Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Liar Sang Penakluk Wanita

Gairah Liar Sang Penakluk Wanita

Lazuardi | Bersambung
Jumlah kata
51.5K
Popular
2.5K
Subscribe
857
Novel / Gairah Liar Sang Penakluk Wanita
Gairah Liar Sang Penakluk Wanita

Gairah Liar Sang Penakluk Wanita

Lazuardi| Bersambung
Jumlah Kata
51.5K
Popular
2.5K
Subscribe
857
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremMengubah Nasib21+
21+ Kama dibebaskan setelah tuduhan melakukan pembunuhan terhadap ibunya sendiri terbukti tidak benar. Hal pertama yang ia lakukan adalah, menemui pacarnya yang sudah bersamanya selama tiga tahun, hanya untuk mendapatkan Lisa main gila dengan orang lain dan rumahnya disabotase Omnya sendiri. Hidupnya berubah setelah bertemu Mita yang memberikannya ilmu pemikat, wanita mana pun yang terpesona dengan Kama akan memberikan apa pun yang Kama inginkan dan menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Keluar

Pintu besi kecil di samping gerbang utama Lembaga Pemasyarakatan terbuka, bunyinya nyaring saat sipir memutar kunci. Kepala Kama terasa kosong, dua tahun lalu dia diseret masuk ke tempat ini dengan tuduhan pembunuh terhadap ibu kandung. Hari ini, dia keluar karena tidak terbukti.

"Jangan balik lagi ke sini, Kama. Kamu masih dua puluh tahun, jalanmu masih panjang," kata sipir berkumis tebal yang membukakan pintu.

Kama hanya mengangguk kecil, dia melangkah keluar. Matahari pukul sepuluh pagi langsung menyengat kulitnya yang pucat. Di tangannya hanya ada satu tas kain berisi sepasang pakaian lama dan dompet lusuhnya, ia tidak dijemput.

Tujuan pertama yang ada di otaknya hanya satu, Lisa. Pacarnya selama tiga tahun yang berjanji akan setia menunggu.

"Mau naik angkot, bayarnya pakai apa?" Bisiknya.

Kama mengobrak-abrik isi tasnya mencari dompet dan menemukannya. Ia menarik dompet hitam pudar pemberian terakhir Ayah. Ia membuka dompet itu, berharap ada sedikit uang.

"Kok banyak?" Keningnya berkerut.

Di dalam dompet butut itu ada lima lembar seratusan dan dua lembar lima puluhan, ada secarik kertas kecil terselip. Kama membacanya dan tertawa, ia menoleh ke belakang ke arah gerbang tinggi dan menundukkan kepala.

Ini sedikit uang untuk kamu, kamu kerja yang rajin dan hidup sehat.

Itu pesan dari sipir yang membukakan pintu kebebasannya tadi. Kama benar-benar berterima kasih padanya, ia pun melangkah dengan ringan. Kama naik angkutan umum menuju rumah Lisa. Sepanjang jalan, jantungnya berdegup kencang. Bayangan pelukan Lisa dan air mata kerinduan sudah tersusun rapi di kepalanya.

Begitu sampai di depan pagar rumah minimalis bercat putih itu, Kama menarik napas dalam-dalam. Pagar tidak terkunci, dia melangkah masuk ke halaman, lalu mengetuk pintu rumah Lisa.

"Lisa? Ini aku, Kama," panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban, ia mengetuk lagi dan sama, tidak ada jawaban. Telinga Kama menangkap suara-suara aneh dari arah jendela kamar Lisa yang sedikit terbuka. Ada suara tawa tertahan seorang pria dan desahan napas yang berat, dada Kama mencelos.

Kama berjalan mendekati jendela kamar tersebut, tirainya tidak tertutup rapat. Melalui celah sempit itu, mata Kama langsung menangkap pemandangan yang menghancurkan kewarasannya.

Di atas ranjang, Lisa sedang bergumul tanpa sehelai benang pun dengan seorang pemuda berambut gondrong yang tidak Kama kenal. Lisa tampak begitu menikmati sentuhan pria itu.

"Mmmhhh ... lagii ...," desah Lisa manja.

Pria itu bergerak maju mundur sambil memainkan buah segar Lisa dan memakan salah satunya. Lisa tertawa, mengelus rambut pria itu. Darah Kama mendidih, tanpa berpikir panjang, ia mendobrak pintu depan rumah yang ternyata hanya digrendel longgar. Langkah kakinya menghentak keras menuju kamar.

Kama menendang pintu kamar Lisa hingga menghantam dinding, pasangan di dalam kamar langsung terlonjak kaget. Pemuda gondrong itu dengan panik menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, sementara Lisa menjerit histeris.

"Kama?! Kamu ... kenapa kamu bisa di sini?!" Pekik Lisa dengan wajah pucat pasi.

"Siapa bajingan ini, Lis? Jawab aku! Siapa dia?!" Bentak Kama, suaranya bergetar hebat menahan amarah yang hampir meledak.

Pemuda gondrong itu menatap Kama dengan berani setelah berhasil memakai celananya, "Heh, lu siapa tiba-tiba masuk rumah orang? Keluar lu!"

Kama tidak memedulikan pria itu. Matanya lurus menatap Lisa, "Tiga tahun, Lis. Kita pacaran tiga tahun, kamu sumpah demi Tuhan bakal nunggu aku. Ini yang kamu lakuin di belakangku?!"

