
Case in the Shadow
Begenk Zerofour|Bersambung
- Jumlah kata
- 74.9K
- Popular
- 292
- Subscribe
- 20
- Jumlah kata
- 74.9K
- Popular
- 292
- Subscribe
- 20
Sinopsis
Arthur adalah mantan anggota pasukan khusus militer yang kini bekerja sebagai detektif. Dengan IQ tinggi, kemampuan analisis yang tajam, serta pengalaman operasionalnya, Arthur mampu menemukan petunjuk yang sering terlewatkan oleh orang lain.Bersama timnya, ia menghadapi berbagai kasus penuh teka-teki yang menguji kemampuan berpikir, keberanian, dan prinsipnya dalam mencari kebenaran. Namun semakin banyak kasus yang ia selesaikan, semakin banyak pula rahasia lama yang mulai terungkap dari masa lalunya.
Ulasan
10 ulasan
Felix Firmansyah
2/9/26 01:14
makin lama kasusnya itu makin rumit ya 😭 ampe bingung dan sampe bolak-balik ke bab sebelumnya cuma buat cari tahu apa penyebab dan siapa dalangnya. Overall ini work it buat dibaca sih di setiap babnya di bangun sebagus dan sebaik mungkin terutama para setiap karakter yang ada di cerita ini. Aku suka banget 💯💯
ivan
24/8/26 21:36
Setelah baca bab pembukaan kok rasanya kaya terjun langsung ya ke dalam cerita 😭 seru banget makasih telah memberikan cerita yang bagus ini
Bab 01. Kasus Raka Pramata (1/16)
Sepuluh tahun lalu, sebuah kasus menggemparkan Jakarta.
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bernama Raka Pratama ditemukan meninggal di rumahnya.
Pelakunya adalah ayah angkatnya sendiri, Daryono Wicaksono.
Namun setelah proses hukum berjalan, Daryono hanya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.
Kasus itu akhirnya ditutup.
Sepuluh tahun berlalu.
Pagi hari di kantor kepolisian Jakarta berjalan seperti biasa.
Suara langkah kaki, mesin printer, dan tumpukan laporan memenuhi ruangan.
Arthur berjalan menuju ruangannya sambil membawa sebuah map arsip lama.
Setelah masuk, ia meletakkan map tersebut di atas meja.
“Bongkar kasus lama lagi?” suara seseorang terdengar dari pintu.
Seorang pria masuk membawa dua kopi.
Namanya Reza Pratama, rekan kerja Arthur di kepolisian. “Aku baru selesai dari lapangan. Badanku rasanya mau hancur,” kata Reza sambil memberikan satu kopi.
Arthur tersenyum. “Kalau kau tidak kuat, jangan sering mengambil tugas berat.”
Reza tertawa. “Enak saja. Kau yang kerjaannya hanya membaca berkas.”
Arthur membalas dengan santai. “Setidaknya aku tidak membuat laporan yang sulit dibaca pimpinan.”
Mereka berdua tertawa.
Namun tiba-tiba.
BZZT… BZZT…
Sebuah suara getaran terdengar dari saku jaket Arthur.
Reza melihat ke arahnya. “Apa itu?”
Arthur mengeluarkan sebuah pager kecil berwarna hitam.
Di layarnya muncul tulisan: SANTAPGO
Tulisan itu berkedip berulang kali, seketika ekspresi Arthur berubah senyumnya hilang. “Maaf. Aku ada urusan.”
Reza menghela napas. “Lagi? Padahal aku baru saja mau ngajak kau makan di luar”
Arthur hanya tersenyum kecil lalu keluar dari ruangan.
Di lorong kantor polisi, wajah Arthur berubah dingin.
Ia berjalan menuju parkiran, masuk ke mobilnya, lalu pergi meninggalkan gedung kepolisian Jakarta.
Tidak lama kemudian, Arthur tiba di sebuah gedung besar.
