
Sebelum Takdir Dua Puluh Lima Tahun
Fiah_Dranim|Bersambung
- Jumlah kata
- 107.8K
- Popular
- 2.5K
- Subscribe
- 349
- Jumlah kata
- 107.8K
- Popular
- 2.5K
- Subscribe
- 349
Sinopsis
Rei hanyalah seorang yatim piatu yang hidup sendirian di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Di tengah kesunyian yang perlahan memakan hari-harinya, hanya ada satu hal yang selalu menemaninya—sebuah buku tua warisan orang tuanya. Buku itu berisi kisah fantasi yang sama dengan cerita yang dulu selalu diceritakan sang ibu sebelum tidur. Rei bahkan hafal setiap dialog dan akhir ceritanya. Meski begitu, ia tetap membacanya berulang kali, seolah ingin mempertahankan kenangan terakhir tentang keluarganya. Namun, ada satu hal yang selalu Rei benci dari cerita tersebut. Tokoh utamanya ditakdirkan menjalani hidup penuh penderitaan dan akan mati tepat di usia dua puluh lima tahun. Rei sering berpikir bahwa hidup seperti tokoh itu... Sampai suatu hari, semuanya berubah. "Serius, aku ada dimana sekarang?" Saat membuka mata, Rei menyadari dirinya telah berada di dalam dunia buku tua itu—dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi tokoh utama yang paling ia kasihani. Mengetahui seluruh alur cerita tidak membuat Rei merasa tenang. Justru sebaliknya. Ia tahu betapa kejam dunia dan takdir dan sang tokoh utama. Jika ingin bertahan... setidaknya jika ia ingin menikmati hidup sebelum usia dua puluh lima tahun, Rei harus mengubah takdir cerita itu. Bahkan bila ia harus menghancurkan alur yang sudah ditentukan sejak awal.
Ulasan
1 ulasan
Putri Tanjung
27/7/26 02:33
Ulasan pertama nih kwkwkwkw Buku ini menurutku termasuk kisah petualangan, dimana Rei tak sengaja malah masuk ke dalam cerita buku. Kisah yang bagus banget buat dibaca
Chapter 1_Hidup Seorang Diri
Hujan deras mengguyur kota sejak sore tadi. Rei duduk di tepi jendela kamarnya yang sudah agak reyot, memeluk lutut sambil menatap tetes air yang mengalir dari balik kaca. Rumah dua lantai warisan orang tuanya terlalu besar untuk satu orang. Setiap sudutnya penuh dengan kenangan, tapi disaat yang sama, juga penuh dengan kekosongan.
Sudah tiga tahun sejak kecelakaan itu. Ayah dan ibunya pergi selamanya, meninggalkan Rei yang saat itu berusia lima belas tahun. Waktu dimana ia masih butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tua.
Kerabat jauh masih sempat datang, tapi tak ada yang mau bertanggung jawab mengurus seorang remaja. Akhirnya, dengan uang asuransi dan tabungan orang tuanya, Rei memilih tinggal sendirian. Lagipula, ia masih memiliki rumah ini, jadi tidak masalah bagi Rei jika tak ada yang mau mengurusnya.
Beberapa orang yang mengaku sebagai saudara atau keluarga dari orang tuanya datang dan memberinya uang pegangan, tapi pada dasarnya, ia sudah benar-benar sendiri sejak orang tuanya tiada.
"Ya? Siapa?"
"Kami kerabat jauh ayahmu. Apa kau yang namanya Rei?"
Sejujurnya, Rei tidak benar-benar mengenal orang-orang itu. Mereka mengaku sebagai saudara atau keluarga dari kedua orang tuanya, tetapi tak satu pun wajah terasa akrab baginya. Lagipula, mereka datang sangat jarang, bahkan terkadang setelah jeda waktu yang begitu lama, dan hampir selalu orang yang berbeda. Karena itu, Rei kesulitan mengingat ataupun mengenali mereka satu per satu di setiap kedatangan.
Rei menghela napas panjang, lalu berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya yang penuh debu. Disana, tergeletak sebuah buku tua dengan sampul kulit yang sudah usang. Judulnya pudar, tapi Rei tak perlu membacanya. Ia hafal setiap kata dan kalimatnya.
Buku itu.
Buku itu adalah warisan terakhir dari orang tuanya. Dulu, setiap malam sebelum tidur, sang ibu selalu membacakan kisah dari buku tua tersebut. Sebuah cerita fantasi tentang seorang pemuda yang lahir sebagai putra kedua dari keluarga bangsawan terhormat, tetapi perlahan menghancurkan hidupnya sendiri saat beranjak dewasa. Ia memilih menjalani kehidupan yang memalukan dan meninggalkan keluarganya begitu saja.
Hingga akhirnya, pemuda itu mencapai usia dua puluh lima tahun.
Dan Rei membenci akhir cerita itu.
Ia membuka halaman demi halaman dengan gerakan lambat. Meski sudah hafal setiap dialog, setiap plot twist, setiap pertemuan dan perpisahan para karakter yang ada, ia tetap membacanya. Seolah dengan membaca, ia bisa mendengar suara ibunya lagi. Suara lembut yang selalu mengatakan, "Rei, kamu jangan membencinya. Tokoh utama dari cerita ini memang memiliki perangai yang buruk, tapi kau tahu sendiri kalau dia memiliki alasan untuk melakukan itu."
Ya, Rei tahu.