Lisa yang tadinya ketakutan, perlahan mengubah ekspresi wajahnya. Rasa takut itu berganti menjadi tatapan dingin dan penuh kejengkelan. Dia memakai daster yang tergeletak di lantai, lalu berdiri menghadapi Kama.

"Nunggu kamu? Kamu pikir aku bodoh?" Suara Lisa meninggi, tidak ada lagi nada bersalah. "Kamu itu narapidana, Kama! Pembunuh!"

"Aku bukan pembunuh! Kasusku dibatalkan karena tidak terbukti! Aku bebas karena aku nggak salah, Lisa!" Teriak Kama membela diri.

"Halah, nggak usah banyak alasan! Polisi nggak mungkin salah tangkap kalau gak ada bukti," sahut Lisa sambil melipat tangan di dada.

"Tetangga semua tau kamu masuk penjara karena bunuh ibumu sendiri. Kamu tahu nggak seberapa malu aku? Aku dicemooh orang-orang, karena punya pacar pembunuh!"

"Tapi aku terbukti nggak salah, Lis! Kamu bisa cek ke pengadilan!"

"Aku nggak peduli! Mau kamu bebas, mau kamu nggak terbukti, cap pembunuh itu udah nempel di dahi kamu!" Lisa menunjuk wajah Kama dengan jari telunjuknya. "Mendingan kamu keluar dari rumahku sekarang juga. Hubungan kita udah putus sejak kamu masuk penjara! Pergi!"

Pemuda gondrong di belakang Lisa maju setapak, mencoba mengintimidasi, "Lu denger kan? Keluar sekarang sebelum gua panggil warga!"

Kama mengepalkan tinjunya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih, rasa sakit di dadanya mengalahkan rasa marahnya. Wanita yang dia harapkan menjadi tempat bersandar setelah dua tahun di neraka, justru menjadi orang pertama yang menginjak-injak harga dirinya.

"Kamu bakal menyesal, Lisa. Aku bersumpah kamu bakal menyesal," desis Kama tajam.

"Gak akan! Buruan pergi, dasar pembunuh!" Usir Lisa tanpa belas kasihan.

Kama berbalik dan berjalan keluar dengan langkah gontai, udara siang itu terasa mencekik. Setelah kakinya melangkah jauh dari rumah Lisa, Kama baru tersadar. Fokusnya salah, yang pertama seharusnya ia temui bukanlah kekasihnya yang berkhianat, melainkan ibunya yang telah tiada.

Kama segera mencari angkot menuju pemakaman umum. Pemuda itu yakin ibunya pasti dimakamkan di sebelah bapaknya. Setelah berjalan menyusuri jalan setapak pekuburan yang sepi, Kama menemukan gundukan tanah dengan dua batu nisan yang bersebelahan. Di nisan yang lebih baru, tertulis nama ibunya, wafat dua tahun lalu, tepat di malam dia ditangkap. Kama langsung berlutut di tanah yang kering, air mata yang sejak tadi dia tahan di rumah Lisa akhirnya tumpah tanpa kendali. Pemuda itu mencengkeram rumput di atas makam ibunya.

"Ibu ... maafin Kama," isak Kama sesenggukan. "Kama gak bunuh Ibu. Kama dijebak, Bu. Tapi gak ada yang percaya sama Kama ...."

Kama menangis di sana sampai dadanya sesak, ia juga mengacu pada Ayahnya. Waktu terus berjalan, matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam yang sunyi. Kama tidak peduli dengan rasa lapar atau dinginnya angin malam. Ia tetap duduk di samping makam kedua orang tuanya hingga tertidur karena kelelahan. Keesokan paginya, Kama terbangun dengan tubuh kaku dan pakaian yang lusuh terkena tanah makam. Ia membasuh wajahnya di kamar mandi umum pemakaman, lalu memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Rumah itu adalah satu-satunya aset yang tersisa, tempat dia harus memulai hidupnya kembali dari nol.

Namun, begitu Kama sampai di depan rumahnya, ada yang berbeda. Pagar rumah terbuka lebar, dan ada sebuah sepeda motor matic baru terparkir di teras.

"Siapa di rumah?" Kening Kama berkerut.

Pintu depan rumah terbuka, Kama melangkah masuk dengan ragu. Di ruang tamu, seorang pria bertubuh tambun sedang asyik merokok sambil menonton televisi. Itu Om Lukman, adik tiri ibunya.

"Om Lukman?" Panggil Kama.

Lukman menoleh, begitu melihat Kama yang lusuh, wajahnya langsung mengeras penuh rasa jijik. Ia meletakkan rokoknya di asbak dengan kasar.

"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Lukman dengan nada ketus.

"Jelas saya di sini, ini kan rumah saya," jawab Kama, mencoba tetap sopan.

Lukman berdiri, menatap Kama dari atas ke bawah, "Rumah kamu? Nggak usah mimpi! Ini rumah kakakku! Sejak kamu masuk penjara karena bunuh dia, rumah ini kosong. Jadi aku dan keluargaku yang urus dan tinggal di sini. Kamu nggak berhak ada di sini, pembunuh!"

"Om, saya dibebaskan karena tuduhannya tidak valid! Saya tidak terbukti membunuh Ibu!" Kama mulai habis kesabaran. "Dan rumah ini dibeli oleh Ayah saya!"

"Kurang ajar kamu ya, masih berani teriak-teriak di sini!" Bentak Lukman.

Kama menghiraukan bentakan itu, ia berjalan melewati Lukman menuju kamarnya sendiri di bagian belakang. Ketika pintu kamar dibuka, Kama semakin terkejut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca