

"Ingat ya, Daru. Kalau sampai besok lusa kamu belum bisa bayar tunggakan kosan tiga bulan ini, terpaksa kasur sama lemari kamu saya keluarin ke gang! Saya ini buka kos-kosan, bukan yayasan sosial!"
Suara cempreng nan melengking milik Bu Kos, seorang wanita paruh baya dengan daster batik dan gulungan rambut yang khas, masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinga Handaru Sasmita. Kata-kata menohok itu terus berputar seperti kaset rusak, merubung pikirannya yang sudah terlanjur semrawut.
Daru, begitu pemuda berusia dua puluh empat tahun itu biasa dipanggil, hanya bisa mengembuskan napas panjang. Dia menatap nanar selembar uang berwarna merah dan dua lembar uang berwarna biru yang tergelosor di atas meja kayu kosannya yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Lima ratus ribu rupiah.
Itu adalah total upah yang dia terima bulan ini sebagai seorang guru honorer mata pelajaran IPS di sebuah SMA swasta pinggiran kota. Angka yang sangat tidak manusiawi untuk bertahan hidup di tengah gempuran inflasi, namun itulah kenyataan pahit yang harus dia telan bulat-bulat setiap bulannya. Gaji yang bahkan tidak cukup untuk melunasi tunggakan kosannya yang per bulannya dipatok harga tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Jika ditotal dengan tunggakan tiga bulan, utangnya sudah mencapai satu juta lima puluh ribu rupiah. Uang di atas meja itu bahkan tidak sampai setengahnya.
Daru memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdepan kencang. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding kosan berukuran tiga kali tiga meter yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Bau lembap khas ruangan yang jarang terkena sinar matahari menyeruak, berbaur dengan aroma mi instan kuah yang baru saja dia habiskan sebagai menu makan malam romantisnya bersama kesendirian.
"Tuhan, kalau memang garis takdirku harus jadi guru, setidaknya berikan aku sedikit keajaiban. Minimal lolos pegawai negeri tahun ini, lah," gumam Daru seraya menatap langit-langit kosan yang berlubang, memperlihatkan bilah-bilah bambu penyangga genting.
Menjadi seorang pendidik sebenarnya adalah impian Daru sejak kecil. Dia sangat suka mengajar, membagikan ilmu tentang sejarah Nusantara, kerajaan-kerajaan kuno, dan bagaimana geografi membentuk peradaban. Nama belakangnya, Sasmita, memiliki arti isyarat atau petunjuk rahasia, sementara Handaru berarti cahaya jatuh atau wahyu dari langit. Orang tuanya yang sudah tiada dulu berharap Daru bisa menjadi pembawa petunjuk dan cahaya bagi sekitarnya.
Namun realitanya, jangankan menjadi cahaya bagi orang lain, menerangi masa depannya sendiri saja Daru kewalahan.
Di sekolah, posisinya sebagai guru honorer membuatnya berada di kasta terendah dalam hierarki akademik. Bayang-bayang penindasan itu bahkan masih terekam jelas dari kejadian di ruang guru siang tadi.
Saat itu, jam dinding baru menunjukkan pukul dua siang. Jam mengajar telah usai, namun meja kerja Daru yang terletak di pojok belakang dekat dispenser justru penuh dengan tumpukan map jepit milik guru-guru senior yang berstatus Pegawai Negeri.
"Daru, ini tolong koreksikan lembar jawaban anak-anak kelas sepuluh, ya. Ada tiga kelas," kata Bu Lastri, seorang guru senior pegawai negeri bertubuh tambun yang tangannya sibuk mengipas wajahnya dengan kipas angin portabel mahal, padahal ruang ber AC. "Sama satu lagi, tolong buatkan silabus dan modul ajar baru untuk semester depan. Saya pusing lihat format kurikulum yang gonta-ganti terus dari pusat."
Daru menatap tumpukan kertas itu dengan ragu. "Maaf, Bu Lastri. Tapi bukannya tenggat waktu pengumpulan nilai kelas sepuluh itu besok pagi? Dan modul ajar itu kan tugas mandiri setiap guru mata pelajaran..."
Sebelum Daru menyelesaikan kalimatnya, Pak Bambang, guru senior lain yang berkemeja dinas rapi dengan cincin batu akik besar di jarinya, menyela sambil mendengus sinis dari kursinya yang empuk.
"Alah, Daru. Kamu itu masih muda, jangan banyak mengeluh," cibir Pak Bambang sembari menyeruput kopi hitamnya. "Kami-kami ini dulu waktu awal jadi guru juga kerja keras. Lagian, hitung-hitung ini buat melatih mental kamu. Anak muda sekarang kok lembek sekali, dikasih tugas sedikit saja sudah menawar. Ingat, kamu itu masih honorer di sini. Nilai loyalitas kamu itu ada di tangan kami-kami yang senior ini."
"Betul itu, Pak Bambang," timpal Bu Lastri sembari membenarkan posisi gelang emasnya yang bergemerincing. "Guru honorer zaman sekarang kok kurang pengabdiannya. Dulu kami honorer bertahun-tahun tidak pernah mengeluh. Kamu kan masih bujang, waktu luangnya banyak. Beda sama kami yang sudah punya keluarga, harus urus anak dan rumah tangga. Tolong ya, sore ini harus selesai semua. Nanti taruh saja di meja saya."