Di depannya tertulis: SANTAPGO
Para pekerja terlihat sibuk mengambil pesanan makanan.
Dari luar, tempat itu terlihat seperti perusahaan antar makanan biasa.
Arthur masuk ke dalam.
Beberapa pekerja menyapanya. “Arthur, mau ambil pesanan hari ini?”
Arthur tersenyum.
“Mungkin.” Ia berjalan menuju bagian belakang resepsionis.
Di sana terdapat sebuah lift khusus.
Arthur menekan tombol: Lantai 4.
Lift bergerak mamun bukan ke atas, lift itu justru turun ke bawah tanah.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka.
Arthur berjalan menuju sebuah pintu besi besar, ia kemudian membukanya.
Di dalam sebuah ruangan yang luas sudah ada empat orang.
Rena Novita, ahli teknologi SantapGo.
Dani, pendiri SantapGo.
Maulana dan Yudha, tim teknis lapangan.
Mereka semua menoleh.
Rena tersenyum. “B4, kau datang.”
Arthur mengangguk. “Ada apa?”
Dani berdiri. “Kita mendapat orderan.”
Arthur menatapnya.
Dani memutar sebuah rekaman suara.
Suara seorang wanita terdengar dari speaker. “Saya sudah tidak sanggup lagi… Keponakan saya meninggal sepuluh tahun lalu. Pelakunya sekarang sudah bebas. Saya hanya ingin keadilan untuknya…”
Rekaman berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Arthur bertanya. “Dia sudah melakukan pesanan?”
Dani menggeleng. “Belum.”
Arthur menatapnya. “Lalu?”
Dani menjawab. “Karena kita yang harus menemui dia lebih dulu.”
Arthur diam sebentar lalu mengangkat tangannya. “Aku ambil pekerjaan ini.”
Rena mengangkat tangan.
Maulana dan Yudha ikut menyusul.
Dani tersenyum. “Baik.” Ia melihat mereka semua. “Kalau begitu, kita mulai pekerjaan ini.”
Di balik perusahaan antar makanan yang terlihat biasa… SantapGo kembali menjalankan tugasnya, bukan mengantar makanan tapi mengantar keadilan.
Ruangan bawah tanah SantapGo kembali hening setelah rekaman suara itu berhenti.
Dani melihat layar di depannya lalu menatap Arthur. “Karena wanita ini sudah menghubungi kita lebih dulu dan menceritakan apa yang terjadi, menurutmu bagaimana, B4?”
Arthur diam beberapa saat, ia melihat data kasus yang masih terpampang di layar. “Kalau dia sudah meminta bantuan, berarti ada sesuatu yang belum selesai dari kasus ini.”
Arthur mengambil jaketnya. “Aku akan kembali ke kantor untuk mencari berkas kasus sepuluh tahun lalu.”
Rena mengangguk. “Kalau begitu aku akan melakukan pencarian lewat jejak digital.” Ia kembali duduk di depan komputernya. “Mungkin masih ada informasi yang tertinggal di internet atau arsip digital.”
Maulana dan Yudha saling melihat.
“Kalau kami…”
Yudha menunjuk ke arah pintu. “…akan mengantar makanan dulu.”
Maulana mengangguk. “Pesanan hari ini banyak. Kalau tidak diantar, pelanggan bisa menunggu lama.”
Arthur menatap mereka berdua, Dani juga ikut melihat ke arah mereka, lalu tiba-tiba mereka berdua tertawa kecil.
“Kenapa kalian berdua selalu paling semangat kalau urusannya mengantar makanan?” tanya Arthur.
Maulana langsung menjawab. “Karena itu pekerjaan normal kita.”
Yudha mengangguk. “Dan lebih baik daripada ikut mencari orang jahat.”
Mendengar itu, Arthur dan Dani kembali tertawa.
Rena hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum..“Dari semua anggota tim, kalian berdua yang paling takut dengan hal-hal menyeramkan.”
