

Malam turun dengan perlahan di atas lautan. Sebuah kapal besar membelah ombak hitam dengan gerakan mantap, lambung kayunya berderit setiap kali dihantam gelombang asin lautan.
Di kejauhan, sebuah pulau besar mulai memperlihatkan siluetnya. Dari kejauhan saja, sudah tampak jelas siluet sebuah kota besar yang berdiri di pesisirnya.
Barisan cahaya lampu membentuk garis-garis panjang di sepanjang pelabuhan, tembok kota menjulang kokoh menghadap laut, dan menara-menara tinggi berdiri anggun di jantung pulau seperti tombak batu yang menusuk langit malam.
Di salah satu sisi dek, seorang wanita berdiri diam memandangi pulau tersebut.
Jubah hitam bertudung menutupi sebagian tubuhnya, kainnya berkibar pelan diterpa angin laut. Dari balik tudung itu, rambut merah panjang menjuntai seperti nyala api yang menolak padam, kontras mencolok dengan kegelapan malam di sekelilingnya.
Wajahnya cantik dengan garis tegas dan senyum tipis yang sulit dibaca, sementara mata birunya memantulkan cahaya kota di kejauhan seperti sepasang batu safir yang menyimpan niat yang tersembunyi.
Gaun hitam yang membalut tubuhnya sederhana namun elegan, dihiasi garis-garis putih. Kesannya formal sekaligus misterius.
Sikapnya tenang, kedua tangan terlipat di depan dada, seolah ia bukan penumpang biasa, melainkan seseorang yang datang dengan tujuan yang sudah lama diperhitungkan. Ia mengamati kota itu lama.
Pelabuhan yang ramai, tembok pertahanan, menara-menara pengawas, jalan-jalan bercahaya yang membelah permukiman hingga ke pusat pulau. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah senyum tipis.
“Sesuai informasi… Jadi, selanjutnya ‘mereka’ akan beraksi di pulau ini ya...”
Bisikannya nyaris tenggelam oleh angin malam yang dingin. Di balik tudung hitamnya, matanya tetap tertuju pada pulau tersebut—pulau yang malam ini tampak tenang, tanpa tahu bahwa takdirnya baru saja mulai bergerak.
---
Di dalam sebuah gym, seorang pemuda berambut hitam sedang mengangkat beban sambil berbaring dengan santai di atas matras. Walaupun peluh mengaliri badannya, ia terus mengangkat beban itu berulang-ulang. Meskipun ototnya protes minta istirahat, dia tidak berhenti sampai dirasanya dia sudah cukup mengangkat beban untuk hari itu.
“Fuh…”
Dia segera menyadari kalau ada beberapa wanita muda yang seumuran dengannya mengamati kegiatannya sambil berbisik-bisik dan terkikik genit. Pemuda itu berusaha untuk mengabaikan mereka selagi ia berjalan untuk mengembalikan beban yang dia angkat itu ke rak tempatnya semula.
Dia menghela napas. Sambil memasang wajah batu, dia berjalan menuju treadmill yang berada paling dekat dengannya. Dia langsung saja menyalakan treadmill itu dan menyetelnya dengan kecepatan sedang.
Menit demi menit berlalu. Badannya yang sudah berkeringat itu makin berkilat dengan peluh, namun seperti sebelumnya, dia mengabaikan rasa lelah dan pegal yang makin menumpuk semakin lama dia melatih fisiknya. Dia terus saja berlari di treadmill itu.
Permuda berambut hitam itu tidak memikirkan banyak hal selain untuk menyelesaikan latihan fisik yang sudah dia rancang untuk dirinya sendiri. Cermin yang ada di dekat tempatnya berlari memantulkan wajahnya yang sedang berkutat–matanya yang aneh, sebelah kanan hijau dan sebelah kiri ungu–berkilat dengan penuh tekad. Sama sekali tak ada keluhan dari mulutnya.
“Hei, kamu sudah disini cukup lama. Kamu yakin kamu nggak butuh istirahat?”
Suara yang agak dalam, namun lembut dan tak diragukan lagi berasal dari seorang wanita, berbicara padanya. Si pemuda berambut hitam itu agak terkejut, karena selain dia kira takkan ada orang yang mengajaknya bicara selama dia latihan, dia sama sekali tak merasakan si pemilik suara itu mendekat sampai dia bicara.
