Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANG RAJAWALI

SANG RAJAWALI

GEELANG | Tamat
Jumlah kata
147.3K
Popular
431
Subscribe
70
Novel / SANG RAJAWALI
SANG RAJAWALI

SANG RAJAWALI

GEELANG| Tamat
Jumlah Kata
147.3K
Popular
431
Subscribe
70
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangPertualanganKultivasi
Dikucilkan, dihina, dan dicap sebagai anak pembawa sial sejak kecil, Baskara Wirajaya hanya memiliki satu tujuan menjadi cukup kuat untuk membungkam semua cemoohan dan membuktikan bahwa takdir tidak ditentukan oleh asal usul. Tanpa bakat berkultivasi sedikit pun, ia nekat melangkah masuk ke Lembah Terlarang tempat yang dianggap terkutuk dan dijaga makhluk buas hanya demi mencari secercah harapan. Namun apa yang ia temukan di sana melampaui segala dugaannya. Sebuah telaga ajaib, gubuk kuno yang memancarkan cahaya keemasan, dan seorang sesepuh yang telah menunggu ribuan tahun untuk menemukan tubuh dengan potensi terbesar yang pernah ada. Di balik kabut dan bahaya, takdir Baskara berbalik arah secara drastis. Dijadikan murid oleh sosok yang identitasnya diselimuti rahasia, Baskara kini memegang kunci menuju kekuatan yang melampaui logika dunia persilatan. Akankah ia mampu mengubah tuduhan yang menempel padanya menjadi kekuatan yang menaklukkan langit? Dan apakah asal usulnya yang tersembunyi itu justru menjadi awal dari sebuah legenda yang akan mengguncang seluruh alam semesta?
BAB 1 - Terbangun di Lembah Terlarang

Embun pagi menyelimuti seluruh kawasan Lembah Terlarang di wilayah Gunung Mahameru. 

Di kejauhan, tampak seorang remaja berusia enam belas tahun melangkah dengan penuh tekad menuju kawasan terlarang tersebut. Langkahnya mantap meskipun tubuhnya kurus dan terlihat lemah.

Pakaian compang-camping yang dikenakannya basah oleh embun pagi, namun semangat di matanya tidak pernah padam.

Sekelompok pemuda yang berpapasan dengannya segera menyeringai mengejek.

"Lihat itu si sampah, yang sedang mencari ajalnya!" seru pemuda pertama dengan suara lantang.

"Dia memang aib di kampung kita," sambung pemuda kedua sambil meludah ke tanah. "Anak pungut pembawa sial!"

"Lebih baik kau mati saja di dalam hutan, Baskara! Jangan kembali lagi!" teriak pemuda ketiga sambil melemparkan batu kecil ke arah remaja tersebut.

Remaja yang selalu menjadi sasaran hinaan itu terus melangkahkan kakinya, tidak menghiraukan ejekan dan lemparan batu yang mengenai punggungnya.

Hatinya bergetar, namun langkahnya tetap teguh. Dari raut wajahnya, terlihat secercah dendam yang membara.

Pemuda itu bernama Baskara Wirajaya, seorang yatim piatu yang hidup terlunta-lunta di Kampung Cilimus, sebuah desa terpencil di kaki Gunung Mahameru.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah peristiwa misterius, hidupnya berubah menjadi neraka. Ia dikucilkan, dihina, dan dituduh sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri.

Tuduhan paling menyakitkan datang ketika mereka mengatakan bahwa Baskara adalah anak pungut, bukan darah daging dari keluarga yang membesarkannya.

Konon, ia ditemukan di pinggir hutan oleh seorang tukang kayu tua yang sedang mencari kayu bakar. Tidak ada yang tahu siapa orang tua aslinya atau dari mana ia berasal.

Karena asal-usulnya yang tidak jelas itulah, maka ia dianggap sebagai anak haram pembawa kutukan.

Meskipun selalu dihina, dituduh pembawa sial, dilempari batu, dan diusir dengan penuh cacian, Baskara tidak pernah mampu membalas. Ia sadar bahwa dirinya terlalu lemah untuk melawan orang-orang yang memiliki kekuatan ilmu persilatan.

Tubuhnya tidak memiliki bakat untuk mengumpulkan tenaga dalam seperti kebanyakan pemuda di kampungnya. Ia dianggap sebagai orang cacat yang tidak pernah bisa menjadi pendekar sejati.

Hingga akhirnya, nekad memasuki Lembah Terlarang hanya untuk mencari sebuah keberuntungan. Menurut cerita turun-temurun, di dalam lembah itu terdapat banyak harta karun dan pusaka-pusaka kuno peninggalan para pendekar terdahulu.

