
Aku Sang Pewaris Dewa Gerhana
Raven Solstice|Bersambung
- Jumlah kata
- 80.4K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 142
- Jumlah kata
- 80.4K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 142
Sinopsis
Dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia melainkan makhluk lain, yaitu para ahli sihir. Beberapa dari kaum mistis menganggap mereka spesial dibandingkan para manusia. Hingga muncul sebuah ramalan yang disampaikan oleh penyihir agung bahwa akan lahir seorang Tribrid (tiga ras campuran) yang akan menjadi wadah untuk membuka kembali gerbang kegelapan pertama. Bayi itu bisa merupakan keberuntungan atau masalah besar. Sejak saat itu banyak para ambisius mulai mengincar siapa bayi tersebut. Sebuah artefak secara tak sengaja ditemukan Aegon seolah menuntun menuju takdir. 𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙀𝙡𝙮𝙩𝙝𝙚𝙤𝙣? 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘿𝙚𝙬𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖? Dalam bahasa kuno berarti 𝙥𝙚𝙣𝙖𝙠𝙡𝙪𝙠, kini dunia menanti-nantikan tentang siapa yang akan dia taklukkan lebih dulu—musuhnya atau mungkin diri sendiri.
Ulasan
49 ulasan
Yanto gunawan_
9/9/26 15:20
kurass koinku thor aku rela. ini novelnya konsep bagus sih. semua karakter disini terasa hidup. cuman satu nih. kayaknya author perlu asupan semangat biar sehari rilis 5 bab.
PILIHANrosie_
1/10/26 17:03
wahh gila author kesayangan is backk! ayoo up trus ceritanyaa itu kak raven. aku suka banget sama konsep ceritanya disini. fantasy nya tuh beda dari yg lain
The Mist—Part 1
Mobil melaju cepat meninggalkan hiruk-pikuk Montclair menuju pedesaan yang tenang. Hamparan ladang anggur dan stroberi membentang di bawah langit senja, sementara rumah-rumah batu bergaya klasik berdiri damai seolah dunia supernatural tak pernah menyentuh tempat itu. Namun di ujung jalan, sebuah kediaman megah milik Klan Yovenz menjulang angkuh. Pilar granit menopang bangunan bergaya aristokrat kuno, jendela kaca patri menampilkan kisah leluhur vampir, dan obor-obor di sepanjang dinding bergoyang pelan diterpa angin.
Dua sosok turun dari mobil. Aegon Anderson menatap bangunan itu dengan sorot mata sedingin musim dingin, sedangkan Silas berjalan di sampingnya sambil menggenggam gagang pedang.
"Kita tidak datang untuk berunding, bukan?" bisik Silas.
Aegon menggeleng pelan.
"Tidak. Robert sudah melewati batas."
Dua pengawal berzirah besi membukakan pintu tanpa sepatah kata. Para pelayan yang berbaris di sepanjang koridor menundukkan kepala, tetapi diam-diam melirik pria Anderson itu ketika aroma parfum laut yang dikenakannya memenuhi udara.
Mereka diarahkan menuju taman belakang.
Di sana, Robert Yovenz duduk santai menikmati segelas darah seolah sedang menyambut tamu makan malam biasa.
"Mau kaviar?" tanyanya sambil mengangkat gelas.
"Terima kasih," jawab Aegon datar. "Aku tidak ingin berlama-lama."
Ia melepas sarung tangan hitamnya lalu duduk tepat di hadapan Robert.
"Kudengar ayahmu pernah bekerja sama denganku," ujar Robert sambil menyeka bibirnya yang berlumur darah. "Apakah kau datang melanjutkan hubungan itu?"
"Kata siapa?"
Robert tampak terkejut.
"Justru, aku tidak pernah tertarik membangun hubungan dengan orang yang hidup memakai ribuan wajah," ucap Aegon seraya menuangkan darah ke dalam gelas hingga meluap melewati bibirnya.
"Seperti itulah dirimu. Tak peduli berapa banyak nyawa dikorbankan selama tujuanmu tercapai."
Suasana taman berubah sunyi.
"Kami datang membawa keputusan Dewan Vampir." Lanjut Aegon dan menjatuhkan gelas ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
"Kami datang untuk mengambil kepalamu," timpal Silas.
