Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pensiunan Raja Kegelapan: Malam di Kamar Mahesa

Pensiunan Raja Kegelapan: Malam di Kamar Mahesa

Angdiles | Bersambung
Jumlah kata
241.2K
Popular
638
Subscribe
88
Novel / Pensiunan Raja Kegelapan: Malam di Kamar Mahesa
Pensiunan Raja Kegelapan: Malam di Kamar Mahesa

Pensiunan Raja Kegelapan: Malam di Kamar Mahesa

Angdiles| Bersambung
Jumlah Kata
241.2K
Popular
638
Subscribe
88
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperDewa PerangIdentitas Tersembunyi
Bosan berperang, Mahesa—mantan Penguasa Jagat Kegelapan yang ditakuti—pensiun menjadi warga lokal biasa demi hidup santai. Namun, kedamaiannya hancur berantakan saat Dewi Kirana, Ratu Agung Kahyangan yang suci dan anti-pria, jatuh dari langit langsung ke atas kasurnya akibat dicekoki Racun Gendam Asmara oleh pengkhianat. Insiden satu malam itu tidak sengaja mengikat takdir dua musuh bebuyutan ini. Kini, sang mantan raja iblis harus repot menyembunyikan identitasnya, menghadapi sang Ratu yang menuntut pertanggungjawaban, sambil menghajar para musuh yang berani mengusik ketenangannya.
Bab 0: Jatuh dari Langit

Tengah malam, di atas langit Hutan Gaib Larangan.

Sebuah cahaya pelangi melesat sangat cepat bak meteor, membelah pekatnya kegelapan malam. Jika diperhatikan lebih dekat, samar-samar terlihat siluet seorang wanita di dalam kilatan cahaya tersebut.

Kondisinya tampak tidak stabil. Wanita itu meluncur deras dari langit, terjun bebas menuju sebuah rumah kayu kecil yang berdiri terisolasi di tengah hutan.

BRAKKK!

Sebuah hantaman keras menghancurkan atap rumah. Wanita itu jatuh terhempas tepat ke dalam kamar.

Mahesa yang sedang tertidur lelap langsung tersentak bangun. Dia duduk dengan tatapan melotot dan syok, melihat sesosok wanita yang tiba-tiba "drop" dari langit langsung ke kamar tidurnya.

Wanita itu mengenakan gaun sutra lembayung khas Kahyangan. Rambutnya perak berkilau seindah bintang, dengan manik mata berwarna merah delima. Kulitnya seputih salju, parasnya begitu sempurna layaknya lukisan dewi khayalan yang turun ke bumi.

Namun, wajah cantiknya saat ini merona merah padam. Sepasang matanya yang indah tampak sayu dan berair, memancarkan pesona yang sangat menggoda.

Meski sudah kenyang melihat ribuan dewi dan siluman cantik selama hidupnya, Mahesa tetap sempat tertegun dan menatap wanita itu beberapa detik lebih lama. Melihat dari ornamen pakaiannya, wanita ini pasti bukan sembarang orang—kemungkinan besar adalah dewi petinggi dari Kahyangan!

'Waduh, jangan-jangan tempat persembunyiannya ketahuan? Apa pasukan Kahyangan datang buat menyergapnya?

Ah, tidak mungkin. Dia sudah sembunyi di desa terpencil Alam Manusia ini hampir seratus tahun, dan sistem penyamarannya sudah pasti sempurna. Lagipula, orang-orang Kahyangan harusnya tidak akan punya nyali lagi buat cari masalah dengan dirinya.

Berarti ini cuma kebetulan?

Lantas, harus diapakan wanita ini? Apa langsung dihabisi saja, terus dikubur diam-diam di belakang rumah?' Mahesa benar-benar tidak mau identitas aslinya sebagai Mantan Raja Kegelapan terbongkar.

Di saat Mahesa sibuk bimbang, wanita itu juga sedang menatapnya lekat-lekat dengan mata sayunya.

Di depannya, duduk seorang pemuda berwajah rupawan bagai giok, tampak karismatik, dan memiliki aura misterius yang sulit dijelaskan. Wanita itu tidak menyangka akan menemukan pemuda setampan ini di Alam Manusia.

Tapi tidak, ini bukan waktunya memikirkan hal itu! Dia harus segera pergi mencari penawar racun, jika tidak, dia tidak akan bisa menahannya lagi!

