipta. Bara mewarisi garis darah sang naga dan mendapatkan kekuatan Guntur Langit yang mampu menghancurkan gunung dengan sekali tebasan. Kini, Bara kembali dengan identitas baru. Ia bukan lagi pemuda lemah yang bisa diinjak. Dengan naga raksasa yang tunduk di belakangnya dan petir yang menari di ujung pedangnya, ia akan mendatangi mereka satu per satu. Satu tebasan, membelah angkasa. Satu raungan naga, mengguncang bumi. "Kalian yang pernah meludahi wajahku, bersiaplah untuk sujud di bawah kakiku!"
Bab 1 Darah di Atas Debu

“Hahahaha ... Lari, Bara! Lari sejauh mungkin kalau kau bisa!”

Deg!

Langkah Bara Mahesa terhenti di ujung tebing curam. Napasnya memburu tidak beraturan. Dadanya terasa sesak seperti diremas dari dalam. Keringat bercampur darah menetes dari dagunya ke tanah berbatu.

Di belakangnya, suara tawa menghina bergema di antara pepohonan hutan terlarang.

“Mau lari ke mana, sampah?”

Seorang pemuda berjubah sutra biru melangkah keluar dari bayangan pohon dengan senyum meremehkan di wajahnya.

Arga.

Putra sulung ketua perguruan.

Orang yang sejak kecil selalu dipuja karena bakat dan kekuatannya.

Di samping Arga berdiri seorang gadis cantik berbaju putih. Wajahnya anggun, tetapi tatapannya dingin penuh jijik.

Sinta.

Tunangan Bara atau lebih tepatnya, mantan tunangannya.

“Arga, aku sudah menyerahkan Medali Naga itu ....” Suara Bara serak. “Kenapa kau masih mengejarku?”

Arga memutar lehernya pelan sebelum menyeringai.

“Karena orang gagal sepertimu tidak pantas hidup sambil membawa rahasia keluarga kami.”

Wushhh!

Energi biru mulai menyelimuti tangan Arga.

Mata Bara membesar.

Ia mundur setapak.

Namun terlambat.

Brakkk!

Pukulan Arga menghantam dada Bara dengan keras.

“Ughhh!”

Tubuh Bara terpental menghantam batang pohon tua hingga retak. Tulang rusuknya seperti remuk. Darah segar muncrat dari mulutnya.

Sinta melangkah mendekat.

Tatapannya dingin tanpa belas kasihan.

“Kau benar-benar menyedihkan, Bara,” ucapnya pelan.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Bara.

“Kau pikir aku pernah mencintaimu?” lanjut Sinta. “Pria tanpa bakat sepertimu cuma mempermalukan namaku.”

Bara menatap gadis itu dengan mata gemetar.

“Sinta, kita dijodohkan sejak kecil.”

“Dan itu adalah penghinaan terbesar dalam hidupku,” potong Sinta tajam. “Aku lebih pantas berdiri di samping Arga daripada sampah sepertimu.”

Tangan Bara mencengkeram tanah.

Dadanya terasa lebih sakit daripada luka pukulan tadi.

Arga lalu menarik kerah baju Bara dan mengangkatnya dengan satu tangan.

“Lihat dirimu,” katanya sambil tertawa kecil. “Lemah. Kotor. Tidak berguna.”

Bara berusaha melepaskan diri, tetapi tubuhnya sudah terlalu hancur.

“Jangan,” bisiknya lirih.

Arga mendekatkan wajahnya.

“Orang sepertimu cocok dibuang ke Jurang Lidah Neraka.”

Bugh!

Tendangan keras menghantam perut Bara.

“AAAAARRRGHHH!”

Tubuhnya melayang melewati tebing.

Angin dingin meraung di telinganya.

Pandangan Bara berputar liar.

Di atas sana, ia masih sempat melihat Arga dan Sinta berdiri berdampingan sambil menatap jatuhnya dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Duarrr!

Tubuh Bara menghantam derasnya air terjun sebelum akhirnya terpental ke sebuah ceruk batu di dasar jurang.

