
Apem dan Takdir Rangga
Arias Binerkah|Tamat
- Jumlah kata
- 188.5K
- Popular
- 3.4K
- Subscribe
- 771
- Jumlah kata
- 188.5K
- Popular
- 3.4K
- Subscribe
- 771
Sinopsis
Hidup Rangga nyaris hancur. Uang sekolah menunggak, neneknya jatuh sakit, dan usaha apem keluarganya sepi pembeli. Namun semuanya berubah setelah ia menemukan cetakan kuningan tua dari pasar loak. Apem buatannya mendadak membuat orang ketagihan, membangkitkan kenangan tersembunyi, bahkan menarik perhatian Azura, gadis paling populer di sekolah. Tapi semakin laris dan terkenal apem itu, semakin jelas bahwa cetakan tersebut menyimpan banyak rahasia.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab. 1.
“Kalau sampai bulan depan belum lunas semuanya, kamu tidak bisa ikut ujian.”
Kalimat dari staf Tata Usaha itu masih terngiang di telinganya. Bahkan saat ia sudah melangkah keluar dari ruang itu. Tangannya mengepal, kertas tagihan di dalamnya terasa seperti beban yang lebih berat dari tas di pundaknya.
Angkanya tidak besar bagi sebagian orang. Tapi baginya… itu sangat besar.
Rangga, 18 tahun, tubuhnya tinggi dan agak kurus seperti anak yang terbiasa menahan lapar. Wajahnya tampan dengan rahang tegas. Sorot matanya taja, tapi lelah membuatnya tampak lebih tua dari usianya.
Rangga terus berjalan melewati lorong sekolahnya— SMA Harapan Bangsa. nama yang terdengar megah. Tapi terasa mahal bagi Rangga.
Di kejauhan, suara tawa murid murid lain terdengar ringan— terlalu ringan dibanding isi kepalanya sekarang.
Ujian. Tunggakan uang sekolah, biaya study tour ke Bali. Dan di rumah… neneknya bekerja untuk menghidupi dirinya dan kedua adiknya.
Ia menghembuskan napas panjang,
“Kalau Nenek tahu, tensinya bisa naik,” gumam Rangga lirih. “Aku harus beresin semua sendiri,” lanjutnya sambil mengepalkan tangan lebih erat, berusaha memotivasi dirinya sendiri.
Ia memaksa kakinya bergerak ke arah kantin. Masih ada satu hal yang harus ia lakukan sebelum pulang.
Mengambil uang hasil titipan dan sisa apem dagangannya, jika masih ada.
“Semoga laku banyak hari ini,” harap Rangga.
Kantin sudah tidak seramai jam istirahat, tapi masih cukup ramai untuk membuat Rangga berharap.
Akan tetapi saat ia masuk ke dalam kantin..
"Ya Tuhan...” gumam lirih Rangga sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Harapannya runtuh, begitu ia melihat meja tempat apemnya dititipkan. Masih penuh. Hampir tidak berkurang. Langkahnya melambat..
“Eh, itu dagangan lo punya ?”
Suara itu muncul, diikuti tawa kecil yang langsung dikenali Rangga. Ia bahkan tidak perlu menoleh, sudah tahu. Itu suara Kevin, teman sekelasnya.
Dan seperti biasa… Kevin tidak sendirian. Di sebelahnya ada Leon, bersandar santai sambil memainkan sedotan minumannya, dan Rio yang duduk memperhatikan dengan senyum miring.
Rangga tetap berjalan mendekat, berusaha terlihat biasa saja. Ia mulai mengumpulkan kotak-kotak apemnya.
Ibu kantin menghitung sebentar hasil penjualan. Lalu menyodorkan beberapa lembar uang— nominal kecil.
"Ini, Rangga hari ini yang laku cuma dikit,” kata ibu kantin, “Sabar ya...”
Rangga menerima uang itu dengan tangan sedikit ragu. Tidak banyak. Terlalu sedikit pemasukan hari ini.
“Nggak laku ya?” Kevin berdiri, melangkah santai mendekat. “Dari pagi jualan… hasilnya segitu doang?”
Rio terkekeh pelan. “Kasihan juga. Udah capek-capek buat dan bawa, yang laku malah angin.”
Leon ikut berdiri tegak, melongok ke dalam kotak. “Wah, ini sih bukan nggak laku… orang-orangnya yang takut beli.”
Rio masih terkekeh sambil sambil menatap Rangga. Tawa mereka menyatu—tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menarik perhatian beberapa siswa lain di kantin.