Namun tidak ada yang pernah berani memasukinya karena konon lembah itu dijaga oleh makhluk-makhluk gaib yang sangat buas.

Dengan hanya mengandalkan keberanian dan harapan untuk mengubah nasibnya, Baskara terus melangkahkan kakinya. Setiap helaan napasnya terasa berat, namun keyakinan di dalam hatinya tidak pernah goyah.

Menjelang sore hari, akhirnya ia menemukan sebuah telaga kecil yang airnya sangat jernih bagaikan kristal. Di sekeliling telaga tumbuh bunga-bunga teratai putih yang bersinar samar-samar, seolah-olah memancarkan cahaya dari dalam kelopaknya. 

Dengan tubuh yang lelah dan keringat yang membasahi pakaiannya, Baskara berniat membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan. Ia melepas pakaiannya yang compang-camping, lalu melompat ke dalam telaga. Airnya terasa dingin namun menyegarkan, seolah-olah memberikan energi baru pada setiap sel tubuhnya.

Baskara menyelam ke dalam air, berusaha membersihkan segala kotoran dan kepenatan yang melekat pada tubuhnya. Dengan mengandalkan kemampuan fisiknya yang lemah, ia mampu bertahan beberapa menit di dalam air sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan. Setelah merasa cukup segar, ia segera beranjak dari telaga dan mengenakan kembali pakaiannya yang basah.

Tanpa membuang waktu, Baskara melanjutkan perjalanannya memasuki bagian dalam Lembah Terlarang. Semakin dalam ia melangkah, semakin kuat aura misterius yang dirasakannya menerpa tubuh. Udara menjadi lebih berat, dan suara-suara aneh sesekali terdengar dari kejauhan.

Tiba-tiba, lapisan kabut tipis bergerak aneh, menyelimuti seluruh kawasan lembah dengan cepat. Penglihatan Baskara menjadi kabur, namun ia tetap melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Ia berharap dapat menemukan sesuatu yang berharga di dalam hutan tersebut, mungkin sebuah pusaka atau ramuan ajaib yang dapat mengubah nasibnya.

Namun tiba-tiba Baskara terkejut setengah mati ketika mendengar suara teriakan yang menggema di seluruh Lembah Terlarang. Suaranya dalam dan menggelegar, seolah-olah berasal dari makhluk yang sangat besar dan perkasa.

"Hai bocah nakal! Beraninya kau memasuki kawasan terlarang ini!" Suara tersebut bergema di antara pepohonan, membuat burung-burung beterbangan ketakutan.

"Hari ini kau akan menjadi santapanku!" lanjut suara itu dengan nada mengancam.

Dengan hati berdebar-debar, Baskara berusaha menenangkan diri dan menjawab dengan suara terbata-bata.

"Tuanku, siapakah anda? Aku tidak bermaksud mengganggu, aku hanya tersesat," ucap Baskara mencoba memberanikan diri.

"Tersesat atau tidak, kau tetap akan menjadi santapanku!" Suara itu kembali menggema, kali ini terdengar lebih dekat.

Tanpa berpikir panjang, Baskara berlari sekencang-kencangnya sambil mencari jalan keluar dari lembah tersebut. Namun tidak semudah yang ia pikirkan. Dalam keadaan kalut, ia berlari tanpa arah, tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia terus berlari memasuki hutan lebih dalam lagi, menjauhi sumber suara yang menakutkan itu.

Akibatnya, tanpa disadari, ia berhadapan langsung dengan seekor hewan buas yang sangat besar. Makhluk itu memiliki tubuh seperti harimau namun dengan dua tanduk di kepalanya dan ekor yang panjang bersisik. Matanya menyala merah dan taringnya tampak tajam mengancam.

Baskara tidak sempat berpikir. Ia segera berbalik arah menuju ke sebelah kiri dan terus berlari sekencang-kencangnya melewati semak-semak dan akar pohon yang menghalangi jalannya.

Tidak terasa, ia tiba di depan sebuah gubuk tua yang terletak di tengah-tengah hutan. Gubuk itu tampak sangat kuno, dengan dinding dari kayu yang telah lapuk dan atap dari ilalang yang sudah menghitam. Namun yang membuat Baskara tertegun adalah cahaya keemasan yang samar-samar terpancar dari celah-celah dinding gubuk tersebut.

Baskara sejenak diam mematung, memperhatikan keadaan di sekitar gubuk tua itu. Tidak ada suara binatang buas ataupun angin yang berhembus. Semuanya terasa sunyi dan damai, seolah-olah tempat ini terpisah dari dunia luar.

Tiba-tiba, muncul seorang pria sepuh di hadapannya. Wajahnya keriput namun matanya bersinar cemerlang bagaikan bintang. Rambut putihnya terurai panjang hingga ke pinggang, dan ia mengenakan jubah putih sederhana yang bersih bercahaya. Pria itu tersenyum ramah ketika melihat Baskara yang masih terpaku karena terkejut.