Merasakan racun di dalam tubuhnya semakin liar dan mulai mengikis akal sehatnya, wajah Dewi Kirana semakin merah merona. Napasnya yang terengah-engah mengeluarkan hawa panas yang wangi.

Dewi Kirana mencoba memaksakan diri untuk berdiri. Namun, seluruh tubuhnya mendadak lemas tak bertulang. Baru saja bangkit, kakinya langsung goyah, dan tubuh indahnya ambruk tepat ke dalam pelukan Mahesa yang masih duduk di atas kasur.

'Lah, ini skenario macam apa? Mau menjebakku?'

Demi menjaga martabatnya sebagai pria budiman, Mahesa langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, sama sekali tidak berani menyentuh tubuh wanita itu. Dia hanya menatap heran pada gelagat aneh wanita di pelukannya.

Sebagai mantan Raja Kegelapan, Mahesa langsung mengenali kondisi tersebut. Wanita ini terkena Racun Gendam Asmara tingkat tinggi buatan klan kegelapan!

Racun legendaris yang diracik dari ribuan ekstrak herbal pemancing gairah liar, dan sama sekali tidak ada obat penawarnya. Satu-satunya jalan keluar untuk menetralisir racun ini adalah dengan melakukan hubungan intim dalam waktu singkat. Jika tidak, tubuh korbannya akan meledak hancur akibat gejolak energi racun tersebut.

Dan wanita di depannya ini jelas sudah berada di titik batas pertahanannya.

Hawa panas di tubuh Dewi Kirana semakin menjadi-jadi. Saat dia menghirup aroma maskulin yang kuat dari tubuh Mahesa, entah mengapa tubuhnya malah semakin gemetar dan mendamba.

Menatap wajah tampan Mahesa di depannya, sang Ratu Kahyangan akhirnya menggigit bibir bawahnya dan mengambil keputusan nekat. Dalam kondisi darurat hidup dan mati begini, dia terpaksa menggunakan pemuda ini sebagai penawar racun.

'Tidak ada pilihan lain! Anggap saja ini rezeki nomplok buat manusia fana ini!'

Sring! Sring!

Dengan sisa kekuatannya, Dewi Kirana mengibaskan tangan. Beberapa utas Tali Sihir Kahyangan melesat, langsung mengikat erat tangan dan kaki Mahesa ke tiang ranjang, membuatnya telentang tak berdaya dalam posisi huruf 'X'.

Tangan lentiknya kemudian mencabut tusuk konde emas di kepalanya, membiarkan rambut peraknya terurai indah hingga ke pinggang. Dengan gerakan gemulai, gaun sutra lembayungnya meluncur turun ke lantai, menyusul pakaian dalamnya.

Dalam sekejap, keindahan tubuh sempurna tanpa sehelai benang pun terpampang nyata di depan mata Mahesa.

Mahesa melongo parah.

'Tunggu... skenario macam apa lagi ini? Aku... mau diperkaos?! Terus sekarang aku harus gimana? Perlu ngelawan kagak, ya?'

Mahesa mendadak bingung setengah mati harus berbuat apa. Ini adalah "momen pertama" yang sangat berharga dalam hidupnya! Walaupun dia sudah merajai Tujuh Lapis Jagat selama ratusan tahun, dia sama sekali belum pernah pacaran, apalagi menyentuh wanita.

Selama ini dia selalu memegang teguh prinsip: "Wanita hanya akan memperlambat kecepatan tebasan pedangku."

Tapi sekarang, mendadak ada wanita secantik dewi yang menindih tubuhnya. Selain sedikit tegang, jujur saja... ada rasa mendebarkan yang membuat darahnya berdesir.

Sebenarnya, kalau Mahesa mau memberontak, Tali Sihir Kahyangan yang mengikatnya ini bisa dia hancurkan dalam hitungan detik. Tapi masalahnya, kalau dia kabur, wanita di atasnya ini bakal mati mengenaskan karena tubuhnya meledak oleh racun asmara.

Ya, walaupun Mahesa aslinya bukan orang suci yang suka menolong, tapi melihat wanita seindah ini mati sia-sia, rasanya sayang dan agak mubazir. Ditambah lagi, kalau wanita ini mati di rumahnya, identitas rahasianya malah bisa terbongkar dan memicu masalah baru.

“Ya sudahlah, hitung-hitung berbuat amal sekali seumur hidup…” pikir Mahesa pasrah (tapi senang).

Dewi Kirana yang sudah kehilangan kendali mengembuskan napas hangat yang wangi. Sambil menggigit bibir indahnya, dia langsung menunduk dan memeluk tubuh Mahesa.

Tak lama kemudian, di dalam rumah kayu terpencil itu, bergema suara desahan dan kemesraan yang membuat malam semakin larut. Di bawah pengaruh racun yang luar biasa dahsyat, badai asmara di dalam kamar itu terus berlanjut tanpa henti selama tiga hari tiga malam!

---

Pagi hari keempat, sinar matahari mulai menembus celah atap. Dewi Kirana perlahan membuka matanya.

Saat kesadarannya pulih, dia mendapati dirinya sedang berbaring tanpa sehelai benang pun di atas dada Mahesa. Kondisi di dalam kamar sudah hancur lebur bak dihantam puting beliung. Jangankan sprei, ranjang tempat mereka bertumpu pun entah sejak kapan sudah roboh dan patah menjadi dua. Mereka berdua saat ini berpelukan tanpa busana di atas lantai yang berantakan.

Mengingat kembali kegilaan yang mereka lakukan selama tiga hari terakhir, wajah Dewi Kirana langsung memerah padam karena malu, sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan sedih dan terpukul.

Kesuciannya sebagai Ratu Kahyangan... runtuh begitu saja di tangan seorang manusia fana.

Dewi Kirana menatap wajah Mahesa yang tampak masih tertidur lelap. Kilatan dingin sempat melintas di matanya, dan dia perlahan mengangkat telapak tangannya yang dialiri energi suci. Sebagai penguasa tertinggi Kahyangan, kabar bahwa dia kehilangan kesuciannya oleh manusia biasa di Alam Manusia sama sekali tidak boleh tersebar! Dia harus melenyapkan saksi kunci ini!

Namun, setelah ragu-ragu beberapa saat, Dewi Kirana akhirnya menghela napas panjang dan menurunkan tangannya.

Pria ini tidak salah. Dialah yang memaksa pria ini, dan secara tidak langsung, pria ini telah menyelamatkan nyawanya. Bagaimana mungkin dia tega membalas budi dengan air tuba? Terlebih lagi... pria ini sekarang sudah sah menjadi suaminya secara biologis.

Dengan tubuh yang masih lemas dan pegal-pegal, Dewi Kirana bangkit berdiri. Sekali kibasan tangan, gaun sutra lembayungnya kembali melekat rapi di tubuhnya.

Sebelum pergi, dia berjalan ke samping Mahesa, menatap pemuda itu dengan tatapan mata yang rumit namun melembut, lalu berbisik pelan:

"Dunia kita berbeda. Anggap saja semua ini cuma mimpi."

"Mulai hari ini, kita tidak pernah saling mengenal..."

Setelah mengatakan itu, Dewi Kirana melompat ringan dan langsung menghilang dari rumah tersebut dalam sekejap mata.

Tepat setelah kepergian sang Ratu, Mahesa langsung membuka matanya dan duduk di lantai. Dia tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Cuma mimpi, ya? Boleh juga..." gumam Mahesa pelan.

Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi. Cuma karena bingung dan canggung harus hadap-hadapan seperti apa setelah "tempur" tiga hari tiga malam, dia sengaja pura-pura tidur. Pilihan Dewi Kirana untuk pergi diam-diam justru sesuai dengan harapannya.

Dengan begitu, wanita itu bisa kembali menjadi Ratu Kahyangan yang agung, dan dia bisa melanjutkan hidup santainya sebagai warga lokal. Mereka jalan masing-masing.

Mahesa melihat ke sekeliling kamarnya yang sudah mirip kapal pecah. "Kayaknya kemarin agak terlalu liar, ya? Kira-kira... pinggangnya encok nggak, ya?"

Tiba-tiba, Mahesa teringat sesuatu yang krusial. Matanya membelalak syok.

“Waduh! Gawat!”

“Aku lupa pakai pengaman alias KB!”

Mahesa mulai panik. Tapi kemudian dia mencoba menenangkan diri. Wanita itu kan dewi tingkat tinggi dari Kahyangan, kesaktiannya luar biasa, tidak mungkin segampang itu hamil anak dewa hanya karena satu kali insiden. Lagipula, sesampainya di Kahyangan, pasti wanita itu bakal memakai energi sucinya untuk mencegah kehamilan.

“Ah, aman lah. Nggak usah terlalu dipikirin,”

hibur Mahesa pada dirinya sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca