

Di ujung pedalaman yang jauh dari keramaian, berdiri sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat dan perbukitan. Di sanalah Veer tinggal, seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang selama ini hidupnya selalu dianggap tidak berharga oleh orang orang di sekitarnya. Ia hidup sederhana sekali, bahkan bisa dibilang miskin. Tidak ada sawah luas, tidak ada ternak yang banyak, dan tidak ada harta warisan yang bisa dibanggakan. Yang ia miliki hanyalah sebuah gubuk reyot peninggalan kakeknya yang sudah meninggal setahun lalu.
Karena itu, hampir semua orang memandangnya sebelah mata. Saudara saudaranya sendiri sering menjauh, menganggap ia hanya akan menjadi beban. Teman teman sebayanya sering mengejek, mengatakan bahwa sampai tua pun ia tidak akan bisa mengubah nasibnya.
“Lihat saja dia, hidupnya seperti tidak punya tujuan,” ujar seorang pemuda sambil tertawa melihat Veer berjalan pulang dari hutan. “Miskin, tidak punya keahlian apa apa, masa depannya pasti gelap.”
Veer hanya menunduk dan terus berjalan. Ia sudah terbiasa mendengar kata kata seperti itu. Hatinya sakit, tapi ia tahu marah atau membantah hanya akan membuat dirinya semakin dibenci. Ia hanya berusaha bertahan hidup dengan bekerja apa saja yang bisa dilakukan, meski bayarannya sedikit.
Suatu sore, saat hujan turun lebat dan angin berhembus kencang, Veer teringat bahwa gudang tua di belakang gubuknya belum dibersihkan sejak lama. Kalau dibiarkan, barang barang di dalamnya bisa rusak dimakan rayap atau lembab. Dengan membawa lampu minyak, ia masuk ke dalam ruangan yang berdebu dan gelap itu. Bau apek tercium kuat, dan cahaya lampu hanya cukup menerangi jarak beberapa meter saja.
Ia mulai memindahkan tumpukan kayu bekas, peralatan tani yang sudah rusak, dan barang barang usang lainnya. Sampai tangannya menyentuh sebuah kotak kayu yang tertutup lapisan debu tebal. Kotak itu terlihat lebih kokoh dari barang barang lain di sekitarnya. Dengan hati hati ia membukanya, dan di dalamnya tergeletak sebuah buku bersampul kulit cokelat tua yang terlihat sangat tua.
Veer mengangkatnya. Sampulnya halus meski sudah lama tersimpan, tapi yang membuatnya bingung adalah tidak ada satu huruf pun yang terukir di bagian luarnya. Ia membuka halaman demi halaman, namun semuanya kosong, tidak ada tulisan, tidak ada gambar, hanya kertas tebal yang sudah menguning.
“Mungkin ini hanya buku kosong yang disimpan kakek dulu,” gumamnya pelan sambil mengelus permukaannya.
Belum selesai kalimat itu terucap, tiba tiba buku itu bergetar pelan di tangannya. Sebelum ia sempat melepaskannya, cahaya keemasan lembut mulai memancar dari celah halamannya, perlahan makin terang sampai menyilaukan matanya. Angin di dalam gudang yang tadinya hening tiba tiba berputar kencang, debu beterbangan, dan suara berdesir memenuhi telinganya.
Veer merasakan tubuhnya terasa ringan sekali, seolah ada sesuatu yang menarik jiwanya keluar dari raga. Ia berusaha berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Pandangannya berputar cepat, kegelapan menyelimuti sejenak, sampai akhirnya ia merasakan pijakan yang kokoh di bawah kakinya.
Saat ia membuka mata kembali, ia tertegun tak percaya. Gudang tua itu sudah hilang. Di hadapannya terbentang pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan ada di dunia ini. Langitnya berwarna biru cerah dengan awan yang bergerak lambat, di kejauhan terlihat bangunan bangunan megah yang menjulang tinggi dengan arsitektur indah, sungai yang airnya berkilau seperti permata, dan hamparan tanah yang luasnya seolah tak berujung.
Ini bukan desanya, bukan pula tempat mana pun yang pernah ia dengar. Udara di sini terasa segar dan menyejukkan, membuat seluruh rasa lelah di tubuhnya hilang seketika.
“Di mana ini?” gumam Veer sambil melihat sekeliling dengan takjub.
Suara berat namun lembut tiba tiba terdengar bergema di udara, seolah datang dari segala arah sekaligus.
“Selamat datang, pewaris terakhir. Ini adalah Negeri Langit Bumi, tempat yang terpisah dari duniamu, tidak tercatat dalam sejarah dan tidak ada di peta mana pun.”
Veer terkejut, mencari sumber suara tapi tidak melihat siapa pun.
“Siapa kamu? Apa maksud pewaris?” tanyanya dengan suara bergetar karena bingung dan sedikit takut.
“Kakekmu adalah penjaga tempat ini selama puluhan tahun, dan kini tugas itu jatuh ke tanganmu. Buku yang kau temukan adalah kunci untuk masuk dan keluar kapan saja. Di sini tersimpan segala kekuatan, ilmu, dan harta yang dikumpulkan oleh leluhurmu selama ratusan tahun lamanya. Semua itu kini menjadi hakmu sepenuhnya.”
Sebelum Veer sempat mencerna kata kata itu, tiba tiba tanah di bawah kakinya bergetar hebat. Dari arah barat, muncul awan hitam yang bergerak cepat, disertai suara gemuruh yang mengerikan. Cahaya di sekitarnya mulai meredup, dan udara yang tadinya segar berubah menjadi dingin dan menusuk tulang.
“Pewaris, cepat kembalilah! Kehadiranmu baru saja terdeteksi oleh mereka yang sudah lama mengincar tempat ini. Mereka tahu kuncinya sudah berpindah tangan, dan mereka akan datang merebutnya sebelum kau sempat menguasai apa pun yang menjadi hakmu!”
Veer merasa panik. Ia bahkan belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi bahaya sudah mengintai. Ia memegang buku itu erat erat, dan dalam sekejap pandangannya kembali berputar. Begitu ia sadarkan diri, ia sudah terjatuh tergolek di lantai gudang yang gelap dan berdebu. Lampu minyaknya masih menyala, tapi jantungnya berdegup kencang seolah baru saja lari sejauh sepuluh kilometer.
Ia baru saja mengatur napas, mendengar suara teriakan marah dari luar gubuknya.
“Veer! Keluar kau! Kami tahu kau tidak mampu membayar sewa tanah lagi! Kalau besok pagi uangnya belum ada, kami bongkar saja gubuk reyot ini!”
Suara itu milik Pak Lurah dan dua orang pengawas desa yang terkenal keras. Mereka datang menagih tunggakan yang sudah lama menumpuk, sesuatu yang sampai hari ini tidak bisa dipenuhi Veer karena penghasilannya yang sangat sedikit.
Veer berdiri gemetar, memegang buku kulit tua itu di balik punggungnya agar tidak terlihat. Ia tahu kalau ia tidak punya uang, ancaman itu pasti akan dilakukan. Ia akan kehilangan satu satunya tempat berteduh yang ia miliki.
Namun di tengah kepanikan itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Aliran energi hangat mulai mengalir dari buku itu masuk ke seluruh tubuhnya, membuat dadanya terasa lebih kuat dan pikirannya menjadi lebih jernih. Sebuah suara halus terdengar lagi di dalam hatinya: “Di Negeri Langit Bumi ada jalan keluarnya, tapi bahaya juga sudah menunggu. Pilihlah langkahmu dengan hati hati.”
Veer berdiri di balik pintu, mendengar teriakan yang makin keras di luar. Di satu sisi ada masalah nyata yang mengancam tempat tinggalnya, di sisi lain ada dunia baru yang menjanjikan kekuatan dan harta namun juga menyimpan bahaya yang belum diketahui bentuknya.
Ia memegang gagang pintu dengan tangan yang masih gemetar, tapi kali ini ada rasa percaya diri yang mulai tumbuh. Apakah ia akan tetap diam dan menerima nasib seperti biasanya, atau berani membuka pintu dan memulai perjalanan yang bisa mengubah segalanya sekaligus mempertaruhkan nyawanya?
Dan yang paling membuatnya penasaran, siapa sebenarnya “mereka” yang disebutkan tadi? Kapan mereka akan menyusulnya ke dunia tempat ia tinggal sekarang?