
- Jumlah kata
- 117.2K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 103
Sinopsis
Membesarkan seorang putri sendirian sangatlah sulit, lebih sulit lagi ketika putrinya meminta seorang Ibu. Apa yang akan dilakukan oleh Edward untuk mencarikan Ibu bagi putrinya? Yuk baca kisahnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
"Sial! Lawannya tangguh juga, untung bisa menang tender."
Edwar baru saja pulang, dia masuk ke dalam kamarnya. Capek sekali bekerja seharian, walaupun memang ada Bram sebagai asisten pribadinya yang selalu sigap membantunya.
"Kayaknya mandi adalah hal paling bener," ujar Edward.
Dasi abu-abu Edward sudah melorot hingga kancing ketiga kemejanya. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, dia sangat lelah dan ingin istirahat.
Di kepalanya, hanya ada dua agenda. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan merebahkan tubuhnya pada kasur yang siap memeluk tulang-tulangnya yang linu di usianya yang sudah menginjak kepala empat.
Namun, semesta punya cara lucu untuk menguji kewarasan seorang duda. Duda yang masih sangat tampan di usianya yang sudah menyentuh kepala empat itu.
Brak!
Pintu kamarnya terbuka lebar. Gadis, putrinya yang berusia dua puluh satu tahun masuk dengan bibirnya yang manyun dua senti. Dia berjalan dengan maskara yang sudah luntur sampai ke pipi.
Wanita muda itu tanpa ragu langsung menubruk dadanya. Edward terhuyung, menahan beban tubuh putrinya sekaligus sisa-sisa tenaganya yang berada di ambang batas.
Rasa lelah yang tadi dia rasakan kini berganti dengan rasa takut, sedih dan juga bingung melihat keadaan putrinya saat ini.
"Gadis? Kamu kenapa? Ada yang jahat sama kamu di kampus, hem? Bilang sama Daddy, siapa yang berani menyakiti putri Edward?"
Edward menepuk-nepuk punggung putrinya dengan sangat lembut, walaupun di luar garang, tatapi tetap di rumahnya dia selalu bersikap manis. Aroma parfum stroberi Gadis bercampur dengan bau keringatnya.
"Dosen sastra egois! Teman-teman sekelas juga egois!" raung Gadis.
Suaranya teredam di kemeja kerja Edward, Edwar diam dan siap mendengarkan curhatan anak semata wayangnya yang manja.
"Tadi semua mahasiswa disuruh maju. Disuruh baca puisi buat ibu tercinta. Semuanya nangis-nangis terharu, Dad. Cuma aku yang berdiri di depan kelas kayak patung jemuran karena bingung mau nulis apa!"
Edward terdiam, ucapan putrinya seperti sengatan listrik tegangan tinggi yang menyebabkan linu di hatinya. Hal itu mendadak mengalahkan rasa lelah pada fisiknya.
Ibu Gadis meninggal dua puluh satu tahun lalu, menyerahkan seluruh hidupnya demi tangisan pertama bayi perempuan yang kini sedang mengamuk di pelukannya. Wanita itu meninggal saat melahirkan putei mereka.
Gadis mendongak, matanya merah dan menatap Edward dengan kilat menuntut. Edwar paham, sebentar lagi putrinya akan meminta hal yang sulit untuk dia kabulkan.
"Aku capek, Dad! Aku capek kalau ditanya Ibumu kerja apa? Ibumu masak apa? Aku mau punya Ibu! Daddy musti nikah lagi!"
Edward menghela napas berat, lalu memijat pangkal hidungnya. Ini sudah sering mereka bahas, tapi mencari ibu itu adalah hal yang sangat sulit.
"Gadis, kita sudah bahas ini puluhan kali. Menikah itu bukan kayak beli robot penyambut tamu di rumah."
"Tapi aku mau ngerasain disuapin Ibu! Mau ngerasain dicariin baju kalau mau kuliah! Kenapa sih Daddy keras kepala banget? Mommy udah tenang di surga, Dad! Daddy mau setia sampai jadi fosil?"
"Gadis!"
Suara Edward meninggi, tegas, tapi sarat luka lama. Elena adalah cinta pertamanya, wanita yang sangat dia cinta. Edward yang tak mau kehilangan wanita itu, sampai menikahi Elena ketika mereka masih kuliah.