Maulana langsung membela diri. “Aku bukan takut.”
Yudha ikut menambahkan. “Aku hanya memilih hidup tenang.”
Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu.
Setelah suasana kembali tenang, Dani berdiri. “Aku akan pergi menemui wanita itu.”
Semua melihat ke arahnya.
Dani melanjutkan. “Dari suaranya, aku bisa merasakan tekanan yang sangat besar.” Ekspresinya berubah serius. “Aku ingin mendengar ceritanya langsung.”
Arthur mengangguk. “Baik.”
Tidak lama kemudian, semua mulai menjalankan tugas masing-masing.
Rena tetap berada di ruang kontrol SantapGo untuk mencari informasi digital.
Maulana dan Yudha kembali menggunakan identitas mereka sebagai pengantar makanan.
Dani bersiap menemui Sari Wicaksari.
Sedangkan Arthur kembali ke dunia kepolisian.
***
Mobil Arthur berhenti di depan gedung kepolisian Jakarta.
Ia turun seperti biasa wajahnya kembali berubah menjadi Arthur yang dikenal semua orang santai dan ramah.
Ia berjalan masuk melewati lorong kantor, tujuannya hanya satu yaitu ruang arsip. Mencari berkas kasus sepuluh tahun lalu.
Kasus seorang anak bernama… Raka Pratama.
Ruang arsip kepolisian Jakarta terasa sunyi.
Berbeda dengan lorong kantor yang ramai, tempat ini hanya dipenuhi suara pendingin ruangan dan bunyi langkah kaki yang perlahan terdengar.
Arthur berjalan melewati rak-rak tinggi yang dipenuhi dokumen lama.
Matanya mencari satu nama.
Raka Pratama.
Ia berhenti di depan sebuah rak, tangannya menarik beberapa map lama.
Satu per satu ia memeriksa label yang tertulis.
Sampai akhirnya.
KASUS RAKA PRATAMA
Arthur mengambil dan membuka map itu sambil berdiri.
Halaman pertama berisi identitas korban.
Nama: Raka Pratama
Usia: 10 tahun
Status: Korban kekerasan dalam rumah tangga.
Arthur membaca perlahan lalu matanya berhenti pada sebuah foto.
Foto seorang anak laki-laki yang tersenyum.
Raka Pratama.
Anak yang seharusnya masih menikmati masa kecilnya.
Arthur diam beberapa detik, ia membalik halaman berikutnya berisi laporan, tanggal, serta lokasi kejadian.
Nama tersangka: Daryono Wicaksono. (Ayah angkat korban.)
Arthur membaca setiap baris dengan teliti.
Kasus itu tercatat sebagai kematian akibat kekerasan yang terjadi di rumah.
Bukti utama berasal dari rekaman yang dibuat dan disebarkan oleh pelaku sendiri.
Arthur berhenti sejenak.
“Dia merekam semuanya sendiri…” gumamnya pelan.
Ia membuka halaman berikutnya, catatan proses hukum.
Tersangka berhasil diamankan, kasus mendapat perhatian besar dari masyarakat namun keputusan akhir pengadilan hanya menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara.
Arthur menatap bagian itu cukup lama.
Sepuluh tahun, angka yang sama dengan waktu yang sudah berlalu.
Arthur menutup sebagian map itu dan kembali melihat foto Raka, wajah anak kecil itu masih terlihat polos di dalam foto tersebut.
Tidak ada yang bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik sebuah kasus yang sudah dianggap selesai.
Arthur menarik napas pelan lalu menutup map tersebut.
Tapi sebelum meninggalkan ruang arsip, matanya kembali melihat nama yang tertulis di sampul.
Raka Pratama.
Sebuah kasus yang bagi banyak orang sudah berakhir. Namun bagi seseorang… mungkin baru saja dimulai.
Daftar bab
59 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