Rahang Robert menegang saat mendengar itu—tak senang.
"Kau mencuri buku suci milik Klan Werewolf Vezula dan membantai sebagian besar anggota mereka. Tindakanmu hampir memicu perang antar ras," jelas Aegon.
Robert pun tersenyum sinis.
"Dan apa yang bisa dilakukan ras campuran sepertimu? Dominionmu bahkan terasa kosong."
Ucapan itu menusuk tepat ke kelemahan Aegon, tetapi ekspresinya tidak berubah.
"Omong kosongmu tidak akan mengubah keputusan Dewan."
Perlahan ia membuka mantelnya, memperlihatkan pistol berukir rune kuno.
Tatapan Robert langsung berubah.
"Krahlen Voss..." gumam Robert dan lekas berdiri. "Senjata pemutus Dominion. Rupanya kalian benar-benar serius."
Jemari Aegon mengusap laras pistol itu.
"Senjata ini memang dibuat untuk mengakhiri monster sepertimu."
Robert tertawa pendek.
"Lucu. Dewan mengirim bocah Tribrid untuk menjadi algojoku."
"Hukum harus ditegakkan," sahut Silas.
"Hukum?" Robert mencibir. "Seluruh sejarah vampir dibangun di atas perang dan pengkhianatan. Jangan berpura-pura suci."
Aegon mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke dada Robert.
"Yang tidak bisa dibenarkan adalah membunuh puluhan orang demi sebuah buku."
"Kalau begitu..." Robert membentangkan kedua tangannya. "Tembak aku."
Letusan memecah kesunyian.
Peluru menembus dada kiri Robert.
Namun bukannya tumbang, ia justru tertawa keras. Darah hitam mengalir dari mulutnya, sementara luka di dadanya menggeliat seperti makhluk hidup. Kulit, otot, dan tulangnya mencair menjadi lautan darah sebelum membentuk tubuh baru yang jauh lebih besar.
Sayap merah terbentang dari punggungnya.
Kuku berubah menjadi cakar panjang.
Seluruh tubuhnya kini tersusun dari darah hidup.
Silas menggenggam pedangnya semakin erat.
"Dominion Vampir tahap tujuh..."
Suara Robert kini terdengar berat dan menggema. "Aku mencapai tahap ini karena tidak takut menjadi monster. Tidak sepertimu! Hahaha!"
Pertempuran pun dimulai.
Silas menyerang lebih dulu dengan tebasan cepat dari belakang, tetapi Robert hanya menangkis menggunakan sayap darahnya. Gelombang benturan melempar tubuh Silas hingga menghantam pilar marmer dan meretakkannya. Sementara itu Aegon tetap diam mengamati pola serangan lawan.
Kabut putih perlahan keluar dari tubuhnya, menyelimuti seluruh kastel. Para pelayan dan pengawal satu per satu ambruk tak sadarkan diri begitu menghirupnya. Robert mengepakkan sayapnya. Sedangkan Aegon memanfaatkan refleks manusia serigalanya untuk melompat menghindar sambil melepaskan peluru kedua ke arah kepala lawan. Robert menepisnya dengan tangan berduri. Cakar panjang menyapu udara, nyaris melukai wajah Aegon.
Pertarungan berlangsung hampir lima menit.
Meja-meja antik hancur berkeping-keping.
Pepohonan terbakar. Darah membasahi permadani tua. Aegon beberapa kali terlempar menghantam batu besar hingga mantel hitamnya koyak dan darah hitam mengalir dari belakang kepalanya. Meski tubuhnya dipenuhi luka, sorot matanya tetap tenang. Ia mengisi peluru terakhir.
Namun kali ini berbeda. Kilatan merah dan biru membungkus proyektil itu, memancarkan energi yang bahkan Silas belum pernah lihat sebelumnya.
"Kau pikir itu cukup?" Robert menyeringai remeh.
Tak peduli. Aegon menarik pelatuk.
Peluru menghantam dada kanan Robert.
Ledakan energi membuat tubuh monster itu bergetar hebat. Sayap darahnya meleleh, tubuh raksasanya perlahan menyusut, lalu ia jatuh berlutut sambil terengah-engah.
Aegon berjalan mendekat. Setiap langkahnya terdengar berat di tengah keheningan taman.
Pandangan Robert lesu sambil tertawa kecil.
