
Aku Beli Istri Seharga 10M
moon_skyy|Bersambung
- Jumlah kata
- 135.7K
- Popular
- 189
- Subscribe
- 72
- Jumlah kata
- 135.7K
- Popular
- 189
- Subscribe
- 72
Sinopsis
Aku Beli Istri Seharga 10M Dunia mafia adalah tempat di mana segalanya memiliki harga, termasuk kesetiaan dan nyawa. Namun, bagi Adriel Vance, seorang penguasa dunia bawah yang dingin dan tak tersentuh, ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan "membeli" satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan: hatinya sendiri.Semua berawal dari kesepakatan bisnis yang kotor—sebuah transaksi senilai 10 miliar untuk menyelamatkan keluarga yang terpuruk. Elena, seorang wanita yang terjebak dalam pusaran utang dan pengkhianatan, terpaksa menyerahkan kebebasannya untuk menjadi istri sang mafia.Di balik dinding kaca penthouse yang menghadap gemerlap kota, Elena bukan sekadar aset atau tawanan. Ia adalah badai yang perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Adriel. Di antara ancaman musuh yang mengintai dan rahasia kelam masa lalu, mampukah cinta tumbuh di atas fondasi transaksi yang dingin ini? Atau justru,
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: DUNIA YANG RUNTUH
Hujan turun deras, membasahi kaca-kaca gedung pencakar langit dan menyelimuti kota dengan suasana muram. Dari balkon kantornya di lantai empat puluh dua, Adriel Vance berdiri tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada lautan cahaya kota yang tampak kabur di balik guyuran hujan.
Di tangannya tergenggam sebuah dokumen hukum. Kertas itu bergetar tipis, bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena seluruh hidupnya baru saja runtuh.
Vance Group, perusahaan warisan keluarganya yang dibangun selama puluhan tahun, resmi dinyatakan pailit. Sebuah skandal penggelapan dana yang dilakukan pamannya telah menghancurkan reputasi perusahaan dalam semalam. Lebih buruk lagi, semua bukti mengarah kepadanya.
Hutang sebesar sepuluh miliar rupiah harus dibayar dalam waktu tiga hari. Jika gagal, ia akan menjadi kambing hitam dan berakhir di balik jeruji besi.
Pintu ruang kerjanya terbuka perlahan.
Adriel tidak menoleh. Ia sudah mengenali siapa yang datang dari aroma parfum melati yang samar.
"Sudah lewat tengah malam, Pak Adriel," ujar seorang wanita dengan suara tenang.
Adriel mengembuskan napas panjang sebelum berbalik.
Elena berdiri di ambang pintu. Seperti biasa, penampilannya rapi dan elegan. Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat sosoknya terlihat dingin dan sulit ditebak. Di tangannya terdapat sebuah map biru tua.
"Dunia sedang runtuh di luar sana, Elena," ucap Adriel dengan senyum pahit. "Dan kau masih memikirkan jam kerja?"
Elena berjalan mendekat tanpa memedulikan sindiran itu. Ia meletakkan map di atas meja yang penuh berkas kebangkrutan.
"Aku membawa solusi."
Adriel tertawa pelan.
"Solusi? Semua bank sudah menolakku. Investor yang dulu berebut ingin bekerja sama sekarang bahkan tidak mau mengangkat teleponku."
"Bukan bank dan bukan investor."
Elena menatapnya lurus.
"Aku tahu seseorang yang bisa melunasi sepuluh miliar itu malam ini juga."
Adriel menyipitkan mata.
"Tidak ada yang memberikan uang sebanyak itu secara cuma-cuma. Apa syaratnya?"
Elena terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Sebuah pernikahan."
Adriel mengernyit.
"Pernikahan?"
"Ya."
Ia menggeleng pelan.
"Siapa yang mau menikahi pria yang baru kehilangan segalanya?"
Elena mengangkat kepalanya.
"Aku."
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan suara hujan di luar terdengar begitu jelas.
Adriel menatap Elena beberapa detik, seolah baru pertama kali melihat wanita itu.
"Kau bercanda."
"Aku tidak pernah bercanda mengenai pekerjaan."
"Kau punya sepuluh miliar?"
"Bukan aku."
Elena melangkah lebih dekat.
"Aku hanya perantara."
Adriel mengernyit.
"Maksudmu?"
"Ada seseorang di balik layar yang membutuhkan nama keluarga Vance. Mereka membutuhkan stabilitas dan kehormatan yang masih tersisa dari keluargamu."
Tatapan Elena tetap tenang.
"Jika kau setuju menikah denganku secara kontrak, uang itu akan masuk ke rekening perusahaan besok pagi."
Adriel memandang wanita di depannya dengan tatapan tajam.
Selama lima tahun Elena menjadi asisten pribadinya. Ia selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir. Ia mengatur seluruh jadwalnya, mengetahui kebiasaannya, bahkan hafal setiap detail penting dalam hidupnya.
Namun, malam ini, wanita itu terasa seperti orang asing.
"Sepuluh miliar untuk pernikahan palsu?" bisik Adriel.
"Sepuluh miliar untuk menyelamatkan hidupmu," koreksi Elena.
Ia kembali melanjutkan.
"Ambil tawaran ini, atau biarkan namamu hancur selamanya."
Adriel terdiam.
Pilihan di hadapannya begitu sederhana sekaligus kejam.
Menolak berarti kehilangan segalanya.
Menerima berarti menjual kebebasannya.
Ia membuka map biru itu. Di dalamnya terdapat kontrak pernikahan lengkap dengan berbagai syarat.
Setiap kalimat terasa seperti rantai yang perlahan mengikat dirinya.
"Kau sudah merencanakan semua ini?" tanya Adriel pelan.
"Aku hanya mempersiapkan kemungkinan."
"Kenapa harus kau?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Adriel mendekat hingga hanya beberapa langkah dari Elena.
"Kenapa bukan orang lain?"
Untuk pertama kalinya, mata Elena tampak berubah.
Ada sesuatu di sana. Sebuah emosi yang cepat menghilang sebelum sempat dibaca.
"Karena hanya aku yang tahu rahasia mana yang harus disembunyikan agar kau tidak berakhir di penjara."
Ia menarik napas pendek.
"Dan karena, untuk alasan yang hanya aku ketahui, aku lebih memilih terikat denganmu daripada dengan orang lain."
Adriel terdiam.
Posisi mereka kini benar-benar terbalik.
Asisten yang selama ini berada di bawah perintahnya sekarang memegang kendali atas hidupnya.
Perlahan, ia mengambil pulpen dari saku jas.
Tangannya berhenti di atas kolom tanda tangan.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian, dengan satu gerakan tegas, ia menandatangani kontrak itu.
Pulpen tersebut jatuh ke atas meja.
"Sekarang jelaskan padaku," ucap Adriel. "Siapa sebenarnya yang membeliku?"
Elena mengambil map itu dan memastikan tanda tangannya telah kering.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Namun, senyum itu terasa dingin.
"Mulai besok pagi, kau bukan lagi milik dirimu sendiri."
Ia berbalik menuju pintu.
"Lalu siapa orang di balik semua ini?" tanya Adriel.
Elena berhenti.
"Kau akan mengetahuinya saat berdiri di altar."
Pintu tertutup pelan.
Adriel kembali sendirian.
Ia masih berdiri di tempat yang sama, menatap pintu kayu itu cukup lama.
Suara detak jam dinding terasa semakin keras.
Perlahan, ia berjalan menuju meja dan menuangkan segelas wiski.
Cairan itu mengalir ke tenggorokannya, meninggalkan rasa panas yang tidak mampu mengusir sesak di dadanya.
Sepuluh miliar.
Harga yang cukup untuk menyelamatkan sebuah perusahaan.
Dan juga harga yang cukup untuk membeli hidup seseorang.
Ia menatap pantulan dirinya di jendela.
Setelan mahal yang dikenakannya masih terlihat sempurna, tetapi di balik itu semua, ia sudah kehilangan segalanya.
Ia tertawa pelan.
"Hebat sekali, Adriel Vance," gumamnya. "Dulu kau membeli perusahaan orang lain. Sekarang kau yang dibeli."
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
Malam itu adalah malam terakhirnya sebagai pria bebas.
Besok, hidupnya akan berada di tangan orang yang bahkan belum pernah ia temui.
Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah pikiran muncul.
Tidak.
Ia tidak akan menyerah begitu saja.
Adriel berdiri.
Ia berjalan menuju sebuah lukisan di dinding, lalu menggesernya. Di balik lukisan itu tersembunyi sebuah brankas kecil.
Setelah memasukkan kode, pintu brankas terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk.
Benda kecil itu berisi salinan transaksi rahasia dan berbagai data penting yang pernah ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Informasi itu cukup untuk menghancurkan reputasi banyak orang.
Termasuk siapa pun yang sedang berusaha membeli hidupnya.
Adriel mengambil flashdisk tersebut.
"Kau mungkin memiliki kontrak itu, Elena," ucapnya pelan. "Tapi aku masih punya kartu as."
Ia memasukkan flashdisk ke dalam saku jas.
Risikonya besar.
Jika orang di balik semua ini mengetahui keberadaan data tersebut, nyawanya bisa terancam.
Namun, Adriel Vance bukan tipe orang yang menyerah tanpa perlawanan.
Ia lebih memilih jatuh sambil menggenggam kendali daripada hidup sebagai boneka.
Tepat saat ia hendak pergi, ponselnya yang tadi dimatikan tiba-tiba menyala.
Sebuah pesan masuk.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah angka.
10.000.000.000.
Di bawahnya tertulis sebuah alamat.
Gedung Cakrawala.
Pukul 08.00 pagi.
Adriel menatap layar ponselnya cukup lama.
Permainan ini rupanya sudah dimulai.
Ia tidak punya waktu lagi untuk meratapi kehancurannya.
Yang menantinya bukan sekadar pernikahan kontrak, melainkan sebuah perang dingin yang belum ia pahami.
Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan meninggalkan ruangan.
Saat pintu gedung terbuka, udara malam yang dingin langsung menyambutnya.
Hujan telah reda.
Awan gelap masih menggantung di langit, tetapi di kejauhan, cahaya kota tetap bersinar.
Adriel mengangkat pandangan.
Malam ini adalah akhir bagi Adriel Vance yang lama.
Pria kaya, arogan, dan tak terkalahkan itu telah mati bersama runtuhnya Vance Group.
Namun, di balik tatapannya yang dingin, sebuah api baru mulai menyala.
Api dendam.
Api ambisi.
Dan untuk pertama kalinya sejak perusahaan itu jatuh, Adriel tersenyum tipis.
Jika seseorang ingin menjadikannya pion, maka mereka telah melakukan kesalahan besar.
Karena Adriel Vance tidak pernah diciptakan untuk menjadi bidak dalam permainan orang lain.
Ia adalah pemainnya.
Dan perang untuk merebut kembali hidupnya baru saja dimulai.
Daftar bab
105 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
105 bab








