
CATATAN RAHASIA PENGATUR TAKDIR
Sabrina Nasution|Tamat
- Jumlah kata
- 36.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 36.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Rama menemukan buku agenda kosong di lokernya. Apapun yang ia tulis di buku itu menggunakan tinta sihir akan mengubah kejadian di sekolah pada harinya. Awalnya Rama memakainya untuk membalas dendam pada bully dan membantu teman-temannya. Namun, Rama menyadari setiap perubahan takdir membawa konsekuensi fantasi yang berbahaya bagi keselamatan cewek yang ia sayangi. Ia harus belajar bertanggung jawab atas tindakan dan perasaannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
CHAPTER 1 - LOKER NOMOR 13
Loker nomor 13 di lorong lantai tiga gedung barat SMA Garuda Bangsa tidak pernah dilirik siapa pun. Warnanya mengelupas parah, dipenuhi karat kecokelatan dan coretan spidol permanen berisi makian. Loker itu diperuntukkan bagi orang-orang sepertiku, begitu juga dengan mereka yang berada di tingkatan paling dasar dalam rantai makanan sekolah ini.
Namaku Rama, Ramadhani Putra Adiyasa. Setiap hari, tujuanku sederhana: tidak terlihat oleh geng bentukan Dion. Meskipun dari segi akademis aku jauh unggul dari pada mereka
"Woi, Adiyasa! Melamun aja kamu!"
Sebuah dorongan keras membenturkan punggungku ke deretan loker baja. Bau besi tua dan debu langsung menyengat hidung. Aku tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang berdiri di belakangku. Suara langkah sepatunya yang sengaja diseret dan tawa samar dari dua pengikutnya sudah menjadi musik latar paling menderita selama dua tahun terakhir di sekolah ini.
Dionisus Bagaskara. Anak ketua komite sekolah yang bertindak seolah koridor ini adalah wilayah kekuasaannya.
"Kenapa, Yon?" tanyaku pelan, berusaha tidak menatap matanya. Di dunia orang-orang seperti Dion, menatap mata berarti menantang, sementara menunduk berarti pasrah. Aku memilih jalur tengah: menatap kancing kemeja seragamnya yang terbuka dua di bagian atas.
"Mana tugas Sejarah Indonesia kamu? Kamu bilang hari ini beres, kan?" Dion menepuk puncak kepalaku dengan gestur merendahkan.
"Belum selesai semua. Masih kurang bab empat," jawabku jujur. Tadi malam ibuku sakit, dan aku harus membagi waktu menjaga toko kelontong kecil kami sambil mengetik tugas milik Dion.
Di belakang Dion, Ezra Raditya, si anak tim basket yang bertubuh tegap dan juga tinggi lebih dari aku. Ia menyilangkan tangan di dada sambil tersenyum sinis. Satu lagi, Fathir, cuma menyender santai di dinding sambil memainkan ponsel mewahnya.
Dion maju satu langkah, mengikis jarak hingga aku bisa mencium bau parfum mewahnya yang menyengat bercampur asap rokok. "Aku nggak peduli, Ram. Jam ketiga Pak Lukman masuk. Kalau tugas aku belum ada di mejanya, kamu tahu kan konsekuensinya?"
"Iya, tahu," bisikku pasrah.
"Good boy." Dion menepuk pipiku dua kali. Pelan, tapi cukup keras untuk membuat telingaku panas. "Kamu di sini selamat cuma karena masih ada gunanya buat aku."
Mereka bertiga tertawa lalu melenggang pergi. Aku mengembuskan napas panjang, meresapi rasa pegal di punggung dan denyut halus di pipiku.
Aku bukan satu-satunya korban. Beberapa meter di ujung koridor dekat tangga, aku melihat Mikaela Zanitha, akrab disapa Mika sedang berlutut memunguti buku sketsanya yang berserakan. Beberapa siswi populer baru saja menyenggol tempat pensilnya hingga tumpah. Bahu Mika gemetar menahan tangis.
Mika mendongak, dan mata kami berpapasan. Ada keputusasaan dan rasa lelah yang amat mendalam di matanya. Namun, aku mengalihkan pandangan lebih dulu. Aku terlalu pengecut untuk menolongnya.
Pengecut, Ram. Kamu memang cuma pengecut.
Dengan perasaan hancur, aku berbalik menghadapi loker nomor 13 lagi. Pintunya sedikit renggang pagi ini. Dipicu rasa frustrasi, aku menarik engselnya yang berderit pasrah.
Di dalam loker berdebu itu, tergeletak dua benda: sebuah buku agenda bersampul kulit hitam polos dan pena logam kuno. Di dalam tabung bening kecil di tengah pena, mengalir cairan keemasan yang memancarkan pendar redup.
