
Jaka dan Parfum Pemikat
korek api|Bersambung
- Jumlah kata
- 116.7K
- Popular
- 6.1K
- Subscribe
- 1.4K
- Jumlah kata
- 116.7K
- Popular
- 6.1K
- Subscribe
- 1.4K
Sinopsis
(Adegan 21+ berisi konten dewasa) Jaka seorang penjual bakso keliling, ia ditolak wanita karena miskin, dan difitnah menggunakan daging tikus. Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan nenek dan memberikannya parfum pemikat. Namun, keberuntungan parfum tak berpihak padanya, sang adik terkena kasus dan butuh uang tebusan ratusan juta, mau nggak mau ia menerima tawaran menjadi gigolo. Godaan para wanita itu adalah uang baginya, ia terjebak dalam arisan wanita. Jaka yang awalnya pemalu dengan wanita perlahan memiliki keberanian. Ia populer. Ia kaya raya dan punya akses dunia malam di mana-mana
Ulasan
9 ulasan
Raven Solstice
29/7/26 05:31
pantesan Jaka ditaksir ciwik ciwik hehehe ya karena dia tuh punya pesonanya tersendiri. Dari segi penulisan udh ok. semangat author.
Karensi
27/7/26 08:03
saya suka apalagi Cerita nya sangat membawa emosi cinta yang bercabang.❤️❤️❤️ pertahan kan terus persaingan HAREM NYA Ya Thorr !!❤️
Bab 1
“Sepi banget jualan hari ini,” ujar Jaka sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang selalu disampirkan di lehernya. Dulu handuk itu berwarna putih, kini abu-abu kusam, sering kali digunakan ketika keringat mengucur dari pori-pori kulitnya.
Lamunan Jaka buyar, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Suara langkah kaki dan aroma parfum vanilla yang manis dan menyengat indra penciuman Jaka. Aroma yang sangat ia hafal.
Wanita itu berhenti di depan gerobak, mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah yang sedikit memerah karena kepanasan.
“Bang, baksonya satu….” Wanita itu berdiri di sampingnya, menampilkan rambut lurus dan leher putih mulus, serta dua gundukan montok menyembul dari balik kerah baju V-neck serta celana pendek berbahan denim. Jaka melihatnya hanya menelan ludah saking tergoda dengan kemolekan tubuhnya. “Bang, kok ngeliatin gitu, sih?”
Jaka menggeleng dan memalingkan wajahnya, ia tak pandai merayu wanita, apalagi wanita ini kurang ramah meskipun dibalut dengan gincu ngejreng, bibir wanita itu sama sekali datar.
“Duduk dulu, Dek Siska.” Jaka segera mengambil kursi plastik yang digantung di gerobak miliknya. Saat Jaka mengambil kursi tepat membelakangi wanita itu tak sengaja matanya fokus melirik pinggul semok Siska. Air liur Jaka terasa perih di tenggorokan. “Tunggu sebentar, aku siapkan dulu.”
“Bang, kayak biasa.”
Siska duduk, wajah wanita itu datar dan jutek. Bibir ranum Siska sangat mahal senyum, meski begitu tetap saja tak menyembunyikan wajah cantiknya.
Jaka sadar wanita secantik ini pasti enggan meliriknya, ia kembali fokus mengambil tumpukan bihun, mie kuning, dan barisan bakso daging masih terlihat menggunung. Kuah kaldu di dalam dandang masih mengepulkan uap, wangi rempah yang biasanya menggugah selera kini rasanya senang ada yang mau membeli dagangannya.
“Selamat menikmati.” Jaka sudah menyajikan seporsi bakso sesuai selera Siksa, ia hafal kalau Siska hanya suka bakso polosan tanpa campuran kecap, saos, ataupun cabe.
Siska menerima semangkok bakso untuk makan di tempat. Diam-diam, Jaka memperhatikan gerakan mulut Siska menyeruput kuah bakso setitik menetes melewati leher putihnya dan menghilang di sela-sela belahan dada V-neck, Jaka menelan liurnya yang mendadak kering, ada yang aneh ketika ia mendapatkan ada yang menegang di balik selangkangan.
Detik kemudian, mangkok ludes. Gerakan bibir Siska sangat sensual ketika menyapu sisa bekas kuah di ujung bibir.
“Bang, mau nambah bakso dong, kasih bonus ya!” ujar Siska dengan nada manja yang biasa digunakan, walau mata wanita itu tetap tertuju pada layar ponsel pintar di tangan.
“Siap!” jawab Jaka dengan nada suara yang bersemangat, hampir menyerupai teriakan gembira.
Jaka dengan begitu cekatan langsung berdiri. Ia mengambil mangkok porselen bermotif ayam jago, sejumput bihun, sayuran, dan dengan royal menyendokkan bakso-bakso berukuran besar ke dalam mangkok tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, Jaka melayani Siska dengan sepenuh hati, melupakan fakta bahwa ia sedang merugi hari ini. Ia memberi lebihan pada baksonya: tahu bakso dan tetelan melimpah ia masukkan ke wadah plastik besar karena Siska meminta dibungkus. Jaka ingin membuat gadis pujaannya senang.
