Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gema Sunyi

Gema Sunyi

Jexael Mahesa Edgard | Bersambung
Jumlah kata
37.0K
Popular
130
Subscribe
26
Novel / Gema Sunyi
Gema Sunyi

Gema Sunyi

Jexael Mahesa Edgard| Bersambung
Jumlah Kata
37.0K
Popular
130
Subscribe
26
Sinopsis
HorrorHorrorSpiritualDunia GaibPembunuhan
Jexael dan Anes, sepasang suami istri muda yang merasa mendapatkan durian runtuh saat berhasil membeli sebuah rumah peninggalan era kolonial di pinggiran kota dengan harga yang sangat murah. Rumah itu besar, asri, namun memiliki satu arsitektur aneh; sebuah lorong panjang nan gelap di bagian belakang menuju ke sebuah gudang tua terkunci. Awalnya, kehidupan mereka bersama anak lelaki mereka Aksel (1 tahun) berjalan normal. Namun, keanehan mulai terjadi setiap kali malam tiba. Suara langkah kaki, denting garpu, bahkan bisikan akan menggema jauh lebih keras dari biasanya dan terdengar berulang-ulang di lorong belakang. Teror memuncak ketika gema tersebut mulai "menjawab" dengan suara yang bukan milik mereka. Jexael dan Anes segera menyadari sebuah aturan tak tertulis yang fatal, semakin keras mereka bersuara, semakin dekat "sesuatu" di ujung lorong itu berjalan menghampiri mereka. Di dalam rumah itu, keheningan bukan lagi emas, melainkan satu-satunya cara untuk tetap hidup.
Bab 1

Sebuah keluarga kecil yang berasal dari Bali, memilih untuk pindah ke kota kembang karena sang kepala keluarga yang ingin mencari nuansa baru. Sebelum mereka pindah, Jexael Edgard atau yang sering dikenal sebagai Xael bersama dengan istrinya Annestiadine Edgard mencari rumah yang dapat mereka huni dalam jangka panjang.

Di sepanjang pencariannya, Jexael menemukan sebuah rumah dengan tulisan "Dijual" dan dirinya segera menghubungi pemilik rumah untuk membicarakan transaksi jual beli rumah. Rumah tersebut cukup besar dan terlihat asri, juga terletak dipinggir kota yang membuatnya mudah untuk pergi kemanapun.

Setelah berdiskusi dengan pemilik sebelumnya, Xael berhasil membeli rumah tersebut dengan harga yang murah. Anes sang istri merasa senang karena mereka dapat rumah yang besar dan asri dengan harga murah. Rumah tersebut adalah peninggalan kolonial, setiap struktur rumahnya masih kental dengan jaman itu.

"Terima kasih pak, ini sertifikat rumahnya." Ujar pemilik rumah memberikan sertifikat rumah.

"Terima kasih kembali Pak, sertifikatnya saya terima ya." Xael menerima sertifikat dari tangan pemilik sebelum nya dan segera menjabat tangan tanda sudah saling setuju.

"Setelah saya selesai membersihkan rumah ini, Bapak sekeluarga bisa segera menempati rumahnya dan serah terima kunci."

Xael dan Anes tidak perlu terlalu sibuk dalam memindahkan barang, karena rumah yang mereka beli sudah termasuk dengan barang-barang didalamnya. Setelah berhasil mendapatkan rumah, mereka kembali ke Bali untuk menjemput sang anak dan membawa pakaian milik mereka.

Kini Jexael bersama dengan Istri juga Anak nya mulai menempati rumah barunya. Pakaian milik mereka telah lebih dulu berada disana, karena Xael yang terus pulang pergi untuk memantau proses pembersihan rumah dan memindahkan seluruh pakaian miliknya dan keluarga kecilnya.

Anes sembari membawa Akselion Edgard sang anak didalam gendongan berjalan mengikuti langkah suami, mereka berkeliling rumah untuk mengetahui tata letak ruangan-ruangan di rumah baru mereka. Suasana yang sunyi dan dingin membuat Anes merasa kaku, dengan tatapan anaknya mengarah ke sebuah lorong yang gelap. Anes pun mengikuti arah pandangan sang anak dan seketika merasakan perasaan tidak nyaman.

"Itu lorong menuju kemana? Aku merasa kurang nyaman." Dengan suara lirih, tangan yang menarik pelan baju milik suaminya Anes melontarkan sebuah pertanyaan.

"Hm? Oh katanya sih itu menuju sebuah gudang tetapi terkunci dan kita tidak boleh kesana." Jexael menjawab pertanyaan sang istri sembari menatap lorong yang berada tepat di samping tempat dirinya berdiri.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kamar, dimana tempat mereka melepaskan penat dan tidur untuk pertama kali di rumah baru. Sesampainya di kamar Anes meletakan anaknya Aksel diatas kasur, membiarkan sang anak meregangkan tubuhnya diatas kasur setelah perjalanan panjang.

"Apa kamu haus? Jika iya, aku ambilkan air ya?" Ujar Anes menawarkan minum kepada sang Suami.

"Iya, aku disini menjaga Aksel ya. Kamu sudah tahu letak dapurnya bukan?" Jexael menatap sang Istri sembari tangannya mengusap kepala Anaknya.

"Tahu.. Tidak jauh dari lorong-" suara Anes tercekat saat menyebut kata lorong, mukanya terlihat pucat dan pasi.

"Atau mau aku saja yang ambil?" Jexael menawarkan diri ketika melihat raut wajah sang Istri berubah.

"Tidak, aku saja." Final Anes yang segera pergi menuju dapur.

Langkahnya membawa dirinya ke arah dapur, tatapannya lurus kedepan tanpa menoleh kemanapun. Sesampainya di dapur, dirinya segera mengambil sebuah gelas untuk mengisi air putih untuk Xael suami kesayangannya.

Mereka sampai di rumah baru memang sudah malam, pukul 8 malam membuat mereka semua merasa lelah dan haus. Itu sebabnya disinilah Anes berada, di dapur mengambil minum untuk Suami. Ia berniat ingin membuatkan minuman manis seperti teh, namun Ia lupa jika belum ada gula dan apapun bahan-bahan disini.

Tidak sengaja tangannya menjatuhkan sebuah cangkir yang telah Ia isi dengan air, membuat sebuah suara pecahan kaca yang menggema. Suara gema tersebut terdengar berkali-kali hingga lorong belakang rumah, alih-alih mereda; gema suara pecahan itu terdengar kembali dari ujung lorong beberapa detik kemudian. Disusul sebuah suara langkah kaki berat yang mendekat, dengan berani Anes mencoba untuk memeriksa lorong belakang rumah. Namun saat diperiksa, lorong itu kosong tidak ada siapapun disana.

"Sayang,"

"Aish- ih terkejut aku!" Anes terkejut ketika dirinya mendengar suara lelaki berat dibelakang nya yang ternyata adalah Xael sang suami.

"Kamu kenapa? Lalu di dapur kenapa ada pecahan cangkir?"

"Ayo ke kamar, kita bicarakan di kamar. Tetapi aku bereskan pecahan cangkirnya terlebih dahulu." Anes berjalan kembali menuju dapur untuk membersihkan pecahan kaca meninggalkan Xael yang menatap bingung dirinya sesekali menatap ke arah lorong.

Setelah selesai membereskan pecahan cangkir, Anes bersama dengan Xael kembali menuju kamar dimana anaknya Aksel tengah tertidur pulas. Sesampainya di kamar, Anes duduk di pinggir kasur dengan wajah pucat membuat Xael mengusap punggungnya pelan membantu menetralkan nafas sang Istri.

"Sudah tenang? Minum dulu." Xael memberikan air kepada sang Istri yang tadi Ia ambil ketika Anes membersihkan pecahan.

"Sudah, terima kasih." Anes menerima air dari Suaminya dan meminumnya perlahan.

"Oke, apa yang sebenarnya terjadi?"

Anes menceritakan detail cerita yang Ia alami barusan, tubuhnya bergetar menandakan rasa takut yang besar. Xael memeluk tubuh sang Istri mencoba untuk menenangkan dan meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.

"Sekarang sudah malam, lebih baik kita istrahat dulu. Bisa jadi semua itu karena kamu terlalu lelah sehingga berhalusinasi, besok pagi kita bisa bertanya dengan pemilik sebelumnya atau justru ke tetangga sayang."

Pagi telah tiba, Xael bangun terlebih dahulu atau lebih tepatnya dirinya berjaga semalaman. Ia terus terpikirkan oleh cerita sang Istri, kepalanya menoleh ke arah sang Istri yang masih tertidur dengan Aksel yang berada di sampingnya. Xael beranjak dari kasur untuk pergi keluar rumah.