"Daddy," panggil Gadis dengan suaranya yang lirih.
"Mommy kamu itu wanita tercinta satu-satunya di hidup Daddy, Daddy nggak bisa membagi hati yang sudah terkubur setengahnya. Paham?"
"Nggak! Daddy egois! Daddy cuma mikirin perasaan Daddy sendiri!"
Gadis terlihat sangat sedih, dia bahkan berlari sambil menangis. Lalu, dia keluar dari dalam kamar ayahnya itu.
Brak!
Untuk kedua kalinya pintu kamar Edward menjadi korban. Gadis menghentakkan kaki, berlari menuju kamarnya sendiri di ujung lorong dan membanting pintunya keras-keras.
Edward terengah-engah di kamarnya. Rasa bersalah mulai merayap, menggerogoti rasa lelahnya. Dia tahu Gadis hanya sedang emosional.
"Di luar sana banyak yang tak mau punya ibu tiri, karena gosipnya mereka jahat. Lalu, apakah kamu tak takut akan dikubur hidup-hidup sama ibu tiri kamu, hem?"
Edward mondar-mandir tak jelas, dia tak enak hati dengan putrinya itu. Dia berpikir kalau putrinya itu sedang menangis tersedu-sedu.
"Ck! Bagaimana ini?" tanya Edward bingung.
Setelah sepuluh menit mondar-mandir seperti setrikaan, Edward akhirnya menyerah. Dia merasa harus membujuk putrinya, atau dia tidak akan bisa tidur tenang semalaman.
Sambil membawa segelas susu hangat sebagai bendera perdamaian, Edward melangkah pelan menuju kamar Gadis. Pintunya tidak tertutup rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter.
Suara Gadis terdengar sedang mengadu dengan berapi-api, Edward sampai merasa bingung. Dengan siapa putrinya itu berbicara.
"Dia itu emang titisan batu candi, Ra! Keras banget! Gue cuma minta Ibu, bukan minta dibeliin helikopter!" omel Gadis di dalam.
Edward bersiap mengetuk pintu, tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara asing di dalam kamar putrinya. Suara itu terdengar lembut sekali, sedikit serak, yang jelas bukan suara putrinya.
"Tapi bokap elu itu keren tau, Dis. Setianya itu langka, murni 24 karat. Zaman sekarang mana ada cowok yang menduda dua dekade demi satu wanita? Cowok di Tinder aja ditinggal pup sekejap udah nyari cadangan."
Edward mengintip dari celah pintu. Di sana ada yang membelakangi pintu, seorang gadis asing yang tak dia kenal. Edward baru ingat, Gadis sempat bilang kalau sahabatnya mau menginap malam ini untuk mengerjakan tugas kelompok.
"Tapi tetep aja gue pengen ibu, elu enak. Walaupun nggak punya ibu, tapi ada nenek elu yang baik banget ngerawat elu."
"Ah, tau ah! Gue mau ganti baju dulu, lengket banget," sahut suara asing itu lagi.
"Pake piyama tidur yang gue siapin aja, nih."
"Oke," jawab perempuan itu.
Tepat saat Edward hendak berbalik pergi demi sopan santun, wanita asing itu yang dipanggil Ra tanpa beban langsung melepas kaos kedodorannya di tengah kamar.
Di balik kaos itu, dia hanya mengenakan pakaian dalam hitam yang kontras dengan kulit punggungnya yang putih bersih.
Edward terpaku. Kakinya seperti disemen ke lantai.
Wanita itu kemudian meraih piyama tidur satin berwarna merah marun milik Gadis yang ada di atas kasur. Piyama itu kekecilan. Saat wanita itu memakainya dan berbalik menghadap ke arah cermin yang sayangnya searah dengan celah pintu tempat Edward mengintip, kancing piyama itu berjuang keras menahan lekuk tubuhnya yang sangat matang.
Sialnya lagi, ketika wanita itu memakai celana piyama itu, hal itu mempertegas pinggul dan kaki jenjangnya yang terekspos nyata.
Deg!
Sesuatu yang sudah mati selama dua puluh satu tahun di dalam dada Edward mendadak berdenyut keras. Ada sengatan listrik aneh yang membuat tenggorokannya mendadak sekering gurun pasir.
Daftar bab
112 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
112 bab