Rangga diam. Tangannya bergerak lebih cepat, memasukkan kotak apem satu per satu ke dalam tas kain besar. Ia berusaha tidak mendengar, meski dadanya semakin terasa sesak.
Namun dengan cepat Kevin mengambil satu apem tanpa izin.
“Ya gimana mau laku,” lanjut Kevin, Ia memutarnya di tangan, memperhatikan dengan ekspresi merendahkan.
“Jualan tapi nggak niat, “ ucap Kevin lagi sambil tersenyum miring, “Udah jadul, tampilan aja nggak menarik. Ini jualan atau sisa acara kampung?”
“Nggak ada modal, Vin. Uang dia abis buat bayar sekolah kali,” sahut Leon ringan.
Rio menimpali, “Eh bukan,” ucap Rio santai, “Tapi abis buat makan, itupun masih kurus karena sering puasa.”
Tawa pecah lagi di kantin itu.
Rangga berhenti sejenak, menahan diri. Rahangnya mengeras.
“Balikin,” ucapnya, suaranya rendah tapi tegas.
Kevin mengangkat alis, pura-pura kaget. “Wah, galak juga,” ucapnya ringan. “Santai aja, bro. Gue cuma penasaran.”
Ia menggigit sedikit apem itu… lalu langsung meringis berlebihan.
"Hmm—” Ia menjauhkan makanan itu seolah jijik. “Serius? Ini yang lo jual?”
Leon langsung menutup hidungnya pura-pura. “Jangan-jangan basi.”
Rio menambahkan, “Atau emang dari awal udah nggak enak?”
Beberapa siswa di sekitar mulai ikut tertawa.
“Pantas aja nggak laku,” lanjut Kevin, melempar sisa apem itu kembali ke kotak Rangga dengan asal. “Murahan. Nggak enak. Nggak jelas juga.”
Rangga refleks meraih kotaknya, hampir saja menjatuhkannya. Kesabarannya sudah hampir habis.
“Jangan sok tahu,” katanya, lebih keras dari sebelumnya.
“Ooh, sensi.” Leon menyeringai. “Padahal kita lagi bantu lo evaluasi, lho.”
“Gratis lagi,” tambah Rio. “Harusnya makasih.”
Kevin mendekat sedikit, suaranya diturunkan tapi justru lebih menusuk.
"Kalau nggak mau dikomentarin, jangan jualan di sini.”
Ia melirik sekeliling kantin.
“Ini kantin kita beli, bukan tempat amal. Kalau jualan jangan asal!”
Kalimat itu seperti menghantam tepat di dada Rangga. Hening sejenak.Suara kantin masih ada—denting sendok beradu dengan gelas atau mangkok , orang ngobrol. Tapi semuanya terasa jauh bagi Rangga.
Rangga ingin membalas. Ingin mengatakan sesuatu. Apa saja.Tentang mereka yang tidak tahu apa-apa.
Tentang bagaimana setiap apem itu dibuat neneknya sejak dini hari. Tentang betapa berharganya semua ini. Tapi tenggorokannya terasa kaku. Yang keluar hanya napas panjang yang ia paksa tetap stabil. Ia menunduk. Mengangkat kotak-kotaknya. Dan memilih pergi.
Di belakangnya Kevin dan gengnya masih tertawa.
“Eh, jangan nangis di jalan ya!” seru Rio.
“Lo mau keliling kota jualan juga nggak bakal laku!” tambah Leon.
“Kalau enak, gue borong,” ucap Kevin sambil tersenyum miring, “gue bagi bagi ke orang orang. Tapi sayangnya nggak enak!”
Kevin kembali tertawa pelan. Tawa itu mengikuti langkah Rangga keluar dari kantin.
_
Langit mulai berubah warna jingga, ketika Rangga memelankan motor tuanya di depan rumah. Dari tadi siang ia baru pulang—sepulang sekolah ia langsung berkeliling menjajakan apem.
Tubuhnya lelah, seragam sekolahnya kusut bercampur keringat dan debu jalanan, tapi biasanya rasa lelah itu selalu hilang begitu mendengar suara rumahnya.
Namun sore itu berbeda.
Begitu turun dari motor, Rangga langsung merasa ada yang aneh.
Tidak ada suara kedua adiknya. Tidak ada batuk kecil nenek . Tidak ada suara radio tua yang hampir setiap sore memutar lagu-lagu lawas kesukaan neneknya.
Ia mendorong pintu rumah yang tidak pernah terkunci di sore hari
“Kakkkk!”
Suara anak anak perempuan dari dalam kamar. Bukan sekadar panggilan—lebih seperti teriakan yang menahan tangis terlalu lama.