Sang tokoh utama bukanlah orang yang kejam. Justru ia hanyalah korban dari takdir yang kejam itu. "Karena harus mati di usia dua puluh lima?" gumam Rei pelan. "Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah gila duluan."
Malam semakin larut. Rei menutup buku itu dengan hati-hati, seolah takut merusak satu-satunya peninggalan berharga dari orang tuanya. Setelah meletakkannya di samping tempat tidur, ia merebahkan tubuh di kasur kecil miliknya sambil menatap langit-langit kamar yang gelap.
Besok ia harus kembali ke sekolah. Rutinitas yang sama, hari-hari yang berjalan tanpa banyak perubahan. Dan seperti biasanya, Rei hanya berharap semoga hari esok bisa ia lewati dengan tenang, sama seperti hari-hari sebelumnya.
***
Pagi harinya, Rei berjalan menuju SMA Negeri 3 dengan tas ransel yang sudah agak robek di bagian tali. Langit mendung, udara lembab. Jalanan ramai dengan siswa-siswa lain yang berjalan berdua atau bertiga, tertawa dan bercanda. Rei berjalan sendirian, dengan earphone di telinga meski musiknya mati. Hanya trik agar orang tidak mengajak bicara.
Di kelas, Rei duduk di bangku paling belakang dekat jendela—tempat favoritnya. Bukan karena ia ingin terlihat seperti tokoh utama dalam serial animasi Jepang yang terkesan misterius atau sejenisnya. Rei hanya merasa tempat itu paling nyaman untuk dirinya yang lebih suka sendiri.
Tak ada yang pernah memilih duduk disebelahnya. Bukan karena Rei aneh atau nakal, melainkan karena keberadaannya nyaris tak diperhatikan, dan itulah yang paling ia harapkan.
Ia tidak memiliki teman dekat, tidak mengikuti klub apa pun, dan nilai-nilainya pun biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan para guru jarang menyebut namanya selain saat mengabsen di awal pelajaran.
"Rei, lagi-lagi kamu tidak kumpulkan PR Matematika? Padahal ibu sudah beri perpanjangan waktu." tegur Bu Rina dengan nada bosan saat jam pelajaran kedua.
"Maaf, Bu. Saya sebenarnya sudah mengerjakannya, tapi..." ucapan Rei menggantung di tenggorokannya.
PR matematika yang seharusnya ia kumpulkan tiba-tiba menghilang saat jeda pergantian pelajaran, tepat ketika ia pergi ke toilet. Itu pun hanya sementara.
"Sialan..."
Mana mungkin Rei mengatakan alasan seperti itu? Gurunya pasti tidak akan percaya. Lagipula, ini bukan pertama kalinya ia tidak mengumpulkan tugas. Bukan hanya untuk pelajaran matematika, tugas dari mata pelajaran lain pun sering bernasib sama—menghilang begitu saja dari dalam tasnya.
Rei sebenarnya tahu siapa pelakunya.
Hanya saja, keadaan akan menjadi jauh lebih rumit jika ia mengatakannya.
Beberapa siswa di barisan depan menoleh ke arahnya sambil berbisik-bisik pelan. Namun, Rei sudah tidak peduli lagi. Ia terlalu sering berada dalam situasi seperti ini hingga akhirnya memilih untuk mengabaikan semuanya. Kini, Rei hanya berharap waktu cepat berlalu dan senja segera datang, agar ia bisa pulang ke rumah lalu kembali tenggelam dalam buku tua itu.
Saat jam istirahat, Rei pergi ke kantin seorang diri. Ia membeli roti dan susu kotak, lalu duduk di pojokan dekat pohon yang cukup rindang. Tempat itu selalu menjadi pilihannya untuk mengindari keramaian. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Eh, si yatim piatu lagi makan sendirian, nih. Apa perlu kami temani?"
Rei menghela napas pelan. Bahkan untuk menikmati makan siang sederhananya saja terasa begitu sulit. Setidaknya biarkan ia menghabiskan makanannya lebih dulu sebelum mulai mengganggunya.
Ia bahkan tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Sudah pasti Dika, ketua geng dari kelas sebelah yang selalu mencari perhatian. Dua temannya berdiri di belakang sambil tertawa mengejek, seolah kedatangan mereka memang hanya untuk merusak ketenangan Rei.
"Kasihan banget, ya. Punya rumah besar tapi kosong. Orang tuanya meninggal, teman dekat juga nggak punyam. Hidupmu malang banget," sambung salah satu dari mereka dengan nada pura-pura iba.
Rei tahu ucapan itu bukan rasa kasihan, melainkan ejekan yang sengaja ditujukan untuk menyakitinya. Ia menggigit rotinya sedikit lebih keras. Tangan kirinya mengepal di bawah meja, tapi ia tak membalas. Dulu pernah ia balas, dan akibatnya lebih parah. Lebih baik diam. Lebih cepat selesai.
"Wah! Anak ini mulai berani mengabaikan kita." antek Dika yang lain langsung menarik rambut Rei dengan kasar hingga wajahnya terangkat paksa ke atas. "Apa orang tuamu nggak pernah ngajarin sopan santun, hah?!"
Rei mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Rahangnya mengeras, menahan emosi yang terus mendidih di dalam dada. Bahkan setelah antek Dika melepaskan cengkeraman di rambutnya, amarah itu masih tertahan di sana, berputar-putar memenuhi kepalanya.
Sabar... sabar... sabar... satu kata itu terus ia ulang dalam hati.
Daftar bab
103 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
103 bab