Seorang wanita muda berkulit coklat. Ia berdiri dengan santai. Posturnya tegap, dagu sedikit terangkat, dan bibirnya yang tipis membentuk senyum kecil yang penuh arti tersembunyi.
Seperti pedang yang diasah tajam, indah sekaligus mengintimidasi.
Rambut perak panjangnya mengalir seperti air terjun yang berkilau, jatuh lembut hingga melewati pinggangnya, beberapa helai menempel di kulit bahunya yang kecokelatan.
Mata hijaunya yang tajam dan cerah memancarkan ketegasan. Tatapannya seperti seseorang yang sudah menilai situasi bahkan sebelum orang lain sempat membuka mulut.
Perutnya yang terdefinisi menunjukkan disiplin dan latihan keras, ditambah lekukan lembut di pinggul dan dada. Bahu dan lengannya yang ramping namun berotot menandakan kekuatan yang nyata.
Pakaian olahraga hitam dengan aksen kuning yang melekat di tubuhnya semakin menonjolkan garis tubuh atletisnya — pinggang yang ramping, perut rata, dan kaki panjang yang kokoh.
Ada kepercayaan diri. Setiap gerakannya terasa penuh tenaga dan anggun. Kesannya dia itu seorang perempuan yang sulit dilupakan begitu saja. Wanita itu kelihatannya tidak berusaha menarik perhatian, namun ruangan terasa otomatis berpusat padanya begitu ia hadir.
Pemuda berambut hitam itu menoleh sekilas kepada si wanita misterius, langkah kakinya di atas treadmill tidak melambat sedikit pun.
“Kalau aku berhenti sekarang, ritmenya bakal rusak,” jawabnya singkat, padat dan jelas.
Nada suaranya datar, hampir tanpa emosi, namun bukan bermaksud kasar. Itu hanya cara bicaranya. Mata heterokromianya, kanan hijau dan kiri ungu, memantul di cermin saat ia melirik wanita berambut perak di sampingnya.
Wanita itu tidak tampak tersinggung. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat sedikit, seperti menemukan sesuatu yang menarik.
“Entah kamu itu disiplin,” katanya pelan. “Atau keras kepala.”
Pemuda itu mengembuskan napas melalui hidung. “Biasanya orang bilang dua-duanya.”
Jawaban itu membuat wanita tersebut terkekeh lirih. Suaranya rendah, lembut, namun ada nada tajam tersembunyi di baliknya. Ia melangkah mendekat ke sisi treadmill, cukup dekat hingga aroma samar keringat bercampur wangi citrus dari tubuhnya tertangkap oleh indra si pemuda.
“Aku sering lihat orang latihan sampai kelelahan,” katanya sambil menyandarkan bahu pada pegangan treadmill sebelah, “tapi jarang ada yang tetap setenang kamu. Kebanyakan mulai mengumpat setengah jalan.”
“Yah, aku nggak datang ke sini buat mengeluh.” si pemuda menjawab.
“Lalu untuk apa?”
Pertanyaan itu akhirnya membuat pemuda itu menekan tombol kecepatan hingga treadmill melambat. Beberapa detik kemudian sabuk mesinnya berhenti sepenuhnya. Ia turun, meraih handuk kecil dari lehernya, lalu mengusap wajah dan rambut hitamnya yang basah oleh keringat.
“Untuk jadi lebih kuat,” ujarnya seolah itu jawaban paling sederhana di dunia.
Wanita berambut perak itu menatapnya beberapa saat, seakan menimbang ketulusan kalimat tersebut. Mata hijaunya bergerak dari bahu si pemuda, ke lengan, lalu ke postur berdirinya yang tegap meski kelelahan jelas mulai menggigit otot-ototnya.
“Tujuan yang umum,” katanya akhirnya. “Tapi dari caramu bergerak… rasanya bukan sekadar itu.”
Pemuda itu terdiam sesaat. Ia tidak suka orang yang terlalu cepat membaca dirinya. Terlebih lagi wanita asing yang bahkan langkah kakinya saja tak mampu ia dengar tadi.
“Kamu ini siapa sih?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu membuat senyum wanita itu berubah tipis—lebih misterius, lebih sulit ditebak.
“Seorang penumpang, yang penasaran.” jawabnya ringan.
