
Denda Di Balik Ranjang
Rez zha29|Bersambung
- Jumlah kata
- 5.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
- Jumlah kata
- 5.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5

Rez zha29|Bersambung
"Kamu mau main-main dengan materi, Alena? Mari kita lihat seberapa kuat kamu bertahan dengan permainan ini?" gumam Alex, menarik tipis sudut bibirnya. Alex dan Alena adalah dua orang asing yang terikat takdir kuno. Menjalani perjodohan yang dirancang oleh kakek mereka, Budiman Wibisono dan Rahmat Hidayat Winata. Karena kedua keluarga sama-sama hanya mempunyai anak laki-laki, maka takdir perjodohan itu diwariskan kepada cucu-cucu mereka, Alex dan Alena. Sebagai anak semata wayang yang berbakti, Alex menerima keputusan itu demi kebahagiaan orang tuanya. Berbeda dengan Alex, Alena justu menentang perjohonan mereka, karena dia sudah mempunyai kekasih, Donny. Sayangnya, ancaman dari orang tua membuat Alena mau tidak mau harus menerima perjodohan dengan terpaksa. Namun, Alena enggan menyerah pada nasib. Strategi licik pun ia susun agar ia bisa terlepas dari belenggu pernikahan yang tak diinginkannya. Alena membuat surat perjanjian dan memaksa Alex untuk menandatanganinya. Salah satu poin yang terdapat dalam perjanjian itu adalah Alex harus membayar denda sebanyak 20x lipat gaji yang diterima Alex sebagai CEO jika Alex melanggar pada poin yang berisi, "Tidak ada kontak fisik selama menjalani rumah tangga!" Alena sengaja bersikap matrealistis dan menyebalkan, berharap Alex menyerah dan segera menceraikannya agar dia bisa kembali pada kekasihnya. Apakah Alex dapat bertahan menghadapi trik licik Alena? Atau dia akhirnya memilih menyerah dan melepaskan pernikahannya dengan Alena?
Rumah kediaman Andi Wijaya Wibisono mulai tampak sepi, setelah beberapa tamu undangan mulai meninggalkan rumah besar Manager Keuangan salah satu kantor instansi pemerintah itu.
Pekarangan dan teras rumah yang tadi sempat ramai, kini hanya menyisakan beberapa bangku kosong, dekorasi cantik dan anggun berwarna soft, juga hiasan standing flower dan anggota keluarga inti kedua belah pihak yang masih tersisa menikmati obrolan ringan.
Tadi pagi, sekitar pukul 08.15 WIB, baru saja digelar acara akad nikah Alena, putri sulung Andi Wijaya Wibisono, dengan anak dari kerabat dekat mereka, Alex Candra Winata, putra dari Bagaskara Winata, Direktur utama salah satu bank swasta ternama.
Meskipun berjalan dengan khidmat, acara akad nikah digelar secara meriah. Kedua keluarga mempelai sama-sama orang terpandang, tak heran banyak tamu undangan yang hadir untuk menyaksikan momen bahagia kedua keluarga.
Semua orang bersukacita. Senyum bahagia pun terpancar di wajah keluarga, kerabat, juga tamu undangan lainnya atas pernikahan anak dari kedua keluarga. Hanya satu jiwa yang merasa tak senang dan terasa terasingkan dalam moment yang semestinya ia sambut dengan gembira. Dia adalah tokoh utama dalam acara sakral itu, Alena.
Pernikahan dengan Alex bukanlah pernikahan yang ia idamkan. Sejatinya, Donny-lah yang ia harapkan bersanding dengannya di pelaminan.
Jika bukan karena perjanjian sialan yang dibuat kakeknya dengan kakek Alex, mungkin saat ini ia masih bercanda ria dengan sang pujaan hati.
❤❤❤
Di dalam kamar pengantin yang diselimuti kelembutan kelambu dusty pink dan aroma harum yang menguar dari kelopak mawar yang bertaburan di atas ranjang, Alex, sang mempelai pria, duduk di tepi tempat tidur, menatap selembar surat di tangannya yang disodorkan Alena.
"Baca dan tanda tangani!" Kalimat dingin itu menjadi untaian kata pertama yang terucap dari bibir Alena saat mereka melangkah masuk ke kamar. Seakan merenggut seluruh romansa yang seharusnya tercipta di hari pertama pernikahan mereka.
Perjanjian Nikah Kontrak
Kalimat itu tercetak tebal, menggunakan huruf kapital dan berukuran besar yang menjadi judul utama surat itu.
Tatapan Alex kini berpindah pada Alena yang berdiri sekitar 10 kaki di depannya dengan tangan berlipat di dada. Garis keangkuhan terlihat jelas di wajah wanita cantik itu.
"Apa perlu saya tanda tangani ini? Bukankah saya sudah berjanji di depan penghulu, orang tuamu juga para saksi?" Alex mempertanyakan alasan wanita yang beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya, meminta ia menandatangani perjanjian kontrak pernikahan. Padahal mereka sudah sah menurut hukum dan agama. Semestinya tak perlu ada syarat lagi yang mesti ia patuhi.
