

"Aku rindu kamu, Bang ...."
Bisikan suara Lisna terdengar lembut di telingaku. Wanita cantik yang sudah lama aku rindukan itu menatapku sendu. Manik hitam miliknya masih sama seperti dulu saat aku tinggalkan merantau. Menyimpan banyak kesedihan.
"Abang sudah pulang, Dek. Sekarang kita nggak akan pernah berpisah lagi. Kita akan membesarkan Tini bersama-sama. Kamu, aku, dan putri kita selamanya!"
Aku menyambar tubuh kurus Lisna tak sabar, dan memeluknya dengan erat. Ujung hidungku berlabuh di puncak kepala wanita cantik yang sudah memberiku seorang putri bernama Tini.
Uggghht!
Seketika lubang hidungku berkerut, menangkap aroma busuk bercampur anyir yang keluar dari ubun-ubun Lisna. Entah kenapa tiba-tiba jantung ini bergemuruh hebat. Detakannya tak bisa aku netralkan, saat merasakan ubun-ubun Lisna yang ditutupi rambut hitam legam itu seperti berdenyut.
GLEK!
Aku menelan saliva susah payah. Menggelengkan kepala guna menajamkan penglihatanku.
"Ada apa, Bang?" Suara sendu Lisna kembali membuatku terkesiap.
Aku menggeleng, mempererat pelukanku padanya.
"Nggak apa-apa. Abang hanya sangat merindukanmu, Dek. Sudah lama sekali Abang membayangkan bisa memelukmu seperti ini. Abang kangen!" bisikku lembut.
Aku menepis semua pikiran negatif yang berputar liar di kepalaku. Saat ini aku hanya ingin melepas rindu dengan wanita cantik kembang desa yang sudah lama aku rindukan itu.
Lisna mengangkat sedikit kepalanya. Meletakkan wajahnya di ceruk leherku. Bisa kurasakan bibir Lisna menempel di kulit leherku. Seketika hasrat ini berubah liar.
Bagaimana tidak, lebih dari lima tahun aku berjauhan dengan Lisna untuk merubah nasib. Meninggalkannya di desa ini bersama putri kami yang bahkan tak sempat aku lihat kelahirannya. Tapi, hati ini begitu lega rasanya, bisa kembali memeluk wanita yang sangat aku cintai.
Nafas panas Lisna menerpa leher ini. Aroma busuk bercampur anyir itu tiba-tiba kembali tercium dan semakin kuat. Seketika bulu kudukku ikut meremang, tengkuk ini terasa berat dalam hitungan detik, saat desahan Lisna berubah berat dan parau.
Kedua tangan Lisna menjalar menelusuri punggungku. Aku mengernyit, terasa sakit saat kukunya mencengkeram batang leherku.
"Li-Lisna ...," gagapku.
Lisna tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan tegak. Kedua mataku membulat sempurna, seakan ingin melompat dari tempurungnya. Kakiku gemetar saat melihat yang ada di hadapanku bukanlah Lisna, istriku. Melainkan seorang wanita dengan wajah buruk rupa, setengah gosong, kedua matanya bolong dipenuhi belatung menjijikkan.
Kedua lengannya dipenuhi luka sayatan lebar mengeluarkan darah. Bahkan, ada bagian kulitnya yang mengelupas, memperlihatkan tumpukan daging mengeluarkan darah.
"Bang Irwan ... aku rindu ...," lirihnya, disusul sebuah senyuman yang sukses membuat jantungku mencelos.
Lisna tiba-tiba membuka mulutnya. Perlahan bibir tipis itu melebar dan terangkat ke atas hingga menyentuh telinga. Satu persatu deretan giginya copot, berserakan di atas lantai, mengeluarkan darah merah kehitaman yang mengalir deras tanpa henti.
"Li-Lisna ...."
Tubuhku seakan membeku. Mata ini tak bisa berkedip saat makhluk mengerikan itu menghapus jarak di antara kami. Aroma busuk mengocok perutku begitu hebat.
"Kita akan bersama selamanya, Bang. Jangan pernah tinggalkan aku lagiiiii .... hihihihihi ...."
Kepala Lisna memutar 360 derajat, dan setelah itu kembali pada posisi semula. Bisa kurasakan aura kemarahan dan dendam terpancar dari wajahnya yang putih pucat.
KLEK!
Leher Lisna tiba-tiba patah ke belakang, menampilkan luka menganga mengeluarkan darah segar dari kerongkongannya yang terbelah. Tawa melengking terdengar memekakkan telinga saat kedua tangan Lisna mencengkeram leherku dengan cepat.