Baru dia membuka pintu rumah, Ia disambut oleh pemandangan warga sekitar yang sibuk dengan kegiatannya. Ada Ibu-ibu yang tengah pergi menuju tempat belanja, ada Bapak-bapak yang siap berangkat kerja, juga Anak-anak yang siap untuk bersekolah.

"Selamat pagi,"

"Selamat pagi,"

Xael tersenyum ketika para tetangganya menyapa membuat dirinya memberanikan diri untuk sekedar berbasa-basi.

"Orang baru ya?" Seorang wanita paruh baya bertanya kepada Xael.

"Iya Bu, saya baru pindah semalam,"

"Oh iya, semoga betah ya Nak disini,"

"Terima kasih bu,"

Tidak lama Anes bersama dengan Aksel keluar dari rumah dan mendekati Xael yang sedang berdiri di depan pagar rumah, Xael pun segera memperkenalkan diri dan juga keluarganya.

"Oh iya, perkenalkan saya Jexael Edgard. Ibu bisa memanggil saya Xael, ini istri saya Annestiadine Edgard juga anak kecil ini adalah anak saya Akselion Edgard." Xael merangkul pinggang Istrinya sembari mencubit pelan pipi sang anak.

"Oh salam kenal ya Nak, nama ibu Alina,"

"Oh iya Ibu, maaf apakah Ibu sudah cukup lama tinggal disini?" Anes menginstrupsi, rasa penasaran nya sudah tidak terbendung.

"Oh iya dari Ibu masih muda, itu rumah Ibu disitu." Ibu Alina menunjuk sebuah rumah yang hanya berjarak lima langkah dari rumah milik mereka.

"Ibu saya boleh bertanya kepada Ibu?"

"Oh boleh nak Xael, tentu. Tetapi biar Suami saya yang cerita ya, sekarang suami saya sedang mengantarkan Ibunya ke rumah sakit,"

"Oh seperti itu, baik tidak apa Bu. Jika seperti itu kami ingin bersih-bersih dulu ya."

Xael bersama Anes dan juga Aksel kembali masuk kedalam rumah, mereka segera bergegas untuk mandi. Saat Xael hendak mandi, sebuah suara ketukan terdengar. Anes yang sudah selesai mandi pun segera bergegas membuka pintu rumah.

"Selamat pagi, ini tetangga baru ya?" Seorang Pria paruh baya dengan kaos oblong juga celana pendek tersenyum ke arah Anes.

"Benar.. Maaf, mau bertemu dengan siapa Pak?"

"Oh saya Dendi, suaminya bu Alina. Mau bertemu sama suaminya siapa namanya? Sael?"

"Haha Xael pak, oh suami saya sedang mandi ayo silahkan masuk dulu pak." Ujar Anes yang mempersilahkan pak Dendi tetangga barunya untuk masuk.

"Silahkan pak, duduk. Mau minum apa?"

"Tidak perlu repot-repot, saya mau mengajak suaminya untuk ikut perkumpulan."

Tidak lama Xael menghampiri Anes menuju ruang tamu, setelah dirinya mendengar suara orang mengobrol. Dirinya tersenyum lembut menyapa tetangga barunya, Xael pun duduk di samping pak Dendi yang kini tengah menatap nya.

"Tadi kata istri saya, kamu mau bertanya ya? Saya tebak mau bertanya tentang rumah ini," Xael terkejut mendengar ucapan pak Dendi.

"Eh- haha iya pak saya ingin bertanya tentang rumah ini. Tetapi, seharusnya saya yang menghampiri rumah bapak." Xael tertawa kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

"Nanti sore pukul 3, kamu ke rumah saya ya untuk mendapatkan jawabannya. Ajak istri dan anak kamu, agar bermain dengan istri saya, lalu kamu berkumpul dengan para tetangga yang lain. Biasanya memang rumah saya yang menjadi tempat kumpul,"

"Oh seperti itu, baik pak nanti saya sekeluarga kesana." Xael beranjak mengantarkan pak Dendi hingga depan gerbang.

Setelah kedatangan pak Dendi, Xael merasa ada yang tidak beres dengan rumah ini. Namun dirinya masih berusaha baik-baik saja, agar keluarga kecilnya tidak merasa takut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca