Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Takdir Pendekar Sesat

Takdir Pendekar Sesat

abdulrizqi60 | Bersambung
Jumlah kata
130.0K
Popular
687
Subscribe
76
Novel / Takdir Pendekar Sesat
Takdir Pendekar Sesat

Takdir Pendekar Sesat

abdulrizqi60| Bersambung
Jumlah Kata
130.0K
Popular
687
Subscribe
76
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPendekarSilatZero to Hero
Menurut ramalan sang Pertapa Sakti, suatu hari akan muncul seorang pendekar aliran sesat yang kelak mampu meruntuhkan kerajaan-kerajaan besar dan mengguncang seluruh tatanan dunia persilatan. Ia hanyalah pemuda lemah yang kerap dicemooh dan dijuluki “anjing kurus”, hingga takdir mengubahnya menjadi sosok yang kejam, bengis, dan haus darah. Demi menyempurnakan jurus-jurus terlarang dalam kitab sesatnya, ia rela menumbalkan siapa saja—baik pendekar golongan putih maupun golongan hitam. Akankah ramalan kelam itu benar-benar menjadi kenyataan?
Tekad Adi Sembodo

Desa Danasaraba dikenal sebagai perkampungan yang terbungkus kedamaian abadi. Dikelilingi rimbunan pohon kelapa dan sawah hijau yang membentang luas, udaranya selalu sejuk beraroma tanah basah dan bunga melati.

Di sini, setiap warga hidup berdampingan dengan rukun, menjadikan tempat ini sebagai contoh laksana surga dunia yang sangat cocok untuk menapaki jalan kebaikan dan melaksanakan kewajiban dharma.

Di bawah kepemimpinan Ki Demang Wiranata, ketertiban dan kenyamanan terjaga sempurna.

Namun, di dalam ruang tamu rumah Ki Demang Wiranata, suasana damai itu seketika lenyap tergantikan oleh ketegangan yang mencekam. Hening terasa begitu berat, seolah udara pun menjadi kental dan sulit dihirup.

Ki Demang Wiranata duduk membeku di kursi kayu jati, keringat dingin membasahi seluruh dahi dan punggungnya, mengalir turun membasahi pakaiannya hingga terasa lembap. Jantungnya berdegup kencang, nyaris terasa ingin melompat keluar dari rongga dada.

Di hadapannya duduk seorang wanita yang memancarkan wibawa luar biasa. Wajahnya cantik berseri dengan kulit seputih pualam, namun tatapan matanya tajam menusuk hingga ke tulang sumsum.

Ia mengenakan kebaya berwarna jingga menyala yang ketat membentuk lekuk tubuhnya, dilengkapi selendang tipis yang tergantung anggun di bahunya.

Ia adalah Jingga Sari—salah satu pendekar aliran putih yang namanya disegani sekaligus ditakuti di seluruh penjuru dunia persilatan. Julukannya pun membuat bulu kuduk siapa saja meremang: Sang Pembakar Atma. (Atma/Jiwa)

Ki Demang Wiranata menggertakkan gigi perlahan, rahangnya mengeras menahan rasa tidak percaya yang meluap. Setelah mendengar penjelasan yang baru disampaikan Jingga Sari, ia merasa dunia seolah terbalik.

"Ti… tidak mungkin! Ramalan itu pasti keliru!" sergahnya, suaranya sedikit bergetar menahan emosi. "Tekad hanyalah pemuda lemah yang waktunya hanya dihabiskan untuk menghamburkan harta orang tuanya. Ia tak menguasai sehelai pun ilmu kanuragan, bahkan nyaris tak mampu mengangkat beban berat sekalipun. Bagaimana mungkin orang selemah itu bisa menjadi penyebab kehancuran dunia persilatan?!"

Jingga Sari menghela napas panjang, lalu menatap Ki Demang dengan pandangan yang penuh kesungguhan namun juga berat.

"Memang terdengar mustahil, Ki Demang. Namun aku hanyalah pelaksana tugas. Aku datang bukan atas keinginan sendiri, melainkan untuk mencegah bencana yang tertulis dalam ramalan itu. Dan ramalan ini tak mungkin salah—ia diucapkan langsung oleh guruku. Guruku telah bertapa lama, dalam tapanya ia melihat penglihatan masa depan."

Suasana kembali hening, hanya terdengar suara detak jantung yang saling bersahutan.

"Beliau meramalkan akan lahir seorang pemuda yang menguasai ilmu hitam terlarang yang kelak akan meluluhlantakkan tatanan persilatan dan menghancurkan kerajaan-kerajaan besar. Pemuda itu adalah buah kasih dari sepasang kekasih yang telah melakukan ikatan pesugihan terlarang: memuja Buto Ditya Guntur Segara, raksasa penjaga samudra Selatan."

Mata Ki Demang Wiranata seketika melotot lebar, nyaris terlepas dari tempatnya. Tubuhnya terasa seolah tersengat arus listrik.

"Pesugihan Buto Ditya Guntur Segara…? Maksud Nyai… kedua orang tua Tekad telah melakukan hal itu?!" serunya dengan suara meninggi, terkejut bukan kepalang. "Setahuku, jika ada yang bersekutu dengan makhluk gaib sekuat itu, maka hukumnya mustahil untuk dikaruniai keturunan. Itulah syarat mutlaknya!"

"Benar sekali, Ki Demang," jawab Jingga Sari mantap. "Karena itulah kami mendatangi tempat itu sendiri untuk bertanya. Buto itu mengakui sendiri: hanya Danur dan Sekar Kasura—suami istri yang tinggal di desa ini—yang berhasil melanggar hukum itu. Secara ajaib, mereka dikaruniai seorang anak bernama Tekad Adi Sembodo. Tidak ada keraguan lagi, dialah sosok yang diramalkan."

Jingga Sari menatap dalam netra Ki Demang Wiranata, suaranya terdengar tegas dan tak terbantahkan. "Kita tak punya pilihan lain. Ia harus disingkirkan sebelum kekuatan terlarang itu bangkit dan membawa malapetaka. Seperti pepatah lama: lebih baik mencegah sebelum api membesar dan membakar seluruh hutan."

Sementara itu, di sisi lain desa, suasana sangat berbeda namun tak kalah tegang. Di halaman sebuah rumah besar yang dibangun dari kayu jati pilihan, halamannya luas dan dihiasi hiasan warna-warni tanda perayaan, tercipta suasana yang bercampur antara kegembiraan, keangkuhan, dan hinaan.

Cuih!

Sebuah ludahan basah mendarat tepat di pipi kiri seorang pemuda yang sedang berlutut di tengah halaman. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam menahan amarah.

"Beraninya kau mengganggu pesta tunangan anakku, dasar pemuda brengsek!" makinya dengan suara menggelegar, memecah riuh rendah percakapan para tamu.

Semua mata langsung tertuju ke arah pemuda itu. Bisik-bisik sinis segera menyebar seperti api di tengah jerami kering.

"siapa pria kurus dan berwajah bodoh itu? Kenapa dia dianggap mengganggu?" bisik seorang tamu undangan.

"Diamlah, jangan bicara sembarangan. Orang tuanya adalah Danur dan Sekar Kasura, pemilik kebun dan sawah terluas di seluruh desa ini. Berurusan dengan mereka hanya akan mendatangkan masalah," bisik temannya memperingatkan.

"Tapi lihatlah bentuk tubuhnya! Kurus kering hanya tersisa tulang yang terbalut kulit. Jika mereka kaya raya, mengapa anaknya terlihat seolah tak pernah diberi makan yang layak?"

Di atas panggung megah yang didirikan di tengah halaman, sepasang muda-mudi duduk bersandar santai. Wajah mereka terukir senyum angkuh dan pandangan yang merendahkan. Itulah Cakra, pemuda gagah dan berwibawa, serta Rani, kembang desa cantik jelita yang kini menjadi tunangannya. Sedangkan pria yang baru saja meludah adalah Leksono, ayah kandung Rani.

Tekad Adi Sembodo mengusap ludah di wajahnya dengan punggung tangan, gerakannya lambat namun tegas. Matanya yang sayu menatap Leksono, suaranya terdengar parau namun mantap.

"Paman Leksono, untuk kali ini saja Aku ingin berbicara empat mata dengan Rani, tak lebih dari sepuluh menit."

Tanpa jawaban, Leksono langsung mencengkeram kerah baju Tekad dengan kasar, mengangkat tubuhnya sedikit hingga lututnya terangkat dari tanah.

"Anakku kini telah memilih Cakra! Ia bukan anak orang kaya yang hanya bisa menghamburkan harta orang tua. Cakra adalah pemuda sempurna, memiliki ilmu kanuragan yang cukup untuk melindungi masa depan Rani. Sedangkan kau? Apa yang bisa kau berikan selain nama orang tuamu?!"

Tiba-tiba seorang pria paruh baya lain mendekat sambil terkekeh sinis. Suaranya terdengar penuh ejekan.

"Kekeke… benar kata Leksono. Lihatlah dirimu sendiri, Tekad. Kau tak sebanding sedikit pun dengan anakku ini. Kau hanyalah pemuda lemah yang tak berdaya. Lepas dari nama Danur dan Sekar Kasura, kau bukanlah siapa-siapa!" ucapnya. Ia adalah Wiryo, ayah kandung Cakra.

Darah muda Tekad mendidih mendengar kata-kata itu. Ia menatap tajam ke arah Wiryo.

"Jangan meremehkanku! Akan aku sewa pendekar-pendekar terhebat untuk membuatmu menyesali ucapan ini!" ancamnya, giginya gemeretak menahan amarah.

Wiryo justru tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema, "Silakan saja coba! Asalkan… setelah ini kau masih memiliki kesempatan untuk tetap bernapas dan berjalan bebas."

Tekad menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Apakah itu ancaman akan membunuhku diam-diam?"

Wiryo hanya mengangkat bahu, senyumnya tetap terukir misterius seolah menyimpan rahasia besar.

"Bukan tanganku yang akan menghabisimu. Kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya," jawabnya pelan, penuh makna. Ia sudah mengetahui rencana Jingga Sari dan kawan-kawannya, sehingga melihat Tekad seperti melihat orang yang sudah mati namun belum menyadarinya.

Rani pun akhirnya bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Tekad dengan langkah anggun namun dingin. Di sampingnya, Cakra mengikuti dengan senyum sombong.

"Tekad… atau Adi, jika kau ingin kupanggil demikian," ucap Rani dengan nada meremehkan. "Apakah kau tak sadar akan posisimu? Di hadapan tunanganku ini, kau hanyalah debu yang tak berarti. Lebih baik kau pergi dengan sendirinya sebelum aku memerintahkan penjaga untuk menyeret dan mengusirmu secara paksa."

Hati Tekad terasa seperti ditusuk ratusan belati mendengar ucapan itu. Dulu, Rani adalah satu-satunya harapan dan tempat ia mencurahkan hati. Mereka sudah bertunangan sejak lama, namun sejak Cakra datang membawa harta dan kekuatan, segalanya berubah. Janji setia terbuang begitu saja demi kekuasaan dan ketenaran.

"Keparat kau semua! Datang, mengambil, lalu menginjak-injak kehormatan orang lain!" geram Tekad. Tanpa berpikir panjang, ia meludah tepat ke arah Cakra.

Cakra hanya menggerakkan kepalanya sedikit, menghindari ludahan itu dengan mudah, seolah menghindari debu yang beterbangan.

BUUGH!

Leksono tak tahan lagi. Dengan satu ayunan tangan yang keras, ia menampar pipi kanan Tekad. Suara benturan itu terdengar nyaring, dan seketika wajah Tekad terayun ke samping, tubuhnya terpelanting jatuh ke tanah dengan keras. Bekas telapak tangan yang merah membengkak langsung terlihat jelas di pipinya yang pucat.

"Tak perlu mengotori tangan kalian berdua berdua untuk menghadapi sampah seperti ini," ucap Cakra dengan suara lembut namun dingin, lalu melangkah maju menatap Tekad yang terbaring lemah. "Silakan melanjutkan pesta, Ayah Leksono, Ayah Wiryo. Biarkan aku yang mengurus anak manja ini sampai ia sadar akan tempatnya."

Lanjut membaca
Lanjut membaca