Pemuda itu memicingkan mata, jelas belum puas dengan jawaban seambang itu.
“Penumpang?” ulangnya. “Maksudmu…?”
Wanita berambut perak itu tersenyum tipis, lalu mengangkat satu bahu seolah jawabannya sama sekali tidak penting.
“Maksudku, kita ini sebenarnya satu angkatan di sekolah yang sama.”
Kalimat itu membuatnya mengernyit. Ia menatap wanita itu lebih saksama—rambut perak panjang, kulit kecokelatan, mata hijau yang sulit dilupakan, tubuh atletis yang bahkan di antara para siswa pun pasti mencuri perhatian. Seseorang seperti ini akan mudah membuat kesan.
Namun anehnya, tak ada satu pun memori yang langsung muncul di kepalanya.
“Satu angkatan?” Dia mengulang dengan nada ragu. “Maaf, tapi… aku nggak yakin pernah lihat kamu sebelumnya.”
Wanita itu tidak tersinggung. Sebaliknya, senyumnya justru berubah sedikit geli, seakan ia sudah menduga reaksi itu.
“Sedikit nasihat,” katanya ringan, “kamu harusnya lebih perhatian pada sekelilingmu.”
Pemuda itu terdiam sesaat.
Kalau orang lain yang mengatakan itu, mungkin ia akan menganggapnya sindiran biasa. Tapi dari mulut wanita ini, kalimat tersebut terdengar seperti ada makna lain yang lebih dalam.
Tetap saja, keraguannya belum hilang.
Ia yakin sosok seperti wanita ini seharusnya mustahil luput dari ingatannya. Bukan hanya karena penampilannya yang mencolok, tapi juga aura tenang dan percaya diri yang membuat ruangan seolah otomatis berpusat padanya.
Saat dia masih mencoba mengingat, wanita itu tiba-tiba memanggil namanya.
“Ananta Lesmana.”
Tubuh Ananta refleks menegang sedikit.
Mata heterokromianya melebar tipis, campuran kaget dan waspada.
“Kamu tahu namaku?”
Wanita itu mengangguk kecil, seolah hal itu sama sekali tidak mengejutkan.
“Jelas tahu,” jawabnya santai. “Kelas kita nggak jauh dari satu sama lain. Dan pemuda sepertimu, Ananta…” matanya menyapu tubuh Ananta dari atas ke bawah, lalu kembali menatap wajahnya, “...cukup terkenal di sekolah.”
Ananta mengembuskan napas pendek sambil menggaruk belakang kepalanya, sedikit canggung mendengar kata terkenal diarahkan padanya. Dalam hati, dia malah bingung sendiri.
Gimana mungkin aku bisa melewatkan wanita secantik ini?
Ia yakin betul kalau sekali saja pernah melihatnya di koridor sekolah, di lapangan, atau bahkan sekadar sekilas di kantin, sosok seperti ini pasti akan tertinggal dalam ingatannya.
Namun yang ia rasakan sekarang hanyalah kekosongan aneh, seolah kehadiran wanita ini memang sengaja lolos dari perhatiannya selama ini.
Akhirnya Ananta memutuskan bertanya langsung.
“Kalau gitu… siapa namamu?”
Wanita itu menatapnya beberapa detik. Lalu, senyum kecil kembali terukir di bibirnya—senyum tenang yang entah kenapa terasa seperti sedang mempermainkannya.
“Itu,” katanya lembut, “harus kamu cari tahu sendiri.”
“Hah?”
Sebelum Ananta sempat menahan atau bertanya lagi, wanita itu sudah berbalik. Rambut peraknya mengalir mengikuti gerakan tubuhnya, berkilau lembut di bawah cahaya lampu gym. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, sama seperti saat ia datang.
Ia berjalan meninggalkan area treadmill, melewati beberapa alat latihan lain, lalu menuju pintu keluar gym. Tanpa menoleh lagi.
Ananta hanya bisa berdiri di sana dengan handuk masih tergenggam di tangannya, memandangi sosok wanita misterius itu semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu.
Meninggalkan dirinya sendirian bersama rasa bingung yang aneh.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, pikirannya yang biasanya hanya dipenuhi jadwal latihan kini terusik oleh satu hal sederhana.
Siapa sebenarnya dia?