
Pensil itu Mengubah Hidupku
dira.aza07|Bersambung
- Jumlah kata
- 110.8K
- Popular
- 744
- Subscribe
- 186
- Jumlah kata
- 110.8K
- Popular
- 744
- Subscribe
- 186

dira.aza07|Bersambung
Emran, seorang pemuda desa yang gemar melukis, hidup di tengah hinaan dan kemiskinan. Karya-karyanya dianggap tidak berharga, bahkan dirinya dicap sebagai pengangguran yang tak memiliki masa depan. Demi mengubah nasib, Emran memutuskan pergi ke kota. Di perjalanan, ia menemukan sebuah pensil berbentuk lebih panjang daripada umumnya. Ia tak pernah menyangka benda sederhana itu memiliki kekuatan magis: mampu mewujudkan apa pun yang ia gambar menjadi nyata. °Dengan kekuatan tersebut, kehidupan Emran berbalik arah. Ia memperoleh kekayaan, pengakuan, dan dunia yang selama ini hanya menjadi impiannya. Namun, semakin sering menggunakan pensil itu, Emran mulai mempertanyakan dirinya sendiri—apakah semua keberhasilan ini adalah hasil kerja kerasnya, atau sekadar ilusi dari keajaiban? °Sialnya, kekuatan besar itu mulai mengundang bahaya. Orang-orang tamak mulai mengincar pensil tersebut, dan kini, keselamatan keluarga serta kekasihnya menjadi taruhan. ° Di tengah ancaman yang kian mematikan, Emran harus memilih: terus bergantung pada keajaiban yang bisa merenggut segalanya, atau melepaskan kekuatan itu dan kembali percaya pada kemampuan jemarinya sendiri?
Aku kira pensil itu cuma benda biasa.
Ternyata, pensil itu mengubah hidupku.
Dengan cara tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Dan semuanya, dimulai dari hari itu.
***
Pada suatu hari.
Di sebuah desa.
"Emran! Bangun!"
Tarik.
"Aw! Bu sakit!"
Emran tersentak saat selimutnya ditarik paksa. Tangannya refleks menahan, tapi kalah cepat.
"Bangun! Jangan tidur terus!" suara Eliana meninggi.
Emran mengerang, menutup wajahnya dengan lengan.
"Masih ngantuk, Bu."
"Kamu ini!" Eliana tidak sabar. "Setiap hari kerjaannya cuma tidur! Kamu pikir hidup itu buat leha-leha?"
Emran diam. Rahangnya mengeras.
Ah, lagi.
Teguran itu lagi.
Harus begini terus ya?
Ia diam sejenak.
"Tahu nggak? Kamu itu sudah jadi bahan omongan satu desa!" lanjut Eliana.
Emran tidak menimpali. Hening.
"Emran!" bentaknya lagi.
"Apa sih, Bu," balas Emran, mulai kesal.
Tiba-tiba, telinganya dijewer!
"Aw! Sakit, Bu!"
Eliana menarik telinganya tanpa ampun, menyeretnya keluar kamar.
"Bangun! Jangan bikin malu keluarga terus!"
Emran mengeluh kesakitan.
"Sakit. Lepas, Bu!"
Begitu sampai di ruang depan, Eliana akhirnya melepaskan tangannya.
Sementara Emran, langsung memegangi telinganya yang panas.
"Sakit, Bu."
"Emran," suara Eliana kali ini lebih rendah, tapi justru terasa lebih menekan. "Bisa nggak sih nggak malas-malasan begini?"
Kalimat itu menancap langsung ke dadanya. Emran menatap lantai. Dadanya terasa sesak. Perlahan matanya melirik Ibunya tajam.
"Malas-malasan gimana sih, Bu?"
"Kerja!" lanjut Eliana tajam. "Cari kerja!"
Suasana mendadak hening. Dari arah belakang, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut?" tanya Ridwan, ayah Emran.
"Ini anakmu," keluh Eliana dengan bibir berkerucut. "Kerjanya tidur, nggak ada mikir untuk cari kerja."