Krak!

Suara tulang patah terdengar jelas.

“Ukhh.”

Tubuh Bara tidak bisa digerakkan.

Setiap napas terasa seperti tusukan pisau.

Darah mengalir dari pelipisnya membasahi batu dingin di bawah tubuhnya.

Pandangan Bara mulai kabur.

‘Apa ini akhirnya?’

‘Mati seperti anjing?’

Kesunyian memenuhi gua.

Lalu—

Blubbb.

Tanah di bawah tubuhnya bergetar pelan.

Mata Bara sedikit terbuka.

Cahaya merah samar muncul dari celah bebatuan.

Semakin lama semakin terang.

Semakin panas.

Dan semakin menyesakkan.

“Ada manusia berani mengotori tempat ini dengan darahnya...”

Suara berat itu menggema langsung di dalam kepala Bara.

Tubuh Bara langsung menegang.

Bulu kuduknya berdiri.

Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya.

“A-apa?”

Ia berusaha mengangkat kepala.

Lalu matanya membelalak.

Di tengah gelapnya gua, sepasang mata merah raksasa perlahan terbuka.

Napas Bara tercekat.

Makhluk itu terlalu besar.

Sisik hitam kemerahan menutupi tubuhnya seperti baja. Taringnya sebesar pedang. Uap panas keluar dari celah mulutnya setiap kali bernapas.

Seekor naga.

Bara gemetar tanpa sadar.

Tubuhnya bahkan menolak bergerak.

Naluri di dalam dirinya berteriak untuk lari.

Namun tubuhnya hancur.

Ia tidak bisa ke mana-mana.

“N-manusia.” Suara Bara terbata. “Kenapa ada monster seperti kau di tempat ini?”

Naga itu mendengus pelan.

Hanya hembusan napasnya saja sudah membuat batu-batu kecil bergetar.

“Monster?” suara itu terdengar dingin. “Manusia selalu menyebut sesuatu yang lebih kuat dari mereka sebagai monster.”

Bara menelan ludah dengan susah payah.

Keringat dingin membasahi tengkuknya.

Ia takut.

Sangat takut.

Tetapi bayangan wajah Arga dan Sinta tiba-tiba muncul lagi di kepalanya.

Tatapan hina mereka.

Tawa mereka.

Rasa sakit itu perlahan berubah menjadi amarah.

“Aku ....” Bara menggertakkan gigi. “Aku tidak mau mati seperti ini.”

Mata merah naga itu menyipit.

“Oh?”

“Aku ingin hidup,” lanjut Bara lirih. “Aku ingin membuat mereka membayar semuanya.”

Naga itu tertawa pelan.

Suara tawanya membuat seluruh gua bergetar.

“Kebencianmu cukup dalam untuk manusia lemah.”

Bara menatap naga itu dengan ragu.

“Kalau kau bisa membantuku ... tolong berikan aku kekuatan.”

Ia mengucapkannya dengan hati-hati.

Masih ada rasa takut dalam suaranya.

Karena ia tahu makhluk di depannya bukan sesuatu yang bisa dipercaya begitu saja.

Naga itu mendekat perlahan.

Moncongnya berhenti hanya beberapa jari dari wajah Bara.

“Kekuatan selalu memiliki harga.”

Tatapan Bara goyah.

“Harga?”

“Tubuhmu akan menjadi wadah sebagian kecil kekuatanku,” jawab naga itu. “Jika tubuhmu gagal menahannya, kau akan mati terbakar dari dalam.”

Wajah Bara menegang.

Ia ragu.

Untuk sesaat ia benar-benar ragu.

Namun kemudian ia mengingat kembali bagaimana dirinya diinjak, dihina, dan dibuang seperti sampah.

Jari Bara mengepal.

“Aku terima.”

Mata naga itu menyala terang.

“Bagus.”

ROOOAAARRR!

Raungan besar mengguncang gua.

Cahaya merah darah bercampur petir biru menyambar tubuh Bara.

“AAAAAAAHHH!”

Rasa sakit luar biasa langsung memenuhi tubuhnya.

Bukan sakit biasa.

Seolah-olah ada ribuan petir menghancurkan tulangnya dari dalam.

Tubuh Bara kejang-kejang di atas tanah.

Kulitnya mulai retak halus.

Darah mengalir dari sudut matanya.

“Tubuhmu terlalu lemah.” Suara naga itu menggema. “Jangan mati sekarang, manusia.”

Bara menggertakkan gigi keras-keras.

“Aku tidak akan mati!”

Jleegerrr!

Kilatan petir meledak dari tubuhnya.

Beberapa luka di tubuh Bara mulai menutup perlahan, tetapi tidak sepenuhnya sembuh. Napasnya masih berat. Tangannya masih gemetar.

Setelah beberapa saat, cahaya itu perlahan mereda.

Bara terjatuh berlutut sambil terengah-engah.

Tubuhnya terasa lebih ringan.

Lebih kuat.

Tetapi juga asing.

Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan bingung.

Petir kecil melompat di ujung jarinya.

“Apa ini?”

“Hanya serpihan kecil dari kekuatanku,” jawab naga itu. “Bahkan satu persen pun belum.”

Bara mengangkat kepala.

“Satu persen?”

“Tubuhmu belum mampu menahan lebih banyak.”

Bara terdiam.

Jadi ia belum benar-benar kuat.

Ia masih lemah.

Hanya saja sekarang ia memiliki kesempatan.

Di dekat kakinya, sebuah pedang tua berkarat tergeletak di tanah.

“Ambil itu,” ujar sang naga.

Bara meraih pedang tersebut perlahan.

Saat tangannya menyentuh gagangnya.

Crackkk!

Petir biru tipis menyelimuti bilah pedang.

Bara terkejut dan hampir menjatuhkannya.

“Tenaga itu bereaksi pada emosimu,” kata naga itu. “Jika kau kehilangan kendali, tubuhmu sendiri bisa hancur.”

Bara langsung menelan ludah.

Rasa percaya dirinya yang sempat muncul perlahan mereda.

Ia belum memahami kekuatan ini.

Belum menguasainya.

Tiba-tiba.

Grrrrrr ....

Suara geraman rendah terdengar dari lorong gelap di belakang gua.

Bara menoleh cepat.

Sepasang mata hijau muncul dari balik kegelapan.

Lalu satu lagi.

Dan lagi.

Puluhan mata menyala dalam gelap.

Tubuh Bara refleks mundur setapak.

“Makhluk apa itu?”

“Serigala Batu,” jawab naga itu tenang. “Mereka tertarik pada bau darah.”

Salah satu monster melangkah keluar.

Tubuhnya sebesar harimau dengan kulit keras seperti batu cadas.

Liur hitam menetes dari taringnya.

Bara menggenggam pedangnya erat.

Namun kali ini, ia tidak langsung merasa percaya diri.

Tangannya masih gemetar.

Napasnya belum stabil.

Ia tahu satu kesalahan saja bisa membuatnya mati lagi.

“Lawan mereka,” ujar naga itu dingin. “Kalau kau ingin balas dendam, buktikan bahwa kau pantas hidup.”

Serigala Batu itu menggeram lalu menerjang.

“Cialat!”

Bara panik dan mengayunkan pedangnya secara refleks.

Sret!

Kilatan petir kecil meledak dari bilah pedang.

Boom!

Tubuh Serigala Batu terpental keras menghantam dinding gua.

Namun pada saat yang sama.

“UGH!”

Lengan Bara ikut bergetar hebat.

Rasa nyeri menjalar dari telapak tangannya sampai bahu.

Pedangnya hampir terlepas.

Bara membelalak.

‘Jadi ini akibatnya?’

Ia memang menjadi lebih kuat.

Tetapi tubuhnya belum mampu menahan kekuatan itu sepenuhnya.

Sementara itu, monster-monster lain mulai mendekat perlahan dari kegelapan.

Dan untuk pertama kalinya sejak memperoleh kekuatan baru.

Bara merasa takut lagi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca