

Suara rintik hujan yang menghantam atap seng kontrakan tiga kali empat meter itu terdengar seperti ejekan di telinga Jodi Ravindra.
Jodi menatap pantulan dirinya di cermin lemari plastik yang sudah retak di sudutnya.
Sepasang mata sayu yang kelelahan, kulit kusam akibat kurang tidur dan polusi jalanan, serta garis wajah yang jauh dari kata menarik.
Ditambah lagi dengan kemeja kerja yang sudah pudar warnanya di bagian kerah, Jodi benar-benar potret nyata dari seorang pria pecundang yang sedang diombang-ambingkan kerasnya ibu kota.
"Jodi, kita putus."
Kalimat yang dikirimkan oleh Lisa, kekasihnya selama dua tahun terakhir melalui pesan singkat satu jam lalu, masih terasa seperti hantaman godam di dadanya.
Tanpa penjelasan, tanpa kesempatan untuk berbicara. Namun, Jodi gak bodoh. Ia tahu persis alasannya.
Kemarin malam, ia gak sengaja melihat Lisa turun dari sebuah mobil sedan mewah di depan mal, tertawa manja sambil menggelayut di lengan seorang pria klimis berdasi yang usianya jauh di atas mereka.
Jodi meremas ponselnya yang layarnya sudah retak seribu.
Dadanya bergemuruh oleh perpaduan antara rasa sakit, kecewa, dan amarah yang tertahan.
Menjadi miskin dan berwajah pas-pasan di dunia yang serba memandang fisik dan materi ternyata adalah sebuah dosa besar.
Di tempat kerjanya pun, sebuah perusahaan properti raksasa milik keluarga Adhitama, Jodi hanyalah seorang staf administrasi rendahan yang kerap menjadi bahan rundungan.
"Jodi! Kerjaan kamu gimana, sih? Laporan magang dari divisi pemasaran saja bisa salah input! Mau saya potong gaji kamu bulan ini, hah?!"
Suara melengking milik Bu Sarah, kepala divisi administrasi yang terkenal dingin dan angkuh, kembali terngiang di kepalanya.
Sarah Adhitama, wanita kelas atas berusia dua puluh delapan tahun dengan kecantikan yang luar biasa namun memiliki hati sekeras batu.
Setiap kali Sarah lewat di koridor kantor, semua pria akan menahan napas mengagumi tubuhnya yang proporsional dibalut rok pensil ketat dan aura berkelasnya, namun gak ada satu pun yang berani mendekat karena tatapan matanya yang tajam seperti belati.
Bagi Sarah, karyawan kelas bawah seperti Jodi tidak lebih dari sekadar angka di atas kertas yang bisa dibuang kapan saja.
Jodi menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya.
Ia harus keluar dari kamar pengap ini sebelum pikirannya benar-benar gila.
Mengabaikan hujan yang mulai mereda menjadi gerimis, Jodi melangkah keluar dengan jaket parasutnya yang sudah mulai tipis.
Ia berjalan tanpa arah menyusuri trotoar basah, hingga kakinya membawanya ke sebuah pasar loak di pinggiran kota yang sudah mulai sepi karena malam semakin larut.
Langkah Jodi terhenti di depan sebuah lapak tua yang menjajakan barang-barang antik berdebu.
Matanya entah mengapa tertuju pada sebuah kotak kayu kecil yang lapuk di sudut meja.
Di dalam kotak itu, tergelak sebuah koin tembaga tebal berwarna hitam pekat dengan ukiran aneh berbentuk naga yang melingkari sebuah permata merah redup di tengahnya.
Ada dorongan aneh dari dalam dirinya yang memaksa Jodi untuk menyentuh koin itu.
"Tertarik dengan koin itu, Anak Muda?" tanya si penjual, seorang kakek tua misterius dengan janggut putih panjang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Ini ... koin apa, Kek?" tanya Jodi, suaranya agak serak.
"Itu adalah artefak kuno yang mencari tuannya. Ambil saja, bayar seikhlasnya. Benda itu tahu siapa yang sedang berada di titik terendah," ucap si kakek dengan senyum penuh arti yang membuat kuduk Jodi meremang.