Dua tubuh kecil langsung berlari ke arahnya.
Cinta (12 tahun) dan Cilla (9 tahun). Mata kedua anak itu terlihat merah. Wajah mereka basah. Napas mereka terengah seperti habis berlari jauh.
Rangga langsung mendekat.
"Kenapa? Ada apa?” suaranya mencoba tenang, tapi ada getar yang tak bisa ia sembunyikan. “Kalian kenapa nangis?”
Cilla langsung memeluk pinggangnya erat, wajahnya menempel di seragam Rangga.
“Kak… Kak…” suaranya patah-patah, tidak sanggup melanjutkan.
Cinta mencoba bicara, tapi bibirnya gemetar. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan.
"Nenek…” suaranya serak. “Dari tadi… nggak bangun…” lanjutnya dengan suara bergetar.
“Di mana?”
“Di kamar Nenek,”
Dunia Rangga seperti berhenti. Tas kain di tangannya jatuh begitu saja. Beberapa apem berserakan di lantai, tapi tidak ada yang peduli.
Rangga berlari ke kamar Neneknya. Di sana, neneknya terbaring di tempat tidur , tubuhnya lemah, napasnya pelan… terlalu pelan.
"Nek… Nek!” Rangga duduk di tepi tempat tidur , tangannya gemetar saat menyentuh pipi Nenek nya yang terasa panas.
Tidak ada jawaban dari Neneknya. Kedua matanya masih saja terpejam rapat. Hanya suara napas yang berat.
Rangga menelan ludah. Kepalanya kosong—lalu tiba-tiba penuh. Uang sekolah. Biaya hidup. Biaya rumah sakit. Obat. Semua datang bersamaan, menghantam tanpa ampun.
“Ambil air dan beli obat penurun panas!” katanya cepat pada adiknya, berusaha tetap tenang meski suaranya sendiri hampir pecah.
_
Malam terasa panjang bagi Rangga. Ia membaringkan tubuhnya di atas karpet tipis, di kamar Neneknya. Namun ia tidak bisa tidur.
Dini hari Rangga melangkah ke dapur seseorang diri. Suasananya sungguh berbeda. Biasanya ia dan Neneknya yang bekerja di dapur untuk membuat apem, dagangan mereka.
Namun kini sunyi.
Nenek masih di kamarnya, tertidur pulas setelah diberi obat seadanya dari warung. Memang tidak cukup, Rangga tahu. Tapi hanya itu yang mereka punya sekarang.
Rangga berdiri di depan kompor. Ia terlihat sedikit canggung. Biasanya dia hanya membantu. Nenek yang mengurus semuanya, adonan, api sampai kapan apem harus diangkat.
Sekarang, hanya ada dia. Dan adonan yang terasa asing di tangannya sendiri.
"Aku harus bisa membuat sendiri…” gumamnya pelan.
Tangannya bergerak, mengaduk aduk adonan. Lalu ia menuang adonan yang sudah jadi ke dalam cetakan lama yang sudah mulai aus. Satu, dua… hasilnya tidak rapi.
Bentuknya berantakan, bahkan ada yang gosong.
Rangga menghela napas frustrasi.
"Kalau begini terus, semakin tidak akan ada yang beli. Tidak akan ada uang masuk.”
Pandangannya jatuh ke sudut dapur. Sebuah kantong plastik berisi barang bekas dari pasar loak yang ia beli dua hari lalu.. hampir ia lupakan.
“Coba aku ganti—,” gumamnya lalu ia mengambilnya.
Di dalamnya, sebuah cetakan apem. Lebih berat dari yang lama. Bahan dari logam kuningan. Permukaannya aneh, seperti lebih halus, tapi juga… tua. Rangga memang terpaksa membeli barang bekas itu, untuk menekan biaya pengeluaran.
Rangga mengernyit.
“Macam barang antik aja,” gumamnya, lalu ia mencuci cetakan itu, “Tapi ini kuat, semoga membantu. Cetakan lama memang harus diganti.”
Ia tidak punya banyak pilihan. Dengan ragu, ia menuang adonan ke dalam cetakan yang sudah dibersihkan itu.
Begitu adonan menyentuh permukaannya—Rangga membeku. Hangat. Bukan dari api. Tapi dari… cetakannya sendiri. Seolah benda itu hidup.
Adonan di dalamnya bergerak. Mengembang lebih cepat dari seharusnya. Permukaannya halus, sempurna—jauh berbeda dari sebelumnya.
Rangga menatap tanpa berkedip. Ia mundur perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Apa… ini… kok aneh banget?”
Daftar bab
167 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
167 bab