Daru hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja kerja kayu lapuknya. Di dalam ruangan ber-AC tapi terasa panas itu, status pegawai negeri seolah menjelma menjadi kasta ksatria yang berhak memerintah kasta sudra seperti dirinya dengan semena-mena. Mereka menikmati tunjangan profesi dan gaji pokok yang besar, sementara tugas-tugas administratif yang menjemukan dilemparkan begitu saja kepada guru honorer berupah lima ratus ribu rupiah tanpa uang lembur sepeser pun.
Bahkan di mata para wali murid, dia sering kali dianggap sebelah mata hanya karena mengendarai sepeda motor bebek tua keluaran tahun 2000-an yang knalpotnya kerap batuk-batuk di parkiran sekolah, bersanding kontras dengan mobil-mobil LCGC milik para guru bersertifikasi.
Bzzzt... Bzzzt...
Lamunan pahit Daru tentang kejadian siang tadi buyar. Ponsel pintar milik Daru yang layarnya sudah retak seribu di bagian pojok tiba-tiba bergetar di atas kasur lantai tanpa ranjang miliknya. Sebuah nama tertera di layar, Pak Kepala Sekolah.
Daru mendengus pelan, mencoba menetralkan suaranya sebelum menggeser tombol hijau ke kanan. "Halo, Assalamualaikum, Pak Winarto."
"Waalaikumsalam. Daru, kamu sudah baca grup WhatsApp guru?" suara berat berwibawa di seberang sana langsung menodong tanpa basa-basi.
"Belum, Pak. Kebetulan saya baru selesai mengoreksi tugas anak-anak kelas sebelas. Ada apa ya, Pak?" jawab Daru jujur. Sebenarnya dia sengaja mematikan data seluler karena sisa kuotanya yang kritis.
"Begini, besok kan jadwal keberangkatan anak-anak kelas sepuluh untuk agenda studi banding dan berkemah di kaki Gunung Semeru. Nah, Pak Bambang yang seharusnya jadi ketua panitia pendamping mendadak izin tidak bisa ikut karena asam uratnya kambuh. Guru-guru yang lain juga sudah punya tugas masing-masing. Jadi, saya putuskan kamu yang menggantikan Pak Bambang untuk mendampingi anak-anak ke Semeru."
Daru terbelalak, hampir saja menjatuhkan ponselnya. "Tapi, Pak... ini kan mendadak sekali? Lagipula, tugas pengawasan lapangan dan koordinasi kegiatan sebesar itu biasanya dilakukan oleh guru senior atau wakil kepala sekolah. Saya belum pernah memegang kepanitiaan luar kota sebelumnya."
Di seberang telepon, terdengar helaan napas Pak Winarto yang terdengar tidak sabar. "Sudahlah, Daru. Jangan banyak alasan. Pak Bambang itu sedang sakit, kamu sebagai yang paling muda harusnya punya inisiatif untuk membantu senior. Lagipula, anggap saja ini sebagai bentuk dedikasi dan penilaian kinerja kamu untuk perpanjangan kontrak honorer tahun depan. Kamu mau kan kontrakmu diperpanjang?"
Ancaman terselubung itu laksana hantaman gada yang telak di dada Daru. Kontrak tahun depan. Kalimat sakti yang selalu digunakan pihak yayasan dan sekolah untuk mengunci mulut para guru honorer agar tidak bisa protes.
"Semua biaya transportasi dan konsumsi kamu di sana sudah ditanggung sekolah. Kamu tinggal berangkat saja besok pagi jam tujuh. Jangan telat, ya! Ambil berkas panduannya di meja Pak Bambang besok subuh," lanjut Pak Winarto memburu.
"Baik, Pak. Insya Allah saya siap," jawab Daru, pasrah pada keadaan.
"Bagus. Begitu baru namanya guru yang punya jiwa pengabdian. Ya sudah, Assalamualaikum."
Klik.
Panggilan diputus secara sepihak sebelum Daru sempat membalas salam. Daru menatap layar ponselnya yang meredup dengan tatapan tidak percaya. Dedikasi? Penilaian kinerja? Jiwa pengabdian? Itu semua adalah bahasa halus dari eksploitasi kerja dengan upah minim yang dibungkus rapi dengan jargon-jargon moralitas pendidikan. Menolak berarti siap-siap kehilangan satu-satunya mata pencaharian yang dia miliki, sekecil apa pun itu gajinya. Jika dia dipecat, jangankan membayar kosan, untuk makan esok hari pun dia tidak tahu harus mencari ke mana.
"Gunung Semeru..." gumam Daru pelan, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa yang sudah menipis.
Pikiran Daru mendadak menerawang jauh. Sebagai guru IPS yang mencintai sejarah dan kosmologi Nusantara, dia tahu betul bahwa dalam kepercayaan Jawa kuno, Gunung Semeru atau Mahameru bukan sekadar tumpukan tanah, pasir, dan batu tertinggi di Pulau Jawa. Tempat itu dianggap sebagai paku bumi gaib yang dipindahkan dari India oleh para dewa untuk menyeimbangkan pulau ini agar tidak terombang-ambing di atas samudra. Mahameru adalah tempat yang suci, sakral, pusat spiritual spiritual, dan dipenuhi oleh kabut misteri dunia gaib yang tidak tersentuh oleh nalar manusia modern.
Daru tersenyum kecut, menertawakan nasibnya sendiri. "Baguslah. Setidaknya kalau aku mati kedinginan atau hilang di Semeru, Bu Kos tidak akan bisa mengejar mayatku untuk menagih uang sewa."
Dia tidak pernah tahu, bahwa perjalanan mendadak ke kaki Gunung Mahameru yang dipaksakan oleh para guru senior yang semena-mena itu, justru menjadi gerbang awal yang akan menjungkirbalikkan seluruh hidupnya yang menyedihkan.
---