"Dominionmu..."
"Itu bukan kekuatan vampir... bukan pula penyihir atau manusia serigala."
Tatapan matanya berubah serius.
"Aku tahu siapa yang memiliki jawaban tentang kekuatanmu."
Hening. Aegon enggan mengatakan apa pun.
"Dominion Iblis."
Silas melirik Aegon memastikan reaksinya.
"Mereka menyimpan resep lengkap kekuatan itu. Kegelapan lama masih mengalir dalam darahmu."
Lalu, Robert batuk mengeluarkan darah.
"Dulu... wanita-wanita berjubah hitam pernah datang kepadaku. Mereka membicarakan... Pintu Kegelapan Pertama."
Sorot mata Aegon sedikit berubah.
"Mereka bahkan mengancamku."
Robert tersenyum lemah.
"Kalau ingin menemukan jawaban... kau harus masuk ke neraka itu sendiri."
Pemuda Anderson itu mengangkat pistol.
Tanpa ragu ia menarik pelatuk.
Peluru terakhir menembus kepala Robert.
Pada saat bersamaan, Silas mengayunkan pedangnya hingga kepala vampir itu terpenggal. Tubuh Robert perlahan berubah menjadi debu yang diterbangkan angin malam. Kesunyian kembali memenuhi taman.
"Hm..." gumam Silas.
"Apa maksud ucapan Robert tentang Pintu Kegelapan Pertama?"
Aegon menatap sisa abu yang beterbangan dan menghela napas pelan.
"Aku juga ingin tahu.Tapi bukan di sini. Kita cari bukunya."
Insting vampir mereka segera menangkap jejak energi sihir yang sangat kuat dari lantai atas kastel. Keduanya berpencar menyusuri lorong-lorong panjang hingga Aegon berhenti di depan sebuah kamar dengan lambang Klan Yovenz. Ia membuka pintu.
Ruangan itu dipenuhi rak-rak manuskrip kuno, tirai beludru merah, dan meja ukir besar khas bangsawan Eropa. Namun ada sesuatu yang seolah memanggilnya.
Aegon berjalan perlahan menuju sebuah laci tua di dekat perapian. Saat laci dibuka, cahaya hijau redup memancar dari dalamnya.
Sebuah buku bersampul kulit hitam terbaring di sana, dihiasi rune-rune kuno. Aegon mampu membaca judulnya. Cahaya dan Kegelapan.
"Mengapa artefak Werewolf berada di sini..."
Ia mengulurkan tangan. Begitu ujung jarinya menyentuh sampul buku itu, suara asing langsung menggema di dalam kepalanya.
"Buku ini milikmu."
Bisikan itu terus berulang.
Semakin lama semakin keras.
Telinganya berdenging hebat hingga penglihatannya mulai kabur. Ia mencoba melepaskan tangan, tetapi justru terasa seolah buku itu menarik kesadarannya.
Urat-urat hitam perlahan menjalar dari telapak tangannya menuju leher. Mata cokelatnya berubah menjadi emas menyala.
"My Lord!" teriak Silas yang baru memasuki ruangan. Ia mencabut pedangnya, bukan untuk menyerang, melainkan berjaga.
"Lepaskan bukunya! Itu bukan dirimu!"
Suara Silas terdengar jauh.
Dengan seluruh sisa kesadarannya, Aegon memaksa melepaskan genggaman dari buku tersebut. Tubuhnya limbung beberapa langkah ke belakang. Perlahan urat-urat hitam menghilang. Cahaya emas di matanya ikut memudar. Namun sesaat kemudian setetes darah hitam menetes dari bibirnya.
Refleks Silas menopang bahunya.
"Kau mimisan."
Aegon hanya mengangguk pelan, masih berusaha mengatur napas. Pandangan mata Silas mengarah ke buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkatnya.
"Kurasa artefak ini memiliki keterkaitan denganmu. Aku yang akan membawanya."
Tak ada sikap membantah, alhasil Silas tersenyum tipis. "Demi sumpahku sebagai prajurit Klan Anderson... sekaligus sahabatmu. Aku tidak akan membiarkan buku ini dibuka oleh siapa pun sampai tiba saatnya kau sendiri yang menghendakinya."
Daftar bab
69 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