Ridwan menatap Emran lama. Diam. Tanpa emosi. Tapi justru membuat Emran gelisah.
"Maaf, Yah," ucap Emran menunduk. "Ayah tahu cita-cita Emran, bukan?"
Mulut Ridwan sempat terbuka, namun Eliana menyela.
"Alah, alasan saja! Mau sampai kapan?" keluh Eliana. "Ngabisin uang."
Ridwan melirik ke arah Eliana, lalu menggeleng pelan.
"Emran," ucap Ridwan. "Kamu sudah besar. Di sini kamu tidak bisa menjual karyamu—"
"Nah iya! Ke kota sana. Di sana kamu bisa sepuasnya jual karya kamu itu," sela Eliana.
"Ibu, cukup!" tegur Ridwan.
Seketika Eliana terdiam, meski wajahnya terlihat kesal. Dan itu cukup membuat Emran menahan tawanya.
"Ayah tidak melarang kamu membuat karya, karena itu cita-citamu," ucap Ridwan sambil menghela napas. "Tapi di kampung kita, karya itu sampai kapan pun tidak akan laku."
Mendengar kata-kata itu, Emran menghela napasnya kasar, tatapannya tidak lepas dari ayahnya, air matanya mulai menggenang di pelipisnya.
"Jadi, Ayah ikut mengusirku?" tanya Emran.
"Bukan begitu. Tapi cobalah untuk realistis, carilah kerja seperti umumnya," ucap Ridwan pelan.
Realistis.
Kata itu seperti menamparnya.
"Kamu laki-laki. Kelak kamu akan menjadi kepala keluarga seperti Ayah."
"Emran belum memikirkan hal itu, Yah," keluh Emran.
Emran menunduk.
Teguran itu lagi, ga ada habisnya.
Ia menghela napas panjang.
Mereka selalu seperti ini, menuntutku banyak hal, tanpa sedikit pun mendukungku, apa Mereka tahu hatiku sakit, hatiku lelah. Mereka selalu berpikir aku ngga usaha? Apa lukisan ini tidak menjadi bukti bahwa aku sedang berusaha? Belum lagi… omongan mereka semakin buat aku muak.
Semenjak lulus sekolah, yang lain bekerja, sedangkan aku melukis, tuntutan ini terus keluar seperti kaset butut yang tak pernah berhenti. Yang paling enak anak perempuan, Masa iya aku harus jadi cewek.
"Emran, Ayah tidak menyuruh menikah, tapi kamu laki-laki," ucap Ridwan kini lebih tegas. "Pikirkan!"
Setelah itu, Ridwan berpamitan kepada Eliana untuk bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Omongan Ayahnya membuat Emran tersentak kaget, menyadarkannya dari segala pikirannya.
Sementara Emran menatap ibunya yang tengah memperhatikannya.
"Apalagi, Bu?" tanyanya kesal.
Tangan Eliana terangkat, berhenti tepat di depan wajah Emran.
"Kamu ini?" ucapnya semakin geram.
Emran berdiri mematung. Rahangnya mengeras. Ucapannya tercekat di tenggorokan, menahannya agar tidak terlontar begitu saja.
Ia tak menyangka ibunya akan main kasar, hanya karena ia berjuang untuk cita-citanya. Emran tidak tahan lagi. Ia bergegas ke kamar, mengambil peralatan melukisnya, tak lupa handphone yang selalu ini menemaninya. Lalu kembali berjalan melewati ibunya tanpa pamit.
"Makan sana alat-alat itu!" teriak Eliana.
Emran tidak menjawab. Dengan perasaan dongkol, tangannya mengepal erat peralatannya. Ia berjalan menuju tempatnya mencari inspirasi. Sebuah bangku kecil di bawah pohon rindang, tepat di depan rumahnya.
Setibanya di sana, Emran duduk. Ia membuka kertas besar yang dibelinya secara online dari tabungannya selama ini. Kemudian, dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai melampiaskan semuanya ke atas kertas.
Garis demi garis tercipta cepat. Kasar. Penuh tekanan. Waktu terasa berlalu begitu saja. Sampai akhirnya, tangannya berhenti. Matanya menatap gambar itu cukup lama. Lalu, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Nah… ini baru," gumamnya pelan dengan tersenyum bangga. Untuk sesaat, dadanya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Apaan tuh?"
Suara itu datang tiba-tiba. Belum sempat Emran bereaksi, kertas itu sudah berpindah tangan.
"Bagus menurutmu?" pria itu menyeringai tipis.
"Ini?"
Krekk
Tanpa ragu, gambar itu diremas.
Lalu dijatuhkan.
Dan diinjak.
Sekali. Dua kali.
Sampai kertas itu kusut, dan hancur.
Emran berdiri. Tangannya mengepal erat. Kakinya maju satu langkah. Hampir saja kepalan itu melayang.
Namun.
Bisikan lain mulai terdengar.
"Anak Eli itu memang pemalas ya."
Emran menunduk telinganya mendengar dengan jelas, kepalannya masih menahan di depan pria tadi.
Omongan tadi ditimpali temannya, pelan tapi jelas.
"Benar, sudah gede, kerjanya cuma menghayal nggak jelas. Kayak orang gila saja."
Emran memejamkan matanya. Menahan darahnya yang mulai mendidih. Napasnya tersengal. Semua suara itu seperti menumpuk di kepalanya.
Satu langkah lagi, dan ia tak yakin bisa menahan semuanya. Tapi, ia menahannya. Perlahan, matanya terbuka kembali. Tatapannya dingin. Tanpa berkata apa-apa, Emran meraih barang-barangnya. Lalu berbalik. Meninggalkan mereka.
Langkahnya penuh emosi menuju rumahnya. Pintu rumah dibuka dengan kasar, menimbulkan bunyi nyaring.
Eliana berjalan tergesa ke arah pintu.
"Emran! Kamu benar-benar ya jadi anak! Sudah malas, pintu juga mau kamu rusak, ha?"
Emran menatap tajam.
"Cukup, Bu. Lihat saja nanti."
"Banyak menghalu kamu!" keluh Eliana sambil pergi.
Emran masuk ke kamar. Menyiapkan semua barang yang hendak dibawa. Setelah siap, ia membawanya. Lalu tanpa pamit melangkah keluar rumah.
"Mau ke mana kamu, Emran?" tanya Ridwan yang baru masuk rumah.
"Biarkan dia pergi, Yah!" ucap Eliana.
Emran tidak memedulikan mereka. Ia terus berjalan menjauh dari rumah. Ridwan sempat memanggilnya berkali-kali, namun tertahan oleh Eliana.
"Lepas, Bu! Ayah mau mengejar Emran."
"Biarkan anak itu pergi. Biar mikir," timpal Eliana.
Keributan itu membuat tetangga berkerumun di halaman.
"Mikir juga ini anak," bisik salah satu dari mereka.
Emran melangkah keras, seolah melampiaskan emosinya pada tanah.
Lihat saja, suatu hari aku akan berhasil. Ia tidak memandang siapa pun, terus melangkah semakin jauh, suara-suara itu pun akhirnya menghilang. Sampai akhirnya ia tiba di jalan raya yang ramai. Ia berhenti dengan duduk di pinggir jalan, tangannya membuka kembali sisa karya lainnya yang sempat ia bawa dari kamar.
"Ya, nggak terlalu buruk, tapi ke mana aku harus menjualnya?" gumam Emran.
Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Apa ada keajaiban buat orang kayak aku ini?, pikirnya.
Ia menarik napas pelan.
Tidak mungkin, hidupku berhenti sampai di sini.
Dan saat itu, ia mungkin belum sadar, jika hidupnya akan berubah untuk selamanya.
Pikirannya melayang tanpa arah.
Tiba-tiba, klakson mobil berbunyi nyaring.
Emran tersentak, matanya mengarah ke mobil itu, jantungnya berdetak kencang. Kemudian ia berdiri dan melangkah mendekat.
Tangannya terangkat.
Kaca mobil terbuka.
Matanya membesar, nyaris tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Bersambung…
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.