
Arya Sang Penguasa Bayangan
WinZu|Tamat
- Jumlah kata
- 136.1K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 256
- Jumlah kata
- 136.1K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 256
Sinopsis
Selalu dibully dan direndahkan, Arya tiba tiba mendapat kekuatan dari sebuah bayangan yang mengerikan. Berkat kekuatan itu, dia menjadi pria tak terkalahkan dan menjadi idaman para gadis.
Ulasan
1 ulasan
T. L. Handayani
10/6/26 03:32
Ayo Arya, tunjukkan kemampuanmu. Jangan mau direndahkan. Buat authornya semangat update. Ditunggu kelanjutannya🥳🥳
Bab 1 Kekuatan dadakan
"Sudah kubilang berapa kali, Arya? Tugas akhirku itu harus selesai malam ini. Dan apa ini? Kamu bilang kamu belum sempat menyalin bab tiganya karena harus bekerja paruh waktu? Kamu pikir aku peduli dengan hidupmu yang miskin itu, hah?" Bentak Reno pada Arya dengan nada tinggi.
"Aku... aku benar-benar tidak punya waktu, Reno. Ibuku sedang sakit, dan aku harus…" Ucapan Arya terpotong.
Plak!
Satu tamparan keras dari salah satu anak buah Reno membuat kalimat Arya terputus.
Kepala Arya terhentak ke dinding bata yang lembab.
Malam di sudut kota itu selalu terasa lebih dingin bagi Arya. Di bawah rintik gerimis yang membasahi aspal gang buntu di belakang kampus, tubuhnya meringkuk, menahan perih akibat tendangan yang baru saja mendarat di perutnya.
Tas ranselnya yang usang dicampakkan ke dalam genangan air, membuat buku-buku catatannya basah kuyup.
Di hadapannya, berdiri tiga orang mahasiswa dengan jaket bomber mahal. Reno, sang pemimpin geng yang selalu merasa menguasai kampus, menatap Arya dengan pandangan menghina, seolah-olah Arya hanyalah kecoa yang mengotori sepatunya.
"Jangan banyak alasan, pecundang," cibir Diko, anak buah Reno yang bertubuh tambun.
"Kamu itu beruntung masih bisa kuliah di sini. Kalau bukan karena beasiswa kasihan itu, kamu sudah membusuk di jalanan. Menolong Reno adalah satu-satunya alasan kenapa kehadiranmu yang tidak berguna itu dimaafkan di kampus ini." Ucap Sandi salah satu anak buah Reno.
Reno mendengus, lalu berbalik arah, merasa muak melihat ketidakberdayaan Arya.
"Bereskan dia, Diko, sandi. Berikan dia pelajaran biar otaknya yang lambat itu ingat siapa yang berkuasa di sini. Setelah itu, pastikan dia begadang untuk menyelesaikan tugasku." Perintah Reno pada kedua anak buahnya.
Reno melangkah pergi menjauh, membiarkan dua temannya mendekati Arya dengan seringai kejam.
Arya memejamkan mata. Rasa sakit, kehinaan, dan keputusasaan bercampur menjadi satu, membakar dadanya dengan rasa sesak yang tak tertahankan.
“Kenapa? Kenapa selalu aku? Apa salahku lahir tanpa kekuasaan dan kekayaan?” batin Arya menjerit, menangis tanpa suara.
Tapi, tepat saat kepalan tangan Diko hampir mengenai wajahnya, sesuatu di dalam diri Arya mendadak pecah. Bukan rasa takut yang tersisa, melainkan kekosongan yang teramat sangat.
Di bawah bayang-bayang tubuh Diko yang besar, bayangan hitam di dinding bata di belakang Arya tiba-tiba bergerak sendiri. Bayangan itu merayap, meliuk seperti ular, dan memanjang dengan cara yang tidak alami.
“Apakah kamu menginginkan kekuatan, Jiwa yang Terbuang?” sebuah suara tanpa wujud, dingin tapi menggetarkan sukma, bergema langsung di dalam kepala Arya.
Arya terbelalak. Dia melihat bayangannya sendiri bangkit dari tanah, membentuk sepasang mata merah yang menyala di tengah kegelapan malam.
“Berikan aku rasa sakitmu, dan aku akan memberikanmu dunia yang berlutut di bawah kakimu,” bisik suara itu lagi.
"Ambil... ambil semuanya. Hancurkan mereka," Bisik Arya lirih, Tanpa ragu.
Wusss!
Angin dingin berhembus kencang entah dari mana.