Jodi merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu rupiah terakhir di dompetnya, sisa ongkosnya untuk naik angkutan umum besok pagi.
Setelah menyerahkan uang itu, Jodi menggenggam koin hitam tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jaket, lalu segera melangkah pergi dari sana dengan perasaan campur aduk.
Sesampainya di kontrakan, rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang tubuh Jodi.
Jodi merebahkan diri di atas kasur lantai tanpa berniat mengganti pakaiannya.
Jodi mengeluarkan koin hitam itu dari sakunya, menatap permata merah di tengahnya yang entah mengapa malam ini terasa sedikit lebih terang dari sebelumnya.
"Kalau saja aku punya uang ... kalau saja aku tampan ... aku tidak akan dihina seperti ini oleh Lisa ataupun Bu Sarah," gumam Jodi lirih, meratapi nasibnya sebelum matanya perlahan terpejam karena kantuk yang tak tertahankan.
***
Tepat pada pukul dua belas malam, ketika seluruh kota telah terlelap, permata merah di tengah koin yang digenggam Jodi tiba-tiba memancarkan cahaya merah darah yang sangat pekat.
Kamar kontrakan yang gelap itu seketika diterangi oleh kilatan cahaya mistis.
Jantung Jodi berdegup dengan sangat kencang, memaksanya terbangun dalam keadaan terengah-engah.
Namun, dia gak bisa menggerakkan satu pun anggota tubuhnya.
Koin hitam di genggamannya mendadak meleleh, berubah menjadi cairan hitam pekat yang bergerak seperti makhluk hidup, merayap naik ke pergelangan tangannya, lalu perlahan meresap masuk menembus kulitnya.
"Aaaakh!!"
Jodi ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Rasa panas yang luar biasa, seolah darahnya digantikan oleh cairan lava mendidih, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
Tulang-tulangnya terdengar bergemeletuk, bergeser dan memanjang.
Struktur wajahnya perlahan-lahan merombak, kulitnya yang kusam terkelupas dan digantikan oleh lapisan kulit baru yang bersih dan kencang.
Lemak di tubuhnya terbakar habis dalam hitungan detik, membentuk otot-otot dada dan perut yang atletis serta proporsional di balik pakaiannya.
Sebuah energi kuno yang teramat dahsyat mengalir, berpusat di dadanya, memancarkan sebuah gelombang tak kasat mata yang dipenuhi dengan aura dominasi dan daya pikat yang begitu pekat.
Bersamaan dengan itu, sebuah bisikan gaib menggema langsung di dalam kesadaran Jodi.
“Artefak Dewa Pemikat telah menyatu. Jiwa penguasa telah bangkit. Mulai detik ini, takdir harta, takhta, dan wanita berada di bawah kendalimu, Jodi Ravindra.”
Cahaya merah itu meredup, menyisakan keheningan malam yang mencekam.
Jodi terjatuh di atas kasurnya, gak sadarkan diri dengan napas yang memburu, sama sekali belum menyadari bahwa ketika matahari terbit nanti, dirinya bukan lagi seorang pecundang yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun.
***
Sinar matahari pagi perlahan menerobos masuk melalui celah jendela kontrakan yang sempit, tepat mengenai wajah Jodi.
Matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya yang menusuk penglihatannya.
Anehnya, rasa lelah dan pegal yang biasanya menyiksa tubuhnya setiap pagi kini hilang tanpa bekas.
Sebaliknya, Jodi merasakan tubuhnya begitu ringan, penuh energi, dan segar seolah baru saja dialiri kekuatan baru yang tak terbatas.
Saat dia bangkit berdiri, celana jins dan kaos oblongnya terasa sangat sempit dan sesak, tertahan oleh bentuk tubuhnya yang mendadak berubah kekar.
Rasa penasaran yang membuncah membuat langkah kaki Jodi setengah berlari menuju cermin lemari plastik di sudut kamar.
Begitu dia menatap pantulan di depannya, napas Jodi seketika tercekat.