"Aaaarrgggghhh!"
PLAK!
"Mas, bangun!"
Aku terkesiap saat sebuah tangan memukul lengan kananku. Seketika mata ini terbuka paksa, menatap sekeliling. Keringat dingin mengalir sebesar biji jagung dari pelipis dan membasahi bajuku. Nafas ini tersengal, dadaku terasa sesak.
"Astaghfirullahalazim, bisa-bisanya aku mimpi buruk begitu. Mengerikan sekali," desah ku, menyeka keringat yang sudah membanjiri wajah.
"Kita sudah sampai, Mas. Semua penumpang udah turun!" Suara seorang pria dengan handuk kecil di lehernya membuatku terkejut.
Aku menatap sekeliling, bus sudah sepi. Sekilas aku melirik ke arah jendela, suasana di luar sudah gelap gulita.
"Jam berapa ini, Pak?" tanyaku. Kebetulan baterai ponselku habis, jadi aku tak bisa melihat jam.
Pria itu menyodorkan ponselnya. Ternyata sudah jam 7 malam. Rupanya aku tertidur sepanjang perjalanan. Dan bisa-bisanya mimpi buruk itu datang dalam tidurku.
"Masnya tidur seperti orang mati saja!" celetuk kernet bus itu. Aku cuma bisa nyengir. Bangkit dari kursi dan menenteng tas pakaianku.
Setelah turun dari bus, aku berjalan beberapa meter mencari pangkalan ojek. Seingatku dulu ada pangkalan ojek di persimpangan jalan yang buka hingga jam sepuluh malam.
Whooossshh ....
Angin lumayan kencang menerpa tengkukku. Merinding rasanya saat melalui sebuah jalan setapak yang mengarah ke perkebunan jagung di sebelah kiri jalan besar. Auranya membuatku sangat tak nyaman.
Aku berhenti sejenak, mengatur nafasku yang lumayan tersengal. Kutengok ke belakang, gelap. Suara jangkrik terdengar saling bersahutan. Ternyata aku sudah berjalan cukup jauh. Bahkan, tak bisa kulihat lagi jalan yang tadi sudah aku lalui. Sampai sekarang ternyata penerangan di kampung ini belum juga ada. Hanya samar-samar sinar bulan yang menerangi langkah kakiku.
Aku menghela nafas lega, ketika melihat pangkalan ojek tak jauh lagi dari tempatku berdiri. Dua orang pemuda tampak tengah mengobrol sembari menikmati kopi.
Kujinjing tas pakaian yang sebagian berisi oleh-oleh untuk Lisna dan Tini. Mempercepat langkah menuju pangkalan ojek itu.
"Assalamu'alaikum!" sapaku.
"Astaghfirullahalazim ...."
Sontak dua pemuda itu terkejut.
"Bang ... Bang ... Bang Irwan?" gagap salah seorang pemuda. Rupanya dia mengenalku. Tapi, aku lupa siapa dia. Sedangkan satunya lagi menatapku sembari menyeruput kopinya.
"Saya Junar, anaknya pak Sulaeman!" ujarnya menambahi.
"Oalah .... Saya pikir siapa. Kamu banyak berubah, makin ganteng aja. Sampai nggak saya kenali. Bapak apa kabar? Sekarang nggak ngojek lagi?" tanyaku.
"Bapak sudah meninggal, Bang. Satu tahun yang lalu."
"Innalilahi .... Maaf, Abang nggak tahu. Sekarang kamu yang gantikan bapakmu ngojek?"
"Iya. Bang Irwan kenapa bisa ada di sini? Saya sampai kaget tadi. Saya pikir salah lihat!"
"Iya, Abang baru sampai. Busnya kesorean, jadi sampainya udah malam begini. Antar Abang ke rumah, ya Junar. Udah nggak sabar mau ketemu sama istri dan anak Abang!" ujarku.
Siapapun yang melihat pasti akan tahu betapa aku tak bisa menyembunyikan rinduku pada Lisna dan Tini.
"Junar! Lah, malah bengong diajak ngomong. Awas nanti kamu kesambet setan jalanan lho!" candaku, menepuk pundaknya.
Pemuda lainnya yang ada di sebelah Junar menaikkan satu alisnya. Kulihat Junar membisikkan sesuatu di telinga pemuda itu. Entah kenapa raut wajahnya tiba-tiba memucat. Seperti ketakutan dan celingak-celinguk melihat ke sekeliling.
"Ada apa, Junar? Ayo, antar Abang pulang. Udah malam banget ini. Abang juga udah capek, mau istirahat!" desakku lagi.