
- Jumlah kata
- 64.4K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 174
Sinopsis
Aditya dipanggil pulang sebagai ahli waris tunggal setelah ayahnya, Raden Broto, meninggal dunia. Bersama istrinya, Shinta, dia memutuskan untuk kembali dengan kenangan dendam yang membuatnya pergi dari rumah. Memang saat itu dia memilih pergi dari rumah karena murka melihat ayahnya, saudagar getah dengan lahan karet yang luas di kaki Gunung Halimun ini, menodai Shinta saat masih menjadi calon istrinya. Namun ternyata, ada alasan mengerikan di balik perangai ayahnya itu. Shinta yang cantik dan binal itu ternyata diinginkan oleh para dedemit penguasa tanah ini, dan bersiap menjadi tumbal berikutnya Keluarga Broto. Saat Aditya kembali menjadi penerus, dia harus menyerahkan istrinya itu untuk melayani penguasa gaib tanah itu. Akankah dia merelakannya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Kematian Bapak
Hembusan napas Aditya memburu di leher Shinta, panas, membakar kulitnya yang basah oleh peluh.
Ranjang berderit liar, mengikuti irama pinggulnya yang menghantam tanpa ampun.
Shinta mendesah panjang, kuku-kukunya menancap di punggung bidang suaminya, meninggalkan jejak merah yang memudar cepat.
Tubuhnya melenting, mencari gesekan lebih dalam, lebih rakus, menelan setiap jengkal kejantanan yang menyeruduk ke dalam dirinya.
"Lebih keras, Mas," bisiknya, suaranya bergetar oleh kenikmatan yang hampir meledak.
Aditya tak menjawab, hanya rahangnya mengencang, otot-otot perutnya berkontraksi saat dia menghujamkan penetrasinya semakin dalam, semakin brutal. Lelaki itu seperti mesin yang dipacu di gigi tertinggi, tak ada jeda, tak ada ampun.
Deru napas mereka bercampur dalam simfoni kepuasan yang membabi-buta. Shinta memejamkan mata, bibirnya terbuka, siap menerima puncak yang sudah lama dia dambakan.
Jari-jari Aditya meremas pinggulnya, menandai kulit halus itu dengan cengkeraman posesif. Lalu, suara memekik dari nakas memecah ruangan.
Bzzzzt... Bzzzzt...
Aditya mengabaikannya. Tubuhnya terus bergerak, maju-mundur, keringat menitik jatuh ke dada Shinta. Getaran ponsel itu semakin ngotot, memantul di atas meja kayu.
"Telepon, Mas..." desah Shinta, tapi kedua kakinya justru semakin erat melingkari pinggang suaminya, enggan kehilangan penetrasi barang sedikit pun.
Dengan geraman rendah, Aditya meraih ponsel itu. Tatapan matanya mengerut begitu melihat nama yang tertera di layar. Satu tangannya tetap menekan perut Shinta, sementara tangan lainnya menjawab panggilan.
"Halo."
Hening. Gerakan pinggul Aditya terhenti total. Wajahnya yang tadi tegang oleh nafsu berubah menjadi patung, beku dan membatu. Hanya suara napas dari seberang sana yang terdengar, lalu disusul oleh kata-kata yang membuat rahangnya mengeras.
"Kapan?" Suara Aditya datar, dingin, seperti pisau yang baru saja dicabut dari es.
Shinta menggeliat di bawahnya, bibirnya memberengut kecewa karena permainan mereka terhenti di puncak yang menggantung. Dia mendorong tubuhnya ke atas, mencoba kembali mengambil irama. Tapi tangan Aditya menahannya, mendorong pinggulnya kembali ke ranjang dengan paksa.
Dia bangkit, duduk di tepi ranjang, punggungnya yang lebar dan berkilau oleh keringat membelakangi Shinta. "Malam ini saya pulang." katanya pendek
Perempuan itu merangkak mendekat. Tangannya yang mulus melingkari leher suaminya dari belakang, payudaranya yang masih kencang dan penuh menekan punggung Aditya. Bibirnya bermain di daun telinga laki-laki itu, menggigit kecil, lalu beralih ke rahang.
Aditya menoleh, menangkap bibirnya dalam kecupan singkat. Lalu matanya kembali ke ponsel, fokus pada suara Parto di seberang.
Dia mendengarkan instruksi tentang pemakaman, tentang adat, tentang kematian yang tiba-tiba dan dingin.
"Baiklah Pak Parto. Tunggu Saya di sana." Dia mematikan sambungan, melemparkan ponsel itu asal ke atas ranjang.
Tanpa sepatah kata, Aditya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Otot-otot bokongnya mengencang setiap langkah. Shinta memandangnya dengan bibir terkatup, lalu turun dari ranjang mengikuti. Air sudah menyembur deras dari shower ketika dia mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam uap yang mulai memenuhi ruangan.
Aditya berdiri di bawah guyuran air dengan kepala tertunduk. Air mengaliri wajah tirusnya, turun melewati dada bidang, menghilang di selangkangan yang masih setengah tegang.
Shinta menghampiri, air langsung membasahi tubuhnya yang menarik. Rambut panjangnya menempel di punggung dan bahu. Dia menarik tangan suaminya, menempatkannya di pinggangnya sendiri, lalu berbalik, menekankan pantatnya yang montok ke selangkangan Aditya.
"Lanjutin?" bisiknya, kepalanya menoleh ke belakang, matanya memohon sekaligus menggoda.
Aditya tak menjawab. Tangannya yang menguasai pinggul Shinta mendorong tubuh perempuan itu ke dinding keramik yang dingin. Satu tangannya menekan punggung Shinta, membuatnya membungkuk, sementara tangan lainnya mengarahkan dirinya ke liang Shinta yang sudah basah dan siap.
Dia masuk dalam satu hentakan, mentah dan brutal. Shinta menjerit kecil, tangannya menekan dinding basah. "Akh... Mas..."
Laki-laki itu mulai menggenjot, pinggulnya memompa tanpa belas kasihan. Suara daging bertemu daging menggema di antara semprotan air shower. Tetes air memantul dari tubuh mereka yang bergerak, menciptakan hujan kecil di dalam ruangan itu.
"Siapa, Mas, yang... telepon?" Shinta susah payah merangkai kata, setiap hembusan napasnya diselingi lenguhan ketika ujung kejantanan suaminya menghujam titik sensitif di dalam dirinya.
Aditya menarik pinggul Shinta lebih keras, memperdalam sudut penetrasinya. Payudara Shinta berguncang mengikuti irama liar. Air membuat kulit mereka licin, memudahkan gesekan dan memperkuat setiap sensasi.
"Bapak," jawabnya, rahangnya mengatup, otot-otot lengannya bergetar menahan bebannya sendiri. "Bapak meninggal."
Kata-kata itu menggantung di udara yang dipenuhi uap, aneh dan ganjil. Di saat yang bersamaan, sesuatu seperti saklar terpicu di dalam diri Aditya. G
erakannya bertambah ganas, seolah setiap katup pengendali dalam dirinya meledak. Dia menghantam Shinta seakan ingin menembus rahimnya, seakan ingin melenyapkan sesuatu di dalam diri sang perempuan, atau di dalam dirinya sendiri.
"Ngg... Mas... Mas!" Shinta hampir kehilangan pijakan. Lututnya lemas, tubuhnya getar, tapi setiap pukulan pinggul suaminya mendorongnya ke puncak yang menggila. Dia tak bisa berpikir tentang berita kematian itu, tak bisa merasakan duka karena seluruh syarafnya terbakar oleh penetrasi yang menghukum sekaligus memuaskan.
"Akh maaff mass... Tapi, kenapa Mas makin..." dia tercekat, napasnya tersengal.
Aditya menggenggam rambut basah Shinta, menarik kepala perempuan itu ke belakang. Mulutnya menempel ke telinga istrinya, napasnya yang panas dan memburu menggetarkan gendang telinga.
"Aku nggak tahu," desisnya, dan desisan itu dipenuhi oleh sesuatu yang gelap, sesuatu yang liar dan tak terduga. "Tapi aku belum selesai."
Dia melepas rambut Shinta, kedua tangannya mencengkeram pinggul perempuan itu lebih erat, dan dengan satu hentakan terakhir yang dalam, dia mengosongkan dirinya.
"Aaanghh..."
Shinta berteriak, tubuhnya kejang merasakan klimaks yang menghancurkan segala pikirannya. Air shower terus mengguyur, membilas sisa-sisa persetubuhan yang brutal dan aneh itu.
Untuk beberapa saat, hanya suara air dan napas terengah-engah yang mengisi ruangan. Lalu Aditya menegakkan tubuh, mencabut dirinya, dan melangkah menjauhi istrinya yang masih gemetar bersandar di dinding keramik.
Dia meraih sabun dan membasuh tubuhnya kaku sambil termenung. "Aku berangkat satu jam lagi. Siapkan bajuku." Suaranya normal, datar, seolah yang baru saja terjadi hanyalah rutinitas pagi biasa.
Shinta menatap punggung suaminya, air mengaliri lekuk tubuhnya yang masih berdenyut oleh sisa-sisa kenikmatan yang brutal. Dadanya bergemuruh oleh campuran aneh antara kepuasan dan kengerian.
"Aku ikut, mas," gumamnya.
Daftar bab
54 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