Tanpa berkata sepatah kata pun, pria sepuh itu mengamati tubuh Baskara dengan tatapan tajam yang seolah-olah menembus hingga ke dalam jiwa. Matanya berbinar-binar, dan senyumnya semakin melebar.

"Hmm, tipe tubuh kaisar," gumam pria sepuh itu dalam hati dengan nada takjub. "Setelah ribuan tahun, akhirnya aku menemukannya."

Pria itu lalu mengulurkan tangannya, dan dalam sekejap, Baskara merasakan seluruh tubuhnya terangkat dan terbawa masuk ke dalam gubuk tua.

Swoosh, swhoosh...

Seperti dalam mimpi, tiba-tiba Baskara berada di sebuah istana kerajaan yang sangat megah. Dindingnya terbuat dari batu permata yang berkilauan, dan pilar-pilarnya dihiasi ukiran naga dan burung garuda yang tampak hidup. Taman di sekitarnya dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni yang memancarkan cahaya lembut.

"Nak, siapa namamu?" tanya pria sepuh itu dengan suara lembut dan ramah.

Baskara masih bingung dan terkesima dengan keindahan tempat itu. Ia berusaha menjawab meskipun suaranya gemetar.

"Baskara, Tuanku. Baskara Wirajaya," jawabnya dengan gugup. "Tuanku, di manakah aku ini?"

"Kau saat ini berada di dalam dunia kecil milikku, dan ini adalah Istana Mahameru," jawab pria sepuh itu dengan tersenyum.

Tanpa basa-basi, pria sepuh itu menyatakan keinginannya untuk menjadikan Baskara sebagai murid. "Panggil aku Kakek Guru Padmanaba. Mulai hari ini, kau akan menjadi muridku," ucapnya dengan tatapan penuh harap.

Baskara terdiam, tidak segera menjawab. Pikirannya berkecamuk antara ketidakpercayaan dan harapan yang mulai tumbuh.

"Apakah kau bersedia, Nak Baskara?" tanya Kakek Guru Padmanaba sekali lagi.

Setelah berpikir cukup lama, Baskara menganggukkan kepalanya perlahan. Air mata haru mulai menggenang di matanya.

"Aku bersedia, Kakek Guru!" ucap Baskara sambil memberi hormat dan berlutut di hadapan Kakek Guru Padmanaba.

"Hahaha... Akhirnya, setelah ribuan tahun menunggu, aku memiliki seorang murid!" ucap Kakek Guru Padmanaba dengan penuh kebahagiaan. Suaranya menggema di seluruh ruang istana, seolah-olah alam semesta turut merayakan momen bersejarah ini.

Baskara terkejut mendengar ucapan gurunya. "Kakek Guru, siapakah anda sebenarnya?" tanyanya dengan rasa penasaran yang membara.

Kakek Guru Padmanaba tersenyum misterius. "Suatu saat nanti, kau akan tahu siapa diriku yang sebenarnya. Sekarang yang perlu kau ketahui adalah bahwa aku adalah gurumu, dan aku akan mengajarkan semua ilmu yang kau butuhkan untuk menjadi kuat."

"Baiklah, hari ini kau beristirahatlah dulu. Besok pagi, kita akan memulai latihan," tambah Kakek Guru Padmanaba sambil menunjuk ke sebuah pintu di ujung ruangan. "Di sana ada kamar untukmu beristirahat. Pergilah, tidurlah dengan nyenyak. Kau akan membutuhkan semua tenagamu untuk hari esok."

Baskara mengangguk dan melangkah menuju kamar yang ditunjukkan. Di dalam kamar, ia berbaring di atas tempat tidur yang empuk dan hangat. Namun pikirannya tidak bisa tenang. Ia berusaha untuk berkultivasi, mencoba merasakan aliran energi di dalam tubuhnya.

Meskipun dirinya dianggap cacat karena tidak bisa berkultivasi seperti orang lain, dan karena itulah saudara serta penduduk kampung menganggapnya sebagai pemuda pembawa sial, Baskara tidak pernah berputus asa. Ia terus berusaha dan berusaha, meskipun setiap usahanya selalu berakhir dengan kegagalan.

"Kali ini pasti berbeda," gumamnya dalam hati sambil memejamkan mata. "Aku akan berhasil. Aku harus berhasil."

Kehangatan dan kedamaian istana perlahan-lahan membuatnya terlelap. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Baskara tidur dengan nyenyak tanpa diganggu mimpi buruk tentang ejekan dan perlakuan keji dari orang-orang di kampungnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca