
KEHIDUPAN KEDUA : PEWARIS TERBUANG
KEZHIA ZHOU|Bersambung
- Jumlah kata
- 44.3K
- Popular
- 101
- Subscribe
- 23
- Jumlah kata
- 44.3K
- Popular
- 101
- Subscribe
- 23
Sinopsis
"KALI INI AKU YANG AKAN MENGHANCURKAN KALIAN" ****************** Mereka membuangnya, menjebaknya, lalu membunuhnya. Namun kematian bukanlah akhir. Ken kembali sepuluh tahun ke masa lalu dengan Sistem Pembalasan Takdir. ******************* >[SISTEM AKTIF. TARGET TERKUNCI] ******************** Mulai hari itu, setiap orang yang pernah menghancurkannya akan membayar dengan harga yang jauh lebih mahal.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
MATI SEBAGAI PENGKHIANAT
"Aku tidak pernah mencuri uang perusahaan!"
Suara Ken menggema di ruang rapat utama Ventara Grup. Puluhan pasang mata tertuju kepadanya. Namun tidak ada seorang pun yang membela.
Di ujung meja rapat, Adrian Wijaya duduk dengan emosi yang tertahan. Tatapan pria berusia lima puluh enam tahun itu dingin, seolah sedang melihat orang asing.
"Masih mau menyangkal?" suaranya berat.
Ken mengepalkan kedua tangannya, melangkah mendekati meja ayahnya.
"Ayah, semua laporan keuangan perusahaan berada di bawah audit internal. Tidak mungkin ada uang ratusan miliar yang hilang tanpa sepengetahuanmu."
"Bukti tidak akan berbohong, Ken."
BRAK!
Sebuah map hitam dilempar ke atas meja. Puluhan lembar dokumen berhamburan.
"Lihat sendiri!"
Ken segera mengambil beberapa lembar. Seketika matanya membelalak. Seluruh dokumen itu berisi transaksi penggelapan aset perusahaan.
Nama pemilik rekening... Ken Wijaya.
Tanda tangan... Miliknya.
Cap perusahaan... Asli.
"Tidak mungkin..." gumam Ken pelan.
"Ini.. Semuanya palsu. Aku tidak pernah menandatangani dokumen-dokumen ini."
"Berhentilah berbohong, Ken..."
Tiba tiba terdengar suara lantang dari samping. Seorang pria muda seusianya berjas hitam mewah. Pria itu berdiri perlahan.
Johan Wijaya. Saudara tiri Ken.
Ekspresinya terlihat berwibawa.
"Ken... Sudahlah. Jangan menyangkal lagi."
Ken menyipit. Sejak dulu, Ken dan saudara tirinya tidak pernah akur. Dan Ken tau, pria itu selalu mengincar kedudukannya.
"Aku juga berharap semua ini salah. Tapi aku sendiri yang menemukannya."
"Apa maksudmu?" ucap Ken.
Ia menyerahkan sebuah flashdisk kepada sekretaris direksi.
"Tolong putarkan."
Beberapa detik kemudian... Layar besar di ruang rapat menyala. Muncul rekaman CCTV. Di dalamnya terlihat Ken memasuki ruang arsip perusahaan pada tengah malam.
Disusul rekaman lain. Ken sedang menandatangani dokumen. Lalu suara pria yang sama persis dengannya terdengar jelas.
"Pindahkan dana itu ke rekening luar negeri."
"Tidak boleh ada yang tahu."
Ruangan rapat itu langsung gaduh.
"Astaga..."
"Jadi benar-benar dia."
"Kita selama ini mempercayai orang yang salah," ucap yang lain.
Ken menatap layar tanpa berkedip. Dadanya mulai sesak. Ken yakin tidak pernah melakukan itu. Pria itu hanya mirip dengannya.
"Itu bukan aku."
"Video itu sudah diedit."
"Suaraku dipalsukan."
Tak seorang pun mempercayainya. Johan tersenyum tipis.
"Ken..." ucapnya lirih namun tegas.
"Aku sudah berusaha menutupi semuanya. Aku benar-benar ingin menyelamatkanmu. Sungguh!"
"Tapi... aku tidak bisa terus membohongi Ayah," lanjutnya.
Kalimat itu terdengar begitu tulus. Begitu menyayat hati setiap orang yang mendengarnya. Tapi justru membuat Ken merasakan ada yang janggal.
Pria itu... Sedang berakting.
Adrian Wijaya bangkit dari kursinya.
"Mulai hari ini…"
"Aku mencabut seluruh jabatanmu. Kau bukan lagi Wakil Direktur Ventara Grup. Johan yang akan menggantikanmu."
Ken terbelalak, tidak percaya.
"Tidak, ayah, ini semua bohong, aku dijebak!"
Selama bertahun-tahun... Ia bekerja tanpa mengenal siang dan malam. Seluruh proyek terbesar perusahaan berada di tangannya. Ia rela mengorbankan masa mudanya demi membangun Ventara Grup.
Namun hari ini... Semua pengorbanannya dihapus hanya dengan satu kalimat.
"Ayah..."
Suara Ken mulai bergetar.
"Tolong selidiki lagi... Semua itu bohong."
Adrian tidak menjawab.
TOK TOK!
CEKLEK!
Pintu ruang rapat terbuka. Tiga polisi masuk.
"Ken Wijaya."
Semua orang menoleh, termasuk Ken.
"Anda ditetapkan sebagai tersangka kasus penggelapan aset perusahaan."
"Silakan ikut bersama kami."
Salah seorang polisi menunjukkan surat penangkapan. Ken bahkan tidak sempat membacanya. Ia berbalik menatap seluruh direksi. Wajahnya terlihat mengiba.
"Tuan Daniel."
"Anda tahu siapa yang menyelamatkan proyek Surabaya."
"Tuan Surya."
"Anda sendiri yang memintaku memimpin ekspansi ke Singapura."
"Kalian semua tahu aku tidak mungkin melakukan ini."
Tak satu pun menjawab. Beberapa menundukkan kepala. Yang lain hanya memandangnya dengan tatapan jijik.
Dukungan yang selama bertahun-tahun ia bangun... Hancur dalam hitungan menit.
"Kalian semua sudah dihasut!"
Ken mencoba menghindar. Namun kedua polisi langsung menangkap kedua lengannya.
"Lepaskan aku!"
BRAK!
"Akh!"
Tubuhnya dibanting ke atas meja. Lengannya dipelintir ke belakang.
KLIK!
Suara borgol berbunyi nyaring.
Ken mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Johan. Pria itu menatapnya tajam. Beberapa detik kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat, tersenyum sinis.
Jantung Ken seakan berhenti. Saat itulah semuanya menjadi jelas. Tidak ada kesempatan membela diri.
Sejak awal... Mereka memang berniat menghancurkannya.
"Lepaskan aku! Ayah tolong aku!"
Polisi mendorong tubuh Ken keluar dari ruang rapat. Sebelum pintu tertutup, ia mendengar suara Adrian untuk terakhir kalinya.
"Mulai hari ini. Anggap saja putra sulung keluarga Wijaya telah mati."
Kalimat itu menjadi vonis terakhir bagi Ken.
Pintu mobil hitam itu terbuka kasar.
"Masuk!"
Dua orang polisi berseragam menarik tubuh Ken dengan paksa.
"Apa yang kalian lakukan?" Ken membentak sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Kalian polisi! Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini!"
"Diam."
Satu dorongan keras membuat tubuh Ken jatuh ke dalam mobil.
DHUG!
"Agh…"
Punggungnya menghantam jok belakang. Napasnya langsung tersengal.
Polisi ketiga masuk dan menutup pintu.
BRAK!
Mobil langsung bergerak meninggalkan tempat itu. Ken menatap tiga pria itu dengan tatapan tajam.
"Kalian bukan menangkapku," ucapnya rendah.
"Kalian menculikku."
Tidak ada yang menjawab.
Ken tertawa kecil setelah menyadari ada yang tidak beres.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
Salah satu polisi menoleh.
"Diam saja!"
Ken menyeringai.
"Kalian memakai seragam polisi, tapi bekerja seperti penjahat."
Polisi di sampingnya langsung menarik kerah bajunya.
"Jaga mulutmu. Atau.. kau akan mati!"
Ken menatapnya tanpa takut. Tatapannya perlahan berubah. Dia akhirnya mengerti.
"Jadi benar…"
Ken menggeleng perlahan.
"Keluarga Wijaya yang menyuruh kalian."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Ken. Kepalanya terlempar ke samping.
"Ugh…"
Bibirnya terasa perih. Kulit putihnya seketika memerah. Polisi itu menatapnya dingin.
"Lebih baik kau diam saja."
Ken perlahan mengangkat wajahnya. Matanya penuh kemarahan.
"Ayahku ingin aku mendekam dipenjara dengan tuduhan penggelapan uang perusahaan? Menjijikkan," ucapnya.
Salah satu polisi menarik tengkuknya mendekat, lalu tersenyum lebar, penuh arti.
"Tidak segampang itu Ken. Mereka menginginkan lebih dari itu."
Ken langsung membeku.
"A-apa maksudmu?"
Tanpa menunggu lebih lama lagi polisi lain mengeluarkan sebuah suntikan.
Mata Ken langsung melebar.
"Apa itu?"
Tidak ada jawaban. Ken mulai menghindar meski ruang mobil sangat sempit.
"Tidak, tunggu."
Untuk pertama kalinya, nada suaranya berubah panik.
"Kalian tidak boleh melakukan ini."
Polisi itu mendekat.
"Diamlah, brengsek!"
Ken memberontak sekuat tenaga. Tubuhnya terus melawan meski kedua tangannya diborgol.
"Lepaskan aku! LEPASKAN!!"
Napasnya semakin cepat.
"Kalian polisi! Kalian tidak bisa berbuat seperti ini!"
Suaranya pecah.
"Berhenti bergerak."
"Tidak!"
Ken menggertakkan giginya. Kedua polisi menekan tubuh Ken ke lantai mobil, menahan bahunya lebih kuat.
"Aku bilang berhenti bergerak!"
Jarum mendekat. Ken menggeleng keras.
"Tidakk.. Jangan… Arghhh!"
Ken meronta. Otot-otot di lehernya menegang. Ia mencoba menendang. Bahkan menghantamkan kepalanya ke lantai agar bisa melepaskan diri.
Dua pria itu berhasil melumpuhkannya.
"Jangan lakukan ini…"
"DIAM!"
Jarum suntik perlahan diarahkan ke lehernya.
"Tidak..."
"Tolong..."
"Aku tidak ingin mati..."
Namun tidak ada belas kasihan.
CTAK!
Jarum itu menembus kulit lehernya. Cairan bening perlahan masuk ke dalam tubuh Ken.
"Akkhh..!"
Matanya membelalak. Tubuhnya kembali meronta. Namun kali ini... Tenaganya mulai menghilang. Jari-jarinya gemetar. Pandangannya perlahan kabur. Seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekik tenggorokannya.
Setelah memastikan Ken tidak lagi bergerak. Salah satu dari mereka segera mengirimkan pesan.
"Tugas kami selesai."
Mereka memang tidak berniat membawanya ke penjara. Sesuai perintah yang diberikan kepada mereka sejak awal, untuk menghabisi Ken.
...
"Ah! Hah..! Hah..!"
Tiba tiba Ken terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya langsung terduduk, namun bukan di dalam mobil, melainkan di atas tempat tidur. Dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya refleks memegang lehernya sendiri.
Ia terdiam.
Tidak ada luka. Tidak ada jarum. Tidak ada tangan yang menahannya. Tidak ada borgol di pergelangan tangannya.
Hanya kamar yang sunyi. Ken menatap sekeliling dengan napas masih tidak beraturan.
"Apa..."
Suaranya pelan.
"Apa itu tadi?"
Keringat dingin membasahi wajahnya. Mimpi itu terasa terlalu nyata. Ia masih bisa merasakan rasa sakitnya. Masih bisa mendengar suara mereka. Masih bisa mengingat bagaimana hidupnya berakhir.
Ken perlahan turun dari tempat tidur. Langkahnya berhenti ketika melihat ruangan itu.
Meja belajar. Rak buku.
Barang-barang lama yang sudah tidak pernah ia lihat selama bertahun-tahun. Matanya perlahan membesar.
"Tunggu..."
Ia berjalan mendekati cermin. Dan tubuhnya langsung membeku. Wajah muda yang menatap balik kepadanya bukanlah wajah pria yang mati dalam keputusasaan.
Itu adalah dirinya. Sepuluh tahun yang lalu.
"Bukankah ini..."
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, suara mekanis bergema di dalam kepalanya.
>[Mendeteksi Jiwa dengan Penyesalan Maksimal...]
>[Sinkronisasi Berhasil.]
>[Mengaktifkan Sistem Pembalasan Takdir...]
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