Aku mengambil keduanya. Buku itu terasa dingin di telapak tangan, sedangkan penanya cukup berat. Rasa sakit bekas tepukan Dion dan bayangan Mika yang tertekan mendadak membakar dadaku. Rasa benci yang selama ini kupendam akhirnya meletup.
Tanpa berpikir panjang, aku membuka tutup pena dan menempelkan ujungnya ke halaman pertama. Tinta emas mengalir rapi di atas kertas krem:
Dionisus Bagaskara bakal terpeleset jatuh ke dalam selokan samping kantin hari ini, di depan semua orang, sampai seragam mewahnya basah kuyup oleh air limbah.
Tinta emas itu perlahan meresap dan berubah menjadi hitam pekat. Aku terkekeh pahit pada diriku sendiri, menyadari betapa konyolnya berharap pada keajaiban buku tua ini, lalu menyimpan semuanya ke dalam ransel sebelum berjalan menuju kelas.
Jam istirahat pertama, kantin riuh rendah. Aku duduk sendirian di meja pojok dekat taman yang sepi, mengamati Dion yang sedang tertawa bersama gengnya di meja utama. Kemejanya sudah berganti baru karena tugas Sejarah yang kuketik semalaman berhasil menyelamatkannya dari hukuman Pak Lukman.
Di meja sebelah kiri, Mika duduk sendirian, menunduk mengaduk es tehnya tanpa niat meminumnya.
Tiba-tiba, Dion berdiri. "Aku mau beli jus alpukat dulu di Bu Sum. Ada yang mau nitip gak?"
Ia berjalan percaya diri melintasi kantin. Untuk sampai ke stan Bu Sum, Dion harus melewati lorong sempit di samping selokan pembuangan air yang terbuka. Di sana, petugas kebersihan baru saja selesai mengepel lantai dan meninggalkan genangan air sabun yang licin.
Aku menahan napas. Jantungku berdebar kencang. Nggak mungkin, batinku menepis harapan gila itu.
Dion melangkah. Sepatunya menyentuh keramik basah. Dalam selang satu detik yang terasa lambat seperti gerakan slow-motion, kaki kanannya tergelincir hebat.
"Eh..WOI!"
Tubuh Dion terlempar ke samping. Dengan dentuman keras dan kecipak air yang nyaring, Dionisus Bagaskara jatuh telungkup tepat di dalam selokan pembuangan air kantin.
SPLAAAASH!
Air hitam keruh menyembur membasahi seluruh tubuhnya. Kantin seketika hening total selama tiga detik, sebelum akhirnya ledakan tawa riuh pecah dari ratusan murid di segala sudut.
"SIAPA YANG NGEPEL INI?!" teriak Dion histeris, merangkak keluar selokan sambil terbatuk-batuk, berlepotan lumut hitam dan bau sampah.
Di sudut kantin, aku membeku. Gelas es jeruk di tanganku gemetar hebat. Kalimat yang kutulis tadi pagi berputar di kepalaku. Kejadiannya persis sama. Tidak ada bedanya satu kata pun. Ini bukan kebetulan.
Dengan tangan gemetar, aku merosotkan jemariku ke dalam tas ransel, menyentuh sampul kulit buku hitam yang terasa sangat dingin. Bulu kudukku berdiri seketika.
Saat aku terpaku dalam ketakutan, aku merasa ada yang memperhatikan. Aku mendongak pelan.
Di meja sebelah kiri, Mikaela Zanitha sedang menatapku tajam. Ia tidak ikut tertawa. Matanya beralih dari tanganku yang ada di dalam tas menuju mataku, seolah-olah ia tahu ada sesuatu yang tidak wajar baru saja terjadi.
Aku cepat-cepat menarik tangan, menutup risleting ransel, dan menunduk dalam-dalam.
Jantungku berdegup kencang. Di dalam tas murahku, sebuah kekuatan ajaib baru saja terbangun. Aku mungkin hanyalah seorang pecundang yang tidak pernah dianggap ada di sekolah ini. Nilai akademisku dianggap sebelah mata oleh beberapa genk elite yang berkuasa disini namun, kini aku memegang pena yang sanggup menggariskan takdir orang lain.
MIMPIKAH INI ? AKU PIKIR INI HANYA ADA DI TV MAUPUN FILM.
Otakku masih belum bisa mencerna betul
Akan tetapi, di balik rasa puas yang menyelinap, sebuah bisikan dingin berbisik di benakku:
Siapa sebenarnya yang membuang buku ini di Loker Nomor 13? Dan apa harga yang harus dibayar untuk setiap takdir yang kuubah?
Daftar bab
31 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








