

Malam itu seharusnya sama seperti malam-malam sebelumnya. Namun, tak seorang pun yang menyangka bahwa malam itu akan mengubah takdir dunia.
Langit gelap membentang di atas Kerajaan Veron. Tak ada bulan. Tak ada bintang. Hanya hamparan awan hitam yang menutupi langit, sementara angin malam bertiup pelan membawa kesunyian.
Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Udara terasa jauh lebih panas dari biasanya.
Di sebuah gubuk tua yang berdiri di pinggiran pasar kerajaan, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun bernama Arvin terbangun karena hawa gerah yang menyengat. Keringat membasahi dahinya meski malam telah larut.
Dengan pelan ia menyingkirkan selimut lusuh yang penuh tambalan. Biasanya selimut itu selalu cukup untuk mengusir dingin malam, tetapi kali ini justru membuat tubuhnya semakin gerah.
"Aneh sekali..."
Arvin bangkit lalu membuka pintu gubuk.
Begitu pintu terbuka, gelombang udara panas menerpa wajahnya.
Ia mengerutkan dahi.
"Kenapa panas sekali?"
Pandangannya terangkat ke langit.
Biasanya malam di Kerajaan Veron terasa sejuk, bahkan menusuk tulang. Namun malam itu udara justru seperti berasal dari tungku raksasa.
Di kejauhan, beberapa warga mulai keluar dari rumah masing-masing. Mereka saling berpandangan dengan wajah kebingungan.
Sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu, Arvin hidup seorang diri. Setiap hari ia bekerja membantu para pedagang di pasar, mengangkat barang, membersihkan kios, atau melakukan pekerjaan apa pun yang bisa memberinya beberapa keping uang.
Hidupnya sederhana. Bahkan sangat kekurangan.
Namun Arvin jarang mengeluh. Ia selalu tersenyum dan tak pernah ragu membantu siapa pun yang membutuhkan.
"Paman," panggil Arvin kepada seorang pria paruh baya yang berdiri di depan rumahnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pria itu menggeleng.
"Paman juga tidak tahu."
Seorang wanita tua ikut berkata,
"Apa mungkin Gunung Arlik meletus?"
"Tidak mungkin," sahut seorang pria sambil menggeleng. "Gunung Arlik sudah tertidur selama ratusan tahun."
Seorang pria paruh baya yang berdiri di samping mereka ikut angkat bicara.
"Sejak Kerajaan Veron berdiri, Gunung Arlik belum pernah sekalipun memuntahkan api. Bahkan kakek buyutku mengatakan gunung itu telah lama kehilangan amarahnya."
"Kalau begitu... dari mana datangnya hawa panas ini?" gumam seorang warga dengan nada cemas.
Seorang kakek berwajah pucat tiba-tiba berbisik,
"Ayahku pernah berkata... jika langit memerah pada malam tanpa bulan, berarti Sang Penjaga Api sedang turun dari langit."
"Ah... itu hanya legenda," bantah seorang pemuda, meski nada suaranya terdengar tidak begitu yakin.
Arvin kembali mendongak. Dadanya berdebar semakin kencang. Ada perasaan asing yang memenuhi dadanya, seolah sesuatu di langit sedang memanggilnya.
Tiba-tiba...
Wuuuusshhh!!
Sebuah cahaya merah menyala muncul di langit. Api raksasa berputar membentuk lingkaran besar hingga menerangi seluruh Kerajaan Veron.
"Lihat!" seru Arvin.
Semua orang mendongak. Api itu bukan kobaran api biasa. Warnanya merah keemasan. Cahayanya begitu terang hingga malam berubah seperti senja.
Sesaat kemudian...
SWWIIINGG!!
Api itu menukik ke arah desa dengan kecepatan luar biasa.
"Aaaaa!"
Para warga berlarian menyelamatkan diri. Mereka menutup wajah karena cahaya yang menyilaukan.
Namun Arvin tetap berdiri. Matanya tidak menunjukkan rasa takut.
Sebaliknya...
Ia merasa hangat. Seolah api itu datang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menemukannya.
Tepat sebelum menyentuh tanah, cahaya itu berhenti. Lalu kembali melesat ke langit dan menghilang begitu saja.
Sesaat sebelum cahaya itu lenyap, terdengar suara pekikan burung yang menggema hingga ke seluruh lembah. Beberapa warga spontan menutup telinga, sementara yang lain membeku di tempat dengan wajah pucat. Keheningan menyelimuti desa.
Ting...
Sebuah kristal merah jatuh tepat di depan kaki Arvin. Ia memungutnya perlahan. Kristal itu hangat. Namun tidak membakar. Seolah-olah sedang menyambutnya.
Tak lama kemudian hawa panas menghilang. Langit kembali gelap. Para warga mengira semua telah berakhir dan kembali ke rumah masing-masing.
Arvin membawa kristal itu masuk ke gubuk. Ia mengamatinya dari dekat. Kristal itu begitu indah. Di dalamnya tampak cahaya merah kecil yang berdenyut pelan seperti jantung.