"Dengar, ya! Aku nggak menginginkan pernikahan ini! Aku punya kekasih dan aku mencintainya! Impianku adalah menikah dengannya! Tapi, perjanjian konyol kakek kita yang membuat kita terperangkap dengan pernikahan ini!" Rangkaian kata dari bibir tipis Alena meluncur tegas, jernih tanpa beban penyesalan. Mengabaikan ketersingungan yang mungkin menyeruak dalam hati Alex.
Hembusan nafas Alex sayup terdengar. Tak menduga akan di hadapkan pada kenyataan itu, hingga matanya kembali membaca kata demi kata yang tertuang di atas kertas yang ada dalam cengkramannya.
Alena menyebut Alex sebagai pihak pertama sementara Alena sebagai pihak kedua. Poin demi poin pun dibaca Alex dalam hati. Senyum tipis mulai terangkat dari sudut bibirnya, menganggap apa yang dilakukan Alena adalah hal konyol.
Poin pertama menyebut jika pernikahan hanya akan berjalan selama setahun, setelah itu mereka harus sepakat bercerai.
"Setahun?" Kembali pandangan Alex mengarah pada Alena.
"Ya! Kakek ingin kita menikah dan kita sudah melakukannya. Masalah nanti kita bercerai, dalam kesepakatan kakek, nggak disebutkan kalau kita harus bersama selamanya, kan?" Alena melangkah melampaui batas waras, menodai janji suci yang telah diikrarkan tanpa memedulikan riak dosa. Ego yang membumbung tinggi mengikis habis sisa-sisa rasa bersalah dan hanya meninggalkan hati sekeras batu.
Alex melanjutkan membaca poin kedua, yang menyebutkan, bahwa pihak pertama tidak berhak mengatur, ikut campur dan melarang apa yang ingin dilakukan pihak kedua, begitu pula sebaliknya. Poin berikutnya adalah soal kontak fisik. Alena juga melarang Alex menyentuhnya, dalam arti tidak akan ada hubungan intim selama mereka menjadi pasangan suami istri.
Siku tangannya bertumpu pada salah satu paha, sementara jari kokoh Alex mengusap bibirnya. Seakan menyembunyikan lengkungan tipis yang seketika terbit di sudut bibirnya.
Tak ada kontak fisik? Banyak yang mengakui dirinya mempunyai penampilan fisik yang rupawan. Berwajah tampan, berperawakan tinggi dan tegap dengan dada bidang, ditambah mempunyai kemapanan dalam financial. Siapa yang tak tergoda ingin menjadi pendampingnya? Namun, wanita yang secara hukum dan agama telah sah menjadi istrinya itu justru menolaknya.
Sejauh ini, dari isi surat perjanjian yang dibacanya, Alex masih bisa bersikap tenang. Hingga ia membaca poin keempat, netra bak elang itu seketika membeliak lebar.
"Jika pihak pertama melanggar poin ketiga, maka pihak pertama wajib membayar dengan senilai 20x lipat gaji pihak pertama kepada pihak kedua."
Sebagai CEO di perusahaannya, Alex menerima salary sekitar seratus lima puluh juta perbulan. Jika dikalikan dua puluh, berarti dia harus membayar sebayak lebih dari tiga miliar untuk mencumbu istrinya itu.
Sorot mata setajam elang itu kembali terkunci pada sosok Alena. Di seberangnya, Alena tak gentar membalas tatapan mata Alex, hingga pandangan sepasang suami istri itu bertautan dalam keheningan beberapa saat.
"Saya harus membayar denda?" Nada tak percaya dihembuskan Alex sebagai bentuk protes atas syarat yang diajukan Alena kepadanya. "Apa mahar yang saya beri tidak cukup untukmu?" Alex memberi mahal satu set perhiasan bertahtakan berlian senilai hampir mencapai dua miliar, juga uang tunai senilai satu miliar dan sebidang tanah beserta bangunan berbentuk rumah senilai hampir empat miliar rupiah.
Pernikahan dirinya dan Alena adalah rencana yang diwasiatkan almarhum sang kakek, hingga ia dan keluarga menyiapkan maskawin yang fantastis untuk sang mempelai wanita.
"Mahar itu nggak termasuk dalam hitungan!" Kalimat tegas Alena terdengar, menyatakan sebesar apapun mahar yang diberikan Alex padanya, tak mempengaruhi nilai denda yang akan ia jatuhkan jika Alex melanggar kesepakatan yang dibuat sepihak olehnya.
Kelopak mata Alex merapat, hembusan nafasnya terdengar hampir tak bersuara. Wanita di hadapannya itu sedang menguji kesabarannya.
"Kamu mau main-main dengan uang, Alena? Mari kita lihat seberapa kuat kamu bertahan dengan permainan ini?" Sekejap kemudian seringai tipis terbentuk di sudut bibir Alex. Tangannya meraih pena yang sempat ia letakan di tepi tempat tidur dan segera menandatangi kertas yang diberi materai sebelum akhirnya ia membubuhkan tanda tangannya.
Senyum puas langsung mengembang di bibir Alena, menandakan kepuasan seperti baru saja memenangkan peperangan. Pria mana yang akan menghaburkan uang miliaran hanya untuk sekali bercumbu dengan istrinya? Dengan kepercayan diri yang membumbung tinggi di dadanya, ia yakin, Alex akan segera menyerah dan mengajukan perceraian padanya dan ia akan terbang bagaikan merpati yang terlepas dari sangkarnya.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