Detik itu juga, waktu seolah melambat. Udara di sekitar gang itu mendadak menjadi pekat. Bayangan hitam yang semula bersembunyi di bawah kaki Arya meledak keluar, menyelimuti seluruh tubuhnya seperti jubah malam yang hidup.
Diko yang baru saja akan memukul, tiba-tiba merasa lengannya tertahan di udara. Bukan oleh tangan Arya, melainkan oleh sulur-sulur hitam legam yang bangkit dari tanah, mencengkram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang luar biasa.
"A...Apa apaan ini?" teriak Diko panik.
Diko mencoba menarik tangannya, tapi sulur bayangan itu justru semakin melilitnya erat, dinginnya menembus kulit hingga ke tulang.
Sandi, yang melihat kejadian aneh itu, mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi.
"Diko! Ada apa dengan bayangan itu? Arya... apa yang kamu lakukan?" Tanya sandi dengan ketakutan.
Arya perlahan bangkit berdiri. Tubuhnya yang semula membungkuk kini tegak lurus. Luka-luka di wajahnya menutup dalam hitungan detik, meninggalkan kulit yang bersih tanpa cela.
Aura yang memancar dari tubuhnya berubah drastis, tidak ada lagi Arya yang rapuh dan ketakutan. Yang ada hanyalah sosok mistis yang dikelilingi oleh kabut kegelapan yang pekat.
Matanya yang semula layu kini bersinar dengan kilatan hitam yang tajam dan menghanyutkan.
"Kalian bilang aku tidak berguna?" Suara Arya terdengar ganda, berlapis dengan gaung kegelapan yang berwibawa.
Arya melangkah maju dengan tenang. Setiap langkahnya membuat bayangan di sekitarnya bergetar tunduk. Reno, yang mendengar teriakan anak buahnya, berbalik dan mematung. Rokok di jarinya terjatuh ke dalam genangan air.
"Kam... Kamu... monster apa kamu?" Ucap Reno dengan wajah pucat.
Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggerakkan satu jarinya. Sulur bayangan yang mencengkeram Diko langsung menghempaskannya ke dinding hingga pingsan.
Sementara Sandi langsung berlutut, gemetar hebat karena tekanan aura Arya yang begitu menindas, membuatnya bahkan kesulitan untuk bernapas.
Arya berjalan mendekati Reno yang kini melangkah mundur hingga punggungnya membentur tiang listrik.
Ketakutan yang terpancar dari mata Reno, mata yang beberapa menit lalu memancarkan keangkuhan.
"Mulai hari ini, kamu yang akan mengerjakan semua tugasku. Dan jika aku melihat wajahmu lagi tanpa izinku... bayanganmu sendiri yang akan mencekik lehermu. Mengerti?" Arya berbisik tepat di depan wajah Reno, suaranya begitu rendah tapi sarat akan ancaman yang mutlak.
Reno hanya bisa mengangguk cepat dengan tubuh yang gemetar layaknya selembar daun di tengah badai. Air Kencing mengalir di celana mahalnya.
Arya tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang penuh kepuasan misterius. Dia membalikkan badan, berjalan meninggalkan gang tersebut.
Di bawah lampu jalan yang temaram, bayangannya tampak melebar, membentuk sayap-sayap kegelapan yang agung. Dia bukan lagi Arya sang pecundang. Dia adalah Sang Bayangan.
Arya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Rasanya seperti mimpi bagi Arya.
“Apa.. Apa itu tadi?” bisik Arya pada dirinya sendiri.
Tangannya gemetar, wajahnya pucat seolah masih tidak percaya dengan yang terjadi hari ini.
“Aku? Aku bisa mengalahkan mereka?” Tanya Arya pada dirinya sendiri.
Setelah tiba dirumahnya Arya melihat ibunya yang sudah tidur pulas. Dia tidak membangunkan ibunya dan hanya Menatap Wajah ibunya.
Arya merasa jadi anak yang gagal. Yang tidak bisa membawa ibunya untuk berobat karena keadaan ekonominya.
“Maafkan Aku bu…” Bisik Arya sambil menatap dalam wajah ibunya.
Mendengar bisikan itu Bu Rahma terbangun.
“Arya kamu sudah pulang nak? Biar Ibu siapkan makan untukmu.” Sapa Bu Rahma pada Anaknya sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Sudah bu, Ibu lanjut tidur saja. Lagian Arya sudah makan diluar tadi.” Jawab Arya lembut sambil tersenyum pada ibunya.
Bu Rahma kembali melanjutkan tidurnya. Sementara Arya masih terbayang kejadian tadi dengan Reno dan teman-temannya. Rasanya seperti terlahir kembali dalam versi yang berbeda.
Daftar bab
131 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
131 bab