Karena penasaran, ia mengikatnya dengan seutas benang dan menjadikannya kalung.
Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.
Namun perlahan...
Kristal itu mulai memanas.
"Hm?"
Rasa hangat berubah menjadi panas. Lalu semakin panas.
"Auh..."
Arvin mencoba melepas kalung itu. Namun benangnya seolah menyatu dengan kulitnya.
"Tidak... kenapa tidak bisa dilepas?"
Panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya seperti lava mengalir di dalam pembuluh darah.
"AARRGGHH!!"
Ia jatuh berlutut. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya memerah. Napasnya memburu.
Bruk!
Tubuh Arvin tersungkur menghantam lantai. Kesadarannya mulai memudar.
Begitu matanya terpejam...
Kristal itu justru memancarkan cahaya merah yang semakin terang.
Seluruh gubuk dipenuhi sinar merah keemasan. Lantai kayu mulai retak. Dinding-dinding tua bergetar.
Udara di dalam ruangan berubah sangat panas.
Bara-bara api kecil bermunculan dan berputar mengelilingi tubuh Arvin tanpa membakar apa pun.
Lalu...
Di belakang tubuh Arvin, perlahan muncul bayangan seekor burung raksasa. Sosok itu menjulang hampir menyentuh atap gubuk yang sempit, membuat ruangan terasa dipenuhi kehadiran yang agung dan menyesakkan. Sayapnya terbentang megah. Seluruh tubuhnya tersusun dari api merah keemasan. Matanya bersinar tajam seperti matahari. Burung itu membuka paruhnya. Namun tidak mengeluarkan suara.
Untuk sesaat, mata burung itu memancarkan cahaya yang begitu terang hingga seluruh gubuk seolah tenggelam dalam lautan api merah keemasan. Satu per satu bara api kembali terserap ke dalam kristal hingga tak ada lagi cahaya yang tersisa. Bayangan burung itu perlahan memudar, seolah larut bersama cahaya yang tersisa. Gubuk kembali sunyi. Seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Keesokan paginya...
Sinar matahari masuk melalui celah-celah dinding kayu.
Arvin membuka matanya perlahan.
"Kepalaku..."
Ia memegang dahinya. Tubuhnya terasa ringan. Sangat ringan. Ia bangkit dan baru menyadari dirinya tertidur di lantai.
"Apa yang terjadi semalam?"
Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Ia terkejut. Beberapa papan lantai di bawah tubuhnya berubah hitam seperti bekas terbakar. Bahkan terdapat retakan-retakan kecil di sekitarnya.
"Apa ini ulahku?"
Arvin sama sekali tidak mengingat kejadian setelah pingsan. Ia segera menyentuh dadanya. Kristal itu masih tergantung di lehernya. Ia mencoba melepasnya. Tetap tidak bisa. Kali ini, kristal itu hanya terasa hangat. Bukan panas seperti semalam.
Meski tubuhnya masih terasa lemas, Arvin tahu ia tidak bisa bermalas-malasan. Jika tidak bekerja hari itu, ia tidak akan memiliki uang untuk membeli makanan.
Saat keluar dari gubuk, ia mendapati pendengarannya menjadi jauh lebih tajam. Ia dapat mendengar suara burung dari hutan yang letaknya cukup jauh. Bahkan suara roda gerobak dari ujung jalan terdengar begitu jelas.
Penglihatannya pun terasa berbeda. Ia dapat melihat detail daun-daun di pepohonan yang biasanya tampak samar.
"Aneh..."
Namun karena harus bekerja, ia memilih mengabaikannya.
Dalam perjalanan menuju pasar, ia mendengar para warga membicarakan cahaya semalam.
"Kudengar kerajaan akan mengirim pasukan penyelidik. Mereka bilang benda itu jatuh di sekitar desa. Mudah-mudahan bukan pertanda buruk."
Mendengar percakapan itu, Arvin refleks menyentuh kristal merah di lehernya. Ia berharap tak seorang pun mengetahui bahwa benda yang dicari kerajaan kini menjadi miliknya.
Jauh dari Desa Veron...
Di sebuah menara batu yang menjulang di tengah pegunungan tandus. Seorang pria berjubah hitam perlahan membuka matanya. Di hadapannya terdapat sebuah bola kristal sebesar kepala manusia.
Tiba-tiba...
Bola kristal itu memancarkan cahaya merah.
Pria itu tersenyum tipis.
"Akhirnya... segel itu telah terbuka."
Ia menatap bola kristal beberapa saat.
"Jadi... seorang anak."
Sorot matanya berubah tajam.
"Temukan anak itu. Apa pun yang terjadi, bawakan kristalnya kepadaku. Jika perlu, bunuh siapa pun yang berani melindunginya."
Angin dingin berembus melewati jendela menara. Di kejauhan, langit Kerajaan Veron kembali gelap.
Sementara itu, tanpa disadari siapa pun. Sebuah kristal merah di leher seorang anak laki-laki kembali berdenyut pelan. Pertanda bahwa semuanya baru saja dimulai.