Jaka merasakan sebuah dorongan yang sangat kuat. Mungkin karena rasa sepi sepanjang hari ini membuat jiwanya rapuh, atau mungkin karena senyuman Siska barusan membuat pertahanannya untuk mengungkapkan sesuatu.
Jaka berdehem kecil, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak bergetar. "Dek Siska, udah punya pacar belum?” tanya Jaka memberanikan diri, matanya menatap langsung ke mata Siska dengan binar penuh harap.
Mendadak suasana dingin, yang awalnya Siska tak peduli menatapnya kini mendongak kepala.
Mata Siska sedari tadi fokus memainkan ponsel langsung menatap Jaka dengan alis tebal bertaut rapat. “Apaan, sih! Kok Abang nanya-nanya gitu?” jawab Siska ketus, nada suara berubah menjadi dingin dalam sekejap.
Jaka menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa harga diri dan keberanian yang tersisa di lubuk hatinya. “Abang... A-abang udah lama suka sama Dek Siska. Abang mau Dek Siska jadi pacar Abang.”
Setelah kata-kata itu meluncur dari bibir Jaka, suasana berubah menjadi hening sejenak.
Wajah Siska yang tadinya hanya jutek, kini berubah menjadi penuh kilatan amarah dan rasa jijik yang amat nyata. "Apa kamu bilang barusan? Kamu suka sama aku?" tanya Siska, suaranya meninggi, melengking memecah keheningan jalanan kampung.
Jaka merasa tenggorokannya kering, namun nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Ia tidak bisa mundur lagi. "Ya, Abang mau tau aja, siapa tau dek Siska masih jomblo," kata Jaka sambil terkekeh kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak kaku.
“Biaya perawatan aku aja bisa lebih mahal dari harga gerobak kamu ini! Sadar diri dong kalau mau bermimpi!” lanjut Siska dengan nada yang semakin berapi-api.
Ia menunjuk gerobak bakso Jaka dengan jari telunjuknya yang berkutek rapi. “Dasar nggak tau diri! Mana bau lagi? Cuih!” Siska meludah ke tanah, tepat di samping roda gerobak Jaka, sebagai simbol rasa jijiknya yang teramat sangat kepada pemuda yang baru saja menyatakan cinta padanya itu.
Jaka tersentak, nyalinya menciut seketika melihat reaksi ekstrem tersebut. "I-iya.” Jaka terbata-bata, nyaris berbisik.
"Sekalipun aku jomblo, nggak sudi pacaran sama kamu!” Siska memasukkan ponsel ke dalam saku, kini kedua tangan bersedekap di dada, memandangi Jaka dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang tidak nyaman.
Jaka terpaku di tempatnya berdiri, tangannya yang memegang pinggiran gerobak mulai gemetar. Setiap kata yang keluar dari mulut Siska terasa seperti belati yang sengaja ditusukkan tepat ke jantungnya.
Usai menghina Jaka dengan begitu pedas dan kejam, Siska membalikkan badannya dengan sentakan kasar. Ia meninggalkan Jaka begitu saja di pinggir jalan yang gersang, berjalan cepat menjauh dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan ke tanah, tanpa peduli sedikitpun perasaan Jaka.
Kejamnya lagi, bakso dari Jaka yang diberi bonus melimpah dengan rasa penuh cinta dan keikhlasan masih dibawa sama Siska. Gadis itu tetap menenteng bungkusan plastik berisi makanan gratisan tersebut tanpa ada niat untuk mengembalikannya, seolah-olah penghinaan yang ia lontarkan adalah hal yang pantas dibayarkan untuk sebungkus bakso spesial.
Jaka berdiri mematung di samping gerobaknya. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah jalanan tempat Siska baru saja berjalan menjauh hingga sosoknya hilang di tikungan gang. Air ludah Siska di tanah dekat kakinya perlahan mengering diterpa panas matahari.
Ia menggigit bibir bawahnya sampai pucat, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal. Bukan perasaan sedih yang menjalar di dadanya, tetapi perihal harga diri yang runtuh dan terinjak-injak.
"Apa serendah itu saya di mata kamu?" lirih Jaka dengan suara yang serak dan bergetar hebat.
Hari sudah sore, ia mendorong gerobaknya pulang ke rumah. Baginya, tatapan orang-orang seolah menertawakan nasib dagangannya yang sepi. Ia berjalan seperti siput dan menghirup kepulan uap bakso pelan-pelan menggoda indera penciumannnya, timbul efek lapar, ia belum makan dari pagi tadi.
Jaka mendorong gerobaknya sampai depan rumah sambil menyekah keringat. Namun, betapa kagetnya Jaka ketika baru tiba di rumah napasnya tercegat karena gerombolan warga berada di depan rumahnya.
“BUKA PINTUNYA! ATAU KAMI OBRAK-ABRIK RUMAHMU DAN KAMI HANCURKAN GEROBAKMU?!”
Daftar bab
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab








